Kilas-balik Piala Dunia: Amerika Serikat, 1994

SKANDAL korupsi menghancurkan politik kepartaian Italia, dan Silvio Berlusconi — orang kaya baru yang menjalankan kediktatoran televisi di Italia atas-nama demokrasi — berhasil mengambil-alih kekosongan kekuasaan pada saat itu. Berlusconi mencuri slogan politiknya dari stadion sepakbola, dan sementara itu, Piala Dunia edisi ke-15 dilangsungkan di dataran Amerika Serikat, sebuah negeri yang melahirkan sistem bangsat bernama kapitalisme dan sedang belajar untuk menyukai sepakbola.

Pers lokal Amerika Serikat masih belum terlalu bergairah dengan ajang tertinggi sepakbola antarnegara dan melontarkan komentar nyinyir: “Di tanah kami, sepakbola merupakan olahraga masa depan dan akan tetap seperti itu.” Namun sembilan stadion yang menjadi venue pertandingan Piala Dunia selalu ramai penuh sesak dengan suporter fanatik sepakbola meski panasnya sinar matahari saat itu mampu melelehkan beton. Dan (sama seperti Piala Dunia 1986 di Meksiko) untuk menyenangkan stasiun televisi di Eropa, hampir seluruh pertandingan dimainkan pada siang hari waktu setempat.

Permulaan tahun 1994 ditandai dengan pemberontakan kolektif anarkis-revolusioner, Zapatista Army of National Liberation (EZLN), di Chiapas, Meksiko. Penduduk pribumi Suku Maya mengangkat senjata dan mengambil tindakan untuk menghentikan praktik eksploitasi yang selama ini dilakukan oleh Negara Meksiko terhadap mereka. Subcomandante Marcos membikin dunia takjub dengan kalimat jenaka dan manifesto cintanya.

Dua timnas dari Benua Asia (Korea Selatan dan Arab Saudi), tiga timnas dari Afrika (Nigeria, Maroko, dan Kamerun), enam timnas dari Benua Amerika (Meksiko, Kolombia, Brasil, Bolivia, Argentina, dan Amerika Serikat), dan 13 timnas dari Benua Eropa (Yunani, Swiss, Swedia, Spanyol, Rusia, Rumania, Norwegia, Jerman, Italia, Republik Irlandia, Bulgaria, Belgia, dan Belanda) saling beradu strategi di pentas Piala Dunia. Untuk mencegah terjadinya kekerasan brutal di atas lapangan hijau, para wasit diminta untuk bersikap lebih tegas dan galak di mana mereka — para wasit — pun akhirnya tidak sungkan menghamburkan kartu kuning dan kartu merah di sepanjang turnamen. Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan turnamen Piala Dunia, para wasit mengenakan jersey berwarna-warni dan setiap timnas boleh membawa tiga kiper dalam daftar skuad mereka.

Sementara itu, di sepanjang tahun 1994, orang-orang Serbia, Kroasia, dan muslim saling bunuh di serpihan daerah yang dulu bernama Yugoslavia. Dalam kurun waktu 7 April – 15 Juli 1994 terjadi pembantaian massal di Rwanda namun media hanya berceloteh perkara suku dan secara tersirat awak media global menyimpulkan bahwa tragedi tersebut hanya persoalan orang berkulit hitam saja.

Diego Armando Maradona bermain di Piala Dunia terakhirnya dan perayaan itu harus berakhir dengan anti-klimaks ketika Maradona “dipecundangi” oleh tim medis FIFA yang melakukan tes doping setelah matchday kedua. Dengan diusirnya Maradona dari Amerika Serikat dan melempemnya Claudio Caniggia, timnas Argentina pun tersungkur di turnamen ini. Andrés Escobar, palang pintu sekaligus kapten timnas Kolombia, mencetak gol bunuh diri saat melawan Amerika Serikat dan dihadiahi enam peluru oleh anggota kartel narkoba sepulangnya ke Kolombia.

Timnas Bulgaria yang mengandaskan perlawanan Jerman yang menakutkan itu menduduki peringkat keempat dalam Piala Dunia kali ini setelah dikalahkan Swedia empat gol tanpa balas. Di laga final, timnas Italia bertemu Brasil hanya untuk menyajikan sebuah pertandingan membosankan tanpa gol selama 120 menit. Di sela-sela pertandingan yang menjemukan itu, Romário (Brasil) dan Roberto Baggio (Italia) memberikan beberapa pelajaran mengagumkan perihal bagaimana caranya bermain sepakbola yang baik dan benar. Brasil menang di babak drama adu penalti dengan skor 3-2 di mana tiga pemain Italia (Daniele Massaro, Franco Baresi, dan Baggio) gagal mencetak gol dari titik putih. Brasil dinobatkan sebagai juara dunia dan menjadi timnas yang memiliki kisah paling luar biasa dalam sejarah sepakbola: satu-satunya negara yang selalu tampil di seluruh gelaran Piala Dunia, negara yang paling sering mencetak gol dan paling banyak memenangkan pertandingan di Piala Dunia, serta menjadi satu-satunya negara yang mampu menjuarai Piala Dunia sebanyak empat kali pada saat itu. Namun Nigeria-lah yang sebenarnya berhasil mencuri perhatian melalui permainan sepakbola yang paling memuaskan dan begitu memukau di sepanjang turnamen Piala Dunia kali ini.

Oleg Salenko (Rusia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria) menjadi top skor turnamen dengan enam gol, diikuti Romário (Brasil), Jürgen Klinsmann (Jerman), Baggio (Italia), dan Kennet Andersson (Swedia) dengan masing-masing mencetak lima gol. Sementara di peringkat ketiga daftar pencetak gol terbanyak ada Florin Răducioiu (Rumania), Martin Dahlin (Swedia), dan Gabriel Batistuta (Argentina) dengan empat gol. Romário yang dari Brasil itu meraih penghargaan Golden Ball sementara Marc Overmars (Belanda) dinobatkan sebagai pemain muda terbaik. Piala Dunia edisi ke-15 mengecup senjanya.

Di Afrika Selatan, masyarakatnya sepakat untuk menjadikan aktivis anti-apartheid (Nelson Mandela) sebagai presiden mereka. Sementara Ernesto Pérez Balladares dari Democratic Revolutionary Party memenangkan pemilu dan menjadi presiden Panama setelah invasi berdarah dan sia-sia Amerika Serikat di Panama selama empat tahun. Rakyat Ukraina, Polandia, Lithuania, dan Hungaria menyadari bahwa sistem jahanam bernama kapitalisme memiliki tabiat yang menjengkelkan dan momen ini dimanfaatkan oleh kaum komunis (yang dibaptis kembali dan mengenakan jubah sosialis) untuk meraih kemenangan di pemilu parlemen. Pemerintah Amerika Serikat akhirnya menarik pasukan fasis mereka (yang memerangi orang kelaparan dengan senjata api) dari tanah Somalia.

Di penghujung tahun 1994, seorang bocah ingusan asal Pasuruan, Indonesia, mulai memantapkan jantung dan pikirannya untuk selalu mencintai “Si Nyonya Tua” dari Italia.

Ting-a-ling!

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s