José Manuel Moreno: koboi urakan yang senang menyaru

LAHIR dengan nama José Manuel Moreno Fernández di pinggiran Buenos Aires, tepatnya di daerah La Boca, namun lebih dikenal dengan sebutan El Charro yang merujuk pada nama koboi tradisional Meksiko. Moreno merupakan salah satu pesepakbola dan legenda Argentina yang tergabung dalam Club Atlético River Plate era La Máquina (“Mesin”) yang mendominasi sepakbola Argentina dekade ‘40an. Moreno terkenal sebagai pesepakbola yang gemar melakukan tipu muslihat di atas lapangan hijau: gerak-gerik kepalanya seakan ingin menyundul ke sebelah kanan namun bola malah meluncur mulus ke sebelah kiri gawang, sedangkan kaki ajaib-sialannya itu terlihat ingin menendang bola ke arah timur namun ternyata bola melaju deras menghujam sisi barat gawang.

Ketika lawan menjatuhkannya dengan cara yang paling brutal berkali-kali, Moreno pun bakal bangkit sendiri dan tidak pernah mengeluh, dan dia bakal terus bermain meskipun kesakitan! Moreno adalah pesepakbola keras kepala yang memiliki kemampuan untuk menghajar seluruh suporter tim lawan, atau bahkan penggemarnya sendiri. Sebab, meski selalu dielu-elukan sebagai pahlawan, tidak jarang Moreno mendapat caci-maki dan perlakuan buruk dari fansnya sendiri ketika Club Atlético River Plate menderita kekalahan.

Moreno senang begadang, keluyuran pada malamhari. Dan ketika pagi datang, Moreno selalu menyambutnya dalam kondisi acak-acakan: terkadang dengan mata sembap bertopang dagu di meja sebuah bar, tidak jarang pula dengan keadaan setengah-tidur di pangkuan paha mulus seorang perempuan cantik. Moreno juga merupakan pribadi yang begitu mencintai musik bermutu.

Moreno adalah bedebah urakan yang memiliki kebiasaan buruk menghabiskan semangkuk besar ayam rebus dan menenggak puluhan botol anggur merah beberapa jam sebelum pertandingan. Pihak manajemen Club Atlético River Plate memerintahkan Moreno untuk menghentikan kelakuan konyolnya itu, dan dia telah berusaha untuk melakukan perintah itu semampunya, sekeras-kerasnya upaya. Sepekan penuh Moreno mencoba berperilaku “baik”, menghabiskan malamhari dengan tidur alih-alih keluyuran, serta tidak mengonsumsi apa pun selain susu dan menu diet dari klub. Setelahnya, Moreno memainkan pertandingan paling buruk dalam hidupnya sebagai pesepakbola — Club Atlético River Plate tersungkur dihajar lawannya, sementara kuping Moreno penuh dengan sumpah serapah dari para penggemarnya. Manajemen klub memberikan hukuman ketika Moreno kembali ke kebiasaannya mabuk-mabukan, namun beberapa rekan setimnya melakukan aksi mogok main sebagai bentuk solidaritas terhadap Moreno. Club Atlético River Plate pun akhirnya memainkan sembilan pertandingan liga dengan pemain cadangan.

Pada tahun 1944, Moreno pindah ke Meksiko, bermain untuk Real Club España dan berhasil meraih trofi gelar juara Liga Meksiko. Moreno pulang dari Meksiko ke kampung halamannya pada 1946, dan Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti penuh sesak dengan fans Club Atlético River Plate yang sudah tidak sabar untuk kembali menyaksikan aksi tipu-tipunya yang ajaib di atas lapangan hijau. Club Atlético River Plate menang, si bengal Moreno itu mencetak hattrick, puluhan ribu suporter bersuka-cita, menjebol pagar pembatas dan menyerbu lapangan dan mereka menggendong Moreno di atas pundak mereka sebagai seorang pahlawan yang bakal terus-menerus dicintai oleh publik Núñez, Buenos Aires.

Club Nacional de Football asal Kota Montevideo, Uruguay, menawari Moreno kontrak yang menggiurkan pada tahun 1952, namun dia malah memilih bergabung dengan Defensor Sporting, sebuah klub sepakbola miskin yang hanya bisa memberikan gaji a la kadarnya, karena dia memiliki beberapa kawan akrab di sana. Dan pada saat itu Moreno berhasil menyelamatkan Defensor Sporting dari malapetaka. Sebelum menjalani karier di Uruguay, Moreno sempat berkelana ke Chili dan bermain untuk Club Deportivo Universidad Católica yang bermarkas di Kota Santiago pada tahun 1949 dan 1951, yang diselingi dengan kembali ke Argentina pada tahun 1950 untuk bergabung dengan Boca Juniors.

Moreno menghabiskan karier sepakbolanya di Kolombia bersama Independiente Medellín. Dan pada tahun 1961, ketika Moreno menjabat sebagai pemain-merangkap-pelatih, Independiente Medellín dalam posisi tertinggal melawan Boca Juniors, dan yang lebih buruk adalah para pemain Independiente Medellín tidak mampu mendekati kotak penalti Boca Juniors. Moreno, yang pada saat itu berusia 45 tahun, mengganti baju formalnya dengan jersey timnya, masuk ke lapangan hijau, melakukan trik dan tipu muslihat, mencetak dua gol elegan, dan Independiente Medellín menang meyakinkan dengan skor 5-2.

Moreno dengan segala kepongahan dan kejeniusannya di dalam maupun di luar lapangan termasuk dalam daftar pesepakbola terbaik sepanjang masa dan salah satu pemain yang memiliki karier terpanjang — bermain selama 26 tahun di divisi tertinggi lima negara Amerika Latin: Uruguay, Meksiko, Kolombia, Chili, dan Argentina — dalam sejarah sepakbola. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s