Ferenc Puskás: The Galloping Major of Hungary

KARIER sepakbola yang luar biasa dari Ferenc Puskás (lahir 1 April 1927 dan meninggal 17 November 2006 di Budapest, Hungaria) terbagi dalam dua bagian. Yang pertama adalah sebagai kapten dari timnas Hungaria — pada waktu itu dikenal dengan sebutan Mighty Magyars — yang dipimpinnya hingga partai final Piala Dunia 1954. Yang kedua adalah sebagai bintang Real Madrid pada tahun 1958-66.

Saat terjadinya Revolusi Hungaria 1956, Puskás bersama rekan-rekannya di klub Budapest Honvéd menjalani laga tandang melawan Athletic Bilbao di putaran pertama European Cup (saat ini Liga Champions Eropa) dan leg kedua pertandingan tersebut digelar di Brussel, Belgia. Usai pertandingan leg kedua, Puskás, yang dikenal memiliki kekuatan kaki kiri yang menakjubkan, bersama dua rekan satu timnya di Budapest Honvéd, Sándor Kocsis dan Zoltán Czibor, menolak untuk kembali ke Hungaria; mereka mengadakan tur pertandingan amal di Italia, Portugal, Spanyol, dan Brasil. Sekembalinya dari Brasil, Czibor, Kocsis, dan Puskás lebih memilih untuk menetap di Spanyol. Puskás kemudian bergabung dengan Real Madrid, sementara Czibor dan Kocsis menandatangani kontrak dengan Barcelona.

Puskás lahir di sebuah distrik kelas pekerja di Budapest dan dibesarkan di Distrik Kispest. Terlahir dari pesepakbola Hungaria, Ferenc Sr., Puskás bermain sepakbola di jalanan Distrik Kispest bersama Josef Bozsik (yang nantinya menjadi rekan Puskás di timnas Hungaria). Puskás memulai karier sepakbolanya di tim junior Kispest AC, yang pada saat itu dilatih oleh Nandor Szucs, dan mendapat julukan Öcsi atau “adik”. Puskás melakoni debut pertamanya di tim senior Kispest AC pada bulan November 1943 melawan pemuncak klasemen Liga Hungaria saat itu, Nagyváradi AC. Pada tahun 1949, Kispest AC diambil-alih oleh Departemen Pertahanan Hungaria dan berganti nama menjadi Budapest Honvéd.

Mengawali karier di posisi inside-left forward, Puskás menyempurnakan skill sepakbolanya dengan berlatih juggling menggunakan bola tenis. Pada tanggal 20 Agustus 1945, Puskás melakoni debut internasional pertamanya bersama timnas Hungaria di usianya yang baru 18 tahun. Sejak saat itu Puskás mencatatkan 85 caps dan 84 gol untuk timnas Hungaria. Ketika Kispest AC diambil-alih oleh Departemen Pertahanan Hungaria, Puskás secara otomatis terdaftar sebagai tentara Hungaria dan mendapat julukan The Galloping Major. Meski begitu, Puskás jarang sekali tampil dalam acara parade tentara Hungaria.

Tim Mighty Magyars yang “disimpan” oleh Federasi Sepakbola Hungaria selama beberapa tahun akhirnya tampil pertama kali pada musim panas tahun 1952. Timnas Hungaria melaju ke partai final cabang sepakbola di gelaran Olimpiade di Kota Helsinki, Swedia, dan meraih medali emas setelah mengalahkan Yugoslavia dengan skor 2-0. Puskás gagal mengeksekusi penalti namun dia menebusnya dengan mencetak gol pada menit 70 memanfaatkan assist dari Czibor.

Pada bulan Mei 1953, Hungaria menampilkan performa yang luar biasa dengan mengalahkan Italia 3-0 di Stadio Olimpico, Roma, di mana Puskás mencetak dua gol. Enam bulan berikutnya, timnas Hungaria memerkosa Inggris di Wembley dengan skor 6-3 dan Puskás juga mencetak dua gol. Gol pertama Puskás pada menit 22 dideskripsikan sebagai gol yang sangat indah dari seorang seniman brilian lapangan hijau, mengutip Pat Ward-Thomas dari The Guardian: “The first was a wonderful goal. A move from the right, a short pass, and Puskás, with Dickinson right upon him, swivelled like lightening and smashed the ball in from which gave him about a foot to aim at between Merrick and the post.

Berkat penampilan impresif sepanjang tahun 1953, timnas Hungaria diunggulkan untuk dapat meraih trofi Piala Dunia 1954 di Swiss. Mereka mengawalinya dengan menghancurkan Korea Selatan 9-0; dilanjutkan mengalahkan Jerman Barat dengan skor 8-3 di mana Puskás mengalami cedera karena mendapatkan tackle yang cukup brutal dari bek Jerman Barat, Werner Liebrich. Puskás harus menepi.

Namun timnas Hungaria ternyata masih mampu melanjutkan tren positif mereka tanpa Puskás. Czibor berhasil menggantikan peran Puskás sebagai inside-forward. Di perempat-final, Hungaria sukses mengalahkan Brasil dengan skor 4-2 dan di semi-final mengalahkan Uruguay juga dengan skor 4-2 melalui babak extra-time. Di partai final yang digelar di Kota Bern, Puskás bersikeras bahwa dia harus bermain meski belum pulih dari cedera.

Puskás tidak sepenuhnya fit dalam pertandingan final melawan Jerman Barat itu. Meskipun demikian, saat Hungaria tertinggal 2-3 setelah sempat unggul 2-0, Puskás melakukan pergerakan menawan yang menerobos para defender Jerman Barat untuk menyambut umpan salah satu rekannya dan mampu mencetak gol penyeimbang, namun asisten-wasit asal Wales, Mervyn Griffiths, mengangkat bendera tanda bahwa Puskás berada dalam posisi offside, dan wasit asal Inggris, Bill Ling, akhirnya tidak mengesahkan gol Puskás tersebut. Hungaria kalah. Di akhir pertandingan, Puskás merasa bahwa dia berada dalam posisi onside dan gol-nya sah.

Puskás, yang semakin gendut namun masih mengagumkan, bergabung dengan Real Madrid pada tahun 1958 dan berduet dengan Alfredo Di Stéfano. Puskás meraih gelar El Pichichi atau pencetak gol terbanyak di Liga Spanyol sebanyak empat kali pada tahun 1960 (26 gol), 1961 (27 gol), 1963 (26 gol), dan 1964 (20 gol). Puskás mencetak empat gol saat Real Madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt 7-3 di pertandingan final European Cup pada tahun 1960. Dua tahun kemudian, Puskás juga mampu mengantarkan Real Madrid ke partai final European Cup namun kalah 5-3 dari wakil Portugal, Benfica. Dalam pertandingan yang dilangsungkan di Amsterdam Arena tersebut, Puskás mencetak hattrick. Salah satu golnya bahkan disebut sebagai gol terindah sepanjang sejarah Liga Champions Eropa. Usai pertandingan itu beberapa media melaporkan bahwa Puskás dan legenda Portugal, Eusebio, saling menukar jersey mereka. Namun Puskás membantah kebenaran kabar ini di kemudian hari.

Kemudian, pada musim panas 1962, Puskás bermain untuk timnas Spanyol di Piala Dunia yang digelar di Chili, di mana dia dimainkan sebagai centre-forward oleh pelatih timnas Spanyol saat itu, Helenio Herrera. Puskás tidak menikmati peran barunya tersebut — dia lebih menyukai bermain sebagai inside-left forward — dan gagal mencetak satu gol pun dalam event tersebut. Saat jalanan Kota Santiago dipenuhi oleh fans tuan rumah yang merayakan keberhasilan Chili merebut juara ketiga, Puskás terlihat di pintu hotel tempatnya menginap dengan senyum sinis a la Budapest yang khas dengan raut wajahnya.

Tahun berikutnya, Puskás menjadi bagian dari skuad FIFA XI melawan timnas Inggris di Wembley dalam acara ulang tahun FA (Federasi Sepakbola Inggris) yang ke-100. Puskás bermain pada babak kedua menggantikan Eusebio. Pada akhir tahun 1965, tepatnya di putaran pertama European Cup 1965/66, Puskás mampu mencetak lima gol di dua leg saat menghadapi wakil Belanda, Feyenoord. Real Madrid mampu mencapai final namun Puskás tidak bisa bermain karena cedera. Puskás pensiun pada tahun 1966 dan pergi ke Kanada untuk melatih klub Vancouver Royals di mana dia mencederai kiper klubnya sendiri saat sang kiper mencoba menahan tendangan kaki kirinya ketika sesi latihan.

Selanjutnya, pada tahun 1971, Puskás menjadi pelatih Panathinaikos dan mampu membawa klub tersebut ke pertandingan final European Cup 1970/71 di Wembley meski akhirnya kalah 0-2 dari Ajax Amsterdam. Selama empat tahun karier kepelatihannya di Yunani, Puskás mampu membawa Panathinaikos menjuarai Alpha Ethniki (divisi teratas Liga Yunani saat itu) pada musim 1971/72 dan posisi runner-up Intercontinental Cup 1971.

Setelah runtuhnya rezim komunisme di Eropa Timur pada tahun 1989, Puskás kembali pulang ke Hungaria dan tinggal di Budapest. Tahun 1999, Puskás masuk dalam daftar pemain terbaik abad 20 versi FIFA di urutan keenam setelah Pelé, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Alfredo Di Stéfano, dan Diego Maradona. Pada tahun 2000, Puskás didiagnosis menderita penyakit Alzheimer. Puskás dirawat di rumah sakit Budapest selama enam tahun dan meninggal dunia pada tanggal 17 November 2006 di usia 79 tahun. Puskás meninggalkan seorang istri, Erzsébet, dan seorang putri, Anikó. Puskás dimakamkan secara kenegaraan di St. Stephen’s Basilica di Budapest — jutaan warga Hungaria menangisi kepergian sang legenda. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, nama Puskás diabadikan menjadi nama salah satu jalan di dekat Stadion Bozsik di Distrik Kispest, Budapest. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s