Momen Piala Dunia: kemenangan fasisme Italia

MOMEN genting itu terjadi … ketika para pemain kami mengangkat tangan mereka untuk memberikan hormat fasis,” kenang Vittorio Pozzo, wartawan sekaligus mantan pelatih timnas Italia, tentang pertandingan putaran pertama Piala Dunia 1938 melawan Norwegia di Marseille, Prancis. “Saya memasuki stadion bersama para pemain, berbaris dengan gaya militer, dan berdiri di sebelah kanan. Saat melakukan hormat fasis kami dihadapkan dengan rentetan siulan, komentar, dan ejekan yang memekakkan telinga. Kami melakukan hal itu untuk mengekspresikan idiom dan dialek kami, serta harga diri bangsa. Saya tidak ingat berapa lama hal itu berlangsung. Saya tidak melihat jam, saya bersikeras untuk terus melakukan hormat fasis. Wasit asal Jerman dan para pemain Norwegia memandang kami dengan cemas. Keributan di stadion mulai mereda perlahan untuk kemudian berhenti sepenuhnya … Kami baru saja menurunkan tangan kami dan kericuhan di stadion kembali bergema. Saya langsung memerintahkan kepada para pemain: ‘Bersiaplah. Hormat grak!’ Dan kami mengangkat tangan kembali untuk melakukan hormat fasis, untuk mengonfirmasi bahwa kami tidak memiliki rasa takut sedikit pun (terhadap mereka)! … Setelah memenangkan pertarungan intimidasi jelang sepak-mula pertandingan, kami mulai bermain.

Hal itu merupakan sebuah pendekatan tanpa kompromi a la fasisme untuk mempertahankan trofi Jules Rimet yang dimenangkan Italia empat tahun sebelumnya. Menyadari kekuatan propaganda yang dimiliki, rezim fasis Italia menginvestasikan ideologi mereka ke dalam rasionalisasi dan regenerasi permainan sepakbola Italia. Usai Perang Dunia I, Italia terlambat mengikuti tren sepakbola yang berkembang pesat layaknya jamur sehabis hujan. Memenangkan perang namun kehilangan perdamaian membawa rasa tidak puas menyebar ke se-antero negeri Italia, yang juga dikombinasikan dengan “ancaman” komunisme, memicu peningkatan yang cukup pesat dari kekuasaan Benito Mussolini dan rezim fasisnya.

Segera setelah membangun kediktatorannya, Mussolini yang juga dikenal dengan nama Il Duce mulai memobilisasi bangsa Italia di belakang rezim fasis. Dalam hal ini, olahraga merupakan salah satu hal yang fundamental dan meskipun kurangnya antusiasme serta sedikitnya bakat, sepakbola atau dalam bahasa Italia disebut dengan Calcio menjadi bahasa nasionalisme dan kunci utama untuk menyebarkan ideologi fasisme.

Pada tahun 1926 sebuah aturan bernama Carta di Viareggio atau Viareggio Charter dibuat dan mengubah sepakbola menjadi sebuah permainan fasis. Dipimpin oleh seorang fasis dari Bologna, Leandro Arpinati, Federasi Sepakbola Italia merevolusi permainan sepakbola dengan aturan tersebut. Poin terpenting adalah pembentukan liga nasional bernama Serie A Italia. Tujuannya ada dua: (1) untuk menumbuhkan rasa nasionalisme; dan (2) untuk menciptakan sebuah turnamen dengan struktur yang lebih kuat dan kompetitif yang nantinya diharap bisa menghasilkan tim nasional yang mampu bersaing di kancah internasional.

Buah dari investasi fasisme mulai muncul pada awal ‘30an ketika klub-klub Italia menantang klub-klub dari Eropa Tengah dan Inggris demi memperebutkan supremasi. Generasi itu meraih kesuksesan pada tahun 1934 di saat Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia dan berhasil memenangkannya. Mimpi Mussolini menjadi kenyataan. Namun ada dua keraguan di balik keberhasilan timnas Italia pada tahun 1934: (1) absennya timnas Inggris, dan (2) isu menyogok wasit. Hanya ada sedikit bukti untuk mendukung tuduhan pembelian petugas pertandingan, namun absennya Inggris dalam turnamen tersebut memang menjadi faktor utama di balik kesuksesan timnas Italia meraih trofi Piala Dunia karena mereka selalu tidak mampu mengamankan kemenangan dalam tiga pertandingan melawan timnas Inggris antara tahun 1930-34.

Dengan masih absennya Inggris empat tahun kemudian, Piala Dunia 1938 di Prancis menjadi kesempatan besar bagi Italia untuk mempertahankan trofi di negeri asing serta menepis keraguan pada turnamen sebelumnya. Tetapi mendekati perhelatan akbar tersebut terdapat beberapa alasan untuk menolak kedatangan timnas Italia ke Prancis, salah satunya adalah kebencian warga Prancis atas rezim fasis Italia yang dinilai kejam dan menjijikkan.

Carlo Rosselli, salah satu intelektual anti-fasis yang paling karismatik dan berpengaruh di Eropa yang tinggal di tempat pengasingan di Prancis sejak 1929, dikabarkan mengatur sebuah siasat untuk membunuh Mussolini. Dukungan Rosselli terhadap perluasan perang sipil di Spanyol menjadi perang anti-fasis Eropa membikinnya menjadi salah satu musuh yang paling berbahaya bagi rezim fasisme dan menempatkannya di urutan nomor satu dalam daftar orang yang paling dicari se-Eropa. Bersama dengan saudaranya, Nello Rosselli, seorang sejarawan menyebutkan bahwa keduanya dibunuh di Normandy pada tanggal 9 Juni 1937. Keduanya ditikam dengan sadis, selain itu Nello juga ditembak. Sekitar 200.000 orang dikabarkan menghadiri pemakaman Rosselli Bersaudara di Paris, Prancis.

Media Italia mencoba untuk menghubungkan pembunuhan Rosselli Bersaudara dengan kelompok anarkis dan komunis yang anti-fasis, namun yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini sebenarnya adalah kelompok ekstrem politik sayap-kanan Prancis, La Cagoule, yang memiliki hubungan dengan dinas rahasia Prancis. Meski upaya pembunuhan Mussolini tidak pernah terjadi, polisi rahasia Italia mengawasi gerak-gerik Carlo Rosselli di hotelnya. Dua hari setelah pembunuhan Rosselli Bersaudara, 11 Juni 1937, Leon Blum mengajukan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri dari koalisi anti-fasis Prancis, Front populaire.

Hubungan Prancis-Italia tidak terbantu dengan adanya pernyataan anti-Prancis/pro-Jenderal Francisco Franco oleh Mussolini pada 14 Mei 1938. Mendeklarasikan dukungannya terhadap Jenderal Franco dalam perang sipil di Spanyol, deklarasi kontemporer Mussolini tentang kesepakatan politik dengan Inggris mengancam pengepungan Prancis. Ini merupakan konteks politik kedatangan timnas Italia pada tahun 1938 di Prancis, di mana protes anti-fasis menjadi warna tersendiri dalam turnamen Piala Dunia tersebut. Ugo Locatelli mengenang bahwa beberapa warga negara Italia yang diasingkan di Prancis bersama dengan penduduk lokal yang mencapai sekitar 3.000 orang menyambut kedatangan timnas Italia di Kota Marseille dengan protes besar-besaran. Polisi setempat, dengan brutal dan bersenjatakan tongkat pemukul anjing, mencoba meredam aksi protes tersebut. Hal ini kontras dengan yang diberitakan oleh media Italia bahwa timnas Italia disambut dengan hangat di stasiun oleh sejumlah pejabat dan para suporter lokal.

Dalam sebuah interview pada tahun 2001 dengan Piero Rava, satu-satunya pemain timnas Italia di Piala Dunia 1938 yang masih hidup pada saat itu, salah satu kolumnis The Guardian, Simon Martin, menulis bahwa “Rava tidak ingat adanya protes besar-besaran saat kedatangan timnas Italia di Marseille pada tahun 1938”. Martin tidak bisa menyimpulkan apakah Rava mengatakan kejadian yang sebenarnya atau menjawab pertanyaannya dengan sangat selektif. Sementara di sisi lain, Locatelli dengan tegas mengatakan bahwa dia masih ingat protes-protes yang dilancarkan kepada timnas Italia sepanjang turnamen. Locatelli menambahkan bahwa orang-orang yang melancarkan protes tersebut menganggap timnas Italia sebagai “representasi dari rezim fasisme, bukannya wakil bangsa Italia”. Timnas Italia saat itu merupakan sebuah hasil dari apa yang ditabur oleh rezim fasisme melalui politisasi sepakbola 12 tahun sebelumnya.

Memahami ketidak-populeran itu, sambutan selamat datang timnas Italia di Prancis tidak menjadi masalah bagi Pozzo yang menanamkan rasa militerisme yang sangat kuat terhadap anak asuhnya saat itu. Pozzo meredam masalah persaingan di antara pemain yang berpotensi memecah belah persatuan skuadnya dengan mengurung mereka dalam satu kamar, suasana tempat latihan timnas Italia saat itu pun lebih mirip dengan barak militer. Memiliki hubungan erat dengan hierarki fasis, Pozzo “memenjara” skuadnya di tempat yang jauh dari keramaian dengan lari melewati hutan sebagai porsi latihan utama di pagihari. Taktik pendekatan atau man-management yang digunakan oleh Pozzo sangat nasionalis: melakukan perjalanan ke Hungaria untuk mengunjungi monumen makam korban Perang Dunia I di Kota Redipuglia untuk mengingatkan skuadnya tentang tanggung jawab mereka dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka terhadap negara dan bangsa Italia.

Pertandingan pembuka timnas Italia di Piala Dunia 1938 mempertemukan mereka dengan Norwegia di atas lapangan hijau dan juga dengan sekitar 10.000 orang Italia yang diasingkan ke Marseille, Prancis, oleh rezim fasis Mussolini melakukan aksi protes di teras stadion. “Our players don’t even dream to make some politics, but the fascist salute is the official flag of the moment, it’s a sort of ceremony and they must show allegiance to it,” ujar Pozzo, dikutip dari FirstPost.Sports. “They represented their country and they naturally wore its colours and symbol. I have my ideas, but I know what my duty is. When we take to the field we are solemn and deafening hisses attend us. And we don’t lower the hand until the hisses are stopped. The action of intimidation has not succeeded.

Masalahnya adalah simbol yang ditampilkan oleh skuad Pozzo saat itu adalah Fascio Littorio yang memiliki arti “seikat tongkat dan kapak”. Simbol ini digunakan pertama kali oleh orang-orang Romawi sebagai tanda hukum dan ketertiban yang kemudian, untuk alasan yang sama, diadopsi oleh rezim fasisme sebagai bentuk dari salute atau salam hormat mereka. Lagu kebangsaan fasisme, Giovinezza (Youth), juga diperdengarkan saat timnas Italia memasuki stadion, namun simbol Romawi itulah yang menyebabkan seluruh orang marah, terutama ketika Pozzo memerintahkan para pemainnya untuk tetap melakukan salam tersebut.

Di bawah tekanan, timnas Italia tampil kurang mengesankan meski mampu meraih kemenangan 2-1 melalui babak extra-time. “Vittoria ma non basta” atau “Victory, but not enough” menjadi kesimpulan media pada saat itu. Giorgio Vaccaro, jenderal milisi fasis dan Kepala Federasi Sepakbola Italia, juga mengaku tidak menyukai permainan yang ditampilkan oleh skuad timnas Italia dalam pertandingan melawan Norwegia itu, terutama pemilihan Eraldo Monzeglio yang dianggap terlalu tua sebagai defender bukannya Alfredo Foni. Pozzo mengklaim adanya tekanan dari Villa Torlonia, tempat tinggal Mussolini di mana Monzeglio melatih anak-anak Mussolini bermain sepakbola dan terkadang bermain tenis dengan Mussolini. Intervensi Vaccaro mengakhiri karier internasional Monzeglio dan sekaligus menggambarkan adanya campur-tangan politik dalam seleksi pemain timnas Italia, di mana Pozzo mengaku bahwa dirinya dipaksa untuk memilih pemain yang menjadi anggota partai pada tahun 1934.


Getaran dari Marseille terasa di Paris, di mana timnas Italia bertemu Prancis di babak perempat-final. Jika protes anti-fasis telah mengguncangkan kepercayaan diri timnas Italia di Marseille, lain halnya di Paris. Para pemain timnas Italia semacam mendapatkan inspirasi di stadion Olympique de Colombes, Paris. Pozzo memoles timnya di pertandingan ini dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh rezim fasis terhadap semua berita yang tidak menyenangkan.

"Fascio Littorio" dan jersey serbahitam timnas Italia pada perempat-final Piala Dunia 1938. (gambar: "The Guardian")
“Fascio Littorio” dan jersey serbahitam timnas Italia pada perempat-final Piala Dunia 1938. (gambar: “The Guardian”)

Dengan kedua negara yang biasanya bermain mengenakan jersey utama berwarna biru, banyak yang tertarik untuk mengetahui siapakah yang harus mengalah dan mengenakan jersey away. Italia kalah dalam undian penentuan warna jersey yang harus dipakai dalam pertandingan tersebut, dan alih-alih mengenakan jersey away berwarna putih, timnas Italia malah tampil dengan jersey serbahitam. Ini merupakan perintah langsung dari Mussolini yang masih kesal dengan kejadian di Marseille. “Pakaian hitam” adalah simbol dari The Blackshirts atau camicie nere atau MVSN (Milizia Volontaria per la Sicurezza Nazionale), sebuah pasukan paramiliter rezim fasis Mussolini. Kemunculan pertama “pakaian hitam” di kancah internasional adalah ketika dikenakan oleh tim siswa asal Italia saat memenangkan sebuah kejuaraan di Berlin, Jerman. Tampil dengan jersey serbahitam dan melakukan Fascio Littorio sebelum sepak-mula pertandingan, Italia merepresentasikan secara terang-terangan simbol dari rezim fasis yang tengah berkuasa pada saat itu dan, pada saat yang bersamaan, mengejek demonstran anti-fasis yang memadati stadion Olympique de Colombes.

Seisi stadion dibungkam oleh kemenangan nyaman Italia dengan skor 3-1. Koran harian rezim fasis, Il Popolo d’Italia, memberitakan bahwa skuad timnas Italia menampilkan performa terbaiknya dalam turnamen empat tahunan tersebut: “It is Italy — the black shirt with the Savoy shield and the Fascio Littorio on its chest — that has won the right to contest the final in Paris.


Kemenangan merupakan hal yang sangat penting bagi rezim fasis Italia. Sebelum final tersiar kabar bahwa timnas Italia menerima sebuah telegram langsung dari Mussolini dengan instruksi sederhana: “Vincere o morire!”, atau “Win or die!”. Tidak mengherankan jika telegram tersebut tidak diarsipkan dalam daftar pengiriman yang pernah dilakukan oleh Departemen Luar Negeri Italia, demikian juga dengan pernyataan Rava yang menyangkal telegram tersebut berisi ancaman hukuman mati bagi skuad Italia jika tidak mampu memenangkan pertandingan final melawan Hungaria: sensor a la fasis. “Tidak, tidak, tidak, hal itu (telegram berisi ancaman hukuman mati) tidak benar,” ujar Rava, seperti yang dilansir oleh The Guardian. “Dia (Mussolini) mengirimkan telegram mengharapkan yang terbaik bagi kami, bukan ‘menang atau mati’.

Saat kedudukan imbang 1-1 pada pertandingan final melawan Hungaria, timnas Italia menunjukkan kelasnya dengan mencetak dua gol dalam waktu 20 menit, dan tampaknya bakal memenangkan trofi Jules Rimet untuk kedua kalinya. Rava mengenang: “Dalam 20 menit yang spektakuler tersebut, kami melupakan politik dan prasangka etnis kami.

Pertandingan berakhir dengan skor 4-2 untuk kemenangan Italia. Masing-masing pemain dan staf kepelatihan menerima bonus sebesar ₤8.000 dan medali emas fasisme, yang diberikan langsung oleh Mussolini dalam sebuah acara resepsi selama 15 menit di Palazzo Venezia di Kota Roma. Yang lebih menarik adalah, mengingat antusiasme dan hasratnya untuk menguasai dunia pada saat itu, Mussolini ternyata tidak pernah menyentuh trofi Jules Rimet.


Fasisme Italia telah mempersiapkan diri untuk meraih trofi Piala Dunia ketiga secara berturut-turut pada tahun 1942, namun Perang Dunia II membuyarkan impian tersebut. Setelah rezim fasis Italia jatuh pada tahun 1943 dan Italia dibebaskan 18 bulan kemudian, Pozzo membikin transisi yang sempurna dari kediktatoran ke republik demokratis dalam skuadnya. Pozzo tetap menjadi pelatih timnas Italia sampai memutuskan pensiun dari dunia sepakbola pada tahun 1948. Setelah pensiun, Pozzo menjadi wartawan untuk koran La Stampa di Kota Turin hingga ajal menjemputnya pada tahun 1968.

Terlepas dari pertanyaan tentang bakat Italia yang biasa-biasa saja dan keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya, gestur isyarat politik Fascio Littorio dan “pakaian hitam” yang merangkum kebangkitan sepakbola Italia di bawah rezim fasisme merupakan strategi politik yang luar biasa, terutama dalam konteks yang terjadi di Prancis pada saat itu dan momen yang terjadi sesudahnya. Fasisme mungkin telah memenangkan pertarungan intimidasi di atas lapangan hijau, seperti yang dikatakan oleh Pozzo, namun setelah Italia kalah di Perang Dunia II, Fascio Littorio dan “pakaian hitam” dianggap sebagai aksi politik secara terang-terangan dan merupakan salah satu momen yang paling memalukan yang pernah terjadi dalam sejarah Piala Dunia.

Piala Dunia 1938 in action
FIFA merilis film dokumenter resmi Piala Dunia, dengan Piala Dunia 1954 menjadi turnamen pertama yang didokumentasikan. Namun ternyata ada semacam a forgotten film tentang Piala Dunia 1938 berbahasa Prancis, yang sayangnya tanpa subtitle bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Rumor yang beredar mengatakan bahwa FIFA tidak mengakui film ini karena terdapat beberapa gambar kontroversial di dalamnya terkait dengan turnamen yang diselenggarakan di Prancis tersebut. Hal ini dikarenakan FIFA tidak ingin dihubungkan dengan Piala Dunia 1934 dan 1938 yang memuat kontroversi politik fasisme Italia era Mussolini serta situasi politik di Austria dan Jerman pada saat itu. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s