(Tidak ada) Tuhan dalam sepakbola

…in Spain all 22 players cross themselves, if it works the game is always going to be a tie.
— Johan Cruyff

SAYA bukanlah orang yang mudah takjub dengan hal-hal yang berbau religius; saya secara pribadi adalah seorang ateis, tidak percaya dengan keberadaan tuhan. Namun drama lapangan hijau terkadang bisa mencapai klimaksnya saat menyentuh sisi religius, dan bagi mereka yang meyakini adanya tuhan pasti bakal beranggapan bahwa tuhan juga hadir dalam sebuah pertandingan sepakbola yang menguras emosi dan pikiran. “Ada teologi di atas lapangan hijau,” mungkin itu yang ada dalam benak orang-orang kebanyakan.

Kamu tahu Kaká, playmaker asal Brasil yang pernah mencecap kesuksesan bersama AC Milan? Kaká adalah pesepakbola yang dikenal luas memiliki tampilan lelaki baik-baik — selain kegantengannya yang saya yakin mampu membikin seorang perempuan manis-kinyis-kinyisehem, macam Chelsea Islan dan Rachel Sutanto dan Faradilla Yoshi dan Eva Celia, jatuh hati. Kaká menyempurnakan predikat baik-baik — dan tampan — dengan skill olahbola menawan di atas lapangan hijau. Gerak-gerik tubuhnya saat mendribel bola menggambarkan kebebasan dalam mengeksploitasi daerah pertahanan lawan, memperlihatkan perpaduan magis antara gerak Samba nenek moyangnya dan efektivitas racikan seorang pelatih yang jenius. Dan ketika mampu mencetak gol, Kaká biasanya melakukan selebrasi dengan mengacungkan kedua telunjuk ke udara sambil menatap langit, sebuah manifesto pengembalian rasa syukur kepada tuhan yang memberikan anugerah kepadanya.

Selain Kaká, beberapa pesepakbola dunia juga terkadang melakukan selebrasi serupa, sebut saja Lionel Messi, Didier Drogba, Cristiano Ronaldo, dll. dengan gaya dan ciri khasnya masing-masing. Hampir semua keyakinan dan agama yang ada di dunia ini menyepakati bahwa di sanalah — di langit — simbol keberadaan tuhan, dan pesepakbola seperti Kaká ingin menegaskan bahwa di atas sana memang ada sosok zat yang tidak terdefinisikan bernama tuhan. Namun, lebih jauh lagi, apakah selebrasi seperti itu juga merupakan tanda kesalehan seorang pemain sepakbola? Entahlah, silakan kamu tafsir sendiri.

Namun keyakinan adanya representasi tuhan di atas lapangan hijau tidak melulu ditunjukkan melalui selebrasi gol mengacungkan kedua telunjuk ke atas sembari menatap langit. Beberapa pesepakbola terkadang melakukan sujud syukur untuk merayakan emosi serta melakukan selebrasi usai mencetak gol, sebut saja Demba Ba serta beberapa pemain timnas Indonesia dan negara-negara Timur Tengah. Mereka seperti ingin menunjukkan bahwa apa-apa yang dapat mereka lakukan di dalam sebuah pertandingan sepakbola tidak pernah lepas dari campur tangan tuhan. Mungkin mereka menyadari bahwa superioritas sebagai pesepakbola adalah hasil dari kendali “tangan zat yang tidak terlihat” dan untuk itu mereka melakukan sujud sebagai upaya mengucap syukur kepada tuhan.

Atau jika ingin lebih meyakinkan diri perkara keterlibatan tuhan dalam sepakbola, silakan kamu bertanya pada fans Southampton dan Napoli atau timnas Argentina. Fans dari ketiga tim tersebut malah memiliki representasi tuhan “yang nyata” di atas lapangan hijau dalam diri seorang Matthew Le Tissier (bagi fans Southampton) dan Diego Maradona (bagi suporter Napoli atau timnas Argentina). Dua pesepakbola itu dipuja-puja sebagai tuhan yang mampu menghadirkan kebahagiaan dan keajaiban melalui aksinya di atas lapangan hijau dan kontribusinya kepada klub/tim.

Bagi mereka yang meyakini keberadaan tuhan, sepakbola bukanlah sekadar kemampuan skill individu sang pemain ditambah dengan racikan jenius dari seorang pelatih, melainkan lebih dari itu: ada kekuatan lain yang lebih besar yang tidak bakal pernah hilang dalam setiap tontonan di atas lapangan hijau, baik itu di tingkat yang paling profesional hingga sepakbola level antarkampung. Buktinya, ritual berdoa — yang dipanjatkan oleh staf, pemain, pelatih, dan fans — atau ritual mistis dan klenik lainnya akan selalu ada dan menjadi bagian dari setiap pertandingan sepakbola.

Namun coba renungkan juga perkataan legenda Belanda, Johan Cruyff, di awal tulisan ini. Maksud perkataan Cruyff tersebut adalah “jika tuhan itu ada dan adil, maka skor di setiap pertandingan sepakbola bakal berakhir imbang” sebab tuhan adalah sosok yang, katanya, adil. Cruyff menyangsikan adanya keberadaan tuhan dalam sepakbola.

Sudah pasti siapa pun yang terlibat dalam sebuah pertandingan sepakbola bakal memanjatkan doa dan harap agar tim yang dipuja dan dibela meraih kemenangan. Lalu, apakah doa dari setiap individu tersebut didengar oleh telinga tuhan? Ah, entahlah. Yang saya tahu, siapa saja yang sedang menikmati dan bermain dalam sebuah pertandingan sepakbola sudah berusaha untuk menuliskan takdir mereka sendiri semampunya, sebaik-baiknya. Dan juga, yang saya yakini sampai detik ini, tuhan itu tidak ada: tidak ada di dalam sepakbola, tidak ada di mana pun — tuhan telah mati dan bangkainya telah lama membusuk.

Rokokputih dan kopihitam, cheers. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s