Anti-klimaks dalam pertandingan final sepakbola

SAYA selalu mengharapkan final yang menakjubkan setelah kurang-lebih satu bulan harus mengurangi jatah jam tidur untuk menonton pertandingan demi pertandingan dalam sebuah kejuaraan sepakbola. Saya berharap menonton klimaks yang seru di mana dua finalis berjibaku dengan segenap jiwa-raga dan memperlihatkan jual-beli serangan untuk mencapai kejayaan di laga pamungkas sebuah turnamen besar. Saya menginginkan sebuah pertandingan dengan banyak peluang, dengan ritme naik-turun yang menguras emosi dan sesekali membikin saya menahan nafas, hingga berujung pada terciptanya banyak gol. Saya sangat berharap mendapatkan tontonan yang memuaskan di mana para striker saling pamer insting gol, di mana para midfielder menunjukkan kecerdikan dan kecerdasannya dalam mengirimkan umpan terobosan yang aduhai atau tendangan jarak jauh yang spektakuler, di mana goalkeeper harus jatuh-bangun untuk menyelamatkan gawangnya, di mana para defender terlibat duel yang seru.

Namun, sejarah telah mencatat bahwa nyaris seluruh pertandingan final selalu berakhir dengan mengecewakan. Sebuah turnamen sepakbola yang dimulai dengan plot menggelora dan menggairahkan justru sering diakhiri dengan cara yang paling menyedihkan, dengan anti-klimaks yang kelewat buruk. Pertandingan final dalam kejuaraan sepakbola seringkali berjalan lambat dan membosankan di mana peluit wasit terus-terusan berbunyi untuk menginterupsi tensi permainan, di mana aksi brilian untuk menciptakan peluang jarang sekali terjadi dan gol menjelma oase di tengah gurun yang tandus.

Dari sekian banyak pertandingan final yang pernah saya tonton dengan berharap menyaksikan orgasme keindahan sepakbola, saya kerap mendapati pertandingan yang mempertemukan dua tim yang saling menahan diri, dua tim yang terlampau pengecut untuk keluar menyerang dan menghabisi lawannya sesegera mungkin. Dan ketika pertandingan telah berakhir, tim yang larut dalam euforia kemenangan biasanya adalah tim yang bermain dengan cara yang buruk dan menyebalkan. Pertandingan final Piala Eropa dan Piala Dunia dalam 16 tahun ke belakang selalu berakhir dengan kedua finalis tidak mampu mencetak lebih dari tiga gol, kecuali final Piala Eropa 2012 yang dihelat di Olimpiyskiy National Sports Complex, Kiev, Ukraina di mana Tiki-taka-nya Spanyol sukses mengebiri Catenaccio-nya Italia empat gol tanpa balas. Dari 30 tim yang tampil di final Piala Eropa dan Piala Dunia pada rentang waktu tersebut, separuhnya gagal mencetak gol ke gawang lawan.

Pertandingan yang seru dan menguras emosi dengan banyak gol dan mengabadi dalam memori di batok kepala seringkali saya dapati di babak perempat-final atau semi-final, atau bahkan di babak penyisihan grup. Dalam pertandingan final, saya sangat akrab dengan lagu kebangsaan tim yang akan bertanding diikuti dengan teriakan dan tepuk tangan yang mendadak berganti dengan siulan mencemooh dari penonton di stadion. Gairah menggebu di awal pertandingan menguap bersama asap rokokputih dan diganti dengan rasa kantuk serta bosan, membikin orang yang menonton via layanan streaming di kamar kos pengap seperti saya lebih sering memeriksa ponsel ketimbang memusatkan perhatian ke layar laptop.

Eduardo Galeano, sang maestro katakata asal Uruguay, bermetafora bahwa pertandingan final di sebuah kejuaraan sepakbola modern tidak ada bedanya dengan hubungan seksual manusia modern: semuanya berharap mengalami klimaks orgasme yang memuaskan, namun hanya beberapa saja yang benarbenar mendapatkannya — meski manusia modern memiliki banyak sekali taktik dan strategi, serta sangat peduli dengan romantika.

Bagi Galeano, seluruh taktik dan strategi serta kepedulian terhadap romantika itu hanyalah topeng palsu untuk menutupi perasaan takut kehilangan, takut gagal, perasaan takut (dan malas) untuk kembali mencoba — singkat kata, semua taktik itu digunakan untuk menutupi ketakutan dari kemungkinan untuk tidak dicintai oleh seseorang. Perasaan takut seperti itu membikin manusia modern kehilangan potensi dan rasa percaya diri. Semuanya harus terencana dan berjalan sesuai jadwal yang telah diatur sebelumnya, bahkan untuk urusan mencumbui kekasih pun harus tepat waktunya — tidak ada ruang untuk sebuah kejutan yang menyenangkan. Hal yang esensial dalam percintaan, seperti mengikuti kata hati dan detak jantung, menjadi hal yang sangat menakutkan. Dalam ranah sepakbola modern, perasaan takut itu bernama kekalahan.

Saya, tentu saja, sangat memahami bahwa tidak ada tim yang ingin jadi pecundang dalam pertandingan final — semua tim ingin menjadi pemenang. Saya juga mengerti bahwa perasaan takut kalah atau hasrat untuk menang merupakan elemen dasar dari sebuah permainan. Namun masalahnya adalah perasaan takut kalah itu terlampau menguasai segalanya sehingga mampu menumpulkan potensi brilian dan mengebiri rasa percaya diri. Perasaan takut kalah membikin kedua finalis lebih fokus kepada apa yang dimiliki oleh lawannya daripada memusatkan perhatian pada apa yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Tim yang berlaga di final cenderung konservatif dan tidak berani mengambil risiko. Kebanyakan dari mereka selalu menumpuk pemain di lini pertahanan dan menunggu tim lawan melakukan kesalahan. Sedikit sekali tim yang tampil di laga final yang pernah saya tonton memperagakan permainan terbuka.

Perasaan takut itu sering disembunyikan di balik topeng palsu dengan nama taktikal permainan, strategi, atau formasi. Ada beberapa yang membungkusnya dengan frasa “demi keseimbangan tim saat bertanding di final”. Para pemain dituntut untuk tampil lebih disiplin: para striker disuruh rajin membantu pertahanan, para midfielder diperintahkan untuk lebih sering menarik kaus lawan, sementara para defender dilarang ikut membantu serangan. Di pertandingan final, perasaan takut kalah seringkali membikin para pelatih sepakbola mengembangkan taktikal permainan yang mengekang kebebasan dan melupakan hasrat untuk bersenang-senang, sementara kreativitas dan imajinasi harus diredam sedari awal. Pertandingan final pun akhirnya menjadi adegan drama yang dimainkan oleh 22 aktor berbakat berdasarkan pada naskah yang teramat buruk.

Kejuaraan sepakbola modern tidak lagi menghasilkan Ronaldo Luís Nazário de Lima, Romário de Souza Faria, Ferenc Puskás, Michel Platini, Pelé, Diego Maradona, Garrincha, Johan Cruyff, Dennis Bergkamp, atau Roberto Baggio yang gemar melakukan tipu muslihat untuk melewati hadangan pemain lawan dan menciptakan gol dengan cara yang tidak masuk akal. Sudah lama sekali saya tidak menonton momen indah yang diciptakan oleh individu dalam sebuah pertandingan final sepakbola di turnamen besar. Tidak ada lagi duel yang indah sepanjang pertandingan. Kini semuanya tentang taktik dan strategi “demi keseimbangan tim”.

Klimaks yang memuaskan lebih pantas dirasakan oleh tim yang mampu memberikan kesenangan dan kepuasan orgasmik kepada miliaran fans sepakbola di seluruh penjuru dunia, bukannya tim yang selalu membenarkan gaya main membosankan dan berharap mendapatkan keberuntungan di babak extra-time atau babak adu penalti. Untuk itulah saya selalu mengharapkan pertandingan final yang menggairahkan sejak menit pertama, dan ketika peluit akhir dibunyikan, saya ingin tim yang menjadi juara adalah tim yang bermain terbuka dengan sepenuh hati, mengambil inisiatif serangan, dan berhasil mengalahkan ketakutan mereka sendiri. Saya masih berharap bisa menyaksikan dan merasakan klimaks tertinggi dari perjalanan terlarang menuju kreativitas dan imajinasi yang membebaskan.

Sebab saya masih ketagihan dengan sepakbola yang romantis, hebat, dan bebas yang semanis dan seindah pagihari dengan isapan rokokputih, seruputan kopihitam, dan kecupan senyum senjamu puan betina.

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s