Janji

SAAT ini ku mencoba lingkari hari dengan janji. Untuk wujudkan semua impian yang selalu menggoda, selalu menggoda…” suara Armand Maulana tiba-tiba terdengar dari speaker begitu saja, dan saya tidak ingat telah memasang lagu Janji milik Gigi ini di playlist Winamp laptop. Ah, karena lagu itu saya langsung teringat dengan berbagai macam janji yang pernah saya ucap namun hanya sedikit saja yang mampu saya tepati. (Apa kabar dia yang selalu tersenyum meski saya tidak menepati janji padanya?) Namun kali ini saya tidak bakal menuliskan deretan janji yang masih belum bisa saya tepati. Melainkan janji-janji yang pernah terucap yang ada kaitannya dengan sepakbola.

Janji … Janji … Janji. Dalam dunia sepakbola yang serba-tidak-pasti dan penuh dengan tekanan, berucap janji adalah hal yang sangat berisiko. Namun sepertinya risiko dan konsekuensi dari sebuah janji tidak terlalu dipedulikan oleh para pelaku sepakbola: mulai dari pemain, pelatih, sampai fans sebuah tim atau klub sepakbola.

Seperti yang dilakukan oleh Luca Toni, misalnya, saat masih membela Bayern Munich pada tahun 2009 silam. Sebelum pertandingan perempat-final Liga Champions Eropa 2008/09 yang mempertemukan Bayern Munich dan Barcelona, Toni berjanji bakal berlari sambil bugil mengitari alun-alun Kota Munich, Marienplatz, jika Bayern Munich mampu meraih trofi “Si Kuping Besar”. Namun entah karena tidak terlalu percaya diri dengan bentuk tubuhnya ketika bertelanjang atau ada alasan lain, Toni meralat janji tersebut tepat satu hari sebelum pertandingan leg pertama vs. Barcelona digelar di Camp Nou. Toni mengubah janjinya yang semula lari sambil bugil menjadi berlari mengitari Marienplatz dengan hanya mengenakan celana dalam, dan jika cuaca di Kota Munich tidak terlalu dingin.

Lain Toni, lain pula dengan Julian de Guzman. Pemain asal Kanada ini juga mengucapkan janji yang tidak kalah kontroversial jelang kunjungan Real Madrid ke markas klub yang dia bela pada saat itu, Deportivo La Coruna, pada Maret 2008 silam. “Jika saya kembali mencetak gol ke gawang Real Madrid, saya berjanji tidak akan melakukan seks selama satu tahun,” ucap de Guzman saat itu. de Guzman ternyata tidak mampu membobol gawang Iker Casillas pada saat itu meski dirinya memiliki satu peluang bersih yang seharusnya 99% bisa menjadi gol. Mungkin de Guzman tidak bisa membayangkan andai dia berhasil menjebol gawang Casillas dalam pertandingan tersebut dan akhirnya harus melewatkan setahun tanpa melakukan aktivitas paling purba dan menyenangkan yang dilakukan oleh manusia: seks!

Mereka yang menepati janji
Selama bertahun-tahun telah banyak orang yang mencoba untuk mencari penjelasan tentang hubungan dekat antara sepakbola dan agama. Bahkan muncul ungkapan bahwa mereka yang pergi ke stadion setiap akhir pekan adalah para agamis yang sedang mendatangi tempat ibadah untuk melaksanakan berbagai rangkaian ritual suci keagamaan. Pemain bintang masa lalu dan masa kini dipuja layaknya seorang nabi atau juru selamat menuju surga kebahagiaan. Para pesepakbola juga selalu terlihat berucap doa sebelum bertanding di atas lapangan hijau.

Maka tidak terlalu mengejutkan bila janji untuk berziarah ke situs-situs keagamaan juga menghiasai dunia sepakbola. Di Spanyol, janji berziarah memiliki arti mengunjungi Santiago de Compostela Cathedral di Kota Santiago de Compostela dengan jalan kaki. Dan di antara semua janji untuk melakukan ziarah dalam sejarah sepakbola Spanyol, janji yang paling epik adalah janji yang diucapkan oleh Javier Irureta ketika masih menjadi pelatih Deportivo La Coruna jelang leg kedua babak perempat-final Liga Champions 2003/04 di Estadio Riazor melawan AC Milan. Pada leg pertama di San Siro, Deportivo La Coruna kalah telak 1-4 dan jika Deportivo La Coruna mampu lolos ke babak semi-final maka Irureta akan bepergian ke Kota Santiago de Compostela dengan jalan kaki.

Pertandingan tersebut akhirnya dimenangkan Deportivo La Coruna dengan skor 4-0 dan mereka berhasil lolos ke semi-final. Dalam jumpa pers usai laga tersebut, Irureta berkata: “Kami harus bersyukur kepada Rasul Santiago bahwa keajaibannya, yang dikombinasikan dengan upaya luar biasa para pemain, membantu kami mengalahkan Milan. Namun lain kali saya hanya akan berjanji untuk memakan sesuatu atau hal lainnya.” Irureta menepati janjinya berjalan kaki menempuh jarak 70km dan memerlukan waktu selama dua hari untuk sampai di Kota Santiago de Compostela.

Di Buenos Aires, Argentina, ziarah adalah sebuah perjalanan suci menuju Basilica of Our Lady of Luján. Pada tahun 1995 silam, sejumlah suporter dari klub San Lorenzo de Almagro berucap janji untuk pergi berziarah dengan jalan kaki jika klub kesayangan mereka mampu menjadi juara Liga Argentina. Saat itu merupakan musim terbaik mereka di mana San Lorenzo de Almagro memiliki peluang yang cukup besar untuk mengakhiri puasa gelar selama 21 tahun: menyisakan satu pertandingan, San Lorenzo de Almagro bertengger di peringkat kedua klasemen sementara.

Salah satu suporter fanatik San Lorenzo de Almagro yang juga merupakan seorang wartawan terkemuka di Argentina, Marcelo Tinelli, bahkan siap untuk memimpin perjalanan ziarah tersebut. San Lorenzo de Almagro akhirnya berhasil meraih juara, dan Tinelli bersama ribuan fans San Lorenzo de Almagro melakukan perjalanan sejauh 67km dengan jalan kaki sembari terus berucap syukur atas keajaiban tersebut.

Bernie Slaven dan bokongnya.
Bernie Slaven dan bokongnya.

Yang dilakukan Bernie Slaven lebih gila lagi. Pada 19 Desember 1998, Middlesbrough (tim yang pernah dibela oleh Slaven pada periode 1985-93) akan mengunjungi markas Manchester United dalam lanjutan Premier League Inggris 1998/99. Slaven yang menjadi komentator untuk radio lokal dalam pertandingan tersebut mengucapkan janji dalam siarannya bahwa dia bakal memamerkan bokongnya jika Middlesbrough mampu memenangkan pertandingan. Middlesbrough akhirnya mampu mengalahkan Manchester United dengan skor 3-2 dan Slaven menepati janji gilanya tersebut. Slaven memamerkan bokongnya yang bertulisan 3-2 berdampingan dengan dekorasi Natal di Binn’s Department Store di Kota Middlesbrough. “It’s 68 years since we beat them last, so I thought it was pretty safe,” ujar Slaven, dikutip dari independent.ie. “It’s a bit embarrassing, but nobody’s ever done it before. It was worth it for the win.

Yang terakhir adalah janji yang diucapkan oleh seorang pembawa berita salah satu stasiun televisi di Prancis, Canal+, bernama Doria Tillier. Tillier mengucapkan janji bahwa dia bakal bugil jika timnas Prancis mampu lolos ke putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil. Prancis yang harus meladeni perlawanan Ukraina dalam pertandingan play-off Piala Dunia 2014 menderita kekalahan 0-2 pada leg pertama di Kiev. Timnas Prancis ternyata mampu membalikkan keadaan dan mampu menang 3-0 pada leg kedua yang memastikan satu tempat di putaran final Piala Dunia 2014 kemarin. Tillier pun menepati janjinya untuk tampil tanpa busana saat melaksanakan tugas membacakan laporan cuaca dengan hanya memakai sepatu boots dalam acara Le Grand Journal. Tillier yang telanjang tampak berlari-lari di sebuah padang rumput yang luas. Meski begitu, Tillier tampaknya tidak ingin terlalu mengekspos tubuh seksinya tersebut karena pengambilan gambar dilakukan dari jarak yang lumayan jauh. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s