Ketika sepakbola menjelma Kotak Pandora

Football is freedom!
— Bob Marley

ERITREA merupakan sebuah negara yang terletak di Horn of Africa. Dengan ibukota bernama Asmara, Eritrea berbatasan dengan Djibouti di sebelah tenggara, Ethiopia di sebelah selatan, dan Sudan di sebelah barat. Setelah berperang melawan Ethiopia selama 30 tahun dari 1961 hingga 1991, Eritrea menjadi negara merdeka pada 24 Mei 1993. Menurut data indeks korupsi yang dilansir oleh situs Transparency International baru-baru ini, Eritrea menempati urutan 166 dari 175.

Permasalahan utama di Eritrea, selain korupsi, adalah situasi ekonomi yang buruk dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di seluruh pelosok negeri. Mike Smith, Ketua Komisi Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), membawa persoalan ini ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss. Dalam sebuah artikel di The Guardian berjudul Eritrea blighted by ‘ruthless repression’ and human rights violations, says UN yang dipublikasikan pada tanggal 19 Maret 2015 oleh Mark Anderson, Smith mengatakan bahwa “peraturan wajib militer Pemerintahan Eritrea diberlakukan bagi penduduknya yang berusia 17 tahun ke atas dan berlangsung tanpa ada batas waktu”. Smith juga menambahkan bahwa “pekerjaan yang diharapkan oleh masyarakat Eritrea adalah menjadi pegawai negeri atau tentara dengan gaji kurang dari $2 per hari”.

Dengan kondisi seperti yang digambarkan oleh Smith, wajar jika Eritrea menjadi negara yang terlampau sering ditinggal “kabur” oleh warganya. Menurut data yang dirilis oleh Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada bulan Juli 2014 menyebutkan bahwa kurang-lebih 320.000 orang kabur dari Eritrea. Meskipun begitu, melarikan diri bukanlah perihal mudah karena di setiap perbatasan, Pemerintahan Eritrea telah menyiagakan pasukan tentara untuk mencegah warganya kabur ke luar negeri.

Di sinilah peran sepakbola hadir sebagai penolong. Banyak warga Eritrea yang akhirnya memilih menjadi pesepakbola dengan maksud untuk kabur dari negaranya dengan “aman”. Dengan berprofesi sebagai pesepakbola, warga Eritrea dapat bepergian ke luar negeri atas izin pemerintah.

Dalam turnamen CECAFA Cup pada tahun 2009 di Kenya, 12 pemain tim nasional Eritrea “menghilang” di Kota Nairobi. Dua belas pemain ini bersembunyi di kawasan Eastleigh dan akhirnya mendapatkan suaka sementara dari UNHCR di Kenya. Kemudian, sebelas di antaranya melakukan perjalanan ke Australia di mana akhirnya dua pemain, Samuel Ghebrehiwet dan Ambes Sium, dikontrak oleh Gold Coast United FC, salah satu klub peserta A-League Australia, pada bulan Agustus 2011.

Kejadian serupa kembali terjadi pada helatan CECAFA Cup 2012 di Uganda, namun kali ini ada 18 orang yang kabur dan tidak kembali ke Eritrea. Kisah kaburnya 18 anggota timnas Eritrea ini pernah ditulis oleh James Montague dan dipublikasikan oleh The New York Times dengan judul A National Team Without a Country.

Dalam artikel tersebut, Montague menceritakan bahwa 18 anggota timnas Eritrea ini telah melakukan perjalanan panjang penuh ketakutan dan ketidak-jelasan selama berbulan-bulan hingga akhirnya tiba di Kota Gorinchem, Belanda. Anton Barske, seorang politikus dari partai sayap-kiri Belanda, GroenLinks, yang pada saat itu masih menjabat sebagai Walikota Gorinchem menyambut 18 pengungsi tersebut dengan tangan terbuka. “It was a romantic story where a group of young people are defecting from their country for all the best reasons,” ujar Barske, dikutip dari artikel yang ditulis oleh Montague. “They are a national soccer team, and we are a very hospitable country and city here. So we never hesitated in welcoming them.

Meski mendapat penolakan dari beberapa pihak, salah satunya protes keras dari Partij voor de Vrijheid (partai ekstrem-kanan Belanda), warga Kota Gorinchem tidak keberatan dengan kedatangan 18 pengungsi dari Eritrea tersebut. Buktinya klub sepakbola Kota Gorinchem, SV Waldhof Mannheim, sempat menggunakan jasa beberapa pengungsi Eritrea tersebut untuk bertanding di divisi lima kompetisi sepakbola Belanda.

Kini, 18 pengungsi tersebut telah menjalani kehidupan “normal” dan mendapatkan pekerjaan yang “layak”, namun mereka masih menyimpan harapan agar bisa kembali bertemu dengan keluarga masing-masing yang mereka tinggalkan di Eritrea, karena mereka mengetahui bahwa kehidupan keluarga mereka semakin dipersulit oleh Pemerintahan Eritrea yang memberlakukan aturan denda sebesar $6.800 kepada setiap keluarga yang anggota keluarganya kabur ke luar negeri. Salah satu pengungsi dari Eritrea, Berketeab Tesfai, yang sekarang tinggal di Belanda sejak 20 tahun lalu menambahkan kepada Montague bahwa “apabila pengungsi tersebut memiliki seorang ibu berusia 65 tahun ke atas dan tidak memiliki uang untuk membayar denda, maka hukumannya diganti dengan kurungan penjara selama tiga atau empat bulan”.

Dan memang begitulah sepakbola bagi warga Eritrea, serupa Kotak Pandora yang didalamnya menyimpan harapan menuju kebebasan sekaligus juga memberikan secuil kegetiran yang mampu meremukkan dada kapan saja. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s