Javier Zanetti: tentang dedikasi, gaya rambut yang tidak pernah berubah, dan Zapatista

JAVIER Zanetti siap untuk memulai lembaran baru ketika dia mengumumkan keputusannya untuk pensiun bermain sepakbola pada hari Selasa, 6 Mei 2014 lalu. Kepada salah satu surat kabar Argentina, La Nación, Zanetti pada saat itu mengaku bahwa dia “bangga dengan apa yang telah dicapai dalam dunia sepakbola dan kini sangat bersemangat untuk melanjutkan peran berikutnya sebagai direktur dan duta klub Inter Milan”. Apakah Zanetti bakal mengenakan kemeja dan dasi dalam pekerjaan barunya? Pemain berjuluk El Tractor ini diam sejenak, kemudian menjawab: “Saya harap tidak.” Satu hal yang dapat dipastikan adalah gaya rambut Zanetti akan tetap sama.

Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang lelaki yang “membuang” jasnya pada hari perkawinannya sendiri? Setelah berucap sumpah janji setia sehidup-semati dan bertukar cincin dengan kekasih masa kecilnya, Paula, pada suatu pagi di bulan Desember 1999, Zanetti mengajukan pertanyaan lain kepada Paula: apakah Paula akan keberatan jika dia pergi untuk mengikuti latihan di training camp timnas Argentina sebelum acara resepsi pernikahan mereka dimulai. Saat itu Zanetti telah membawa pakaian ganti dan sepatu olahraga ke gereja, serta beberapa orang dari staf pelatih timnas Argentina. Paula hanya bisa tertawa dan menyetujui permintaan suaminya. “If I got angry every time Javier went training,” ujar Paula, saya kutip dari Charlton Life, “then I would have had a sour face on every day since I was 14 years old.

Selain itu, Paula juga memiliki cerita menarik lainnya tentang komitmen seorang Zanetti dalam pekerjaan. Dalam buku otobiografi Zanetti yang berjudul Giocare da uomo atau Play like a man dalam bahasa Inggris, Paula ingat bahwa dia sengaja memesan kamar di sebuah hotel yang tidak memiliki fasilitas gym selama liburan keluarga di Turki. Namun Zanetti ternyata memiliki ide agar dia tetap bisa melakukan latihan untuk menjaga kebugarannya. Zanetti menggunakan Paula sebagai substitusi barbel, mengangkat istrinya tersebut ke bahunya bersama dengan setumpuk buku bacaan sebelum melakukan latihan squatting di pantai.

Mungkin cara yang dilakukan Zanetti tersebut sedikit terdengar konyol, namun metode latihan konyol tersebut dibenarkan oleh hasil yang luar biasa. Zanetti telah berkarier selama 22 tahun di level tertinggi sepakbola modern. Di usianya yang menginjak 40 tahun, Zanetti telah memainkan 1.112 pertandingan dalam karier sepakbola profesionalnya — 11 di antaranya pada musim 2013/14 setelah pulih dari cedera achilles yang mengharuskannya menepi hampir enam bulan sejak bulan April 2013.

Pada musim 2012/13, Zanetti merupakan bagian integral dari starting XI Inter Milan, bermain dalam 48 pertandingan di semua kompetisi yang diikuti Inter Milan, dan selalu menampilkan performa pada level tinggi. Tujuh tahun lalu, pada usia 36 tahun, Zanetti memimpin Inter Milan meraih treble winners bersejarah mereka dengan memenangkan gelar Serie A Italia, Coppa Italia, dan Liga Champions Eropa.

Bukan hanya di atas lapangan hijau saja Zanetti seperti menentang konsep penuaan. Pada tahun 2012, sebuah stiker Panini memperlihatkan sosok penampilan Zanetti dalam 18 musim terakhir yang ditempatkan secara side-by-side. Stiker tersebut menunjukkan Zanetti yang tidak pernah mengubah gaya rambutnya: menyisirnya rapi ke sisi kanan. Gaya rambut ini merupakan warisan dari ibu Zanetti, di mana sang ibu hanya sedikit membasahi rambut Zanetti kecil kemudian menyisirnya dengan rapi ke sisi kanan sebelum mengantarnya berangkat sekolah. Kebiasaan ini masih dilakukan oleh Zanetti sampai sekarang. Zanetti menolak menggunakan gel atau produk styling rambut apa pun dan lebih memilih air keran sederhana di kamar mandi untuk menata rambutnya.

Stiker Panini. (gambar: "Old School Panini")
Stiker Panini. (gambar: “Old School Panini”)

Gaya rambut yang tidak pernah berubah ini menjadi bahan lelucon yang tidak ada habisnya selama karier profesionalnya di lapangan hijau, meski begitu Zanetti tidak pernah memedulikan perkataan orang lain tentang gaya rambutnya tersebut. Kepada majalah OK Salute, Zanetti mengatakan, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini: “Saya adalah pribadi yang selalu presisi dalam segala hal yang saya lakukan (…) Kerapian rambut memberikan saya rasa percaya diri. Ini bukan hanya persoalan imej, melainkan juga karakter.

Zanetti hanya mengizinkan anak-anaknya yang boleh menyentuh rambutnya. Meski begitu, Zanetti dengan kesigapan layaknya pasukan militer bakal merapikan kembali rambutnya. Kerapian merupakan bagian mendasar dari identitas seorang Zanetti, namun dia terkadang juga mampu mengagetkan keluarga dan teman-temannya dengan lelucon segar yang memancing tawa.

Zanetti, terkadang, juga mampu menunjukkan ledakan amarah seperti ketika terprovokasi saat Roy Hodgson menggantinya dengan Nicola Berti dalam pertandingan final Piala UEFA pada tahun 1997, namun biasanya Zanetti cepat berdamai. Zanetti, untuk sebagian besar kariernya, merupakan contoh pemimpin berkepala dingin; dia menjadi kapten Inter Milan selama hampir 15 tahun, dan kepergiannya dari lapangan hijau pada akhir musim 2013/14 meninggalkan kekosongan yang sangat sulit untuk digantikan.

Selama dua dekade bersama Inter Milan, Zanetti berhasil mengoleksi lima Scudetto Serie A Italia, empat Coppa Italia, dan empat Supercoppa Italiana. Zanetti juga telah memenangkan trofi Liga Champions Eropa, Piala UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Zanetti mengumpulkan 145 caps meski tidak pernah memenangkan satu trofi bersama timnas Argentina. Angka itu bisa saja bertambah jika bukan karena keputusan mengejutkan Diego Maradona yang tidak memasukkannya dalam skuad Argentina di Piala Dunia 2010.

Warisan Zanetti untuk Inter Milan, dan dunia sepakbola pada umumnya, mungkin bukan terletak pada banyaknya piala yang mampu dia raih, melainkan pada kemampuannya untuk mempertahankan performa di level tertinggi dalam jangka waktu yang cukup lama; dia telah membuktikan mampu melampaui batasan tentang suatu hal yang dapat diharapkan dari pemain dengan usia senja sepertinya. Zanetti juga telah membuktikan seberapa jauh kerja keras mampu membawa seorang manusia memasuki dunia entah-berantah yang tidak terbatas.

Awal karier Zanetti tidaklah menyenangkan. Zanetti dikeluarkan dari akademi sepakbola Club Atlético Independiente pada tahun 1989 karena dianggap terlalu kecil dan lemah oleh pelatihnya pada saat itu. Ketika memasuki usia 16 tahun, Zanetti sempat mengubur mimpinya untuk menjadi pesepakbola dan bekerja sebagai asisten ayahnya, Rodolfo Ignacio, yang merupakan seorang tukang batu di Dock Sud, salah satu lingkungan keras di Buenos Aires.

Zanetti tidak pernah merasa kasihan pada dirinya sendiri, dia merasa bangga dengan jalan hidup yang telah dipilihnya. “Saya menyukai pekerjaan ayah saya,” kenang Zanetti. “Tapi di atas semuanya, saya lebih menyukai ide untuk melakukan sesuatu yang konkret dan berguna. Membangun rumah merupakan sebuah metafora yang sangat saya sukai, itulah inti dari filosofi hidup saya: mulai dari bawah dan mencapai puncak.

Dan memang hal itulah yang dilakukan oleh Zanetti: membangun karier dari bawah ke atas saat dia mendapatkan kesempatan di akademi sepakbola Talleres de Remedios de Escalada sebelum pindah ke Club Atlético Banfield dan akhirnya mencecap kesuksesan bersama Inter Milan. Dengan menggunakan kerja keras sebagai fondasi, Zanetti memastikan bahwa hal itu akan bertahan cukup lama seiring perjalanan sang waktu.

* * * * *

Zanetti dikenal memiliki minat terhadap isu-isu sosial-politik di Amerika Latin. Zanetti bersama istrinya mendirikan Fundacion PUPI untuk membantu anak-anak miskin di Argentina. Tidak hanya itu, Zanetti juga diketahui bersolidaritas dengan EZLN atau Tentara Pembebasan Nasional Zapatista di Chiapas, Meksiko — sebuah kelompok kolektif anarkis yang menyatakan perang melawan Negara Meksiko.

Emiliano Zapata adalah seorang pembaharu agraria, pemimpin Ejercito Libertador del Sur, dan pahlawan Revolusi Meksiko. Zapata tewas dalam sebuah penyergapan pada tahun 1919. Gerakan Zapatista yang terinspirasi oleh Zapata saat ini terdiri dari para petani dan buruh Meksiko. Mereka berusaha untuk mengubah sistem pemerintahan di Meksiko yang menindas rakyat kecil. Zapatista menolak konsekuensi dari globalisasi dan ekonomi neoliberal di Meksiko. Pelestarian cara hidup tradisional yang sederhana dan pengambilan keputusan yang otonom menjadi tujuan utama Zapatista.

Atas inisiatif Zanetti, Inter Milan mengirimkan €5.000 untuk membantu Zapatista setelah terjadi serangan di sebuah desa di dekat perbatasan Meksiko-Guatemala oleh pasukan paramiliter Meksiko. Uang itu dikumpulkan dari denda pemain Inter Milan yang datang terlambat saat latihan, atau menggunakan ponsel pada waktu yang salah. Secara personal, Zanetti membantu membayar seluruh biaya ambulans serta mengirimkan pakaian dan peralatan yang dibutuhkan oleh penduduk Chiapas setelah serangan tersebut. Dalam sebuah surat kepada Zapatista, saya kutip dari The Guardian, Zanetti menulis: “We believe in a better world, in an unglobalised world, enriched by the cultural differences and customs of all the people. This is why we want to support you in this struggle to maintain your roots and fight for your ideals.

Komunitas Zapatista dengan jersey Inter Milan nomor 4 milik Javier Zanetti. (gambar: "Goalden Times")
Komunitas Zapatista dengan jersey Inter Milan nomor 4 milik Javier Zanetti. (gambar: “Goalden Times”)

Juru bicara Zapatista pada saat itu, Subcomandante Marcos, menanggapi hal ini dengan menulis surat surealis kepada Massimo Moratti yang pada saat itu masih menjadi Presiden Inter Milan. Marcos mengundang Inter Milan untuk memainkan pertandingan persahabatan melawan Zapatista XI. Maradona bakal menjadi wasitnya, Javier Aquirre dan Jorge Valdano menjadi asisten wasit, dan gelandang Brasil, Sócrates, akan menjadi wasit keempat. Eduardo Galeano dan Mario Benedetti akan menjadi komentator dan pemandu jalannya pertandingan untuk “Zapatista System of Intergalactic Television, satu-satunya stasiun televisi yang hanya bisa dibaca bukan ditonton”. Bakal ada penampilan dari gay, lesbian, transgender, dan waria sebagai hiburan prapertandingan untuk membedakan pertandingan ini dari objektifikasi perempuan.

Dalam buku otobiografinya, Zanetti mengatakan bahwa keputusan untuk mendukung Zapatista muncul karena “solidaritas tidak mengenal warna, agama, dan politik. Komunitas ini berjuang agar ekonomi, cara berpolitik, dan budaya mereka diakui. Zapatista berjuang demi identitas mereka.” Zanetti juga percaya bahwa Subcomandante Marcos “berjuang untuk merebut kembali kehidupan dan martabat penduduk Meksiko pra-Kolombia; dia adalah prajurit pemberani yang terlupakan di planet ini, yang terus belajar untuk tidak menyerah dalam kondisi apa pun”.

Pertandingan persahabatan surealis Marcos tersebut tidak pernah dimainkan namun Zanetti menulis surat bahwa dia dengan senang hati pergi mengunjungi Chiapas. Zanetti menegaskan bahwa menginjakkan kaki dan bermain sepakbola bersama penduduk Chiapas tidak akan menjadi masalah baginya.

Dukungan dan solidaritas Zanetti untuk kolektif anarkis revolusioner Zapatista dan Alter-globalization — sebuah kolektif yang menyatakan menolak globalisasi dan neoliberalisme — merupakan satu alasan lain mengapa saya (dan kamu) harus menyukai dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada pemain yang memiliki nama lengkap Javier Adelmar Zanetti ini.

Zanetti is red, and Subcomandante Marcos would absolutely confirm that.

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s