Superga

RABU, 4 Mei 1949, wajah sepakbola Italia berduka. Lembaran sejarah mencatat tanggal tersebut sebagai momen yang mengubah jalannya sepakbola Italia dan tragedi yang menghancurkan Torino. Pada hari naas itu, sebuah pesawat yang mengangkut skuad Torino — yang merajai Serie A Italia era ‘40an dan terkenal dengan julukan Il Grande Torino — menabrak Basilica of Superga yang terletak di bukit di dekat Kota Turin, menewaskan 31 orang, termasuk 18 pemain Torino. Itu merupakan kejadian yang tidak memiliki titik balik bagi Torino karena sampai saat ini saudara sekota Juventus tersebut tidak mampu bangkit dari kubangan mediokritas.

Skuad Torino saat itu dalam perjalanan pulang dari pertandingan persahabatan di Lisbon, Portugal, ketika pesawat yang mereka naiki, Fiat G.212, terjebak dalam badai. Menghadapi kepungan kabut dan jarak pandang yang terbatas di daerah Bukit Superga, pilot pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat. Dalam proses pendaratan darurat itu, pesawat menabrak dinding belakang gereja yang ada di puncak Bukit Superga. Setelah kejadiaan, laporan forensik menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan naas tersebut adalah badai yang menciptakan kabut, radio komunikasi yang buruk, dan kesalahan navigasi dari sang pilot, Pierluigi Meroni.

Vittorio Pozzo, mantan pelatih timnas Italia, ditugaskan untuk mengidentifikasi korban. Banyak korban yang tidak bisa dikenali karena kondisi tubuhnya hangus terbakar. Beberapa korban bisa diidentifikasi berkat dokumen yang ditemukan di saku mereka atau cincin yang ada di jari mereka. Malam harinya, Pozzo yang pada saat itu sudah menjadi wartawan koran harian La Stampa menulis: “Tim sepakbola Torino sudah tidak ada lagi. Mereka meledak, terbakar, lenyap … mereka tewas saat bertugas, seperti sekelompok tentara garda depan dalam sebuah perang yang meninggalkan markas dan tidak pernah kembali.

Bangkai pesawat Fiat G.212. (gambar: FIFA)
Bangkai pesawat Fiat G.212. (gambar: FIFA)

Tragedi Superga meninggalkan dampak emosional yang sangat mendalam bagi warga Italia. Skuad Torino saat itu merupakan gambaran ambisi dan visi presiden klub, Ferruccio Novo. Skuad tersebut merupakan simbol optimisme dari sebuah negara yang hancur pasca-Perang Dunia II — dan dengan mayoritas pemain-pemainnya berusia 30 tahun ke bawah, jelas Torino saat itu memang dibentuk dengan tujuan untuk mendominasi dunia sepakbola. Torino telah memenangkan empat Scudetto Serie A Italia secara beruntun (1946-1949) dan tinggal selangkah lagi meraih gelar kelima saat tragedi ini terjadi. Karena tragedi ini, Torino memainkan empat pertandingan sisa mereka dengan skuad dari tim junior mereka. Sebagai tanda penghormatan, tim yang menjadi lawan Torino juga menurunkan skuad juniornya dan Torino dianugerahi Scudetto pada akhir musim tersebut.

Sampai artikel ini ditulis, bersama dengan Juventus, Torino memegang rekor sebagai klub yang mampu memenangi Scudetto lima kali berturut-turut. Dalam lima musim antara tahun 1945 dan 1949, Torino mampu mencetak 483 gol dan kebobolan 165 gol. Kapten mereka, Valentino Mazzola — yang juga dikenal dengan sebutan Captain Valentino, memimpin rekan-rekannya di Torino meraih lima Scudetto tersebut dengan karismatik dan ketegasan tersendiri (Mazzola akan menaikkan lengan jersey-nya ketika Torino tidak bermain dengan baik sebagai sinyal bagi rekan satu timnya dan juga fans mereka). Pemain tertua yang menjadi korban Superga adalah Giuseppe Gabetto (33 tahun, striker), sementara pemain termuda adalah seorang midfielder, Rubens Fadini, yang pada saat itu masih berusia 21 tahun. Ada beberapa kabar burung sesaat setelah kecelakaan terjadi yang melaporkan bahwa Mazzola tidak ikut rombongan Torino kembali ke Turin dari Lisbon karena demam, namun sayangnya laporan tersebut ternyata palsu.

Dua hari setelah kecelakaan, sekitar 500.000 orang menghadiri prosesi pemakaman korban Superga di Turin. Jalanan Kota Turin dibanjiri oleh air mata dan acara pemakaman ini juga disiarkan langsung melalui stasiun radio nasional Italia. Peti mati diangkut menggunakan lori dan terdapat nama pemain di tiap petinya. Pada hari yang sama, lebih dari 30.000 orang mendaki Bukit Superga untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada korban dengan meninggalkan rangkaian bunga. Di dinding depan Basilica of Superga dibangun monumen untuk memperingati tragedi naas tersebut, sebagai pengingat dan menjadi tempat ziarah tiap tahunnya.

Il Grande Torino benar-benar tim yang luar biasa kerennya, pada saat itu. Dengan dimulainya European Cup (sekarang Liga Champions Eropa) pada tahun 1955, Torino memiliki kesempatan untuk menuliskan sejarah sebagai salah satu klub sepakbola paling sukses di dunia. Namun mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan tersebut dan Real Madrid yang akhirnya berhasil mendominasi Eropa.

Tragedi Superga juga memiliki dampak buruk bagi timnas Italia. Sepuluh pemain Torino merupakan langganan tetap skuad Gli Azzurri, yang pada saat itu adalah juara bertahan Piala Dunia setelah kemenangan mereka pada tahun 1938 di Prancis. Empat dari lima gelaran Piala Dunia setelah itu, Italia selalu terhenti di putaran pertama dan pada tahun 1958 mereka bahkan gagal lolos ke putaran final Piala Dunia di Swedia. Baru pada tahun 1970, timnas Italia berhasil melewati putaran pertama dan melaju hingga pertandingan final sebelum akhirnya dipermak Brasil dengan skor 4-1. Dampak Tragedi Superga berlangsung lebih lama dari yang mampu diperkirakan oleh banyak orang.

Bagaimana dengan Torino? Mereka mencoba untuk memulihkan diri tetapi masih gagal menyamai apa yang pernah dilakukan oleh Il Grande Torino dan sampai hari ini harus puas hanya menjadi bayang-bayang Juventus. Sejak tragedi Superga, Juve — yang didukung oleh kerajaan Fiat Automobiles — telah memenangkan 22 Scudetto Serie A Italia, sementara Torino hanya satu kali pada tahun 1976. Ketimpangan kebanggaan dan kebahagiaan di Kota Turin — antara Juventus dan Torino — masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir. La Vecchia Signora Juventus masih akan terus berada di atas Granata Torino dalam waktu yang cukup lama. “Revolusi” itu tidak bakal terjadi dalam waktu dekat.

Empat Mei tahun 1949 menjadi tanggal menyesakkan dalam sejarah sepakbola Italia yang tidak akan pernah terlupakan dan dilupakan. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s