Rokokputih dan secangkir kopihitam untuk romantisme tentang sepakbola, masa kecil, dan ibu

PAGI ini rokokputih dan kopihitam menyeret saya di sepanjang kenangan tentang sepakbola, masa kecil, dan ibu. Dengan mantap, dua kenikmatan syahdu itu membawa saya kembali ke sebuah masa di mana kebahagiaan masih terasa nyata dan begitu asli dalam kesederhanaannya. Sepotong demi sepotong gambaran masa lalu yang berkelindan di batok kepala saat ini menyajikan sebuah konklusi bahwa ternyata ibu saya sebenarnya tidak pernah berjauh-jauhan dengan sepakbola. Ibu saya terasa dekat — sangat dekat, malah — dengan sepakbola.

Saya mengenang betapa menyenangkannya sepakbola a la bocah yang dulu saya mainkan dengan kawankawan sejawat di kampung halaman: betapa mudahnya kami menikmati kebahagiaan, saling berbagi tawa dan kehangatan, pada saat itu. Dengan batas gawang seadanya dari sandal, dua peluit panjang tanda berakhirnya permainan (pemilik bola yang pulang atau suara adzan), dan aturan tidak resmi yang dibikin dan disepakati bersama, kami bersenang-senang menumpuk sukacita dan merayakan kehidupan yang tidak seruwet sekarang.

Selain romantisme yang membuncah, ada juga rasa penasaran yang selalu saja muncul ketika bernostalgia dengan memori tentang sepakbola masa kecil saya. Hal yang membikin saya penasaran adalah bagaimana caranya ibu saya selalu bisa menemukan saya sedang bermain sepakbola di mana pun dan kapan pun. Di benak ibu saya, sepakbola adalah permainan yang membikin saya malas mandi, lupa mengerjakan PR sekolah, dan menambah beban tumpukan baju kotor untuk dicuci — singkat kata, ibu saya menganggap sepakbola sebagai faktor yang menumbuhkan sikap nakal saya. Selain itu, sepakbola juga membikin ibu saya khawatir dengan kondisi kaki saya yang pernah patah karena kecelakaan mobil. Oleh sebab itu, ibu saya kerap menyusul dan mendadak muncul di tempat di mana saya bermain sepakbola bersama kawankawan masa kecil saya.

Kesal dan jengkel dengan larangan ibu saya untuk bermain sepakbola, saya biasanya mengajak kawankawan pergi bermain bola di lapangan lain yang jaraknya lebih jauh dari perumahan kami, dan memang tidak sulit bagi kami untuk berpindah-pindah tempat bermain karena pada saat itu kami hidup di sebuah zaman yang masih gampang untuk menemukan lahan kosong yang bisa digunakan untuk bermain sepakbola seadanya. Namun tidak peduli sejauh apa pun tempat bermain sepakbolanya, ibu saya selalu bisa menemukan saya. (Sejauh apa pun jarak yang diciptakan oleh sang anak, seorang ibu — dengan cara kerja nalurinya yang ajaib — selalu bisa melipat jarak untuk datang dan mendekat kepada sang anak.) Teriakan untuk menyuruh saya pulang selalu terdengar di kuping dan suara ibu saya itu terasa lebih berkuasa ketimbang keputusan wasit atau perintah dari siapa pun di dunia banal ini. Semasa kecil, saya selalu dijejali dengan dongeng bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, dan oleh karenanya jika saya tidak menuruti panggilan ibu saya itu maka bisa panjang urusannya — apa boleh bikin, teriakan ibu saya itu adalah sebenar-benarnya The Law of the Game dari sepakbola masa kecil saya di kampung halaman. Sial, sebab kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali-dua, namun berulang kali.

Memang benar adanya bahwa ibu adalah sosok yang begitu dekat dengan sepakbola. Saya teringat dengan kisah para ibu di Argentina yang tidak pernah menjauh dari sepakbola, semenyeramkan apa pun ancaman atau seburuk apa pun kondisi cuaca yang sedang dihadapinya. Kelompok ibu itu bukanlah penggemar sepakbola, mereka hanyalah “ibu-ibu biasa” yang mungkin lebih paham bagaimana caranya membikin humita atau chipá. Mereka, para ibu itu, berkumpul di Plaza de Mayo — alun-alun Kota Buenos Aires yang terletak di depan monumen Pirámide de Mayo dan istana kepresidenan Casa Rosada — untuk melakukan aksi unjuk rasa menentang represi pemerintahan junta militer Argentina yang telah menghilangkan suami, cucu, atau anak mereka sejak 30 April 1977. Saat sepak-mula pertandingan pertama Piala Dunia 1978 yang digelar di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti, Buenos Aires, pada 1 Juni 1978, kelompok ibu-ibu pejuang itu mengadakan aksi besar-besaran di Plaza de Mayo karena mereka menyadari bahwa event Piala Dunia adalah ajang bertaraf internasional yang menarik perhatian banyak orang dan media di seluruh penjuru dunia. Sepakbola — yang sangat digemari oleh kerabat kesayangan mereka yang (sengaja) dihilangkan oleh pemerintahan junta militer Argentina itu — dijadikan alat oleh ibu-ibu itu untuk mengabarkan kepada dunia bahwa ada kejahatan mengerikan di balik wajah manis Argentina. Melalui sepakbola, ibu-ibu pejuang itu berupaya memberi tahu dunia bahwa ada yang tidak beres yang tengah terjadi di Argentina meskipun kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang-orang kesayangan yang telah (sengaja) dihilangkan itu sangat kecil.

Kembali ke masa kecil saya dulu, ibu saya adalah sosok yang pertama kali menggelengkan kepala dan sesekali melontarkan amarah setiap kali dia menemukan saya sedang menyibukkan diri dengan sepakbola. Yang seringkali saya lakukan untuk menghadapi kemarahan ibu saya itu adalah membantah dengan katakata dan sikap yang paling menyebalkan sembari menggerutu bahwa ibu saya tidak memahami kenikmatan dan keindahan sepakbola. Namun nyatanya saya keliru!

Setelah saya memutuskan untuk menghidupi hidup sendiri di kota lain dan hanya sesekali — tidak terlalu sering — pulang ke rumah, saya masih mendapati poster Alessandro Del Piero menempel di lemari baju saya, di tempat saya dulu pertama kalinya menempelkan poster itu, padahal sepeninggal saya merantau lemari baju itu telah digunakan oleh ibu saya untuk menyimpan bajunya sendiri. Saya tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran ibu saya, sebab saya jarang mengobrol dengannya. Bisa jadi ibu saya tahu, meski tidak sepenuhnya paham, bahwa pesepakbola yang ada di poster yang menempel di lemari baju itu sangat diidolakan oleh salah satu anaknya. Mungkin dengan tidak melepas poster itu adalah salah satu cara ibu saya agar bisa berdekatan dengan saya, anaknya yang bebal dan bandel serta suka sekali membantah setiap nasihatnya. Ibu saya menggunakan sepakbola untuk menjaga apa-apa yang tersisa dari diri saya agar tetap bisa berada di dekatnya.

Mungkin seperti itu. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s