Momen Piala Dunia: in bed with Diego Armando Maradona

Karikatur Diego Maradona
Karikatur Diego Maradona

PADA 22 Juni 1986, di tengah teriknya sinar mentari pada hari Minggu di Kota Mexico City, Meksiko, dua musuh bebuyutan yang belum pernah bertemu di Piala Dunia selama 20 tahun akhirnya memiliki kesempatan untuk melampiaskan hasrat mereka di babak perempat-final. Dendam Rattín! Atau, seperti yang tertulis di beberapa headline media-media pada saat itu: Falklands II. Berikut ini adalah sepuluh hal yang terjadi sepanjang babak pertama pertandingan perempat-final Piala Dunia 1986, Argentina vs. Inggris, tersebut yang dilupakan oleh banyak orang:

1) Tepat sebelum sepak-mula pertandingan, bukannya fokus kepada para pemain yang sedang melakukan pemanasan di bawah teriknya sinar matahari Mexico City, direktur televisi nasional Meksiko malah memilih untuk mengambil gambar seorang pria yang tidak mengenakan kaus dengan sebuah cangkir plastik berisikan bir sembari mengisap cerutu di tribun stadion. Sebuah tampilan yang menggambarkan betapa santainya suasana Estadio Azteca sebelum sepak-mula pertandingan. Suporter dari kedua tim tampaknya sedang dalam kondisi mood yang baik. Timnas Argentina memberikan panji kenegaraan kepada setiap pemain timnas Inggris: sentuhan manis yang menyimbolkan gerakan kecil persahabatan setelah terjadinya sebuah tragedi Falklands War yang mengguncangkan dua negara.

2) Wasit dan dua asisten-wasit menghabiskan menit-menit menjelang sepak-mula pertandingan dengan berkeliaran di bayangan spiral yang menutupi garis tengah lapangan. Aksi yang cukup pintar agar tidak terekspos sinar matahari terlalu dini.

3) Pada menit 13 — mungkin inilah aksi skill individu terbaik di Piala Dunia 1986 — Glenn Hoddle mengirimkan umpan panjang ke depan yang coba dikejar oleh Peter Beardsley. Umpan panjang tersebut meluncur terlalu deras, dan Nery Pumpido keluar dari sarangnya untuk mengintersep umpan Hoddle. Namun Pumpido melakukan kesalahan kecil, dia sedikit terlambat dan tergelincir saat mencoba untuk menangkap bola. Bola terlepas dan keluar dari area tersebut. Beardsley, yang belum menyerah, mengejar bola liar tersebut dan berhasil mendapatkannya. Beardsley kemudian melakukan gerakan ke kiri untuk mengelabui Pumpido sebelum melakukan gerakan seksi 180 derajat ke arah kanan, memberinya waktu dan ruang yang cukup untuk melakukan tendangan ke gawang yang sudah kosong-melompong. Namun sayangnya, Beardsley mengakhiri aksi individual menakjubkan tersebut dengan buruk, tendangannya hanya mengenai sisi luar jaring gawang. Kamu tidak akan bisa menyaksikan aksi individu seperti itu setiap hari, dan tentu saja skill seperti itu hanya terjadi satu kali dalam sebuah pertandingan.

4) Pertandingan terhenti selama kurang-lebih dua menit menjelang akhir babak pertama karena kejadian yang tidak masuk akal ketika Diego Maradona akan melakukan tendangan-pojok namun jalurnya dengan bola terhalangi oleh deretan fotografer yang berada di sepanjang sisi kanan lapangan. Menyadari pentingnya keberadaan pers, Maradona mencabut tiang bendera corner sehingga dia bisa menendang bola dari sudut yang lain. Namun sebelum Maradona menendang bola, Berny Ulloa Morera yang menjadi asisten-wasit dalam pertandingan itu meminta Maradona memasang kembali tiang tersebut. Maradona menuruti permintaan Morera. Namun bendera corner terlepas dan jatuh dari tiang, dan Morera meminta agar bendera tersebut dipasang juga. Maradona memasang bendera dan mencoba menyeimbangkan tiang tersebut — namun hal itu tidak cukup bagi Morera. Jadi, Maradona dengan perlahan dan hati-hati membenarkan posisi tiang bendera. Maradona benar-benar direcoki selama pertandingan terbesar dalam hidupnya oleh asisten-wasit yang lebih baik menggunakan waktu dan wewenangnya untuk menyuruh para fotografer minggir dari sisi lapangan daripada meminta pesepakbola terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepakbola untuk melakukan beberapa tugas dasar penjaga toko pakaian. Pada akhirnya, Maradona dapat melakukan tendangan-pojok yang langsung mengarah ke tangan kiper timnas Inggris, Peter Shilton. Anti-klimaks!

5) Beberapa usherettes (pedagang asongan) dengan membawa nampan terlihat berkeliling di antara ratusan ribu penonton yang memadati Estadio Azteca untuk melayani pesanan bir.

6) Babak pertama perempat-final Piala Dunia 1986 bukanlah 45 menit terbaik bagi dua komentator BBC, Barry Davies dan Jimmy Hill. Davies merupakan seorang komentator kelas dunia, sementara Hill adalah cendekiawan yang cerdas dan imajinatif (sampai akhirnya dia menjadi parodi bagi dirinya sendiri sepanjang tahun ‘80an). Davies dan Hill menghabiskan sebagian babak pertama dengan mempertanyakan keberanian FIFA menunjuk Ali Ben Nasser yang berasal dari Tunisia menjadi wasit dalam pertandingan tersebut. Menurut Davies, Tunisia adalah “bangsa yang sedang berkembang”, yang mana merupakan sebuah kejutan bagi penduduk Tunis, kota yang dibangun pada abad ke-4 SM. Harus diakui bahwa Ben Nasser tidak menikmati hari terbaiknya karena kesalahan yang dilakukannya bakal dihubung-hubungkan dengan statusnya sebagai warga Tunisia.

7) Sebagian ocehan Davies dan Hill di babak pertama masih bisa dimaklumi dan dimaafkan karena memang pertandingan berjalan dengan membosankan di babak pertama. Argentina yang menguasai possesion-ball hanya mampu menciptakan sedikit peluang untuk mencetak gol.

8) Timnas Inggris tampil lebih buruk. Terry Fenwick melakukan sebuah percobaan tendangan yang melambung jauh ke atas, mengira gawang Argentina terletak di salah satu gumpalan awan putih di langit biru. Pada menit 44, bintang timnas Inggris, Gary Lineker, melakukan sentuhan bola, mencoba memberikan umpan menggunakan tumit namun bola malah keluar meninggalkan lapangan. Pada satu momen, Steve Hodge, yang gemar sekali melakukan clearance ngawur pada babak pertama, mencoba membuang bola yang malah membahayakan lini pertahanannya sendiri.

9) Fenwick, secara khusus, menjadikan pertandingan ini sebagai pertunjukan lengkap bagi dirinya sendiri. Fenwick melakukan pelanggaran keras terhadap Maradona pada menit 9, membikinnya mendapatkan kartu kuning; beberapa saat kemudian Fenwick terlihat merangkak ketika Maradona melesat melewatinya dengan teknik brilian, membikin keseimbangan dan harga dirinya jatuh berceceran di atas lapangan hijau; dan tepat sebelum turun-minum pertandingan, Fenwick menggunakan sikunya secara kasar untuk menghentikan pergerakan Maradona, sebuah pelanggaran keras yang harusnya diganjar kartu merah. Aksi tersebut seharusnya mengakhiri penampilan Fenwick pada pertandingan sore itu, namun beruntung dia lolos dari hukuman wasit.

10) Ketika turun-minum pertandingan tersiar kabar bahwa Telê Santana, seorang idealis, telah mengundurkan diri sebagai pelatih timnas Brasil menyusul kekalahan Brasil pada pertandingan melawan Prancis di babak perempat-final 24 jam sebelumnya. Sebuah momen simbolik di mana orang terakhir yang berjuang mati-matian mempertahankan keindahan sepakbola digerus oleh roda modernitas.

* * * * *

Tanpa gol di babak pertama, kemudian, awal babak kedua ditandai dengan pelanggaran tidak masuk akal dari pesepakbola paling absurd dalam pertandingan ini. Hell yeah, saya membicarakan Fenwick! Lima menit setelah wasit memulai babak kedua, Fenwick merangkul kepala Maradona saat keduanya berduel di tengah lapangan. Pada menit 66 Fenwick sekali lagi memukul kepala Maradona. Dan saat pertandingan menyisakan waktu lima menit, Fenwick menjungkir-balikkan Jorge Valdano dengan sliding-tackle brutalnya. Fenwick seharusnya mendapatkan empat kartu merah dalam pertandingan ini. Iya, empat kartu merah!

Apakah Maradona keberatan dengan semua “perhatian” yang diberikan Fenwick dalam laga ini masih patut diperdebatkan. Jika kamu termasuk orang yang menganggap bahwa pelanggaran yang disengaja dan sistematis terhadap bakat-bakat unik sepakbola merupakan sumber dari semua pujian yang tidak diinginkan, maka hal ini memberikan Maradona status nomor satu dalam kategori tersebut. Pertimbangkan pelanggaran terhadap bintang Piala Dunia lainnya: Ferenc Puskás yang ditackle dengan brutal oleh bek Jerman Barat, Werner Liebrich, pada tahun 1954; Pelé yang mendapat tendangan keras dari pemain timnas Bulgaria di Goodison Park pada tahun 1966; Johan Cruyff yang tidak hanya mendapatkan pengawalan ekstraketat, melainkan juga perlakuan kasar a la pitbull dari Berti Vogts di final tahun 1974. Sementara Maradona tidak hanya sekali saja mendapat perlakuan seperti itu di Piala Dunia, melainkan dua kali: pertama dari defender Italia, Claudio Gentile, yang benar-benar menghancurkannya pada tahun 1982, dan, kedua, empat tahun kemudian, dari Fenwick.

Permainan kasar Fenwick inilah yang mungkin menyebabkan Maradona kemudian mengakali aturan dasar sepakbola. Hanya dalam pertandingan ini, seluruh penggemar sepakbola menganggap bahwa handball, walau bagaimanapun juga, jauh lebih menjijikkan secara moral daripada semua pelanggaran kasar yang dilakukan Fenwick kepada Maradona. Poor England, Maradona ternyata jauh lebih mahir menggunakan sihir daripada Harry Potter.

Tangan tuhan
Hodge sepertinya tidak mengambil pelajaran berharga dari babak pertama, dan kita semua tahu apa yang terjadi: midfielder timnas Inggris ini kembali melakukan clearance ngawur yang membikin bola melambung ke tengah kotak penalti timnya, jatuh menemui kepala, er maaf, kepalan tangan kiri Maradona yang dengan cerdik mengubah arah bola melewati Shilton dan masuk ke gawang yang sudah kosong. Maradona berlari ke sisi kanan lapangan untuk melakukan selebrasi, berhenti hanya beberapa milidetik untuk menoleh ke belakang, berjaga-jaga apakah wasit menganulir golnya. Di tengah lapangan, Shilton terlihat melambaikan tangannya di udara dengan putus asa, sementara Fenwick mengikuti wasit untuk memprotes keputusannya — sebuah gambaran betapa frustasinya timnas Inggris pada saat itu.


Mungkin kita harus mencoba untuk memahami kesalahan wasit Ben Nasser yang tetap mengesahkan gol tersebut. Sekarang ini sangat sulit untuk menyaksikan rekaman gol yang diungkapkan secara objektif: kita semua tahu persis apa yang dilakukan oleh Maradona saat itu, sejelas aksi perampokan pada sianghari di tengah suasana pasar yang ramai. Dan mungkin hal yang paling instruktif untuk membantu kita memahami apa yang terjadi adalah komentar dari Davies, salah satu komentator BBC, yang ada di Estadio Azteca saat itu: dokumen sejarah yang paling jujur tentang kesan pertama yang didapat usai menyaksikan gol Maradona.

Valdano… Hodge… and Maradona! They’re appealing for offside, (but) the ball came back off the foot of Steve Hodge,” ucap Davies, dikutip dari In Bed with Maradona, yang pada saat itu heran mengapa Fenwick, Shilton, dan Terry Butcher bertingkah seperti menirukan gerakan Marcel Marceau (aktor dan mime Prancis), mengejar wasit sambil menampar lengan mereka sendiri. Butuh waktu sekitar 32 detik dan dua tayangan ulang televisi sebelum akhirnya Davies mengetahui ada yang salah dengan gol Maradona tersebut. “At what point was he offside?” lanjut Davies, dikutip dari In Bed with Maradona. “Or was it a use of a hand that England were complaining about?

Davies mungkin tidak menikmati jalannya pertandingan di babak pertama — selain mempertanyakan status kewarga-negaraan wasit Ben Nasser, Davies juga mengoceh dan mengejek seorang suporter Argentina yang tertangkap kamera sedang menikmati suasana panas Estadio Azteca dengan santainya. Namun untuk semua yang pernah dia lakukan, Davies merupakan seorang wartawan top kelas dunia pada saat itu. Dan tanggapannya mengenai insiden gol pertama Maradona dalam laga ini membuktikan kualitas dan sisi kemanusiaan seorang Barry Davies.

Bahkan setelah menyaksikan dua tayangan ulang, Davies masih belum yakin 100% apakah Maradona benar-benar menggunakan tangannya untuk mencetak gol. “Mereka sedikit ragu apakah Maradona menggunakan tangannya untuk mencetak gol,” ucap Davies, dilansir oleh The Guardian. Dua menit kemudian, Davies mewartakan bahwa salah satu anggota pers yang berada di dekat gawang Inggris sangat yakin Maradona menggunakan tangan untuk mencetak gol. Namun untuk semua kebenaran dan kesalahan, papan skor tetaplah papan skor: Maradona 1-0 Fenwick! Inilah yang terjadi ketika kamu mencoba mencurangi tuhan.

Satu hal yang sering terlupakan dari gol tersebut adalah aksi menakjubkan Maradona dalam mengkreasikan serangan yang berujung pada terciptanya gol. Maradona melakukan cutting-inside dari sisi kiri setelah menerima umpan Julio Olarticoechea, menari dengan bola melewati hadangan Hoddle, Peter Reid, dan Fenwick. Ketika mendekati kotak penalti Inggris, Maradona menarik Butcher dan Kenny Sansom ke arahnya sebelum akhirnya memberikan umpan kepada Valdano, yang berusaha melewati Hodge dengan gerakan memutar, dan kejadian selanjutnya adalah momen di mana Inggris harus mengakui kecerdikan sosok tuhan bernama Maradona.

You have to say that’s magnificent! Pure football genius!
Maradona membawa pertandingan ini ke level yang lebih menarik. Dengan timnas Inggris yang masih terkejut akibat gol pertama Maradona, dan masih belum menyadari malapetaka yang bakal menimpa mereka beberapa menit kemudian, Hoddle melakukan salah umpan di daerah pertahanan Argentina. Maradona yang berada di dekat garis tengah lapangan menerima umpan dari rekannya. Melakukan gerakan memutar yang brilian, Maradona melewati hadangan Beardsley dan Reid, mendribel bola ke arah kanan sebelum mendorongnya ke depan. Maradona menyelinap ke daerah pertahanan Inggris, melewati Butcher dengan satu gerakan ke kiri saat defender dengan badan besar tersebut menerjangnya. Maradona mendekati kotak penalti, melewati Fenwick, mengecoh Shilton, dan kemudian menyontek bola ke gawang. Gol indah ini membayar lunas hutang moral Maradona empat menit sebelumnya. Berbicara tentang pelunasan, Davies, yang mulai menikmati jalannya pertandingan, menanggapi gol kedua Maradona dengan salah satu kalimat terbaik dalam sejarah komentator sepakbola: “You have to say that’s magnificent! Pure football genius!


Sisa pertandingan berjalan lumayan aneh. Argentina menurunkan tempo permainan, namun Inggris gagal memanfaatkan momen tersebut. Hoddle, yang tampil mengecewakan di 60 menit awal pertandingan, mulai menemukan performa terbaiknya, menciptakan peluang untuk Beardsley dari sayap kanan dengan umpan silang. Ketika John Barnes masuk menggantikan Trevor Steven, barulah Inggris mulai benar-benar mengancam lini pertahanan Argentina. Barnes melakukan pergerakan di sisi kiri sebelum memberikan assist untuk gol Lineker di saat pertandingan menyisakan waktu sembilan menit dan, setelah tendangan Carlos Daniel Tapia membentur tiang kiri gawang Inggris, kerjasama Barnes-Lineker hampir membuahkan gol 120 detik sebelum peluit akhir dibunyikan.

And that’s it, 2-1. Argentina memenangkan, tidak hanya sebuah pertandingan olahraga, melainkan juga pertarungan moral di atas lapangan hijau. Argentina mendapatkan kembali harga diri mereka usai tragedi Falklands War, dan berhasil melakukan balas dendam kepada bangsa yang telah menyebabkan mantan kapten mereka, Antonio Rattín, mengalami kepedihan dan penderitaan pada putaran yang sama di kompetisi yang sama 20 tahun sebelumnya. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s