Marco van Basten: angsa mematikan dari Utrecht

BAYANGKAN seorang striker sepakbola bertubuh jangkung dengan kemampuan bergerak secepat kilat, sentuhan pertama yang nyaris sempurna, performa yang meledak-ledak, memiliki kecakapan akrobatik dan fleksibiltas bak atlet senam, serta kecerdasan dalam memahami taktikal permainan di atas lapangan hijau. Ketika sepakbola terus mengalami perubahan dan perkembangan, ada satu fitur yang tetap relevan dan sering dijadikan rujukan terkait dengan keindahan di lapangan: Total Football, sebuah gaya main yang mencontohkan kelengkapan dan efisiensi metodologi sepakbola menyerang yang selalu bisa membikin kagum siapa saja yang menontonnya. Total Football telah memberikan banyak sukacita: pertandingan yang mengabadi di batok kepala, model yang paling ideal untuk pembinaan pesepakbola muda, revitalisasi sepakbola menyerang yang aduhai, dan, tentu saja, total footballer.

Salah satu pesepakbola yang diberkati dengan bakat untuk terus-menerus mencetak gol dan dibaptis dengan air Total Football adalah Marco van Basten: seorang striker yang dikenal oleh para fans AFC Ajax sebagai anak didik sekaligus penerus Johan Cruyff dan dipuja oleh suporter AC Milan sebagai San Marco, sementara dunia mengenalnya sebagai The Swan of Utrecht.

Para legenda sepakbola dikenang karena mampu menciptakan berbagai momen menakjubkan (yang terkadang tidak masuk akal) di sepanjang kariernya, dan salah satu momen yang bakal terus dikenang dari seorang Marco van Basten adalah ketika dia membikin dunia takjub dengan tendangan volinya ke gawang Uni Soviet pada pertandingan final Piala Eropa 1988 di Olympiastadion, Munich, Jerman. Bertahun-tahun setelahnya, tendangan voli van Basten tersebut masih terus dikenang sebagai salah satu kesempurnaan dalam dunia sepakbola. Tendangan voli itu merangkum keindahan gaya permainan sepakbola yang mampu ditampilkan oleh Belanda pada saat itu. Keyakinan, ketenangan, teknik, kekuatan, fleksibilitas, kecerdikan — van Basten menggabungkan itu semua untuk mencetak salah satu gol paling ikonik dalam sejarah sepakbola dunia.

The goal that I made … was a long ball from (Arnold) Mühren … it (the ball) was taking its time to arrive,” kenang van Basten dalam acara Football’s Greatest yang disiarkan oleh Sky Sports pada tahun 2010. “I just gave it a try and it went in a special way in the goal.” Deskripsi sederhana van Basten itu lebih jitu ketimbang apa yang dipikirkan oleh orang-orang. Mühren yang terlihat seperti kehilangan keseimbangan di sisi kiri penyerangan mengirimkan umpan-silang ke sisi jauh kotak penalti, dan pada saat itu van Basten mendapatkan pengawalan ketat dari defender Uni Soviet. Ruud Gullit berada di tempat di mana dia seharusnya berada: tepat di depan gawang dengan penjagaan dari dua defender Uni Soviet mampu meredam setiap potensi ancaman darinya. Dan kiper Uni Soviet, Rinat Dasayev, melakukan tugasnya dengan menutup tiang dekat gawang.

Dalam situasi seperti itu, pembinaan sepakbola konvensional melatih striker untuk mengontrol bola dan mencoba untuk memenangkan tendangan-pojok, atau mengupayakan untuk mengembalikan/menempatkan bola ke tengah kotak penalti untuk menciptakan kemelut di depan gawang lawan. Sementara pelatihan sepakbola yang lebih baik — jika momen ajaib itu memang bisa dilatih (saya tidak yakin!) — bergantung pada satu prinsip yang harus dimiliki oleh seorang pesepakbola: kepercayaan diri. Yang ingin saya katakan adalah andai saja van Basten pada saat itu memilih untuk mengontrol bola, maka dia bakal dianggap sebagai seorang striker konvensional yang telah melakukan tugasnya; atau jika dia memilih untuk melompat dan menyundul bola, maka upayanya itu masih mendapatkan apresiasi yang sewajarnya; atau andai dia malah memilih untuk tidak melakukan apa pun dan membiarkan bola melewatinya begitu saja, para penikmat sepakbola tidak bakal membencinya. Nyatanya, van Basten melakukan sesuatu yang luar biasa untuk mengonversi umpan-silang Mühren itu menjadi gol cantik nan ikonik — sebuah masterpiece.

The cross was really too high,” kenang Frank Rijkaard, dikutip dari BBC — dan memang itulah kenyataannya: umpan-silang Mühren itu terlalu tinggi untuk siapa pun pada saat itu. Ronald Koeman yang mencoba menjelaskan gol spektakuler van Basten itu mengatakan, dikutip dari BBC: “You cannot shoot from that angle. It was very difficult, but he made his decision.” Iya, van Basten telah mengambil keputusan untuk menjadi seorang legenda sepakbola ketika sebagian besar pesepakbola masih kesulitan untuk tampil dengan percaya diri, untuk tidak meragukan sedikit pun kemampuan yang mereka miliki.


Yang membikin van Basten menjadi striker mematikan di depan gawang lawan adalah mentalitas juara yang terus-menerus diasahnya. Menjalani masa kecil di pinggiran Kota Utrecht, Belanda, van Basten pada awalnya tertarik pada banyak cabang olahraga, namun bakatnya yang paling alami adalah untuk bermain sepakbola. “I wasn’t really focused on it (football),” ujar van Basten dalam acara televisi, Football’s Greatest. “I wasn’t dreaming of it. I was just enjoying it. Little by little I was becoming more specialised in football. Then, I was thinking of becoming a professional player.” Kekuatan, kecerdasan, dan obsesi/hasrat untuk selalu menang, melecut van Basten untuk menjadi seorang pesepakbola bermental juara.

Di atas lapangan hijau, pesepakbola yang cerdas terus-menerus belajar dari momen yang paling sulit agar bisa terus berkembang. Sebagai seorang striker muda yang secara konstan mendapatkan penjagaan ekstraketat dan perlakuan kasar dari para defender yang lebih tua, van Basten belajar untuk menjadi striker serbaguna dengan kemampuan menendang menggunakan kedua kakinya dari jarak jauh, menggiring bola dengan kecepatan dan percepatan tertentu, menguasai teknik sentuhan pertama yang brilian, dan melakuan tipu muslihat dari kedua sisi lapangan.

Pada saat van Basten bergabung dengan AFC Ajax pada tahun 1981, mendiang Cruyff juga baru kembali ke Amsterdam setelah dua tahun menjalani karier di Soccer League Amerika Utara. Bersama dengan Leo Beenhakker, Cruyff membentuk pengembangan teknis para pesepakbola junior AFC Ajax dan van Basten yang pada saat itu masih berusia 18 tahun masuk dalam daftar pesepakbola yang mendapatkan arahan Cruyff.

Dalam pertandingan debutnya, van Basten masuk menggantikan Cruyff di babak kedua dan berhasil mencetak gol untuk membawa AFC Ajax mengalahkan N.E.C. dengan skor telak 5-0. Dan sejak saat itu van Basten tidak pernah berhenti mencetak gol untuk AFC Ajax. Setelah berhasil mencetak sembilan gol dalam 20 penampilannya di Eredivisie Belanda 1982/83, van Basten menegaskan dirinya sebagai striker utama AFC Ajax dan berhasil menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Belanda selama empat musim berturut-turut (1983/84 – 1986/87). Musim paling produktif dari van Basten ketika masih membela AFC Ajax adalah pada 1985/86 di mana dia mampu mencetak 37 gol dalam 26 pertandingan liga dan berhasil meraih penghargaan individual European Golden Shoe. van Basten meninggalkan AFC Ajax di akhir musim 1986/87 setelah berhasil mencetak gol kemenangan pada pertandingan final UEFA Cup Winners’ Cup 1987.

van Basten datang ke Italia pada musim panas 1987 dan mulai meredefinisi peran central-striker. Gaya permainannya serta kecenderungannya untuk turun ke belakang menjemput bola dan melakukan kombinasi dengan winger — sebuah prinsip atau konsep pendidikan Total Football di pusat latihan milik AFC Ajax, Sportpark De Toekomst — menjadikan van Basten sebagai pemain yang tidak hanya berbahaya saat menguasai bola, melainkan juga striker mematikan dengan mobilitas pergerakan tanpa bolanya. Hal itu juga ditunjang dengan kemampuan van Basten untuk mencetak gol dari jarak jauh dan dekat, di luar atau di dalam kotak penalti, menggunakan kepala atau kakinya, serta melakukan aksi akrobatik yang tidak masuk akal. Bersama dengan Rijkaard dan Gullit, van Basten memimpin kebangkitan AC Milan di Serie A Italia untuk mengakhiri delapan musim paceklik gelar Scudetto. Setahun kemudian, performa menakjubkan van Basten di pentas Serie A Italia dan kompetisi antarklub Eropa diganjar dengan penghargaan Ballon d’Or.

Di akhir musim 1991/92, van Basten menahbiskan diri sebagai Capocannoniere Serie A Italia dengan catatan 25 gol dari 31 penampilan dan membawa AC Milan menjadi tim yang tidak terkalahkan selama 58 pertandingan. Pada tahun tersebut pula van Basten menerima penghargaan FIFA World Player of the Year dan Ballon d’Or secara bersamaan. Peran penting van Basten untuk timnas Belanda yang paling dikenang adalah ketika dia membawa negaranya menjuarai Piala Eropa 1988 di mana dia juga berhasil mengakhiri turnamen sebagai pencetak gol terbanyak dengan catatan lima gol.

Bagian yang paling memedihkan dari kisah epos seorang Marco van Basten adalah kejatuhannya dari puncak kegemilangan yang dirasa terlalu dini. Bisa dibilang bahwa van Basten merupakan korban dari kesuksesannya sendiri. Kemampuan teknikal, ancaman dan naluri gol, kecerdasan, serta gaya permainan keras pada era ‘80an sampai awal ‘90an, menghukum dan menyeret van Basten ke lembah kehancuran yang paling dalam. Ada sebuah data statistik yang menyatakan bahwa untuk setiap gol yang dicetaknya, van Basten pasti mengalami perlakuan yang cukup kasar sedikitnya tiga kali. Keganasan tackle dari para defender di pergelangan kakinya merupakan hal rutin yang selalu diterima oleh van Basten di atas lapangan hijau. Beberapa orang mengatakan bahwa nasib buruk yang menimpa van Basten adalah konsekuensi dari terlalu banyak bermain sepakbola di usia muda, sementara sebagian lainnya menganggap hal itu sebagai ketidak-beruntungan van Basten.

Operasi demi operasi yang kemudian dilakukan untuk menyembuhkan cedera tampaknya juga menjadi salah satu faktor yang membikin van Basten harus mengakhiri karier magisnya di dunia sepakbola di usia muda. Dalam sebuah wawancara dengan FIFA pada bulan Desember 1996, van Basten mengatakan: “From a player who always loved to attack and to score goals. I don’t see myself as a victim. I see myself as an example of how a wonderful career can also come to an end. The most frustrating thing for me is not the way I hurt my ankle, but the way I have been treated by some doctors. Because the person who damaged my ankle most was not a player, but a surgeon.

Pada 17 Agustus 1995, di usia 28 tahun, van Basten menyatakan pensiun sebagai pesepakbola — mengaku kalah dalam peperangan melawan badai cedera. Tidak ada yang pernah tahu apa yang mungkin terjadi jika saja karier sepakbola van Basten tidak dipaksa untuk berhenti, namun saya membayangkan bahwa dia bakal memberikan lebih banyak sukacita dan keajaiban untuk dinikmati, disyukuri, dan dikenang di ranah sepakbola andai dia tidak pensiun terlalu dini. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s