Paolo Maldini: ketabuan seorang legenda

KETIKA mendengar nama Paolo Maldini, saya — dan mungkin seluruh pecinta sepakbola — bakal kembali memutar ingatan untuk mengenang sosok defender tangguh dengan kedisiplinan taktikalnya dalam mengawal lini pertahanan AC Milan dan timnas Italia. Maldini merupakan contoh nyata bahwa seorang pemain tidak perlu bertingkah beringas (atau bahkan berupaya setengah mati untuk mencetak gol) agar bisa menjadi pesepakbola yang hebat — yang diperlukan hanyalah mencegah lawan untuk mencetak gol dengan sikap dan cara yang bermartabat dan penuh ketenangan. Dan cara Maldini dalam menghidupi sepakbola-lah yang bakal selalu menjadikan dirinya sebagai legenda yang tidak bakal bisa mati dalam jantung persegi dan benak para penikmat sepakbola.

Namun, di atas segala hal yang pernah dia lakukan untuk sepakbola, Maldini merupakan legenda yang menjadi tabu bagi AC Milan, terutama bagi ultras AC Milan. Fossa dei Leoni ultras yang menguasai Curva Sud San Siro dan merasa telah membikin AC Milan menjadi klub kaya — tidak menyukai Maldini sedikit pun, bahkan mereka memberikan label durhaka dan arogan kepada Maldini.

Tidak akurnya hubungan Maldini dan Fossa dei Leoni dimulai sejak musim 1997/98, musim pertama Maldini menjabat sebagai kapten tim AC Milan. Setelah enam bulan Maldini menjadi kapten tim, Fossa dei Leoni memasang spanduk bertuliskan “Kurangi Hollywood dan perbanyak kerja keras!” di depan rumah Maldini. Hollywood adalah nama salah satu tempat hiburan malam di Kota Milan dan Maldini memang gemar bersenang-senang di tempat itu. Dan konon katanya, Maldini bertemu dengan Adriana Fossa — seorang model cantik asal Venezuela yang akhirnya dikawini oleh Maldini — di sebuah tempat hiburan malam.

Cerita tentang keretakan Maldini dan fans garis keras AC Milan berlanjut di tahun 2005, tepatnya pada pertandingan final Liga Champions Eropa 2004/05 yang dilangsungkan di Atatürk Olympic Stadium di Kota Istanbul, Turki. Pada saat itu Maldini murka terhadap ulah Fossa dei Leoni yang dikabarkan menjual sisa jatah tiket final tersebut kepada fans Liverpool dengan harga yang terlampau mahal. Menurut Maldini, seharusnya Fossa dei Leoni menjual sisa jatah tiket itu ke sesama Milanisti dengan harga yang sebenarnya. Maldini mengutuk tindakan Fossa dei Leoni tersebut dan menyebut mereka sebagai sekelompok mata-duitan yang bersembunyi di balik identitas ultras. Bahkan, saking marah dan jijiknya,  setelah pertandingan Maldini enggan untuk meminta maaf kepada ultras ketika ditemui oleh beberapa orang perwakilan dari Fossa dei Leoni di bandara Milan–Malpensa Airport.

Dua tahun setelahnya, permusuhan Maldini dan ultras AC Milan terus berlanjut. Saat itu Maldini yang menjadi kapten tim AC Milan di laga final Liga Champions Eropa 2006/07 memilih untuk tidak ikut campur dan bersikap masa bodoh saat beberapa ultras AC Milan terlibat bentrokan dengan polisi Kota Athena, Yunani, yang menjadi tuan rumah pertandingan final tersebut. Kelompok Fossa dei Leoni kecewa karena merasa tidak mendapatkan pembelaan yang semestinya dari pihak pemain dan klub; mereka pun akhirnya melakukan aksi boikot saat AC Milan bertanding melawan Sevilla di Piala Super Eropa 2007 dan memutuskan untuk tidak hadir mendukung klub di sebagian besar pertandingan AC Milan pada musim 2007/08.

Puncak ketidak-harmonisan Maldini dan Fossa dei Leoni adalah pada tahun 2009 di tanggal 24 Mei. Hari itu merupakan laga ke-901 dan aksi terakhir Maldini mengenakan jersey kebanggaan AC Milan di San Siro. Pertandingan perpisahan melawan AS Roma itu seharusnya menjadi kenangan manis, apalagi Maldini bukanlah “anak kemarin sore” di Milan — Maldini telah menghabiskan 24 tahun karier profesionalnya sebagai pesepakbola tanpa pernah memindahkan hatinya ke klub lain. Iya — seharusnya hari itu menjadi Hari Paolo Maldini, seharusnya laga terakhir itu menjadi penutup yang manis dan indah, seharusnya bukan hanya para pemain AS Roma yang memberikan penghormatan kepada sang legenda hidup dengan mengenakan kaos bertuliskan “Terimakasih Paolo, kapten hebat”, seharusnya bukan hanya Andrea Pirlo dkk. yang menangis terharu dengan perpisahan itu.

Namun di Curva Sud San Siro pada saat itu malah berkibar jersey raksasa bertuliskan nama Franco Baresi dengan beberapa spanduk raksasa yang di antaranya bertuliskan “Hanya ada satu kapten, (Franco) Baresi”, “Untuk 24 tahun pengabdian mulia Anda mendapatkan terimakasih dari orang-orang yang Anda sebut dengan mata-duitan dan kikir”, dan “Terimakasih kapten, Anda adalah juara sejati di lapangan tetapi Anda tidak menghormati orang-orang yang membikin Anda menjadi orang kaya”.

Maldini boleh saja memiliki nama besar, memenangkan berbagai macam trofi yang ada untuk dimenangkan bagi AC Milan, memimpin ratusan pertandingan AC Milan sebagai kapten selama 12 tahun, serta dunia sepakbola memuja dan mengagumi sosoknya di dalam maupun di luar lapangan, namun apa boleh bikin, Maldini selalu berada di bawah bayang-bayang Baresi di hadapan Fossa dei Leoni. Bagi kelompok ultras itu hanya ada satu kapten, dan kapten itu bernama Franco Baresi. Dan tidak peduli sehebat apa Maldini beraksi dalam membela panji-panji AC Milan, sebanyak apa pertandingan yang dimainkannya mengenakan jersey kebanggaan AC Milan, nama Maldini bakal selalu berada di bawah Baresi bagi Fossa dei Leoni — Maldini telah memainkan 902 pertandingan bersama AC Milan, sementara Baresi melakoni 719 pertandingan dengan jersey AC Milan. Maldini hanyalah “olok-olok” di mata ultras AC Milan.

Bagi manajemen klub-klub sepakbola, tidak terkecuali AC Milan, ultras merupakan barisan kelompok yang memiliki posisi tawar tidak main-main dan sangat kuat karena para ultras tersebut adalah orang-orang yang dengan tulus telah menambah pundi-pundi kekayaan klub melalui pembelian tiket musiman dan pernak-pernik klub tersebut. Adriano Galliani konon pernah mengirim surat kepada Maldini yang berisikan penyesalannya atas perlakuan ultras yang mencemooh Maldini — namun, bukankah basa-basi-omong-kosong merupakan salah satu bagian dari pekerjaan manajemen? Sedalam dan semenyentuh apa pun penyesalan Galliani (dan manajemen klub AC Milan) dalam surat yang ditulisnya, toh Maldini tidak akan pernah menjadi bagian dari (manajemen) klub. Nama Paolo Maldini tidak akan pernah masuk dalam jajaran petinggi dan manajemen klub AC Milan. Ini merupakan kewajaran karena memasukkan nama yang telah ditolak dan diolok-olok oleh “barisan orang kuat” ke dalam jajaran manajemen adalah petaka yang mengerikan bagi klub itu sendiri. Maldini adalah seorang legenda yang menjadi tabu bagi AC Milan.

Saya tidak tahu ada berapa banyak pecinta sepakbola yang mengidolakan Maldini. Mungkin ada begitu banyak anak kecil yang bermimpi menjadi pesepakbola setelah melihat aksi brilian Maldini mencegat lawan-lawannya mencetak gol, bermimpi untuk menghidupkan kembali sosok Maldini di atas lapangan hijau dengan cara mereka bersepakbola.

Carles Puyol menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang mengagumi Maldini. Puyol menulis surat untuk Maldini beberapa hari setelah idolanya tersebut mengumumkan pensiun dari dunia sepakbola, sebuah surat indah yang berisi puja-puji Puyol untuk Maldini, surat yang menegaskan bahwa Maldini adalah sosok yang berjasa bagi dunia sepakbola dan mampu menginspirasi semua orang, termasuk Puyol sendiri. Puyol kecil tumbuh dengan mimpi untuk menjadi Maldini, dan setelah dewasa, Puyol merupakan contoh bahwa kedewasaan tidak harus melulu diikuti dengan kehilangan sosok sang idola.

Namun saya membayangkan: jangan-jangan tabu yang menyelimuti kelegendaan Maldini malah membikin Maldini sering bermimpi agar bisa menjadi sama seperti mereka yang mengidolakannya, berangan-angan untuk menjadi legenda tanpa harus menjadi tabu. Bisa jadi seperti itu.

Siapa yang tahu? []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s