Romantisme sepakbola di kampung halaman

MARI mengingat sejenak: kapan terakhir kali bermain bola di sawah kering setelah dipanen, pinggir sungai, lapangan sekolah, jalanan gang, halaman rumah, atau bahkan di halaman sebuah masjid dengan tiang gawang seadanya? Kapan terakhir kali merasakan kebahagiaan yang begitu asli bersama kawan-kawan saat kita tertawa menyaksikan seorang kawan tiba-tiba terjatuh ke sungai ketika mengejar bola, atau saling menyalahkan ketika tim kita kebobolan?

Malam ini kepala saya dipenuhi dengan sepotong demi sepotong ingatan betapa menyenangkannya bermain bola di kampung halaman semasa kecil dulu. Iya, saya sedang mengingat-ingat betapa mudahnya menikmati kebahagiaan yang katanya absurd itu dengan kawan-kawan masa kecil, saling berbagi tawa dan kehangatan. Tidak seruwet sekarang.

Setiap mendapatkan momen untuk bisa pulang ke kampung (yang ada) halaman(nya), saya selalu menyempatkan pergi ke tempat — lebih tepatnya ke sebuah kompleks perumahan yang mana saya dan kawan-kawan masa kecil saya sering menyebutnya dengan nama PKI, singkatan dari nama kompleks perumahan tersebut: Perumahan Kraton Indah — di mana saya tumbuh dan dibesarkan. Semacam sebuah cara untuk merawat kenangan tentang masa kecil yang penuh dengan kebebasan dan sukacita.

Dalam momen yang terkadang singkat itu selalu mampu menghadirkan romantisme masa lalu, dan yang paling membikin jantung saya bergetar adalah ketika menyaksikan beberapa anak kecil bermain bola di depan halaman masjid di kompleks perumahan itu. “Stadion” tersebut tidaklah besar, namun masih cukup untuk menampung sekitar 15-20an anak-anak untuk melepaskan penat mereka dengan menendang bola layaknya pemain sepakbola favorit mereka.

Bukan hanya tempatnya, “aturan” bermain bolanya pun sederhana. Kebanyakan dari kami dulu — atau anak-anak kecil itu — bermain dengan nyeker alias tanpa mengenakan alas kaki karena sandal-sandal kami dipakai untuk dijadikan gawang; terkadang seorang kawan yang menjadi kiper menggunakan sandalnya untuk dijadikan pelindung tangan, layaknya sarung tangan yang dikenakan oleh kiper profesional. Untuk menentukan lebar gawang tidak menggunakan aturan resmi FIFA, melainkan hitungan langkah dari sang kiper. Dan karena menggunakan tiang gawang yang tidak nyata, maka penentuan terjadinya gol bisa memakan waktu yang cukup lama — ini juga berlaku dalam urusan pelanggaran handball, meski begitu kami sangat menikmati perdebatan itu.

“Aturan” tidak resmi, selain tendangan dianggap tidak gol jika terlalu tinggi dan tidak bisa dijangkau oleh kiper, juga masih banyak. Misalkan dalam penentuan formasi atau peran setiap anak dalam setiap permainan bola yang kami mainkan. Seorang anak yang dianggap memiliki keterampilan olah bola paling hebat bakal otomatis menjadi striker, sementara yang tidak jago main bola harus rela menjadi defender atau kiper yang biasanya hanya bertugas untuk mengambil bola ketika ditendang terlalu jauh dari tempat permainan.

Selain itu, permainan akan terhenti hanya karena terjadinya sebuah pelanggaran yang benar-benar keras dan melukai salah satu di antara kami, dan tendangan penalti bakal langsung diberikan tidak peduli pelanggaran itu terjadi di mana — pelanggaran keras berarti penalti. Dan juga, permainan akan dihentikan sementara untuk memberi kesempatan kepada motor, mobil, atau seseorang yang akan melintasi “stadion” pertandingan kami. “Aturan” lainnya adalah penentuan siapakah tim pemenang dalam sebuah pertandingan bukanlah tim yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tim yang mencetak gol paling akhir sebelum permainan tersebut benar-benar berakhir karena kami lelah atau adzan Maghrib sudah berkumandang dari toa masjid.

Dulu, saya dan kawan-kawan rutin bermain bola seperti itu tiap sorehari — bahkan kami juga melakukannya pada malamhari jika keesokan harinya adalah hari libur sekolah. Terkadang ada juga larangan agar kami tidak bermain bola karena terlalu berisik, atau seorang tetangga yang kesal karena harus mengganti lampu terasnya yang pecah akibat terkena bola hasil tendangan kami, atau petugas masjid yang marah-marah karena halaman masjidnya kami pakai untuk bersenang-senang memainkan bola sesuka hati kami. Namun hal itu tidak membikin nyali kami ciut. Persetan dengan larangan-larangan itu, toh kami bakal terus melanjutkan kebiasaan kami untuk bersenang-senang dan berbagi kebahagiaan. Sepakbola yang kami mainkan setiap sore atau malamhari itu memang bertujuan untuk menumpuk sukacita agar bisa kami nikmati dan kenang di saat kami semua memasuki usia senja nantinya. Tidak ada niatan lainnya, dan semua orang bisa ikut bermain dengan kami.

Terkadang saya merindukan momen di mana satu-dua kawan masa kecil saya berteriak memanggil di depan pagar rumah dan mengajak saya untuk bergegas pergi ke lapangan kecil kami untuk bermain sepakbola. Panggilan dari luar pagar rumah itu merupakan pertanda, semacam dentang bel, dimulainya waktu bermain dan bersuka-cita mengejar bola sembari membayangkan diri masing-masing sebagai Zinedine Zidane, Javier Zanetti, Francesco Totti, Diego Armando Maradona, Filippo Inzaghi, Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, atau Marco van Basten.

Sebab sepakbola yang kami mainkan dulu itu semacam pembuktian bahwa kebahagiaan yang dihadirkan dengan cara sederhana adalah kebahagiaan yang bakal bertahan dalam waktu yang cukup lama — kenangan tentang hal itu akan terpatri dalam jantung saya, dan mungkin dalam hati kawan-kawan masa kecil saya. Itulah sepakbola kami: sepakbola untuk bersenang-senang, sepakbola untuk merayakan kehidupan.

Sekarang, saat saya mulai beranjak tua dan (dipaksa untuk selalu bergegas) melewati garis menuju mati yang terkadang tidak menarik, saya masih selalu menolehkan kepala kapan pun saat saya melihat sepakbola dimainkan di pinggir jalan atau lapangan di tepi jalan. Pada sepakbola seperti itu saya seolah mengunduh kebahagiaan sederhana bermain bola: sepakbola yang tanpa keruwetan, tanpa tagline profesionalisme yang semu dan mengecoh. Saya seringkali kangen untuk menikmati kembali sepakbola semacam itu, terutama ketika sepakbola kian sering diringkas dan dipangkas menjadi deretan angka statistika. Sepakbola yang dimainkan anak-anak di pinggir jalan atau di lapangan tepi jalan, bagi penulis legendaris asal Uruguay, Eduardo Galeano, adalah oase di tengah-tengah perkembangan global yang menempatkan sepakbola nyaris seperti iklan atau alat untuk menumpuk profit pribadi sebanyak-banyaknya.

* * * * *

Terimakasih kawan untuk kebahagiaan yang pernah kalian bagi dalam jutaan detik yang telah lalu itu. Dan kawan, kapan-kapan main bola lagi yuk, atau setidaknya berkumpul di warung kopi untuk sekadar bercerita tentang romantisme masa kecil kita dulu dalam kehangatan momen persahabatan (dan kekeluargaan, mungkin?).

Kopihitam dan rokokputih, cheers. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s