FC Pro Vercelli 1892

VERCELLI adalah sebuah kota di kawasan utara Piedmont, Italia. Dengan populasi hanya 47.000 jiwa, Vercelli merupakan salah satu kota kecil dan juga situs kota tertua di Italia Utara. Membentang sepanjang Sungai Sesia dari Monte Rosa ke Sungai Po, Vercelli — seperti kebanyakan kota-kota di Italia — adalah rumah bagi sebuah klub sepakbola bernama FC Pro Vercelli 1892. Jika kamu tidak begitu mengikuti sejarah sepakbola Italia, maka kamu tidak bakal mengira bahwa FC Pro Vercelli 1892 merupakan raksasa pertama di sepakbola Italia. Bukan, Juventus bukanlah klub besar pertama di daratan Italia, melainkan FC Pro Vercelli 1892.

FC Pro Vercelli 1892 telah memenangkan tujuh Scudetto, yang semuanya mereka raih antara tahun 1908-1922. Bandingkan dengan raihan Scudetto milik AS Roma yang hanya berjumlah tiga, serta Napoli, Lazio, dan Fiorentina yang sama-sama masih mengoleksi dua gelar Scudetto.

Kisah FC Pro Vercelli 1892 dimulai pada tahun 1892 ketika klub ini pertama kali dibentuk oleh seorang guru lokal bernama Domenico Luppi. Klub bentukan Luppi ini diberi nama Società Ginnastica Pro Vercelli, dan pada awalnya bergerak di bidang olahraga senam dan anggar. Sebelas tahun kemudian, setelah menyaksikan Juventus bermain, Marcello Bertinetti membentuk US Pro Vercelli Calcio dan memulai perjalanan yang luar biasa di sepakbola Italia awal abad ke-20.

FC Pro Vercelli 1892 memainkan pertandingan resmi pertama mereka pada 3 Agustus 1903 melawan Forza e Costanza dan satu tahun berikutnya mereka benar-benar memiliki identitas. Awalnya, warna jersey FC Pro Vercelli 1892 adalah hitam-putih dengan motif bergaris layaknya Juventus. Sampai akhirnya para pemain FC Pro Vercelli 1892 merasa lelah karena harus mengecat ulang motif garis jersey mereka yang selalu saja memudar setelah dicuci, dan voilà!, akhirnya mereka menemukan solusi sederhana yaitu bermain dengan jersey berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam. Genius, right? Eh?

Sebulan kemudian, dalam pertandingan persahabatan, komposisi lini tengah FC Pro Vercelli 1892 yang nantinya dikenal dengan sebutan Midfield Line of Wonders — Giuseppe Milano, Pietro Leone, dan Guido Ara — melakoni debutnya. Ketika ditanya oleh eksekutif klub mengapa mereka ingin bergabung dengan klub sepakbola FC Pro Vercelli 1892, Ara menjawab “untuk menjadi juara Italia”. Pada saat itu, jawaban Ara dianggap sebagai sebuah lelucon namun mereka benar-benar tidak menyadari masa keemasan yang terbentang di jalan yang ada di depan mereka. Banyak pandit menganggap Ara sebagai superstar pertama dalam sepakbola Italia. Terkenal dengan dribble dan passing yang indah, Ara mendapat julukan L’elegante Guido atau “Guido yang elegan”. Ara juga menjadi pelopor taktik permainan keras FC Pro Vercelli 1892 dan pernah mengklaim bahwa “sepakbola bukan untuk gadis kecil”, sebuah komentar yang mencerminkan masyarakat patriarki pada saat itu.

FC Pro Vercelli 1892 memiliki sesi latihan yang unik pada saat itu; mereka adalah tim Italia pertama yang menerapkan sistem pelatihan modern. FC Pro Vercelli 1892 saat itu terdiri dari anak-anak muda kelas menengah dan mereka mampu berlatih lebih intensif daripada pemain yang lebih tua di klub lain. Latihan set-pieces dilakukan setiap hari dan FC Pro Vercelli 1892 menggunakan filosofi permainan yang mengandalkan penguasaan bola ketimbang taktik long-ball. Keunggulan fisik para pemain FC Pro Vercelli 1892 — ditambah gaya permainan keras mereka — inilah yang akhirnya membuat mereka dijuluki Leoni atau “singa”.

Pro vercelli memulai petualangan mereka di “subdivisi” Italia dan mampu meraih promosi ke liga nasional pada tahun 1907. Meskipun mereka mampu berlaga di kasta tertinggi sepakbola Italia saat itu, FC Pro Vercelli 1892 masih berstatus sebagai klub amatir di mana pemain-pemain mereka tidak menerima bayaran sepeser pun. Para pemain FC Pro Vercelli 1892 bermain dengan sukacita dan rasa kecintaan terhadap sepakbola dan mereka langsung mampu memenangkan gelar pada penampilan perdana mereka di liga nasional. Dalam kurun waktu 1908-1913, FC Pro Vercelli 1892 memenangkan lima gelar — kecuali pada musim 1909/10 di mana Inter Milan (yang tidak keren itu) keluar sebagai juara, dan itu adalah salah satu ketidak-adilan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah sepakbola Italia.

Pada musim 1909/10 tersebut, Federasi Sepakbola Italia (FIGC) memutuskan untuk mengubah aturan dan menyelenggarakan pertandingan play-off setelah FC Pro Vercelli 1892 dan Inter Milan mengakhiri musim dengan poin yang sama di puncak klasemen. (Peraturan lama untuk menentukan pemenang liga jika ada dua tim yang memiliki poin sama di akhir musim adalah selisih gol.) Meskipun FC Pro Vercelli 1892 memiliki selisih gol yang lebih baik daripada Inter Milan, FIGC tetap ngotot dan sangat antusias untuk menyelenggarakan pertandingan play-off sebagai penentu siapakah yang menjadi juara nasional saat itu. Entah disengaja atau tidak, FIGC memilih tanggal pertandingan play-off yang sama dengan tanggal di mana FC Pro Vercelli 1892 — yang sudah jauh-jauh hari dijadwalkan — bakal bertanding di Piala Queens — sebuah turnamen militer — di Kota Roma. FC Pro Vercelli 1892 melakukan protes tetapi FIGC — dengan antengnya — tidak menghiraukan protes tersebut. FC Pro Vercelli 1892 akhirnya menurunkan tim keempat mereka — yang berisikan anak-anak muda ingusan dengan usia tertua 15 tahun — dalam pertandingan play-off tersebut. Well, anak-anak muda ingusan FC Pro Vercelli 1892 ternyata mampu memberikan perlawanan dengan mencetak tiga gol meski akhirnya Inter Milan memenangkan pertandingan dengan skor 10-3.

Ketidak-adilan terus berlanjut ketika FIGC melarang FC Pro Vercelli 1892 mengikuti kegiatan sepakbola di Italia. Namun putusan tersebut akhirnya dibatalkan setelah Ara dan saudaranya berhasil mengumpulkan dukungan dari klub-klub besar Italia. Hal itu akhirnya menjadi motivasi tersendiri bagi FC Pro Vercelli 1892 dan mereka tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali menjuarai liga nasional. FC Pro Vercelli 1892 bahkan melakukannya dengan cara yang elegan: menjadi kampiun tiga musim berturut-turut, antara tahun 1910-13.

Setelah awal yang sangat manis, FC Pro Vercelli 1892 harus menunggu sampai musim 1920/21 untuk kembali memenangkan liga nasional. Pada musim 1921/22, FIGC terpecah karena adanya perselisihan mengenai struktur kompetisi liga sepakbola Italia, dan seluruh tim-tim besar Italia membentuk Confederazione Calcistica Italiana (CCI) atau Konfederasi Independen Sepakbola Italia. FC Pro Vercelli 1892 bergabung dengan liga bentukan CCI dan mereka mampu memenangkan gelar ketujuh sekaligus gelar terakhir.

Kekerdilan FC Pro Vercelli 1892 dimulai bersamaan dengan perkembangan sepakbola menjadi sebuah permainan profesional (baca: industri). Vercelli, yang notabene adalah sebuah kota kecil, tidak mampu bersaing dengan musuh-musuh mereka yang lebih kaya dari kota-kota besar di Italia. Ara yang menjadi pelatih FC Pro Vercelli 1892 dari tahun 1919 memutuskan meninggalkan klub pada tahun 1926 untuk melatih Calcio Como sebelum kembali ke FC Pro Vercelli 1892 antara tahun 1932 dan 1934. Namun Ara akhirnya benar-benar pergi dan melanjutkan petualangannya dengan melatih AS Roma, AC Milan, Genoa, dan Fiorentina. FC Pro Vercelli 1892 masih sanggup bertahan di level atas sepakbola Italia sampai musim 1934/35 di mana mereka akhirnya terdegradasi ke Serie B Italia.

Beberapa pesepakbola terkenal yang memiliki peran penting dalam kesuksesan FC Pro Vercelli 1892 pada awal abad 20: Teobaldo Depetrini, midfielder yang pernah merasakan kesuksesan bersama Juventus; Giuseppe Cavanna yang juga menjadi kiper timnas Italia saat meraih gelar Piala Dunia 1934; dan yang paling terkenal, seorang predator mematikan bernama Silvio Piola. Dalam kurun waktu 1929-1934, Piola mencetak 51 gol dari 127 pertandingan bersama FC Pro Vercelli 1892 sebelum akhirnya hijrah ke Lazio dengan rekor biaya transfer termahal saat itu. Sampai saat ini Piola, yang juga tergabung dalam skuad timnas Italia ketika menjuarai Piala Dunia 1938, merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Serie A Italia dengan 274 gol. Pemilik FC Pro Vercelli 1892 pada saat itu, Louis Bozino, menyadari arti penting Piola bagi klubnya dan pernah mengatakan: “Kami tidak akan pernah menjual Piola, bahkan untuk semua emas yang ada di dunia. (Karena) Setelah kami menjualnya, fase kemunduran Pro vercelli akan dimulai.

Dan ucapan Bozino mewujud nyata. Kepergian Piola membawa serta kejayaan dan kebanggaan FC Pro Vercelli 1892 di sepakbola Italia. Sampai saat ini tidak ada yang bisa meramalkan sampai kapan kemunduran dan kekerdilan FC Pro Vercelli 1892 bakal berakhir. FC Pro Vercelli 1892 pernah terjatuh hingga ke Serie D Italia, membikin momen-momen kebanggaan dan kesuksesan mereka di masa lalu menjadi romantisme usang yang terasa semakin jauh.

Pada tahun 2006, FC Pro Vercelli 1892 memiliki rival sekota dalam bentuk klub baru bernama AS Pro Belvedere Vercelli dengan jersey berwarna kuning dan hijau yang merupakan gabungan dari dua tim sepakbola AS Trino Calcio (yang bermain di Serie D Italia) dan PGS Pro Belvedere (yang bermain di liga amatir). FC Pro Vercelli 1892 mengalami kesulitan finansial dengan jumlah utang yang sangat besar, dan pada musim 2010/11 mereka tidak dapat mengikuti Lega Pro Seconda Divisione Italia. Setelah lebih dari 100 tahun, raksasa pertama dalam sepakbola Italia bermetamorfosis menjadi kurcaci, dan poof, menghilang.

Setelah menghilang, FC Pro Vercelli 1892  kembali muncul sebagai klub baru yang resmi didirikan pada tahun 2010. Dan kelahiran ini, setidaknya, mampu menyelamatkan tradisi dan kehormatan FC Pro Vercelli 1892 terdahulu yang dikenal sebagai “singa” di sepakbola Italia. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s