Di antara senjata perang dan ranjau darat

Every day, children are killed or maimed by landmines and weapons of past or current wars/conflicts.
Spirit of Soccer

KEMATIAN telah menjadi kawan karib bagi mereka yang menjalani kehidupan hariannya di Irak. Suara ledakan bom dan desing peluru merupakan “alunan nada” yang biasa mereka dengar di sana, meneror detik demi detik hidup harian, mengawasi di balik setiap tarikan dan embusan nafas mereka. Anak-anak kecil di Irak memiliki hubungan mesra dengan kehilangan yang selalu saja datang dengan berbagai macam cara yang sangat mengerikan. Nyawa menjelma serupa onggokan yang tidak memiliki arti apa-apa jika diletakkan di tengahtengah medan perang dan konflik yang berkepanjangan.

Berdalih adanya keterlibatan Irak dengan al-Qaeda dan kecurigaan kepemilikan senjata pemusnah massal, invasi Amerika Serikat dan pasukan koalisi pada tahun 2003 menyebabkan Irak dan kehidupan manusia yang ada di dalamnya berada di titik yang paling tidak menentu. Kematian bisa datang mengetuk pintu rumah kapan saja. Tentara Amerika Serikat memang telah pergi dari Irak sejak tahun 2011 lalu, namun hal itu bukan berarti bahwa situasi mencekam akibat teror telah berakhir. Perang internal masih sering terjadi di Irak, dan kini kelompok fasis-militan, ISIS, dengan obsesi konyol mereka untuk menguasai dunia semakin memperparah situasi dan kondisi Irak.

Di tengahtengah rasa ngeri dan tumpukan mayat, serta tangis kehilangan yang seolah tidak bakal pernah selesai, sepakbola mungkin menjadi hal terakhir yang dipikirkan oleh sebagian besar warga Irak. Namun, ada atau tidak adanya sepakbola dalam pikiran warga Irak dan menarik atau tidak menariknya sepakbola Irak untuk dijadikan komoditas berita media-massa mainstream, sepakbola pada kenyataannya masih dijadikan sarana untuk mewarnai dan menyelamatkan kehidupan warga Irak — terutama kehidupan anak-anak kecil di sana.

Menikmati masa kanakkanak di daerah konflik macam Irak juga berarti mencoba berusaha sebisanya untuk mempersetankan suara senapan, mencoba memilah-milah dengan sangat hatihati tanah mana yang tidak ditanami ranjau darat, atau mencoba untuk terus mengingat lelucon dengan kawankawan di sekolah. Sepakbola, di antara semua ketidak-pastian dan kengerian itu, mencoba mengajarkan anak-anak kecil di Irak untuk dapat bertahan hidup dengan cara merayakan satu-dua kegembiraan kecil.

Pada kenyataannya, (sisasisa) ranjau darat yang belum sempat meledak selalu menelan korban mentahmentah dan 80% di antaranya adalah anak-anak, mengingat mereka — anak-anak kecil — merupakan makhluk yang masih dipenuhi rasa penasaran terhadap apa pun, tidak terkecuali terhadap benda mengilap yang tertanam di tanah. Rasa penasaran tersebut seringkali mendorong anak-anak untuk mencoba menyentuh, atau bahkan mengambil, benda mengilap itu. Jika nyawa si anak tertolong, dia masih tetap harus melewati proses penyembuhan yang begitu panjang dan sangat menyakitkan akibat trauma. (Ini adalah kewajaran fakta yang menyebalkan, bagi saya, bahwa rasa penasaran yang berguna untuk melatih imajinasi anak-anak harus dibayar dengan nyawa, harus berakhir karena sisasisa keegoisan manusiamanusia fasis!)

Dipicu kejadian tragis di Bosnia, Scott Lee — relawan kemanusiaan — memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi sosial yang berkonsentrasi menggunakan kekuatan dan keindahan sepakbola untuk mengajarkan anak-anak kecil cara melindungi diri dari sisasisa ranjau darat di wilayah konflik (Mine Risk Education atau MRE). Organisasi sosial bentukan Lee ini diberi nama Spirit of Soccer (SOS). Melalui sepakbola, SOS — yang juga melibatkan masyarakat lokal dalam pelaksanaan program kerjanya — memberikan pengertian dan edukasi kepada anak-anak perihal ranjau darat yang sampai sekarang ini masih tersebar di banyak tempat, serta melakukan pembinaan sepakbola kepada anak-anak. SOS memulai program kerjanya di Irak sejak tahun 2009, dan hingga saat ini mereka telah melatih dan membina sekitar 22.000 anak, 18 pelatih lokal, dan juga tiga perempuan. Semua jumlah yang telah dilatih oleh SOS di Irak berasal dari berbagai macam kelompok etnis dan agama, seperti Syiah, Sunni, Kurdi, Kristen, dan Arab.

SOS, dengan programprogram yang dimilikinya, berupaya agar anak-anak kecil memiliki tempat bermain (sepakbola) yang layak dan aman. Sebagai hal yang sangat disukai oleh banyak orang, sepakbola memiliki kekuatan untuk bisa menyambung komunikasi yang sempat terputus. Yang paling penting adalah bahwa sepakbola, dalam bentuk permainan yang begitu menyenangkan dan mengasyikkan, bisa difungsikan untuk membantu anak-anak — bahkan manusia pada umumnya — mengurangi trauma.

Sepakbola selalu memaksa penikmat dan pelakunya untuk membaca dan mengenali lawannya, dan mengajarkan MRE menggunakan sepakbola bisa dibilang juga dengan memperkenalkan anak-anak kecil kepada musuh-musuhnya dan bagaimana menghadapinya dengan cara yang menggembirakan. Dalam setiap pertemuannya, SOS menggunakan waktu selama 15 menit usai permainan untuk memberikan pengertian MRE kepada anak-anak dan juga kepada orang-orang dewasa.

Perayaan kecil yang seadanya
Pada tahun 2015, ISIS berhasil menguasai Kirkuk dan memberlakukan aturan yang melarang siapa pun untuk bermain sepakbola di wilayah tersebut, termasuk juga sepakbola anak-anak yang tujuannya hanya untuk bersenang-senang merayakan kehidupan. Sepakbola, bagi ISIS, dan segala aktivitas yang berkaitan dengannya merupakan perilaku yang masuk dalam kategori dosa besar, dan jika ada yang kedapatan melakukannya maka hukumannya adalah eksekusi mati. ISIS pernah mengeksekusi 13 remaja pada awal tahun 2015 menggunakan senapan mesin di ruang publik Kota Mosul, Irak, karena tertangkap sedang menonton pertandingan sepakbola di televisi. Eksekusi ini dimaksudkan untuk menegaskan kepada masyarakat bahwa sepakbola adalah haram hukumnya bagi ISIS.

Di tengahtengah teror dan aturan ketat ISIS tersebut, warga Kirkuk ternyata masih menikmati sepakbola — secara sembunyisembunyi, tentunya. Pada saat timnas Irak mampu menyelesaikan AFC Asian Cup 2015 di peringkat keempat, ada sorak-sorai kegirangan di antara warga Kirkuk atas pencapaian timnasnya itu. Ada semacam perayaan kecil yang tidak meriah dan seadanya di selasela kengerian dan situasi yang mencekam itu. Bagi saya, perayaan kecil tersebut merupakan kegembiraan yang dibangun dengan mempertaruhkan banyak hal setelah sehari-hari dihadapkan dengan segala sesuatu yang berpotensi menghilangkan nyawa dengan cara yang paling menyeramkan. Perayaan, sekecil apa pun itu, adalah kemewahan tersendiri bagi warga Kirkuk — dan Irak, pada umumnya.

Saya tidak betulbetul tahu dan paham seketat dan sekolot apa pengawasan yang dilakukan oleh pasukan ISIS di Kirkuk, Irak. Namun saya membayangkannya seperti ini: mereka mengelabui pasukan pengawas dan berhasil mencuri-curi kesempatan untuk menonton pertandingan demi pertandingan timnas Irak di AFC Asian Cup 2015; atau ada satu-dua orang dari pasukan pengawas yang, saking cintanya terhadap sepakbola, malah membantu mereka untuk mengorganisir nobar kecil-kecilan dan menonton dengan perasaan campur-aduk tidak keruan karena diliputi rasa takut yang luar biasa besar — bukan hanya takut timnas Irak kebobolan, melainkan juga takut tertangkap dan namanama mereka masuk dalam daftar yang bakal dieksekusi mati esok harinya, atau, yang lebih mengerikan, tempat nobar mereka tibatiba dibom oleh pasukan pengawas ISIS lainnya.

Keberanian — atau kenekatan — semacam itu memang layak untuk dirayakan dengan secangkir kopihitam dan beberapa batang rokokputih, lalu ditutup dengan satu-dua teguk arak lokal!

* * * * *

Apa yang dilakukan oleh SOS, dan juga tulisan remeh-temeh ini, mungkin tidak bakal bisa menghentikan teror dan konflik yang saat ini terjadi di Irak. Kalimat heroik murahan macam “sepakbola mampu menyelamatkan Irak, bahkan dunia, dari ancaman perang” masih menjadi hal yang terlalu jauh dan mengada-ada.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa SOS, secara langsung maupun tidak langsung, telah menghidupkan romantisme dan heroisme sepakbola dengan cara yang paling sunyi namun menggembirakan: tanpa ultras garis keras, tanpa stadion, tanpa perdebatan soal siapa yang paling mencintai sepakbola, tanpa nyanyian, tanpa koreografi. Dan juga, saya ingin bilang bahwa sepakbola adalah sepakbola, dan semoga saja tetap menjadi sepakbola: suatu hal yang memiliki daya candu luar biasa yang mampu membikin begitu banyak manusia melupakan ketakutan dan kengerian, meskipun hanya sesaat. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s