Kebencian dan kekerasan dalam sepakbola

DALAM sebuah artikel berjudul Why should football fans dislike their club’s local rivals? yang pernah dipublikasi oleh The Guardian pada tahun 2013 lalu, kolumnis Csaba Abrahall mencoba menjelaskan bahwa sepakbola pada akhirnya adalah sebuah drama hitam-putih antara “pahlawan” dan “penjahat”. Harus ada “sosok” yang mendapatkan label “rival”, yang harus diposisikan sebagai “penjahat”, demi memuaskan hasrat untuk melecehkan dan mendiskriminasi dalam upaya pembuktian siapa yang paling hebat di antara semuanya.

Dalam sejarah panjangnya, sepakbola memang dekat dengan semangat perusakan dan kekerasan. Pada zaman Romawi Kuno, misalnya, sepakbola dikenal dengan sebutan harpastrum. Orang-orang Romawi Kuno memainkan harpastrum dengan aksi brutal yang menyebabkan luka-luka serius hingga kematian. Sejarah mencatat bahwa kerusuhan sepakbola pertama kali terjadi pada zaman Romawi Kuno. Penulis terkenal pada era tersebut, Publius Vergilius Maro dan Quintus Horatius Flaccus, menyebut harpastrum sebagai permainan biadab yang tidak selayaknya dimainkan oleh manusia. Di masa Dinasti Tsin di Cina, sepakbola yang lebih dikenal dengan nama tsu chu merupakan menu latihan wajib bagi para prajurit perang kerajaan demi menguatkan fisik mereka.

Dalam peradaban Indian, dikenal istilah pasuckuakohowog untuk menyebut olahraga sepakbola. Pada saat itu pasuckuakohowog lebih mirip peperangan antarsuku: jumlah pemain dalam setiap tim mencapai 500 orang yang beradu kekuatan di tanah lapang yang sangat luas, dan permainan ini tidak bakal berhenti jika skor masih sama kuat. Karena peraturan “aneh” itulah, pasuckuakohowog dapat berlangsung selama berhari-hari dengan jumlah korban cedera dan tewas yang sangat banyak.

Sementara di Inggris atau Britania Raya, sepakbola awalnya disebut dengan mob football. Ratu Elizabeth I dan Pangeran Edward II pernah menyebut bahwa mob football adalah olahraga iblis. Pernyataan tersebut akhirnya dikampanyekan oleh Philip Stubbes ke seantero Britania Raya dalam sebuah buku berjudul The Anatomie of Abuses pada tahun 1583. Karena kampanye Stubbes, yang diperkuat dengan larangan resmi dari kerajaan, sepakbola di Inggris pernah menjadi ikon pembangkangan yang tidak hanya ditujukan kepada otoritas kerajaan, melainkan juga terhadap gereja.

Lima puluh tahun sebelum Masehi, soule adalah istilah awal orang-orang Prancis dalam menyebut sepakbola. Permainan soule pun sangat keras dan kasar karena orang-orang Prancis mengenal permainan bola melalui orang-orang Romawi. Soule melibatkan ratusan orang dengan aturan yang tidak jelas kecuali kebrutalan. Sama seperti di Inggris, pihak Kerajaan Prancis pun pernah melarang warganya untuk memainkan soule. Siapa saja yang tertangkap basah sedang memainkan soule bakal diganjar dengan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman tiang gantung.

Sepakbola pada zaman dulu dan pada era sekarang sebenarnya memiliki esensi yang hampir sama: sebuah kompetisi yang mengeksploitasi naluri daya saing alamiah dari manusia. Di dalam setiap kompetisi dapat dipastikan muncul sebuah konflik ketika dua kelompok memiliki pandangan yang berbeda. Dari situlah akhirnya muncul sebuah anggapan bahwa konflik dalam sepakbola merupakan suatu hal yang wajar-wajar saja seiring dengan perkembangan zaman.

Konflik dalam sepakbola tidak hanya melibatkan para pemainnya di atas lapangan hijau, melainkan juga merambat ke pihak-pihak tertentu ketika konsep fans atau suporter atau pendukung mengambil tempat di dunia sepakbola. Pada dasarnya, konflik antarpendukung klub sepakbola dapat diartikan sebagai proses aktualisasi diri yang seringkali diterjemahkan dengan sikap saling ejek satu sama lain. Semangat untuk menghina fans klub lain biasanya diterjemahkan melalui chant-chant ejekan atau spanduk-spanduk yang bertuliskan kalimat sarkastis kepada suporter atau pemain lawan — atau yang saat ini sering terjadi adalah perang komentar di media online.

Namun tidak hanya berhenti di situ saja, konflik antarfans klub sepakbola juga tidak jarang menjurus pada adu-jotos usai menyaksikan pertandingan di stadion maupun hanya sebatas nonton bareng di salah satu kafe di pusat kota. Ketika menyaksikan atau mendengar kabar tentang terjadinya konflik antarsuporter sepakbola, timbul satu pertanyaan: “Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?

Penjelasan sederhana ini mungkin bisa dijadikan pembenaran: “Dalam kondisi massa, struktur pikiran manusia tidak mengenal manusia lainnya sebagai individu-individu, tetapi sebagai elemen massa atau bisa juga disebut dengan identitas kolektif. Karena proses itulah maka manusia bakal mencoba mencari perbedaan antara kelompoknya dengan kelompok lain melalui definisi dan stereotifikasi. Dari proses ini bakal muncul stigma yang akan menanggalkan logika dan nalar sehat manusia agar mereka memperlakukan kelompok yang berbeda tersebut dengan ejekan dan hinaan. Setelah itu, kekerasan dengan senang hati menampilkan wajah manisnya.

Kajian Thomas Hobbes menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang dikuasai oleh berbagai macam dorongan irasional dan destruktif yang menimbulkan perasaan saling iri dan membenci sehingga mudah menjadi makhluk pendek pikir, kasar, jahat, dan buas. Dorongan-dorongan itu bisa timbul dari dalam secara naluriah atau bisa juga dipicu dari luar yang bersifat stimulus. Karena hal itulah Hobbes menyebut manusia sebagai Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) dan kerap menimbulkan bellum omnium contra omnes (peperangan antarkolektif).

Dalam buku karangannya yang berjudul On Aggression, Konrad Lorenz mencoba memberikan penjelasan yang lebih spesifik terkait hal itu dengan mengesampingkan faktor stimulus atau rangsangan dari luar. Lorenz berpendapat bahwa energi khusus untuk tindakan naluriah manusia terkumpul secara berkesinambungan, terus-menerus, di pusat-pusat syaraf dan berkaitan erat dengan pola tindakan yang dilakukan oleh manusia, termasuk di dalamnya adalah aksi kekerasan. Dengan demikian, laku kekerasan manusia pada dasarnya merupakan rangsangan dari dalam (internal) yang sudah terpasang secara alamiah dan mencari pelampiasan meskipun mendapatkan stimulus yang sangat kecil atau bahkan tanpa rangsangan apa pun dari luar. Model kekerasan instingtif ini kemudian dinamai Lorenz dengan model hidrolik yang dianalogikan dengan tekanan yang dilahirkan oleh uap atau air di dalam sebuah tabung tertutup.

Sementara itu Jean Baudrillard beranggapan bahwa kekerasan memang tidak pernah mengenal zaman. Kekerasan adalah urat nadi yang juga berfungsi untuk menunjang peradaban. Tidak peduli seberapa modern atau futuristisnya kehidupan manusia di masa yang akan datang, kekerasan bakal selalu ada di sana, mendekam di dalam setiap jiwa manusia, samar-samar, namun manusia selalu berupaya menolak kehadirannya.

FIFA dan juga organisasi-organisasi sepakbola lainnya memang telah melakukan berbagai upaya agar para fans sepakbola dapat menyembunyikan naluri kekerasannya melalui kampanye sportivitas dan kemanusiaan, serta sederet aturan lainnya. Namun percayalah, upaya-upaya tersebut nyaris tidak ada gunanya. Karena bukanlah sepakbola yang melahirkan kekerasan, melainkan manusia memang pada dasarnya memiliki insting untuk melakukan aksi destruktif ketika membenci sesuatu. Manusia adalah kekerasan itu sendiri, tanpa atau dengan sepakbola. Lagipula, bukankah kebencian juga bisa menjadi salah satu suplemen agar kita bisa tetap hidup di dunia tua yang semakin gila, penuh kekerasan, dan tidak baik-baik saja seperti sekarang ini? Bukankah selalu menyenangkan mengejek AS Roma dengan sebutan “serigala ompong”? Dan juga, bukankah bakal sangat membosankan jika menyaksikan para ultras duduk manis di stadion seolah-olah mereka sedang mendengarkan ceramah Mario Teguh yang botak itu?

Saya bakal menutup tulisan ini dengan sebuah pesan dari pak tua Mikhail Bakunin yang bangkainya sudah lama membusuk di dalam kubur: “Hasrat untuk merusak adalah kesenangan yang kreatif.” Oh iya, dan juga, bukankah “cinta itu terkadang hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”? Ah sudahlah, bagi kamu yang masih jomblo menahun ketika membaca tulisan ini, jangan lupa untuk segera mencari kekasih dan persenjatai dirimu dengan sebuah revolver. Jika itu masih terlampau sulit untuk dilakukan, mending kamu pelihara Pokemon dulu saja. Oke? []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s