Ada keindahan di sana

Menulis adalah upaya untuk mengabadikan keindahan.

KEHIDUPAN yang jahanam ini sesekali menampilkan kejutan yang di dalamnya berisi keindahan. Membincangkan keindahan dalam kehidupan tidak melulu tentang kemulusan paras Chelsea Islan, atau soal kemolekan tubuh Sophia Latjuba, atau perihal keteduhan senyum Mélanie Laurent. Membincangkan keindahan yang sesekali muncul dalam kehidupan adalah berbicara perihal sesuatu yang sangat jarang bisa dinikmati berkali-kali, karena memang hanya terjadi sekali dan itu pun berlangsung dalam waktu yang begitu singkat. Sepakbola, yang telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupan manusia, juga menyimpan momen-momen indah di dalamnya.

Jika menulis memiliki hubungan dengan keabadian, sebuah usaha untuk menolak lupa, maka menulis tentang sepakbola merupakan proses mengabadikan keindahan tertentu yang hanya mewujud secara singkat pada saat menikmati sepakbola. Keindahan di dalam sepakbola yang juga mampu menghidupkan impuls-impuls magis itu memang tidak harus tampak di sepanjang pertandingan, sekali lagi, momen indah itu hanya akan berlangsung dalam waktu yang singkat. Sesingkat aksi Alessandro Del Piero sebelum melepaskan tendangan chip dengan kaki kirinya yang meluncur mulus ke gawang Bari.

Keindahan juga tidak selalu menampilkan wajahnya dalam sukacita, terkadang dia bisa hadir dalam kegetiran yang meremukkan dada Juventini, misalnya, pada hari terakhir di mana mereka harus menyaksikan kejeniusan Del Piero dalam balutan jersey hitam-putih Juventus, atau keheningan yang begitu muram, semuram malam ketika Juve tertunduk lesu di Berlin setelah Barcelona membuyarkan mimpinya untuk meraih trofi Liga Champions Eropa.

Keindahan juga terkadang enggan menampakkan wujudnya. Ada begitu banyak pertandingan sepakbola yang membosankan di mana saya tidak bisa menemukan remah-remah keindahan di dalamnya hingga akhirnya memutuskan untuk menyudahi aktivitas menonton dan lanjut tidur. Atau pesatnya perkembangan teknologi yang dicap sebagai penanda kemajuan peradaban manusia yang malah menggerus apa-apa yang indah pada zaman sekarang ini. Namun itu bukan berarti hal yang membosankan bagi saya tadi otomatis menjadi hal yang juga membosankan bagi makhluk hidup lainnya. Keindahan adalah relativitas yang menyeret penikmatnya ke pintu perdebatan, sebab keindahan tidak bisa ditetapkan sebagai “yang itu” atau “yang ini”. Singkat kata, keindahan yang tidak mewujud di mata saya bisa jadi malah terlihat jelas bagi makhluk lain, vice versa.

Pada titik inilah tulisan tentang sepakbola menjadi jalan untuk menceritakan, untuk membuka tabir, yang kemudian menyajikan segala macam keindahan yang pada mulanya tidak bisa kita (saya, kamu, kalian, dan mereka) rasakan. Kala menikmati sepakbola dalam bentuk tulisan, saya serasa diajak melakukan perjalanan lintas-zaman untuk menikmati momen demi momen keindahan dengan sensasi yang berbeda-beda dan terkadang mampu menyentuh titik-titik yang begitu personal. Saya yakin bahwa tulisan tentang sepakbola memang memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada para penulis dan pembacanya. Saya bisa belajar perihal sudut pandang yang dapat digunakan dalam menentukan dan mengembangkan ide dasar penulisan. Ya, pada akhirnya, menulis dan membaca tulisan tentang sepakbola — atau apa pun — memberikan saya banyak sekali keindahan dan sukacita. Dan dengan perlahan, keindahan itu mampu membikin saya semakin liar.

Saya masih percaya bahwa akan selalu ada romantisme dan keindahan yang tersisa dari sepakbola — semanis pagi dengan rokokputih, kopihitam, dan kata-kata yang tidak terucap: kita, puan. Romantisme dan keindahan tersebut sudah seharusnya diabadikan, bukan hanya karena yang indah merupakan hal yang terjadi dalam waktu singkat dan sulit sekali untuk diulang, namun juga karena setiap orang memang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengabadikan sesuatu yang dianggap indah olehnya. Mengabadikan keindahan dalam sebuah tulisan juga merupakan suatu imbalan yang begitu mengasyikkan dari kepayahan kita dalam menghadapi kerumitan hidup harian yang semakin menyesakkan dan menyebalkan.

Meski begitu, menikmati keindahan dalam hal apa pun tidak harus menjadikan saya dan kamu sebagai pribadi yang rakus, yang mengonsumsi keindahan secara berlebihan, atau bahkan menikmati keindahan yang sebenarnya tidak indah. Rakus dalam menikmati keindahan dapat membikin kita merasa ketagihan untuk terus bisa merengkuh keindahan kapan saja, pada saat kita sebenarnya tidak terlalu membutuhkan keindahan. Karena ketika keindahan telah menjadi hal yang rutin, umum, dan berlebihan, maka pada saat itulah keindahan bertransformasi menjadi hal yang tidak istimewa — banalitas keindahan. (Apa-apa yang “berlebihan” tidak bakal pernah bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama. Ikhlas atau tidak, secara perlahan semuanya harus kembali kepada “yang secukupnya”, yang sewajarnya.)

* * * * *

Iya, pada akhirnya, memang betul bahwa menulis juga merupakan perkara mengabadaikan keindahan dengan kejujuran yang sejujur-jujurnya. Sama halnya dengan menulis tentangmu, V — sebuah upaya yang saya lakukan untuk membingkai, menyimpan, dan mengabadikan keindahanmu … secukupnya … sewajarnya … di sela-sela gerak menuju mati yang masih saja berisikan jam demi jam menyebalkan di kantor dengan tugas kerja, yang bangsatnya, sama sekali tidak bisa dinikmati.

Ah sudahlah. Saya masih mencintaimu dengan cara yang mudah kamu kenali, puan betina. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s