Tendangan kung-fu Eric Cantona

I have this passion in me that I can’t handle. It’s like a fire inside you which demands to escape and which you have to let go. Sometimes it wants to get out to do harm. I do myself harm. It worries me when I do harm, especially to others. But I can’t be what I am without these other sides to my character.” — Eric Cantona

PADA tanggal 10 Januari 1995, Manchester United membeli Andy Cole dari Newcastle United dengan uang transfer sebesar £7 juta, salah satu sensasi transfer di Inggris pada saat itu. Cole sangat produktif pada musim sebelumnya dengan mencetak 34 gol di Premier League Inggris dan tidak satu pun dari gol tersebut dicetak melalui tendangan penalti. Tetapi pada musim selanjutnya, Cole hanya mampu mencetak sebiji gol dalam tiga bulan yang akhirnya membikin Kevin Keegan yakin telah mengambil satu keputusan yang tepat dengan membiarkan Cole, yang diklaim telah kehilangan insting gol dan aura kebintangannya, hijrah ke Old Trafford.

Tujuh hari setelah proses transfernya ke Manchester United rampung, Cole melakoni debut menghadapi Blackburn Rovers — yang pada saat itu menjadi pesaing Manchester United dalam perburuan gelar liga — di Old Trafford dan dia menampilkan performa yang mengecewakan. Cole bakal menjalani pertandingan keduanya pada tanggal 25 Januari 1995 melawan Crystal Palace, dan dia menjadi fokus utama mediamedia Inggris saat itu.

Kemenangan melawan Crystal Palace bakal membawa Manchester United nyaman di puncak klasemen meski mereka telah memainkan dua pertandingan lebih banyak daripada Blackburn Rovers, dan Sir Alex Ferguson semakin dekat dengan gelar juara liga ketiga berturut-turut. “Setelah hasil hari Minggu kita semua tahu bahwa perburuan gelar juara semakin seru,” ujar Ferguson, dilansir The Guardian. “Saya bisa merasakan bahwa klub sedang dalam suasana hati dan kondisi yang tepat untuk menghadapi tantangan.” Namun kenyataannya, pertandingan berikutnya menggaris-bawahi kegagalan timnya.

Seluruh perhatian terfokus kepada Cole sebelum sepak-mula pertandingan, namun setidaknya ada beberapa dari yang hadir di Selhurst Park pada saat itu menaruh perhatian pada Eric Cantona. Paolo Taveggia, yang menjabat sebagai manajer umum Inter Milan pada saat itu, dan Massimo Moratti terlihat berada di tribun khusus direksi untuk menyaksikan performa Cantona dan berharap bisa memboyong sang pemain ke Italia. “The first idea that I had after buying the club (Inter Milan) was taking both Cantona and Mancini,” kata Moratti kepada Corriere della Sera, dikutip dari Goal. “Then Cantona ended that in my presence in London with that Kung Fu kick on a Crystal Palace fan and he decided to stay in Manchester.

Babak pertama berjalan cukup baik bagi Crystal Palace. “Kami menampilkan performa yang bagus pada babak pertama, dan mungkin itu performa yang terbaik,” ucap Iain Dowie dilansir oleh The Guardian. “Saya ingat berbicara dengan Richard Shaw bahwa kami memiliki peluang yang bagus untuk meraih kemenangan.” Sementara itu Manchester United tidak terkesan dengan penampilan Crystal Palace, khususnya permainan Shaw. Shaw ditugaskan untuk terus menempel ketat Cantona, dan baik Cantona maupun Ferguson tidak senang dengan metode yang ditampilkan Shaw di atas lapangan. “I did not feel there was going to be a problem until Cantona went down after a challenge.” kenang Alan Wilkie, wasit yang memimpin pertandingan pada saat itu, dikutip dari The Guardian. “As we left the pitch for half-time, he said: ‘No yellow cards!’ When we were waiting in the tunnel for the restart, he said it again and (Alex) Ferguson confronted me and said: ‘Why don’t you just do your fucking job!’

When we played Man United we had certain tactics and one of them was to man-mark certain players,” ujar John Salako, mantan pemain Crystal Palace yang kini menjadi pandit sepakbola bagi Sky Sports, dikutip dari Independent.ie. “Richard Shaw, in my view, was one of the best man-markers in the business. He did a fantastic job that night. You could see Eric getting frustrated. I can remember him kicking Richard in frustration and getting sent off and I just thought: ‘We’ve done our job. Fantastic. Full marks to Richard.’

Menurut Dowie, permainan kasar dan pendekatan fisik memang menjadi ciri khas Shaw. Dowie mengatakan bahwa Shaw merupakan tipe “pesepakbola-yang-lebih-suka-menarik-jersey-lawan”. “Saya menjadi lawan tanding Richard Shaw dalam setiap latihan klub,” kenang Dowie kepada The Guardian. “Richard akan terus membayangi Anda, menarik kaus Anda, mendorong Anda, menabrak Anda; itu merupakan gaya permainannya. Saya memiliki hubungan yang baik dengan Richard, tetapi kami pernah terlibat beberapa pertengkaran. Jadi saya mengerti mengapa Cantona merasa jengkel dengan permainan Richard, karena saya juga merasa seperti itu di setiap latihan klub.

Tiga menit babak kedua dimulai, kejengkelan Cantona mencapai puncaknya. “Cantona was a player who had a hair-trigger temper, who was easy to wind up,” ujar Jon Champion dalam acara BBC 5 live’s ‘Cantona’s Kung-Fu Kick 20 years on’ yang disiarkan pada pertengahan bulan Januari tahun 2015 kemarin. “Every game he played, particularly away from home, their opponents would try to play on that short fuse. And I remember thinking in the first half that Palace were giving him the sort of treatment he’d come to expect — the odd nudge here, a sly little dig there, a pull of the shirt — and he was annoyed by it. And then, three minutes into the second half, another tangle.

The build-up to Cantona’s sending-off went like this,” ujar Wilkie, dikutip dari The Guardian. “Peter Schmeichel kicked the ball into the Palace half and when Richard Shaw turned to run, Cantona attempted to kick him.” Eddie Walsh, salah satu asisten-wasit, yang lebih dekat dengan kejadian tersebut melambaikan benderanya. Wilkie menghampiri Cantona dan langsung mengacungkan kartu merah. Cantona berputar di tempat, memandang ke segala sisi stadion, melipat kerah jersey-nya, dan berjalan ke bench Manchester United. Cantona berhenti sejenak di depan bench namun Ferguson, dengan tangan yang tersimpan di balik saku mantel musim dingin, mengabaikannya. Cantona kemudian melanjutkan untuk kembali berjalan menuju lorong ruang ganti pemain yang terletak di sudut stadion. Dan di sebelah kanan Cantona, seorang pemuda berkaca-mata bernama Matthew Simmons mengatakan sesuatu pada saat Cantona melewatinya.


Kemarahan
Simmons mengatakan kepada The Guardian bahwa dia “berada di tempat yang salah pada waktu yang salah”, meski kenyataannya Simmons berlari dari tempat duduknya — yang terletak di barisan 11 — menuju pinggir lapangan. Katakata yang diucapkan Simmons masih menjadi misteri sampai saat ini. Simmons mengaku telah meneriakkan: “Off you go Cantona, it’s an early bath for you!” Ada juga yang menduga bahwa Simmons mengatakan: “Fuck off back to France, you French bastard!” Cathy Churchman, salah satu fans Crystal Palace yang ada di barisan depan dan posisinya paling dekat dengan Simmons, bersikeras bahwa — mengingat volume suara yang dihasilkan oleh sekitar 18.000 orang yang hadir di Selhurst Park pada saat itu — tidak satu pun kata yang bisa didengar. “There were all these people who said: ‘Oh we could hear what he shouted out,’” ujar Churchman kepada The Guardian. “That’s absolute and utter crap because I never heard anybody shout. Everybody was booing because he (Cantona) was sent off. So those who were sitting 11 rows behind us and who claim they could hear what was being said are talking rubbish.

Dalam final Piala Dunia 2006, Zinedine Zidane menunjukkan kemarahan akibat dari sebuah penghinaan. Pertengahan bulan Januari 2015 kemarin, Paus Fransiskus mengakui bahwa “saya akan memukul siapa saja yang berani menghina ibu saya”. Dan Cantona — yang menerima tiga kartu merah pada musim sebelumnya dan dengan catatan panjang pelanggaran ringan saat masih bermain di Prancis — jelas memiliki sumbu kesabaran yang lebih pendek daripada Paus Fransiskus.

Dikutip dari The Telegraph, Cantona mengatakan: “Provocation we always had. Millions of times people say these things, and then one day you don’t accept it. Why? It’s not about words. It’s about how you feel at that moment. One day you react, but the words are exactly the same as those you have heard a million times, so it is impossible to say why you react.

I’d kept my eye on him as he strutted down the touchline,” kenang Champion dalam acara BBC 5 live’s ‘Cantona’s Kung-Fu Kick 20 years on’. “Our commentary position was on the stand he jumped into, so what he did, he did 20 yards in front of us. We had a very good view. I didn’t see Simmons rushing down the stand, all I saw was Cantona suddenly turning round and launching himself over the advertising hoardings feet-first.

Dowie mengatakan kepada The Guardian: “Pertandingan belum dilanjutkan kembali. Saya ingat menyaksikan kejadian itu. Cantona berjalan menjauh, melewati bench pemain cadangan. Saya ingat ada seorang pemuda yang berlari dari tribun atas menuju pinggir lapangan, mengucapkan sesuatu, dan tibatiba Cantona menyerangnya. Saya masih bisa mengingat kejadian tersebut dengan jelas hingga hari ini, saat Cantona melompat dan kemudian berdiri untuk melancarkan pukulan lainnya.

Beberapa pemain Manchester United berlari menuju tempat kejadian. “All I saw was Eric in trouble,” kenang Peter Schmeichel, dikutip dari The Telegraph. “We were a team. We were all in it together, whatever. So I went over to pull him away. It wasn’t until I saw the pictures later that I realised what had happened.” Sementara pemain lainnya tidak sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi karena pikiran mereka masih terfokus pada pertandingan.  Dean Gordon, full-back Crystal Palace saat itu, mengatakan kepada The Guardian: “Saya hanya menyaksikan sekilas kejadian tersebut. Butuh beberapa detik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Saya ingat bertanya kepada Chris Armstrong: ‘Apa yang terjadi di sana?’ Beberapa pemain mengatakan ada perkelahian.

All the players raced over but, actually, I just stood there transfixed,” kenang mantan defender Manchester United, Gary Pallister, dikutip dari Manchester Evening News. “I was in total disbelief and what I’d seen. I just couldn’t believe it. I can remember seeing Norman Davies attempting to stop Eric beating the living daylights out of the fan. Thank goodness he managed to pull him away. Eric was no angel. We all knew that. He had a short fuse and everybody has a breaking point. That night and moment was Eric’s. But it wasn’t just the tackles and shirt pulling he had to deal with that night that pushed him over the edge. It was the culmination of a lot of abuse Eric had to put up with at every ground he went to.

Pascakejadian
Di antara mereka yang melewatkan momen tendangan kung-fu Cantona adalah Ferguson. “I wasn’t looking at him when he left the pitch,” ujar Ferguson ketika diwawancarai oleh Erik Bielderman, dikutip dari The Republik of Mancunia. “I was focussing on how to reorganise the team tactically, ten against eleven. Once back at home, my son Jason asked me: ‘Do you want to see the pictures? I’ve recorded the game.’ I refused and went to bed. Sleep wouldn’t come. I got up around 3-4 in the morning and I saw. The shock was huge…

Begitu banyaknya perhatian yang terfokus pada kejadian tendangan kung-fu Cantona ini mengaburkan ingatan tentang jalannya sisa pertandingan. Keterangan yang diambil oleh The Guardian saat mewawancarai mantan pemain Crystal Palace yang bertanding pada saat itu: dua orang berpikir mereka kalah dalam laga tersebut, sedangkan tiga lainnya meyakini bahwa klub mereka memenangkan pertandingan. Faktanya, pertandingan ini berakhir imbang 1-1 di mana David May mencetak gol pertamanya di Liga Inggris untuk Manchester United, sebelum akhirnya mampu disamakan oleh Gareth Southgate.

The rest of the game passed by in a blur,” kenang Champion dalam acara BBC 5 live’s ‘Cantona’s Kung-Fu Kick 20 years on’. “I suppose the theme for the remainder of the game was trying to discuss what we’d seen, what it meant, why he might have done it, what the trigger had been — because no one knew about Simmons at this point — and also whether we would see him again. Because our feeling, and I think that of everyone else in the ground, bearing in mind what he’d just done, was that we weren’t going to see this enigmatic Frenchman in English football again.

Segera setelah pertandingan usai, banyak komentar yang menuntut agar Cantona dijatuhi hukuman yang berat. “Cantona seharusnya terus berjalan ke ruang ganti, mandi, memakai baju buatan desainer Prancis-nya, dan menunggu pelatihnya di sana,” ujar Brian Clough, yang pernah memukul beberapa fans pada tahun 1989, kepada The Guardian. “Ada sesuatu yang salah pada diri Cantona.

Graham Kelly, Kepala Eksekutif FA 1989-98, menyebut kejadian ini sebagai “noda dalam permainan indah kami”. Sementara Ferguson menyalahkan wasit atas kejadian tersebut — (“It’s all your fucking fault! If you’d done your fucking job this wouldn’t have happened!” amuk Ferguson kepada Wilkie saat mereka berjalan ke ruang ganti sesaat setelah pertandingan berakhir) — dan menurut Michael Crick, penulis buku The Boss: The Many Sides of Alex Ferguson, seorang polisi harus turun tangan untuk meredam amukan Ferguson kepada Wilkie.

Dan Cantona tidak dapat menghindari hukuman.

Pengadilan
Hukuman pertama untuk Cantona datang dari Manchester United yang melarangnya bermain pada sisa musim tersebut. FA merasa bahwa hukuman tersebut terlalu ringan, dan memperpanjang larangan bermain untuk Cantona hingga akhir bulan September 1995. Pengadilan memutuskan Cantona bersalah dan dihukum dua minggu kurungan penjara, yang akhirnya diganti menjadi 120 jam pengabdian kepada masyarakat. Namun opini publik lambat-laun mereda, mungkin karena pernyataan singkat Cantona kepada media: “When the seagulls follow the trawler, it’s because they think sardines will be thrown into the sea.” Sementara Simmons didakwa telah melakukan perilaku yang mengancam dan tidak menyenangkan kepada Cantona dan, ketika dinyatakan bersalah, dia melompati meja dan menyerang jaksa penuntut.

Cantona sendiri mengaku bahwa “tendangan kung-fu” merupakan salah satu momen terbaik dalam karier sepakbolanya. “When I did the kung fu kick on the hooligan, because these kind of people don’t have to be at the game,” ucap Cantona, dikutip dari The Independent. “I think maybe it’s like a dream for some, you know sometimes to kick these kind of people. So I did it for them. So they are happy. It’s a kind of freedom for them.

Konsekuensi
Tanpa Cantona di sisa musim tersebut, Manchester United harus merelakan gelar Premier League Inggris kepada Blackburn Rovers. Musim panas tahun 1995, saat skuad utama Manchester United melakukan kunjungan pramusim ke Malaysia dan keluarganya berlibur ke Kota Marseille, Prancis, Cantona tinggal sendirian di Novotel dan berlatih dengan skuad junior Manchester United. Pada bulan Juli 1995, Cantona tertangkap kamera sedang bermain dalam pertandingan persahabatan tidak resmi melawan Rochdale yang mana dianggap telah melanggar hukumannya oleh FA. Dan untuk beberapa saat, FA tampaknya bakal mengambil tindakan untuk memperpanjang masa hukuman Cantona.

Cantona seperti sudah gerah dengan situasi tersebut; dia pun pergi ke Prancis dan telah mengajukan permintaan untuk dijual kepada manajemen Manchester United. Ferguson menyusul ke Paris dan berhasil membujuk Cantona untuk tetap bertahan di Old Trafford. Sementara itu FA, di bawah tekanan dari manajemen Manchester United, akhirnya mengurungkan niat untuk memperpanjang masa hukuman Cantona. Beberapa tahun kemudian — dengan dua gelar liga secara berturut-turut — Ferguson mengakui bahwa kunjungannya ke Paris untuk meyakinkan Cantona adalah “salah satu tindakan dan keputusan paling berharga yang telah dilakukannya dalam kariernya sebagai pelatih”.

Dampak dari insiden ini, FA membikin “peraturan tidak resmi” untuk memastikan bahwa pesepakbola yang menerima kartu merah saat pertandingan harus langsung berjalan menuju ruang ganti pemain, bukan malah berkeliling menyusuri setiap sudut stadion. Ketika Manchester United kembali mengunjungi Selhurst Park untuk menghadapi Wimbledon pada bulan Maret 1995, Alan Kimble (defender Wimbledon) yang mendapat kartu merah dikawal secara pribadi oleh wasit Robbie Hart menuju terowongan ruang ganti pemain.

Beberapa orang berpendapat bahwa momen tendangan kung-fu itu menambah daya tarik Cantona dan pada akhirnya menambah jumlah pemasukannya dalam bentuk kesepakatan sponsor. Sebagian lagi menganggap momen tersebut merupakan noda hitam dalam karier sepakbola Cantona. “Saya pernah menerima segala macam hinaan sebagai pelatih dan sebagai pemain, dan beberapa di antaranya sangat sulit untuk dihiraukan,” ujar Dowie kepada The Guardian. “Tapi kita tidak bisa memaafkan reaksi Cantona saat itu. Dan insiden tersebut membuat saya kecewa, karena saya adalah pengagum Manchester United, dan juga Eric Cantona sebagai pesepakbola.

I didn’t think that I had a responsibility not to do it because of who I was,” ucap Cantona, dikutip dari FourFourTwo. “No, I was just a footballer and a man. I don’t care about being some sort of superior person. I just wanted to do whatever I wanted to do. If I want to kick a fan, I do it. I’m not a role model. I’m not a superior teacher, telling you how to behave. I think the more you see, the more you realise that life is a circus.” []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s