Lily Parr: tentang feminisme lapangan hijau

Lily Parr ("Wikipedia")
Lily Parr (“Wikipedia”)

PERTENGAHAN tahun 2011 lalu, saat gelaran Piala Dunia Perempuan di Jerman, beberapa pesepakbola perempuan sempat melakukan aksi tampil telanjang dada di depan media internasional. Aksi tersebut merupakan bentuk protes yang mempertanyakan mengapa di gelaran Piala Dunia — ajang tertinggi pada level sepakbola profesional antarnegara, tempat mereka menampilkan skill dan bakat — tersebut sepi penonton. Namun jauh sebelum aksi protes di Jerman tersebut, perempuan memang selalu dianggap sebagai “warga kelas dua” dalam hal apa pun, termasuk dalam sepakbola. Begitu banyak pandangan miring — jika tidak mau dianggap negatif — tentang keterlibatan perempuan dalam olahraga “keras” yang katanya lebih cocok dimainkan oleh lelaki. “Saya lebih suka perempuan yang feminin, bukannya malah bergumul di sebuah lapangan berlumpur, ” ucap mendiang Brian Clough, dilansir oleh BBC. Entah apa yang menyebabkan Clough mengutarakan kalimat tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh mantan pemain AC Milan, Gennaro Gattuso, kepada Goal: “Dan kaum perempuan, saya harus mengatakan bahwa mereka bukanlah bagian dari dunia sepakbola.

Saya sendiri tidak terlalu memusingkan hal-hal semacam itu. Saya menikmati setiap aliran bola di atas lapangan hijau, tidak peduli siapa yang memainkannya. Entah itu Alessandro Del Piero, Alex Morgan, Andrea Pirlo, Chelsea Islan, Paulo Dyabala, Eugénie Le Sommer, Gianluigi Buffon, Eva Celia, Paul Pogba, Mariana Renata, Mélanie Laurent, Melody Nurramdhani, Ladya Cheryl, Louisa Necib, Faradilla Yoshi, atau bahkan Rayna — kesayangan saya itu. Sepakbola, dengan segala kesenangan serta keajaiban di dalamnya, berhak untuk dinikmati dan dimainkan oleh siapa saja.

Keikut-sertaan perempuan dalam olahraga paling populer di dunia ini dimulai ratusan tahun yang lalu. Sebuah lukisan dinding kuno di Tiongkok menggambarkan bahwa para perempuan sudah memainkan sepakbola sejak zaman Dinasti Donghan (tahun 25-220 Masehi). Namun pada zaman Dinasti Qing (1644-1912) muncul sebuah peraturan kerajaan yang melarang kaum perempuan terlibat dalam sepakbola.

Di dataran Britania Raya, tepatnya di Skotlandia, para sejarawan meyakini bahwa kaum perempuan di sana mulai bermain sepakbola pada abad ke-18. Pertandingan yang digelar pun tergolong unik, di mana mereka mempertemukan satu tim yang isinya perempuan yang sudah kawin melawan tim yang seluruh pemainnya masih jomblo — baik yang ngenes maupun tidak. Pertandingan ini pun kerap menjadi ajang mencari jodoh.

Di Inggris, kaum perempuannya tidak mau kalah dengan seiring berkembangnya liga sepakbola kaum lelaki pada tahun 1888. Para perempuan di sana membentuk tim sepakbola profesional sekaligus mengadakan turnamen sepakbola yang cukup prestisius. Pada tahun 1894, seorang perempuan bernama Nettie Honeyball (nama samaran dari Mary Hutson), yang dibantu temannya bernama Florence Dixie, menyebar iklan di media-media Inggris yang berhasil mengajak sekitar 30 perempuan kelas menengah untuk bergabung dalam tim British Ladies Football Club atau BLFC. Honeyball, yang pada waktu itu adalah seorang pengacara dan pejuang hak-hak perempuan, menjadikan BLFC sebagai sarana untuk menyuarakan kesetaraan hak antara perempuan dan lelaki.

Setahun berikutnya, 23 Maret 1895, digelar sebuah pertandingan di daerah Crouch End, London, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Pertandingan tersebut dihadiri sekitar 8.000 penonton. Jersey yang wajib dikenakan pada saat itu adalah blus dengan paduan celana kulot dan tulang betis mereka harus ditutupi dengan shinpads. Namun bukan berarti perjalanan BLFC di dunia sepakbola tanpa rintangan. Usai pertandingan pertama tersebut, harian The Manchester Guardian menulis sebuah tanggapan pesimis tentang BLFC dan kostum tertutupnya: “Kostum mereka (BLFC) bertujuan untuk menarik banyak perhatian… satu atau dua pemain mencoba menambahkan rok pendek di atas celana yang mereka kenakan… Ketika semua kebaruan ini sudah mulai memudar, saya tidak berpikir sepakbola perempuan akan mampu menarik perhatian banyak orang lagi.

Hal tersebut tidak mematahkan semangat Honeyball dan kawan-kawannya. BLFC terus menggelar beberapa pertandingan dan meraih antusiasme yang luar biasa dari masyarakat pada saat itu. Namun, perlahan tapi pasti, seperti yang telah diprediksikan oleh The Manchester Guardian, BLFC mulai kehilangan penontonnya. Dalam tiga pertandingan yang digelar di Darlington, Jesmond, dan South Shield, jumlah total penonton yang menyaksikan pertandingan mereka hanya 400 orang. Keadaan tersebut berdampak pada kondisi keuangan klub. BLFC pun membatalkan tur mereka dan kembali ke London — BLFC akhirnya memutuskan untuk membubarkan klub pada tahun 1896. Sepakbola perempuan di Inggris memasuki masa hiatus.

Feminisme a la Lily Parr
Nadi sepakbola perempuan Inggris kembali berdenyut saat Perang Dunia I. Kali ini pelakunya kebanyakan berasal dari kaum pekerja perempuan. Dalam masa kelam tersebut, saya setidaknya mencatat sebuah nama perempuan asal Inggris yang menjadi martir dalam dunia sepakbola perempuan. Jauh sebelum Hope Solo, Necib, atau si cantik Morgan menjadi perempuan-perempuan yang membasahi rumput lapangan dengan keringat mereka dan juga jauh sebelum kelahiran saya sendiri, muncul nama Lily Parr — dengan segala kontroversinya — sebagai ikon sepakbola perempuan.

Parr lahir di Merseyside pada tahun 1905. Pada saat itu, Parr kecil lebih banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain sepakbola bersama saudara lelakinya. Saat memasuki usia remaja, Parr pernah menjawab ejekan seorang pemuda yang meremehkan kemampuannya bermain sepakbola dengan cara yang luar biasa brilian: Parr mengajak pemuda tersebut ke lapangan dan meminta si pemuda berdiri untuk menjadi kiper di bawah mistar; Parr kemudian menendang bola yang meluncur deras ke arah gawang dan menyisakan cerita tentang lengan si pemuda yang patah akibat tendangan tersebut. Parr pun mendapatkan kemenangan yang elegan!

Setelah sempat menjalani musim dengan klub St. Helen’s Ladies, Parr akhirnya bergabung dengan salah satu klub sepakbola perempuan paling elite di tanah Inggris saat itu yakni Dick, Kerr’s Ladies FC — sebuah klub sepakbola yang didirikan oleh pabrik mesin dan amunisi Dick, Kerr & Co. yang pada dasarnya berfungsi untuk mengumpulkan uang bagi pendanaan tentara Inggris di Perang Dunia I.

Karier sepakbola Parr tidak lahir dan berkembang pada zaman yang menyuguhkan segala bentuk kenyamanan (semu) seperti sekarang ini. Permainan sepakbola saat itu bukan hanya persoalan tentang pengembangan talenta dan bakat saja. Ada begitu banyak tekanan yang selalu saja menyusahkan siapa pun yang hidup pada zaman tersebut. Parr dan kawan-kawannya pada saat itu diperlakukan layaknya sapi perah: berlari dan bersusah-payah dari satu lapangan ke lapangan lainnya untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya yang pada akhirnya hanya berujung pada kepentingan perang semata.

Pada musim pertamanya sebagai pemain Dick, Kerr’s Ladies FC, Parr ternyata mampu mencetak 43 gol. Sebuah catatan yang menakjubkan mengingat Parr adalah seorang winger dan mencetak gol bukanlah tugas utamanya. Yang tidak kalah mengejutkan adalah Parr ternyata mampu mencetak lebih dari seribu gol di sepanjang karier sepakbolanya, meski pada kenyataannya rekor ini cukup sulit untuk dipastikan keabsahannya mengingat data statistik sepakbola pada waktu itu bukanlah suatu hal yang penting — kalah dengan kepentingan seberapa banyak uang yang dikumpulkan oleh sebuah tim sepakbola perempuan sebagai aliran dana untuk perbekalan perang tentara Inggris. Namun tetap saja, melihat catatan gol tersebut, Parr layak disandingkan dengan legenda sepakbola lelaki yang, katanya, juga mampu mencetak lebih dari seribu gol asal Brasil: Pelé.

Permainan skill olah bola yang menawan bercampur dengan adrenalin yang disuguhkan oleh Parr dkk. pada kenyataannya menjadi magnet terbesar yang mampu menarik antusiasme masyarakat pada waktu itu. Pada saat kaum lelaki sibuk saling bunuh di medan perang demi negara, Parr dan skuad Dick, Kerr’s Ladies FC juga menjalankan misi kenegaraan: tampil di balik layar, namun bukan sebagai perawat atau juru masak bagi mereka yang berperang, melainkan bepergian dari satu lapangan ke lapangan lain atas-nama sebuah tontonan penghibur — sekaligus menjadi “mesin-pencetak-uang” — masyarakat yang pada saat itu selalu dipenuhi dengan rasa takut ketika mendengar suara bom, senapan, atau tank.

Meski begitu, kaum konservatif Inggris menganggap bahwa sepakbola perempuan adalah sebuah permainan atau tontonan yang tidak pantas dan tidak wajar bagi perempuan terhormat. Bahkan para ahli medis di Inggris menyebut bahwa sepakbola sangat berbahaya bagi kesehatan perempuan. Madame Sarah Grand, seorang penulis terkenal di Inggris pada masa itu, menulis sesuatu seperti ini untuk kolom harian Daily Chronicle: “Perempuan yang memainkan sepakbola, tinju, atau perempuan yang memainkan olahraga fisik yang terlalu keras dan berat, dadanya biasanya rata dan otot-ototnya akan mengeras — tampilan fisiknya tidak akan bisa ideal layaknya perempuan terhormat.

Usai Perang Dunia I, Federasi Sepakbola Inggris (FA) mengeluarkan sebuah peraturan yang melarang perempuan untuk bermain sepakbola dengan dalih kemungkinan cedera yang terjadi pada perempuan. Sebuah larangan bodoh dengan alasan yang dibuat-buat yang pada dasarnya untuk menutupi rasa takut FA jika nantinya sepakbola perempuan bakal mempermalukan perkembangan olahraga paling populer di dataran Inggris itu. Namun Parr menjawab larangan dari FA itu dengan cara yang (lagi-lagi) elegan. Dilarang bermain bola di negeri sendiri, Parr membawa Dick, Kerr’s Ladies FC berprestasi di negeri orang dan memenangkan sejumlah pertandingan — tidak hanya melawan tim sepakbola perempuan melainkan juga melawan tim sepakbola lelaki — di sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Prancis, serta beberapa pertandingan di Amerika Serikat dan Kanada. Parr, sekali lagi, memberikan bukti bahwa tidak cukup dengan menutup mata, mulut, dan telinga terhadap setiap hal yang tidak disukai, namun kita juga harus melakukan suatu aksi nyata agar hal yang tidak disukai tersebut berhenti mengganggu kita. Mengutip Ulrike Meinhoff: “Protest is when I say I don’t like this, resistance is when I put an end to what I don’t like.

Di Inggris sendiri, larangan dari FA tersebut direspons dengan terbentuknya Federasi Sepakbola Perempuan Inggris dengan nama English Ladies’ Football Association (ELFA). ELFA membikin aturan-aturan sepakbola sendiri di luar ketetapan FA. Len Bridgett yang menjadi ketua pertama ELFA menyumbangkan sebuah piala perak untuk mendukung terselenggaranya turnamen ELFA Cup. Pada musim semi tahun 1922, ELFA Cup pertama digelar dan diikuti oleh 24 tim sepakbola perempuan (Stoke City Ladies FC keluar sebagai juara setelah mengalahkan Doncaster and Bentley Ladies dengan skor 3-1). Pembentukan ELFA merupakan suatu tindakan yang tidak hanya melecehkan FA beserta aturannya, melainkan juga mempersetankan seluruh kaum konservatif moralis Inggris (dan dunia) yang membenci dan melarang kaum perempuan untuk bermain sepakbola.

Cerita luar biasa Parr tidak hanya berkisar pada sepakbola saja — di mana dirinya beserta teman-teman sepakbolanya menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa” bagi mereka yang mendapatkan gelar kepahlawanan ketika kembali pulang usai berperang — melainkan juga kehidupannya di luar lapangan hijau. Setelah pensiun sebagai pesepakbola dan pekerja di pabrik Dick, Kerr & Co., Parr kemudian mengabdikan hidupnya sebagai perawat di rumah sakit jiwa di Kota Whittingham. Berbeda dengan perempuan pada umumnya, Parr tidak menghiasi hidupnya dengan cerita romantisme-omong-kosong perkawinan. Parr hidup dengan pasangan wanitanya bernama Mary tanpa ikatan menyebalkan yang bernama perkawinan — karena hal inilah, Parr saat ini juga dianggap sebagai ikon perjuangan hak-hak LGBT di seluruh dunia. Ya, persetan dengan anggapan miring masyarakat saat ini tentang lesbian/gay/biseksual/transgender karena tidak ada yang menyimpang perihal cinta dan hasrat seksual seorang manusia.

Parr adalah salah satu dari sekian banyak legenda dalam dunia sepakbola. Menjadi satu-satunya pesepakbola perempuan yang diabadikan dalam English Football Hall of Fame di National Football Museum Inggris adalah penghargaan nyata atas semua jasa yang telah diberikan oleh pesepakbola yang meninggal pada 22 Mei 1978 karena kanker payudara ini. Thankyou for everything, Parr.

Bagi saya, masa bodoh dengan label “tidak wajar” yang dilontarkan oleh orang lain kepada Parr, yang jelas jalan hidup yang dipilih olehnya semakin meyakinkan saya bahwa kehidupan tidak harus berakhir dalam fatalisme kepatuhan tolol — terhadap aturan konyol masyarakat tentang perkawinan, penyamaan karakter, dll. — jika ingin memiliki hidup yang bahagia dan sempurna. Parr mengajarkan pada saya bahwa menjadi berbeda bukanlah sebuah penyakit mematikan yang harus dihindari dan dimusnahkan. Vita brevis, carpe diem!

Et cetera
Aturan yang melarang kaum perempuan bermain sepakbola tidak hanya terjadi di dataran Inggris. Pada tahun 1955, Belanda dan Jerman menerapkan aturan serupa dengan alasan yang tidak kalah absurd: sepakbola hanya untuk kaum lelaki. Namun tidak semua negara di Eropa melarang sepakbola perempuan. Denmark, Italia, dan Prancis menjadi negara yang memperbolehkan kaum perempuannya bermain sepakbola. Pada tahun 1969, Italia menggelar kompetisi tidak resmi sepakbola perempuan Eropa, dan kompetisi tidak resmi di Italia ini menjadi benih munculnya turnamen UEFA Women’s Championship. Pada tahun yang sama, para wanita di Inggris membentuk Women’s FA (WFA) atau federasi sepakbola perempuan resmi Inggris sebagai dampak dari antusiasme masyarakat terhadap sepakbola setelah Inggris sukses menjadi tuan rumah sekaligus menjuarai Piala Dunia 1966 (ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa WFA adalah penerus federasi terdahulu, ELFA).

Pada tahun 1971, FA akhirnya menghapus aturan yang melarang perempuan bermain sepakbola, menindak-lanjuti tekanan yang dilakukan oleh UEFA — hal serupa juga terjadi di Belanda dan Jerman. Usai pencabutan larangan ini, WFA menggelar sebuah turnamen dengan tajuk Mitre Trophy yang mulai tahun 1993 berganti nama menjadi FA Women’s Cup seiring pembekuan WFA oleh FA — Southampton Saints Girls & Ladies FC muncul sebagai juara perdana turnamen tersebut pada tahun 1971. Arsenal LFC menjadi tim yang paling banyak meraih gelar juara dengan catatan lebih dari 10 trofi.

FIFA mulai menggelar turnamen Piala Dunia Perempuan pertama kali pada tahun 1991. Cina terpilih menjadi tuan rumah dan timnas perempuan Amerika Serikat keluar sebagai juara setelah mampu mengalahkan Norwegia dengan skor 2-1. Di ajang Olimpiade, sepakbola perempuan mulai dipertandingkan pada tahun 1996 di Atlanta, Amerika Serikat. Lagi-lagi Amerika Serikat menjadi yang terbaik dengan mampu meraih medali emas setelah di pertandingan final mengalahkan timnas perempuan Cina.

Meski telah melewati masa-masa kelamnya, sepakbola perempuan pada zaman modern ini bukan tanpa halangan. Kostum pertandingan kembali menjadi perdebatan. Jika BLFC dengan kostum tertutupnya menjadi sorotan pada tahun 1895 silam, kini FIFA justru melarang pesepakbola perempuan memakai jilbab. Pada putaran kedua kualifikasi Olimpiade 2012 lalu, FIFA bahkan menjatuhkan sanksi kepada tim-tim asal Timur Tengah karena menolak untuk melepas jilbab.

Sepp Blatter, pak tua yang pernah menjadi presiden FIFA dan penuh dengan kontroversi konyol itu, pernah berujar dan menganggap bahwa sepakbola perempuan bakal lebih menarik bila para pemainnya mengenakan kostum yang lebih seksi. “Biarkan para pemain perempuan bermain dengan kostum yang lebih seksi seperti yang mereka kenakan di olahraga voli,” ujar Blatter pada saat itu. “Misalnya saja, mereka bisa memakai celana yang lebih pendek lagi.

Kini sepakbola perempuan telah menjadi bagian tontonan modern dalam dunia spektakel yang mulai mendapatkan perhatian masyarakat luas. Tidak sedikit penikmat sepakbola sekarang ini mengikuti perkembangan nama-nama pesepakbola perempuan seperti Abby Wambach, Morgan, Christine Sinclair, Le Sommer, Lena Goeßling, Lisa De Vanna, Lotta Schelin, Necib, Marta Vieira Da Silva, Nadine Keßler, Nadine Angerer, Nilla Fischer, Saki Kumagai, Stephanie Roche, Yūki Ōgimi, Kealia Ohai, Laure Boulleau, dll.

Bagaimana dengan Indonesia? Ah, jangankan mengurusi turnamen Galanita (Gabungan Sepakbola Wanita), lhawong sepakbola lelakinya saja masih amburadul! Duh gusti kanjeng ratu… []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s