Juventus vs. AS Roma, 15 Februari 1997

STADIO delle Alpi hampir penuh saat dua klub sepakbola terbesar di Italia pada saat itu bertemu, 15 Februari 1997 silam. Juventus di bawah kendali Marcello Lippi merupakan juara Liga Champions Eropa musim sebelumnya, menjamu AS Roma yang sedang berjuang untuk menemukan bentuk terbaik mereka pada giornata 24 musim 1996/97. Pada saat itu, Juventus duduk di singgasana teratas Serie A Italia dengan meyakinkan dan tampil gemilang di kompetisi antarklub Eropa. Itu juga merupakan musim pertama bagi Zinedine Zidane di Italia, di mana dia langsung menjadi arsitek keberhasilan Juve di atas lapangan hijau.

Bakat Zidane membikin Juventus benar-benar menguasai lini tengah dalam duel melawan AS Roma sore itu. Peluang pertama Juve untuk mencetak gol lahir dari umpan-silang Zidane yang mampu dipotong oleh kiper AS Roma, Giovanni Cervone, sebelum jatuh di kaki Didier Deschamps; namun sayangnya, tendangan Deschamps membentur kaki Vincent Candela dan hanya menghasilkan tendangan-pojok. Juve akhirnya mampu unggul satu gol pada menit 28 setelah Nicola Amoruso dan Christian Vieri melakukan umpan kombinasi satu-dua yang brilian. Tendangan Vieri meluncur mulus melewati Cervone. Tanpa selebrasi yang muluk-muluk, Vieri merayakan gol itu dengan kompatriotnya.

AS Roma kesulitan mengembangkan permainan karena lini tengah mereka dibully habis-habisan oleh barisan lini tengah Juventus yang diisi oleh Alessio Tacchinardi, Angelo Di Livio, dan Deschamps. Skor berubah menjadi 2-0 ketika Di Livio — yang entah kenapa dibiarkan bebas menggiring bola oleh lini tengah AS Roma — mengirimkan umpan-terobosan kepada Vieri yang berhasil menciptakan ruang kosong bagi dirinya sendiri. Vieri kemudian melanjutkan umpan-terobosan itu dengan tendangan yang tidak mampu dihadang Cervone. Vieri kembali melakukan selebrasi yang biasa-biasa saja dan Juve menutup babak pertama dengan keunggulan nyaman dua gol tanpa balas.

Babak kedua dimulai dengan Zidane yang kembali menyebabkan masalah bagi AS Roma, kali ini melalui tendangan-bebasnya dari jarak sekitar 20 meter yang membikin Cervone susah payah menepis bola. Tidak berhenti di situ, bola rebound mengarah ke Vieri yang kemudian meneruskannya dengan tendangan salto dari jarak dekat. Bola melewati Cervone — yang, saya yakin, diliputi deg-degan dan pasrah pada saat yang bersamaan — dan, sayangnya, bola hanya membentur tiang gawang sebelah kiri. Vieri gagal mencetak hattrick.

Francesco Totti berusaha untuk mengembalikan AS Roma ke dalam pertandingan namun Daniel Fonseca-lah yang hampir berhasil melakukannya. Tendangan-bebas Fonseca melewati pagar hidup Juventus dan Angelo Peruzzi hanya bisa melongo menyaksikan bola meluncur keluar beberapa sentimeter saja dari gawangnya, meninggalkan Fonseca yang hanya bisa bergumam tidak percaya melihat apa yang baru saja terjadi.

AS Roma hanya bisa melangkah sejauh itu di Stadio delle Alpi saat Juventus berhasil membungkus tripoin dengan performa yang menakjubkan nan indah untuk dinikmati. Umpan diagonal Vladimir Jugovic dari sisi kiri mengarah tepat di kaki Attilio Lombardo yang langsung memberikan umpan mendatar kepada Michele Padovano di tengah kotak penalti yang, entah bagaimana, malah terpeleset sebelum akhirnya bola diteruskan oleh Amoruso ke gawang Cervone.


Dan tiga-nol! Si Nyonya Tua unggul segalanya, sementara Serigala Ibukota kehilangan gigi dan martabatnya. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s