FC St. Pauli

ST. Pauli adalah sebuah distrik di Kota Hamburg, Jerman, di mana bendera Jolly Roger ada di mana-mana — berkibar di depan pub, toko, dan studio tato — “mengawasi” pekerja seks jalanan dan toko-toko seks yang menawarkan segala macam perlengkapan pemuas hasrat seksual. Di tengah kondisi yang dianggap sebagai “kekacauan” oleh orang-orang “normal” itu berdiri Millerntor-Stadion. Di dalamnya, alunan nyanyian dari salah satu lagu grup musik AC/DC mengiringi sebuah tim dengan jersey cokelat keemasan. Beberapa penggemar terlihat asik menikmati bir dengan mengibarkan syal Skull and Bones di udara.

FC St. Pauli merupakan klub sepakbola dengan ideologi paling kiri di dunia. Selain Pirates of the League, klub ini juga dijuluki sebagai Brothel of the League karena daerah mereka terkenal dengan pelacurannya dan menjadi distrik red-light terbesar di Eropa. FC St. Pauli mewakili anarkis, pekerja dermaga, pelacur, punk, dan waria yang tinggal dan menjalani kehidupan di Distrik St. Pauli. Klub ini pernah dipimpin oleh seorang gay, dan fans mereka pernah mengadakan aksi protes besar-besaran ketika iklan bernada seksisme muncul di dalam stadion sepakbola.

Selama era ‘80an, squatter mulai muncul di Distrik St. Pauli; mereka terkenal memiliki sikap politik radikal dan selalu konstan bentrok dengan polisi. (Di Jerman sendiri, pada periode tersebut, gerakan menentang fasisme dan kapitalisme memang tumbuh subur layaknya jamur di musim hujan. Para pembangkang ini selalu mengenakan pakaian serbahitam saat melakukan aksi protes, dan menjadi cikal-bakal kelahiran kelompok insureksi yang saat ini terkenal dengan nama Black bloc.) Para squatter ini menjadikan FC St. Pauli sebagai klub sepakbola kesayangan mereka dan seiring berjalannya waktu, para anarkis, anggota geng motor, kelompok anti-fasis, pekerja tambang, pelacur, punk, dan waria bergabung dengan para squatter untuk mendukung FC St. Pauli. Tidak hanya merangkul klub, kelompok suporter itu juga melakukan sebuah perubahan signifikan seperti menjadikan gambar ikonik Skull and Bones sebagai logo tidak resmi untuk FC St. Pauli. Pertandingan sepakbola diubah menjadi event yang meriah: sebuah pesta perayaan.

Sebuah aura unik mengelilingi St. Pauli … pertandingan terasa seperti sebuah pesta daripada acara olahraga. Lagu Hells Bells milik grup musik AC/DC diputar di pengeras suara stadion saat skuad FC St. Pauli memasuki lapangan untuk bertanding, dan setiap gol yang dicetak oleh tim selalu dirayakan dengan beberapa “woo-hoos” diiringi lagu Song 2 milik Blur. Banyak grup musik yang mengasosiasikan diri mereka dengan FC St. Pauli seperti Asian Dub Foundation, Bad Religion, The Gaslight Anthem, Sisters of Mercy, dan Turbonegro. Grup musik post-rock asal Islandia, Sigur Rós, bahkan pernah tampil mengenakan kaos bertuliskan dukungan kepada FC St. Pauli di panggung saat konser. FC St. Pauli memiliki sekitar 20 juta “simpatisan” di Jerman dan sekitar 200 basis organisasi suporter di luar Jerman. FC St. Pauli juga memiliki hubungan romantis dengan klub di luar Jerman, seperti dengan Celtic dari Skotlandia.

Namun yang paling mengesankan dari FC St. Pauli adalah aspek politiknya. Di saat era hooliganisme sepakbola yang digunakan oleh kaum fasis untuk merekrut dan menggembleng anggota baru, FC St. Pauli menjadi klub Jerman pertama yang melarang dan memprotes aktivitas politik sayap-kanan muncul di stadion mereka. FC St. Pauli gigih dalam kampanye progresif anti-fasisme, anti-homofobia, anti-kapitalisme, anti-rasisme, dan anti-seksisme. Corny Littmann, seorang gay yang lama aktif dalam dunia teater Jerman, pernah menjadi presiden klub. FC St. Pauli memiliki fans perempuan terbanyak di Jerman dan melarang sebuah iklan bernada seksisme dari majalah Maxim tampil di Millerntor-Stadion. Ultras FC St. Pauli selalu terlibat bentrokan dengan polisi dan fans klub yang memiliki basis suporter ekstrem sayap-kanan seperti FC Hansa Rostock dan klub sekota, Hamburger SV.

FC St. Pauli menjadi klub pertama di Jerman yang mengintegrasikan “Prinsip Fundamental (Leitlinien)” untuk mengatur bagaimana klub dijalankan. Prinsip-prinsip dasar yang disahkan saat Kongres St. Pauli pada tahun 2009 tersebut berisi:

1) “Dalam totalitasnya, yang terdiri dari anggota, fans, pejabat kehormatan, dan staf, FC St. Pauli merupakan bagian dari masyarakat yang mana dikelilingi dan dipengaruhi, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh perubahan sosial di bidang budaya, politik, dan sosial.”

2) “FC St. Pauli menyadari bahwa tanggung jawab ini menyiratkan, dan mewakili kepentingan anggota, fans, pejabat kehormatan, dan stafnya dalam hal-hal yang tidak hanya terbatas pada bidang olahraga.”

3) “FC St. Pauli adalah klub dari sebuah distrik kota tertentu, dan untuk itu klub ini memiliki utang identitas. Hal ini memberikan tanggung jawab sosial dan politik dalam kaitannya dengan distrik dan orang-orang yang tinggal di sana.”

4) “FC St. Pauli bertujuan menempatkan seluruh perasaan tertentu untuk hidup dan melambangkan keaslian olahraga. Hal ini memungkinkan bagi siapa saja untuk mengidentifikasikan dirinya dengan klub secara independen tentang kesuksesan yang mungkin diraih di bidang olahraga. Fitur penting dari klub yang mendorong perihal identifikasi ini harus dihormati, dipromosikan, dan dilestarikan.”

5) “Toleransi dan rasa hormat dalam hubungan antarmanusia merupakan pilar penting dari filosofi FC St. Pauli.”

Akankah FC St. Pauli yang selalu mengalami kesulitan finansial — di masa lalu mereka pernah diselamatkan dari kebangkrutan oleh sumbangan dari rekan-rekan di dunia teater, pertandingan persahabatan melawan klub-klub sepakbola yang lebih besar, dan rebranding kaus — mampu mempertahankan integritas mereka dalam menghadapi ancaman konstan kapitalisme dan neoliberalisme di zaman modern? Kepada salah satu surat kabat di Jerman, Holger Stanislawski — yang pernah menjadi pemain, direktur olahraga, wakil presiden, dan pelatih FC St. Pauli — pernah mengatakan: “St. Pauli sudah tidak mampu lagi menjadi utopia sosial.

Jadi, ketika “utopia sosial” ini telah dikebiri oleh hukum rugi-laba dan tunduk kepada “Serikat Musuh Keindahan”, maka apa yang tersisa dari fenomena unik dan mulia ini untuk dinikmati? Pastinya tidak akan ada yang tersisa. Dan jika hal tersebut telah mewujud nyata, maka sepakbola manusia dipastikan telah selesai. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s