Percepatan dan kecepatan dalam sepakbola: mencoba memahami absurditas Filippo Inzaghi

Look, the thing about (Filippo) Inzaghi is he can’t actually play football at all. He’s just always in the right position.
Johan Cruyff

FILIPPO Inzaghi. Masih ingat dengan nama itu? Ketika mengingat kembali ke masa di mana Inzaghi masih aktif sebagai pesepakbola, apakah kamu pernah memiliki anggapan yang sama dengan apa yang dilontarkan oleh Johan Cruyff di atas? Cruyff, legenda Belanda dan dianggap sebagai salah satu sosok cerdas yang menemukan permainan atraktif Total Football, mengatakan bahwa Inzaghi sebenarnya tidak bisa bermain sepakbola sama sekali. “Inzaghi hanya selalu bisa berada di posisi yang tepat,” lanjut Cruyff. Dan jika kamu pernah beranggapan nyaris sama dengan Cruyff, maka kamu bisa dikatakan sebagai penggemar sepakbola yang “normal”. Sebab, meski catatan gol Inzaghi sungguh fantastis, namun sangat sedikit penyuka sepakbola yang mengagumi skill dan gaya permainan Inzaghi. Seingat saya, dari semua kawan yang mengaku sangat mencintai sepakbola, hanya satu yang benar-benar jatuh hati dan bakal mati-matian membela jika saya membikin lelucon tentang permainan Inzaghi.

Inzaghi, menurut hemat saya, bukanlah seorang pesepakbola yang gampang dikagumi cuma karena catatan golnya yang menakjubkan. Apa lacur? Inzaghi tidak punya kemampuan khusus seperti Marseille turn a la Zinedine Zidane atau Flip flap a la Ronaldinho yang mengundang decak-kagum penonton. Inzaghi tidak pernah terlihat menggocek bola macam Lionel “si alien” Messi atau Diego “sang tuhan” Maradona yang menyisakan lawan-lawannya tercecer di belakang. Inzaghi tidak memiliki kemampuan eksekusi sepak-bebas ciamik seperti Andrea Pirlo atau Alessandro Del Piero. Inzaghi tidak punya kemampuan keeping-ball brilian macam Dennis Bergkamp atau sepakan geledek layaknya Cristiano Ronaldo dan Gabriel Batistuta.

Yang selalu dilakukan Inzaghi hanyalah berlari-lari tidak jelas di area kotak penalti lawan, mendadak jatuh jika ada sedikit kontak saja dengan pemain lawan, dan suka menampilkan wajah memelas ketika terjatuh terutama jika wasit pertandingan tidak menghadiahinya penalti. Namun anehnya, atau sialnya, Inzaghi selalu berhasil mencetak gol dengan proses yang buruk dan tidak masuk akal di beberapa momen krusial sebuah pertandingan sepakbola. Setelah itu, Inzaghi bakal melakukan selebrasi yang meledak-ledak dan penuh emosional, seolah-olah dia baru saja mencetak gol spektakuler dengan tendangan akrobatik dari jarak 27 meter! Dan Risang Suryo Sumirat, kawan saya yang sangat menyukai Inzaghi itu, bakal meringis sinis sembari berucap: “Itulah Inzaghi, Le, sang predator ganas di kotak penalti lawan.

Inzaghi memang kerap menjadi sosok yang menakutkan sekaligus menyebalkan bagi setiap lawannya. Sudah banyak yang berpendapat bahwa Inzaghi memang terlahir dengan bakat khusus untuk menjadi seorang striker — naluri membunuhnya sangat peka untuk mengonversi peluang sekecil apa pun menjadi sebuah gol yang dikombinasikan dengan kelihaiannya untuk lolos dari jebakan offside. Namun benarkah cuma dengan mengandalkan sesuatu yang absurd dan tanpa penjelasan macam “naluri striker” serta kemampuan untuk lolos dari jebakan offside saja, seorang Inzaghi bisa menjelma menjadi pesepakbola hebat dengan catatan gol yang luar biasa dan pernah merasakan manisnya menjadi jawara Serie A Italia, Piala Dunia, dan Liga Champions Eropa?

Ada hal lain yang membikin Inzaghi bisa menjadi semacam dewa pembunuh di kotak penalti lawan sewaktu dia masih aktif sebagai pemain sepakbola, dan itu bisa dijelaskan menggunakan teori kecepatan dan percepatan dalam ilmu fisika sederhana. Tidak, saya tidak bercanda soal ini. Dalam ilmu fisika sederhana disebutkan bahwa kecepatan adalah pergerakan konstan (tetap, tidak berubah-ubah) sebuah benda dari satu titik ke titik yang lain. Jadi, sebuah benda dikatakan memiliki kecepatan karena bergerak secara konsisten dari awal sampai akhir.

Namun Albert Einstein, ilmuwan paling jenius yang pernah hidup di Planet Bumi ini, pernah mengatakan bahwa sebuah benda yang punya kecepatan konstan sejatinya merupakan benda yang relatif diam. Merasa aneh dengan pernyataan Einstein di atas? Iya, memang aneh — namun masih masuk akal. Bagi Einstein, benda dikatakan bergerak bukan karena memiliki kecepatan, melainkan benda yang mengalami percepatan, atau yang biasanya disebut dengan akselerasi. Maksud saya — kondisi bergerak, menurut teori Einstein, adalah ketika suatu benda mengalami penurunan atau peningkatan kecepatan, bukan pergerakan dari satu titik menuju titik lainnya melainkan pergerakan dari satu kecepatan tertentu ke kecepatan yang berbeda. Dan masih menurut Einstein, perlu diingat bahwa percepatan tidak melulu soal perubahan dari kondisi diam ke kondisi bergerak, melainkan juga dari kondisi bergerak ke kondisi diam.

Lantas apa hubungannya teori tersebut dengan seorang Inzaghi dan catatan golnya? Dan kenapa pula menjadikan Inzaghi sebagai contoh ketika sedang membincangkan perihal percepatan dan kecepatan dalam sepakbola? Bukankah masih banyak pesepakbola lainnya yang lebih “pantas” dijadikan contoh ketika membahas hal ini — Gareth Bale, misalnya? Toh kecepatan lari Bale jauh di atas Inzaghi, bukan?

Bale pernah melakukan overtaking yang luar biasa menawan ketika mengecoh Marc Bartra pada pertandingan final Copa del Rey tahun 2014 sebelum mencetak gol kemenangan Real Madrid ke gawang Barcelona yang dijaga oleh José Manuel Pinto. Saat itu Bale sempat berlari ke sisi luar lapangan sebelum masuk kembali untuk mengecoh Bartra, sebuah proses dan pertunjukan yang benar-benar menghibur dan patut dikenang dalam ingatan di batok kepala. Setelah menyaksikan proses tersebut, saya langsung mengamini hal itu sebagai bukti bahwa Bale merupakan pesepakbola dengan kecepatan lari yang luar biasa cepat.


Anggapan saya itu tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak absolut betul, sebab jika dipikir dengan lebih teliti dan jeli menggunakan teori percepatan dan kecepatan di atas, maka apa yang dilakukan Bale itu adalah hal yang wajar: kemampuan menyeimbangkan pergerakan ke kecepatan konstan. Sementara bagi Bartra, kondisi itu memaksanya melakukan dua kali percepatan ekstrem agar bisa mengimbangi dan mengejar Bale. Jika sudah demikian, maka sebenarnya Bartra-lah yang sedang bergerak dalam momen tersebut, sementara Bale bisa dikatakan relatif tidak bergerak. Bartra dan Bale memang sama-sama mengalami percepatan, namun percepatan yang dilakukan Bale tidak se-ekstrem dengan yang dialami oleh Bartra.

Perubahan kecepatan yang dilakukan Bartra dalam momen tersebut betul-betul drastis, setidaknya dia mengalami dua kali percepatan ekstrem: (1) dia datang dalam kondisi berlari ke sisi kanan pertahanan Barcelona sebelum menurunkan kecepatan larinya untuk menutup ruang gerak Bale; dan (2) dia harus membalikkan badan untuk mencoba mengejar Bale dengan sekuat-kuatnya tenaga. Pada titik inilah Bartra mengalami kerugian atau kalah start dengan Bale karena harus melakukan dua kali percepatan ekstrem tersebut. Pada saat berusaha menutup ruang dan memaksa Bale agar sedikit menjauh ke sisi luar lapangan, Bartra sebenarnya telah melakukan kesalahan fatal. Upaya Bartra itu sejatinya malah tidak memperlambat kecepatan lari Bale, namun justru mempersilakan Bale tetap menjaga kecepatan konstannya. Dalam situasi seperti itu, sudah dipastikan bahwa Bartra — secepat apa pun akselerasi/percepatan yang dilakukan — tidak bakal bisa mengejar Bale, karena Bale sudah berada dalam kondisi kecepatan puncak (dan konstan/tetap) sedangkan Bartra harus memulai lagi dari titik terendah kecepatannya yang, tentu saja, membutuhkan waktu agar bisa mencapai kondisi kecepatan puncak. Apa yang terjadi selanjutnya pun sudah kita ketahui: Bartra tercecer di belakang, sementara Bale terus berlari sampai akhirnya mampu menjebol gawang Barcelona.

Teori percepatan dan kecepatan itu pula yang menjadi alasan mengapa pelatih sepakbola selalu berteriak meminta pemain-pemainnya yang sedang berlaga di atas lapangan hijau untuk terus bergerak secara dinamis. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk menciptakan dan mengeksploitasi ruang. Sering bergerak bakal membikin seorang pemain berada dalam kondisi kecepatan konstan dan percepatan yang minim sehingga dia mampu bereaksi lebih cepat dari lawannya, apalagi jika lawannya tersebut lebih sering dalam posisi diam atau hanya sesekali bergerak.

Kondisi itulah yang dialami oleh Bartra ketika menghadapi Bale. Posisi Bartra yang harus menurunkan kecepatan membikinnya kesulitan untuk kembali bergerak dan beranjak ke kecepatan puncak saat diharuskan mengejar Bale yang sudah bergerak dengan kecepatan puncak (dan konstan/tetap) sebelum menghadapi Bartra. Dan situasi yang nyaris sama seperti itulah yang dialami oleh para defender ketika mereka harus mengawal Inzaghi. Saya tidak ingin membandingkan kecepatan lari Inzaghi dengan Bale (selain karena memang berbeda jauh, juga bakal terdengar konyol dan tidak waras), namun saya cuma ingin bilang bahwa kecepatan Inzaghi bukan dilihat dari secepat apa larinya mengejar bola, melainkan perihal sesering apa dia bergerak dan berlari tidak jelas di kotak penalti lawan. Ketika tim yang dibelanya dalam posisi menyerang, Inzaghi selalu bergerak kesana-kemari yang sering dianggap sebagai upaya untuk menciptakan atau membuka ruang. Namun pergerakan Inzaghi tersebut sejatinya bukan hanya soal menciptakan atau membuka ruang: dia juga sedang menciptakan keuntungan bagi dirinya sendiri. Pergerakan tidak jelas yang sering dilakukan oleh Inzaghi itu saya anggap sebagai upayanya untuk terus menjaga kecepatan konstannya. Hal tersebut membikin Inzaghi mampu bereaksi lebih awal dan menimbulkan kesan bahwa dia memiliki kecepatan lari yang lebih cepat dari pemain belakang yang sedang mengawalnya, meski sebenarnya kecepatan lari Inzaghi tidak terlalu cepat. Para defender sering terlihat bergerak dan beranjak dari posisi diam ketimbang Inzaghi yang sudah melakukan pergerakan lebih dulu sebelum bola pada akhirnya berada di momen dan waktu yang tepat untuk dieksekusinya menjadi sebuah gol.

Hal itulah yang menjadi alasan kenapa nyaris seluruh gol yang dicetak Inzaghi bermula dari bola rebound atau deflected yang bagi kebanyakan orang (termasuk saya sendiri pada waktu itu) menilainya sebagai gol berbau keberuntungan. Atau ada juga sedikit orang (macam Risang, kawan saya yang menggemari permainan Inzaghi itu) yang memuji gol absurd seperti itu dengan sebutan “insting membunuh seorang striker sejati” yang sebetulnya tidak menjelaskan apa-apa!

Sementara jika mau melihatnya menggunakan kacamata teori percepatan dan kecepatan dalam ilmu fisika sederhana, maka kamu (sama seperti saya) akhirnya bakal menyadari dan memuji betapa hebatnya kesadaran percepatan dan kecepatan Inzaghi dalam menciptakan keuntungan bagi dirinya sendiri di atas lapangan hijau, sehingga mampu menutupi keterbatasan skill olah bolanya untuk kemudian menjadi salah satu predator paling ganas di dunia sepakbola. Dan dengan kemampuan itu pula, Inzaghi memiliki catatan gol yang jauh lebih baik ketimbang seorang pria yang dilegendakan oleh publik Belanda dan dunia yang pernah mencemooh Inzaghi tidak bisa bermain sepakbola sama sekali.

Dan ketika menuliskan paragraf penutup ini, bayangan senyum sinis Risang — kawan saya yang menyukai Inzaghi setengah-mati itu — semakin terlihat jelas sebelum akhirnya menguap bersama asap rokokputih terakhir saya malam ini. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s