Matthias Sindelar: balada untuk sebuah nama

Matthias Sindelar was probably Austria’s greatest-ever player, and his mysterious death only adds to the legend.
— Jonathan Wilson

PADA 3 April 1938 silam, Matthias Sindelar — pesepakbola terbaik (dan juga dianggap sebagai pahlawan) yang pernah dimiliki oleh Austria — bermain mengenakan jersey timnas Austria untuk terakhir kalinya. Austria dianeksasi oleh Nazi Jerman pada 12 Maret 1938 dan, untuk “merayakan” penyatuan kedua negara (termasuk timnas sepakbolanya), diadakan sebuah “pertandingan rekonsiliasi” antara timnas Nazi Jerman melawan Austria di Ernst-Happel-Stadion di Kota Vienna, Austria. Bagi Sindelar, pertandingan tersebut menjadi bukti terakhir kehebatan karya seninya yang luar biasa di atas lapangan hijau.

Sindelar menentang keras apa-apa yang berhubungan dengan Anschluss Jerman, namun dia — yang pada saat itu telah berusia 35 tahun dan telah memutuskan untuk pensiun dari sepakbola internasional — tetap bersikeras untuk ikut bermain membela panji timnas Austria melawan Nazi Jerman. Mendapat julukan Der Papierene (The Paper Man atau “Manusia Kertas”) karena badannya yang kurus dan ringan, Sindelar merupakan predator yang menjadi ujung tombak timnas Austria yang mendominasi sepakbola Eropa pada awal abad ke-20.

Alfred Polgar, jurnalis sekaligus kritikus teater terkenal Austria, pernah menulis, dikutip dari In Bed with Maradona: “In a way he had brains in his legs and many remarkable and unexpected things occurred to them while they were running. Sindelar’s shot hit the back of the net like the perfect punch-line, the ending that made it possible to understand and appreciate the perfect composition of the story, the crowning of which it represented.

Sangat sulit untuk mengetahui secara persis apa yang terjadi dalam pertandingan Austria vs. Nazi Jerman pada tanggal 3 April 1938 silam. Data dan fakta yang telah bercampur dengan mitos mengatakan bahwa Sindelar bermain setengah-hati dan (sengaja) membuang beberapa peluang yang didapatnya pada 45 menit babak pertama. Dari beberapa laporan kontemporer yang pernah saya baca di internet menyebutkan bahwa Sindelar seringkali dengan sengaja melakukan tendangan ngawur karena memang telah diperintahkan untuk tidak mencetak gol — dan juga karena dia ingin mengejek pihak Nazi Jerman. Laporan tersebut terkesan tidak masuk akal dan mengada-ada, namun mitos telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Pada pertengahan babak kedua, Sindelar mampu mencetak gol setelah memanfaatkan bola rebound, melakukan selebrasi dengan menari di depan tribun yang berisi para pejabat tinggi Nazi Jerman; dan Karl Sesta menggenapi pertandingan tersebut menjadi 2-0 melalui tendangan bebas. Selebrasi yang “berlebihan” tersebut pasti menimbulkan kekacauan dan letupan kemarahan Nazi Jerman, namun itu bukanlah hal yang menjadi penyebab kematian Sindelar pada bulan Januari 1939 seperti yang telah dikira oleh beberapa orang. Yang menjadi penyebab utama kematian Sindelar — yang tidak pernah menyembunyikan kecenderungan politik sosial demokratiknya — adalah, bahwa dalam bulanbulan berikutnya setelah pertandingan tersebut, dia berkali-kali menolak untuk bermain mengenakan jersey timnas Nazi Jerman.

Pada bulan Agustus 1938, Sindelar membeli sebuah kafe dengan harga sebesar DM 20.000 dari Leopold Drill, seorang Yahudi yang dipaksa menyerah di bawah undang-undang baru dan telah mendapat kecaman pihak berwenang karena menolak untuk memasang poster Nazi. Pembelian kafe ini menunjukkan bahwa Sindelar ingin memulai sebuah kehidupan baru yang benarbenar lepas dari sepakbola. Pada pagi hari tanggal 23 Januari 1939, Sindelar dan kekasihnya, Camilla Castagnola, ditemukan tewas dalam keadaan telanjang di apartemen milik Castagnola karena keracunan gas karbon monoksida yang berasal dari asap pemanas ruangan yang bocor. Berkas Gestapo menyebutkan bahwa Sindelar merupakan seorang sosial demokratik yang pro-Yahudi.

Berbagai teori tentang penyebab kematian Sindelar — seorang martir yang menjadi simbol patriotisme bagi Austria — pun bermunculan: ada yang menduga bunuh diri (salah satunya adalah penulis terkenal Austria, Friedrich Torberg, dalam bukunya berjudul Gedicht vom Tode eines Fussballers atau “Balada Kematian Pemain Sepakbola”); tidak sedikit pula yang menganggap bahwa Sindelar dan kekasihnya dibunuh oleh Nazi Jerman (sebuah koran Austria, Kronen Zeitung, mengklaim bahwa “Sindelar adalah korban pembunuhan dengan cara diracun menggunakan gas”). Catatan dari pihak kepolisian — setelah melakukan penyelidikan selama dua hari — menyebutkan bahwa kematian Sindelar adalah sebuah “kecelakaan”, namun alasan yang sebenarnya di balik tragedi ini masih tetap menjadi misteri sampai sekarang.

Egon Ulbrich, salah satu teman dekat Sindelar, mengungkapkan dalam film dokumenter bikinan BBC bahwa seorang pejabat lokal telah disuap untuk menetapkan kasus ini sebagai sebuah “kecelakaan”, sehingga memastikan Sindelar menerima upacara pemakaman kenegaraan. “According to the Nazi rules, a person who had been murdered or who has committed suicide cannot be given a grave of honour,” ujar Ulbrich dikutip oleh BBC. “So we had to do something to ensure that the criminal element involved in his death was removed.

Sementara itu, dikutip dari The Guardian, Polgar menulis dalam orbituari Sindelar: “The good Sindelar followed the city, whose child and pride he was, to its death. He was so inextricably entwined with it that he had to die when it did. All the evidence points to suicide prompted by loyalty to his homeland. For to live and play football in the downtrodden, broken, tormented city meant deceiving Vienna with a repulsive spectre of itself. But how can one play football like that? And live, when a life without football is nothing?

And that’s it. Seluruh teori tentang penyebab kematian Sindelar merupakan sentimen yang luar biasa indah, namun hal itu tidak menjadikannya sebagai sebuah kebenaran.

Rest in peace Sindelar. Rest in peace Castagnola. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s