Kilas-balik Piala Dunia: Jerman Barat, 1974

BANYAK yang sekarat (kemudian mati) di tahun 1974. Pelukis sosial-realis asal Meksiko, David Alfaro Siqueiros, sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 6 Januari. Diikuti oleh Duke Ellington, seorang komposer dan pianis asal Amerika Serikat yang dijuluki sebagai raja musik jazz yang tewas karena penyakit komplikasi pneumonia dan kanker paru-paru pada 24 Mei. Demikian pula novelis surealisme kelahiran Guatemala, Miguel Ángel Asturias, yang mengembuskan nafas terakhirnya di Kota Madrid, Spanyol, pada 9 Juni; dari Buenos Aires, Argentina, pada tanggal 1 Juli tersiar kabar bahwa Juan Perón — yang telah menorehkan jejaknya dalam sejarah Argentina — bersemayam dengan tenang di peti matinya; serta Pär Lagerkvist (novelis Swedia yang mendapatkan penghargaan Nobel Prize in Literature pada tahun 1951) sekarat dan akhirnya meninggal pada tanggal 11 Juli.

Sementara itu, Patty Hearst yang merupakan cucu dari penguasa media-cetak Amerika Serikat diculik pada tanggal 4 Februari 1974 oleh kelompok radikal sayap-kiri, Symbionese Liberation Army (SLA). Hearst kemudian mengalami kondisi psikologis Stockholm syndrome, mulai mencintai dan mendukung kelompok yang menculiknya serta ikut membantu melakukan perampokan di sebuah bank pada tanggal 15 April dan mengumumkan bahwa keluarganya adalah sekumpulan babi borjuis.

Pada tanggal 12 Mei 1974 di Italia, penduduknya mengadakan sebuah plebisit bersejarah untuk melegalkan proses perceraian — yang dianggap sebagai solusi yang lebih baik dan bijak ketimbang tamparan di wajah, racun, pisau, atau berbagai macam cara lainnya yang biasanya disukai oleh tradisi untuk menuntaskan permasalahan perkawinan — secara hukum. Di Swiss, empat hari sebelum pemungutan suara di Italia itu, João Havelange yang merupakan seorang pengacara merangkap pebisnis asal Brasil berhasil mengusir Stanley Rous dari kursi kepresidenan FIFA melalui plebisit yang tidak kalah bersejarah, sementara Jerman Barat tengah sibuk merias diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia yang kesepuluh.

Trofi baru bagi pemenang Piala Dunia diperkenalkan dan meskipun bentuknya lebih jelek ketimbang Jules Rimet Trophy yang menjadi hadiah di Piala Dunia edisi sebelum-sebelumnya, trofi baru itu sangat didambakan oleh lima timnas dari Benua Amerika (Uruguay, Haiti, Chili, Brasil, dan Argentina), sembilan timnas dari Eropa (Yugoslavia, Swedia, Skotlandia, Polandia, Jerman Timur, Jerman Barat, Italia, Bulgaria, dan Belanda) serta ditambah dengan timnas Zaire dan Australia.

Penduduk Portugal melancarkan sebuah aksi kudeta militer (yang dikenal dengan sebutan Carnation Revolution) sembari menyanyikan lagu Grândola, Vila Morena pada tanggal 25 April 1974 untuk menggulingkan rezim otoritarian, Estado Novo, yang telah memerintah Portugal sejak tahun 1933. Sementara kediktatoran pemerintahan junta militer yang menguasai Yunani sejak 1967 berantakan dan akhirnya dikudeta pada 24 Juli, Augusto Pinochet malah semakin menguatkan cengkeraman otoriternya di Chili. Dari Spanyol, Jenderal Francisco Franco dikabarkan terkapar sekarat di rumah sakit karena digerogoti oleh usia dan kuasa.

Uni Soviet didiskualifikasi oleh FIFA dan tidak bisa mengikuti turnamen Piala Dunia 1974 di Jerman Barat karena menolak untuk memainkan pertandingan kualifikasi leg kedua melawan Chili di Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos di mana stadion itu diubah sedemikian rupa oleh Pinochet menjadi tempat untuk mengeksekusi mati orang-orang yang tidak setuju dengan sistem pemerintahannya. Timnas Chili pun akhirnya memainkan pertandingan sepakbola paling menyedihkan dalam sejarah peradaban manusia: bermain tanpa lawan, disaksikan oleh ribuan penonton yang kebingungan, dan mencetak beberapa gol ke gawang yang tidak dijaga. Ketika babak penyisihan grup Piala Dunia 1974 dilangsungkan, timnas Chili tidak mampu memenangkan satu pertandingan pun! Kasihan.

Setidaknya ada tiga kejutan yang terjadi di Piala Dunia yang dilangsungkan di Jerman Barat ini. Pertama: para pemain timnas Belanda, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, mengajak pasangan mereka dan tinggal bersama sepanjang turnamen. Kedua: filosofi Total Football diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam dunia sepakbola yang membikin para pemain timnas Belanda seolah memiliki sayap di punggung mereka dan mampu mencapai pertandingan final tanpa terkalahkan dengan catatan mencetak 14 gol dan hanya kemasukan satu gol.

(Piala Dunia 1974 adalah sebuah kisah klasik clockwork oranje tentang kehebatan “tim juara tanpa mahkota” hasil karya yang begitu luar biasa dari Johnny Rep, Johan Neeskens, Johan Cruyff, dan 19 pemain timnas Belanda lainnya yang dikendalikan oleh seorang jenius bernama Rinus Michels.)

Di pertandingan final, Belanda bertemu dengan Jerman Barat yang diawali dengan pertukaran panji kebesaran antara Cruyff dan Franz Beckenbauer. Kejutan ketiga pun terjadi: Jerman Barat berhasil mengacaukan euforia Belanda, mengalahkan segala ketidak-mungkinan. Setelah kebobolan oleh tendangan penalti Neeskens, Sepp Maier menjelma tembok kokoh yang sulit diruntuhkan oleh para pemain timnas Belanda. Gerd Müller dan Paul Breitner menghancurkan Total Football, memberikan dua kantong cenderamata busuk untuk bekal perjalanan pulang para pemain dan staf kepelatihan timnas Belanda. Jerman Barat berhasil mengulangi keajaiban seperti yang mereka lakukan di final Piala Dunia 1954 ketika mempecundangi kedigdayaan Hungaria.


Italia dengan dua maestronya — Gianni Rivera dan Sandro Mazzola — yang bermain menggunakan strategi staffetta di bawah arahan Ferruccio Valcareggi gagal melakukan hal yang mereka lakukan di Piala Dunia edisi sebelumnya — mereka gugur di babak penyisihan grup dengan catatan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan, mencetak lima gol dan kebobolan empat gol. Polandia berada di tempat ketiga setelah mengalahkan Brasil dengan sebiji gol yang dicetak oleh Grzegorz Lato.

Lato menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1974 ini dengan tujuh gol, diikuti oleh rekan satu timnya, Andrzej Szarmach, dan Neeskens dengan catatan lima gol. Rep dari Belanda, Müller dari Jerman Barat, Ralf Edström dari Swedia yang masing-masing mencetak empat gol mengklaim tempat ketiga dalam daftar top skor.

Satu bulan dua hari setelah pertandingan final Piala Dunia 1974 yang dilangsungkan di Olympiastadion itu, Richard Nixon mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat karena dihajar habis-habisan oleh skandal politik Watergate. Gerald Ford menjadi Presiden Amerika Serikat yang selanjutnya dan pada 8 September 1974 memberikan pengampunan kepada Nixon. Di Washington, Letnan William Calley yang terlibat dalam pembantaian di Perang Vietnam dinyatakan tidak bersalah karena toh yang dibantai hanyalah warga sipil — “orang-orang biasa”, Vietnam pula. Ting-a-ling!

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s