Merayakan emosi

DUNIA menyukai hal yang meluap-luap, ledakan kejutan di tengah monotonnya hidup harian. Sebuah perayaan. Begitu juga dengan sepakbola. Dalam kurun waktu satu setengah jam (dan terkadang ditambah dengan beberapa menit) ada begitu banyak pesepakbola yang rela melakukan apa pun agar bisa melakukan toss dengan pelatih, berteriak dengan garang, melakukan gerakan tarian bersama kawan-kawannya, berlari ke tribun penonton sembari menjulurkan lidah, bergaya arogan layaknya Super Saiyan, mengacungkan kepalan tangan ke udara, sujud syukur, dll. untuk meluapkan emosi setelah berhasil mencetak gol. Waktunya memang hanya sebentar, namun euforianya bisa bertahan sepanjang masa.

Selain menyaksikan skill para pemain dalam suatu pertandingan sepakbola, luapan emosi mereka setelah berhasil memasukkan bola ke gawang lawan adalah satu hal lain yang begitu menyenangkan untuk dinikmati. Saya, dan mungkin kamu, yang melihatnya secara langsung di stadion maupun melalui sebuah kotak ajaib bernama televisi pasti terlarut dalam momen kebahagiaan tersebut.

Saya masih ingat dengan jelas, sepuluh tahun yang lalu, harus bersusah-payah menenangkan diri setelah Alessandro Del Piero mengubur impian Jerman di semi-final Piala Dunia 2006 lewat golnya di penghujung babak kedua extra-time — meski gol itu memang tidak memiliki unsur kejeniusan tuhan a la Matthew Le Tissier, atau tidak semistis “gol tangan tuhan” dan tidak sebrilian gol solo-run Diego Maradona ke gawang Inggris. Fabio Cannavaro berhasil merebut bola dari kaki pemain Jerman dan memberikannya kepada Francesco Totti. Yang terjadi selanjutnya adalah romantisme serangan-balik yang jauh melampaui kisah cinta a la Hollywood: Totti meneruskan bola kepada Alberto Gilardino dan ketika mendekati kotak penalti Jerman, Gilardino sadar siapa yang seharusnya menyelesaikan kisah serangan-balik ini agar berakhir seromantis mungkin; Gilardino menyerahkan semuanya kepada Del Piero yang berlari di sebelah kirinya. Del Piero dengan kesadaran dan kecerdikan tingkat tinggi langsung mengirim bola yang meluncur indah ke sebelah kiri gawang Jens Lehmann.

Del Piero kemudian berlari ke tribun penonton melewati belakang gawang dengan luapan emosi yang luar biasa, menjulurkan lidahnya, berteriak dengan garang, dan menendang papan iklan di pinggir gawang sebelum akhirnya dikerubungi oleh rekan satu timnya. Selebrasi yang membikin siapa saja bakal larut dalam momen menggairahkan dan sukacita yang luar biasa.


Romantisme serupa kembali hadir empat tahun yang lalu, tepatnya 13 Mei 2012. Itu merupakan hari di mana Del Piero bermain untuk terakhir kalinya mengenakan jersey Juventus, hari di mana dirinya dan Si Nyonya Tua memutuskan untuk pisah secara baik-baik, hari di mana namanya bakal terpatri selamanya dalam setiap jantung berbentuk persegi milik Juventini di seluruh dunia. Sekali lagi, gol yang dicetak Del Piero ini tidak seindah gol-gol Le Tissier atau gol yang pernah dicetaknya sebelum ini, namun gol ini sarat dengan emosi sentimental yang begitu manis dan haru.

Menerima bola di sisi kanan daerah pertahanan sendiri, Del Piero mendribel bola ke daerah tengah pertahanan Atalanta sebelum memberikan umpan kepada Emanuele Giaccherini di sisi kiri. Giaccherini memasuki kotak penalti Atalanta dan mengembalikan bola kepada Del Piero yang sepenuhnya sadar bagaimana caranya untuk memberikan kado perpisahan termanis kepada Juventus. Dari luar kotak penalti, Del Piero mengirimkan tendangan yang tidak begitu keras namun luar biasa aduhainya yang meluncur mulus ke sebelah kanan gawang Andrea Consigli. Seperti biasa, Del Piero menjulurkan lidahnya, berlari-lari kecil, dan dipeluk oleh seluruh pemain Juve yang ada di lapangan saat itu. Setelahnya, Del Piero melambaikan tangan ke tribun penonton di mana istri dan keluarganya larut dalam kegembiraan yang luar biasa. Del Piero mendapatkan standing-ovation saat dia digantikan oleh Simone Pepe dan menit-menit akhir pertandingan hanyalah berkisah tentang sukacita bercampur keharuan ketika Del Piero berjalan mengelilingi Juventus Stadium dengan wajahnya yang selalu tersenyum. Momentum itu masih membikin saya merinding sampai saat ini.


Mario Balotelli mungkin menjadi orang yang paling mengerti bagaimana merayakan luapan emosi dengan cara yang paling sentimental, manis, dan bermakna. Usai pertandingan semi-final Piala Eropa 2012 antara Jerman vs. Italia di National Stadium, Warsaw, Polandia, Balotelli yang dikenal sebagai pesepakbola dengan imej berandalan berjalan ke tribun penonton untuk memeluk ibu angkatnya, Silvia Balotelli, yang menonton aksinya dari awal. Semuanya terharu: ada kebanggaan, ada kebahagiaan, ada emosi yang menjadi milik Balotelli dan Silvia yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang menyaksikan pertandingan tersebut.


Stadion Cotton Bowl di Kota Dallas, Amerika Serikat, menjadi saksi luapan emosi kebahagiaan seorang Bebeto pada 9 Juli 1994. Dalam pertandingan perempat-final Piala Dunia 1994 antara Belanda dan Brasil, setelah berhasil mengecoh kiper Belanda, Ed de Goey, dan menyarangkan bola ke gawang yang sudah kosong melompong, Bebeto berlari ke sisi lapangan dengan kedua tangan di depan dada yang diayunkan ke kanan dan ke kiri layaknya menimang seorang bayi. Bersama Romário dan Mazinho, Bebeto pada hari itu ingin membagikan kebahagiaan dan kesiapannya untuk menjadi seorang ayah bagi bayi laki-laki yang lahir dua hari sebelumnya — bayi bernama Mattheus Oliveira yang bakal tumbuh dengan cerita manis tentang ayahnya yang mengajak seluruh dunia untuk menyambut kelahirannya.


Perhatian yang begitu besar tampaknya adalah suatu hal yang begitu menyenangkan, dan perhatian semacam itu bakal menjadi candu bagi siapa saja yang luput dari sorotan publik — sangat wajar jika menyaksikan bahwa saat ini ada begitu banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk menjadi public darling, mulai dari mengikuti ajang pencarian bakat murahan di televisi hingga hanya sekadar mencari sensasi dengan memamerkan kekayaan (dan bahkan kemiskinan) yang dimiliki. Dengan perhatian sebesar itu, hidup para pesepakbola tidaklah mudah — Ah, bukannya sudah menjadi kodrat bahwa hidup itu tidak bakal pernah mudah? Hidup tidak akan pernah semanis dan semulus wajah Chelsea Islan, bukan? — karena di balik setiap perhatian tersebut ada semacam tuntutan agar mereka selalu menjadi pribadi yang sempurna, kesalahan sepele bisa menjadi gosip dan ejekan yang amat sangat tidak menyenangkan. Coba saja tanyakan kepada Steven Gerrard yang pernah terpeleset hanya karena takjub dengan kegantengan Demba Ba, atau mungkin dengarkan curhatan Chelsea yang videonya ketika melempar baju di toilet tiba-tiba menjadi viral di dunia maya. Ada kalanya para pesepakbola akan merasa jengah dengan seluruh perhatian yang diberikan oleh publik. Dan sangat manusiawi jika akhirnya mereka memanifestasikan pemberontakannya dengan luapan emosi yang meledak-ledak di atas lapangan hijau.

Untuk menghadapi risiko dari perhatian publik semacam itu, cara memberontak terbaik adalah dengan menjadi pesepakbola yang hebat untuk membuktikan bahwa nama besar yang didapat bukan hanya karena deretan skandal tidak masuk akal, melainkan dari setumpuk prestasi dan aksi-aksi menawan di atas lapangan hijau. Itu merupakan balas dendam terbaik, dan menjadikan selebrasi gol sebagai manifesto pemberontakan mereka.

Balotelli, misalnya. Sebagai pesepakbola, Balotelli selalu menjadi pusat perhatian publik, baik itu karena kemampuan olah bola dan akurasi tendangan penalti yang nyaris selalu sempurna, juga karena tingkah bengalnya di dalam maupun di luar lapangan. Selain itu, Balotelli selalu menghadirkan pertanyaan terkait pilihannya untuk tidak melakukan selebrasi usai mencetak gol. Saya selalu takjub ketika menyaksikan Balotelli hanya diam saja sesaat setelah melesatkan bola ke gawang lawan, semacam menyaksikan arogansi bercampur elegansi dengan pesan penuh makna sekaligus tawa sinis yang mengejek orang-orang di luar sana yang terlalu sibuk dengan omong kosong mengenai dirinya. Hal ini merupakan bentuk penolakan paling ajaib yang pernah ada dalam sejarah panjang sepakbola, sebuah metafora keren perihal sosok anti-sosial yang mempersetankan apa yang dipikirkan oleh publik di luar konteksnya sebagai pesepakbola. Satu lagi: karena dia adalah Balotelli!


Legenda Liverpool, Robbie Fowler, pernah melakukan pemberontakan melalui selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Everton pada 3 April 1999 silam. Ini bermula ketika fans Everton melemparkan tuduhan bahwa Fowler adalah seorang pecandu kokain, dan Merseyside Derby 17 tahun lalu menjadi media bagi Fowler untuk menjawab tuduhan tersebut dengan elegan. Pertandingan berjalan keras dan Everton sudah unggul satu gol ketika Liverpool mendapatkan penalti pada menit 15. Fowler maju menjadi eksekutor dan berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Yang terjadi selanjutnya adalah Fowler berlari ke garis gawang, membungkukkan badan, dan menunjukkan tingkah layaknya seorang pecandu sedang mengisap kokain melalui hidungnya, tepat di depan tribun yang dihuni oleh para pendukung Everton. Sebuah manifesto pemberontakan terhadap tuduhan tidak beralasan dari fans klub lawan.


Namanya mendunia, kemampuan individunya selalu mampu memukau siapa saja, dan pada 10 Mei 1998, dia berada dalam 22 pemain yang beraksi di atas rumput hijau Stadio Delle Alpi — sebuah stadion yang pernah menjadi rumahnya, menjadi tempat yang paling nyaman untuk mencetak gol dan merengkuh sederet prestasi, sebelum akhirnya harus (dipaksa) pergi. Dia adalah Roberto “The Divine Ponytail” Baggio yang pada saat itu tengah menjadi pusat ejekan publik Italia. Dalam pertandingan tersebut, Baggio menerima umpan dari rekannya, meloloskan diri dan beradu sprint dengan pemain belakang Juventus lalu menendang bola melewati Angelo Peruzzi, dan gol! Baggio kemudian melakukan selebrasi dengan mengatupkan tangan di telinganya namun dia tidak mendengar apa pun, hanya kesunyian Stadio Delle Alpi. Baggio mampu membungkam publik — khususnya publik Stadio Delle Alpi yang dulu pernah mengusirnya — yang mengatakan bahwa kariernya telah habis. Sebuah manifesto pemberontakan yang mengesankan dari seorang pangeran berkuncir.


Selebrasi untuk merayakan luapan emosi setelah mencetak gol memang hanya terjadi dalam waktu yang sebentar — sekitar satu atau dua menit — namun saya yakin dalam momen sesingkat itu ada kebanggaan dan kebahagiaan tidak terkira, bagi mereka yang mencetak gol dan bagi mereka yang sangat mencintai sepakbola, serta makna yang lebih dalam artinya dibandingkan dengan yang ditampilkan di permukaan. Dan hal-hal yang membahagiakan memang sudah seharusnya tidak perlu dipamerkan berlarut-larut terlalu lama agar kebahagiaannya tetap spesial dan awet mengabadi di dalam kenangan yang tidak akan pernah bisa digerus oleh laju sang waktu. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s