Sepakbola yang melahirkan aksi perjuangan melawan lupa

TAHUN 1978.

Pada tahun itu Argentina sedang sibuk mempercantik diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Jorge Rafael Videla berkeinginan untuk menjadikan turnamen Piala Dunia sebagai alat kampanye keberhasilan dan kesuksesan pemerintahan junta militernya. Videla ingin pamer bahwa Argentina di bawah pemerintahan junta militer saat itu siap melejit di pentas dunia.

Di balik tampilan luar dari segala kemajuan yang berhasil dicapai oleh Videla dan pemerintahan junta militernya, ada bau anyir dari genangan darah dan tumpukan ribuan bangkai manusia yang coba ditutup-tutupi. Junta militer Argentina melakukan segala cara untuk memperkuat tahta kekuasaan — mereka memberangus siapa saja yang berani berdiri menentang pemerintahan pada saat itu: wartawan, serikat buruh, oposisi politik, mahasiswa, aktivis kiri; semuanya diburu, ditangkap, diculik, disiksa, dan dihabisi nyawanya secara ekstrayudisial atau tanpa proses hukum sama sekali.

Salah satu korban penculikan pemerintahan junta militer Argentina pada saat itu adalah Claudio Tamburrini, seorang pesepakbola amatir sekaligus juga mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah. Setelah ditahan selama empat bulan di Mansion Seré di Kota Morón, Buenos Aires, dan mengalami berbagai macam penyiksaan, Tamburrini beserta tiga tahanan lainnya berhasil kabur dan menyelamatkan diri. Kisah Tamburrini diangkat ke layar lebar oleh Adrián Caetano dengan judul Chronicle of an Escape pada tahun 2006. Keberuntungan (dan kenekatan) Tamburrini adalah keajaiban yang jarang sekali terjadi sebab nyatanya masih banyak dari korban penculikan junta militer Argentina saat itu yang tidak pernah kembali pulang ke rumah hingga kini.

Menyikapi tabiat otoriter pemerintahan junta militer Argentina, ada segelintir manusia yang tidak ingin membiarkan rezim militer mendapatkan kenyamanan dalam popularitas. Mereka adalah para ibu yang suami, anak, dan cucunya ditangkap dan diculik oleh pemerintahan junta militer Argentina pada saat itu. Para ibu pejuang ini melakukan aksi perlawanan dengan memanfaatkan hal yang sebenarnya dirancang untuk menaikkan popularitas junta militer Argentina: sepakbola dan Piala Dunia 1978. Para ibu pejuang ini tidak sudi menyerah dan membiarkan Piala Dunia menjadi alat rezim militer untuk mengilusi masyarakat Argentina agar melupakan aksi kekerasan demi kekerasan yang dilakukan oleh Videla dan junta militernya.

Aksi protes itu dimulai pada tanggal 30 April 1977 oleh 14 ibu di depan Plaza de Mayo, alun-alun Kota Buenos Aires yang terletak di depan monumen Pirámide de Mayo dan istana kepresidenan Casa Rosada. Di akhir tahun 1977, jumlah ibu yang ikut melakukan aksi unjuk rasa ini bertambah hingga 150an orang. Memasuki bulan Mei 1978, satu bulan jelang perhelatan Piala Dunia, para ibu pejuang itu semakin menggebu-gebu dalam melakukan aksi protes. Saat itu, mereka muncul di depan Plaza de Mayo dengan membawa foto keluarga dan kerabat terkasih yang hilang dan belum kembali pulang. Para ibu pejuang itu juga menuliskan nama suami atau anak atau cucu mereka yang hilang di foto-foto itu.

Saat peluit sepak-mula Piala Dunia 1978 yang digelar di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti, Buenos Aires, dibunyikan pada 1 Juni 1978, kelompok ibu-ibu pejuang itu mengadakan aksi besar-besaran di Plaza de Mayo karena mereka menyadari bahwa Piala Dunia adalah event bertaraf internasional yang menarik perhatian orang banyak dan media di seluruh penjuru dunia. Sepakbola dan Piala Dunia dijadikan alat oleh para ibu pejuang itu untuk mengabarkan kepada dunia bahwa ada kejahatan mengerikan di balik wajah manis Argentina. Melalui sepakbola, ibu-ibu pejuang itu berupaya memberi tahu dunia bahwa ada yang tidak beres yang tengah terjadi di Argentina, bahwa di balik kemewahan dan kemeriahan Piala Dunia tersimpan tumpukan bangkai dan genangan darah manusia yang coba ditutup-tutupi.

Para ibu pejuang itu menuntut dipulangkannya suami, anak, dan cucu mereka yang telah dihilangkan oleh pemerintahan junta militer Argentina. Ibu-ibu pejuang itu sepenuhnya menyadari bahwa kesempatan untuk bertemu kerabat dan keluarga yang hilang itu sangatlah kecil, namun mereka masih terus berjuang, paling tidak untuk mengabarkan bau anyir darah akibat dari kekejian demi kekejian yang dilakukan oleh Videla dan rezim militernya sehari-hari.

Aksi protes penuh keberanian dari para ibu pejuang itu tidak sanggup ditutupi oleh rezim militer Videla. Meskipun tentara melakukan upaya keras pengusiran disertai ancaman penangkapan, toh ibu-ibu pejuang itu tetap keukeh berdiri dengan jumlah yang semakin bertambah setiap harinya di depan Plaza de Mayo di sepanjang perhelatan Piala Dunia 1978. Mereka terus bergerilya dengan keras kepala dan kemantapan hati untuk menuntut keadilan.

Para wartawan dari berbagai negara yang pada saat itu bertugas meliput Piala Dunia 1978 di Argentina akhirnya tergerak untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang dilakukan oleh kumpulan ibu-ibu pejuang itu di depan Plaza de Mayo. Satu per satu kisah kekejaman, kekejian, dan kekerasan yang dilakukan oleh Videla dan pemerintahan junta militer Argentina mulai muncul di permukaan dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Selubung yang menutupi wajah kejam junta militer Argentina pun mulai terbuka. Dunia pelan-pelan mencium juga bau anyir darah kekejaman rezim militer Argentina saat itu.

Ada dua nama pemain sepakbola yang diam-diam ikut melakukan perlawanan terhadap pemerintahan junta militer Argentina pada saat itu. Yang pertama adalah seorang defender bernama Osvaldo Piazza yang pada saat itu bermain untuk klub Prancis, AS Saint-Étienne. Yang kedua adalah Jorge Carrascosa yang pada saat itu bermain untuk Club Atlético Huracán di Liga Argentina. Piazza dan Carrascosa adalah pilar lini belakang timnas Argentina, namun mereka menolak bermain untuk timnas Argentina di ajang Piala Dunia 1978 sebagai bentuk protes terhadap aksi kejam rezim militer Videla. Mereka berdua bahkan mengaku tidak menyesal dengan keputusan itu dan tidak tercatat dalam bagian sejarah tim yang meraih trofi Piala Dunia.

Pada tahun 1983, junta militer Argentina akhirnya melepaskan tahta kekuasaan. Meski tidak ada lagi ancaman, ibu-ibu pejuang itu masih terus melakukan aksi protes di depan Plaza de Mayo. Para ibu pejuang itu masih tetap berdiri sebab mereka bukan hanya sekadar menuntut pergantian rezim kekuasaan, namun mereka menuntut adanya keadilan bagi orang-orang terkasih mereka yang telah dihilangkan oleh pemerintahan junta militer Argentina. Hari demi hari, bulan berganti tahun, tidak takut ancaman penangkapan atau bahkan pembunuhan, tidak peduli terik panas atau dingin hujan, tidak peduli anggapan gila dari orang lain, para ibu di depan Plaza de Mayo tetap berjuang demi sebuah kejelasan dan keadilan — dengan tangan kosong, dengan diam, dengan cinta yang begitu besar.

Kamis, 26 Januari 2006, ibu-ibu pejuang itu resmi melakukan aksi protes mereka yang terakhir. Mereka menganggap aksi protes itu akhirnya membuahkan hasil karena Presiden Argentina saat itu, Néstor Kirchner, menyatakan sikap memihak aksi mereka dengan mencabut kekebalan hukum para pejabat junta militer yang bertanggung-jawab atas aksi kekejaman di masa pemerintahan mereka pada 1974 hingga 1983. Para ibu pejuang itu telah melakukan perjuangan yang luar biasa gigih selama 39 tahun!

Apa yang telah dilakukan oleh ibu-ibu pejuang di depan Plaza de Mayo Argentina itu memberikan sebuah pelajaran berharga: siapa saja yang mencoba memanfaatkan sepakbola untuk menutupi kejahatan dan kekejaman (politik) yang telah dilakukan, maka bersiaplah untuk dijatuhkan suatu saat nanti, juga dengan sepakbola.

Tahun 2007, di Indonesia.

Terinspirasi oleh aksi perjuangan ibu-ibu di depan Plaza de Mayo itu, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) bersama dengan Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengadakan protes dengan aksi berdiri dalam diam mengenakan baju serbahitam di depan Istana Negara di Jakarta. Aksi yang pertama kali dilakukan pada hari Kamis tanggal 18 Januari 2007 itu diberi nama Aksi Kamisan. Sejak saat itu, Aksi Kamisan rutin digelar setiap hari Kamis hingga saat ini.

Aksi Kamisan bertujuan untuk menuntut keadilan terhadap korban kekerasan yang dilakukan oleh negara kepada warganya sendiri. Aksi protes ini pada mulanya diikuti oleh kelompok para ibu korban kekerasan tentara pada Kerusuhan Mei 1998. Seiring berjalannya waktu, Aksi Kamisan ini akhirnya menjadi aksi protes bersama bagi siapa saja yang ingin menuntut kejelasan, keadilan, dan penuntasan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh negara, mulai dari tragedi pembantaian massal terhadap simpatisan komunis pada tahun 1965, tindak kekerasan aparatur negara terhadap petani, kasus kekerasan dalam Peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984, serta kekerasan dan pelanggaran HAM lain yang begitu banyak yang telah dilakukan oleh negara.

Pada bulan November 2015 kemarin, Aksi Kamisan ini sempat mendapatkan pelarangan dari polisi terkait Pergub DKI Jakarta tentang penyampaian pendapat di ruang publik. Meski begitu, mereka tetap melakukan aksi protes dengan pakaian dan payung hitamnya di depan Istana Negara, dan pada 1 Desember 2016 kemarin mereka telah memasuki Aksi Kamisan ke-470. Mereka bakal terus “menghitamkan” jalanan di depan Istana Negara.

Sebagian orang — mungkin kamu adalah salah satunya — ada yang terganggu dengan Aksi Kamisan ini dan dengan konyolnya melontarkan perkataan nyinyir bahwa itu adalah aksi menuntut keadilan yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang masih belum bisa move on. Jangan dikira melakukan aksi berdiri dalam diam setiap Kamis sore selama hampir sepuluh tahun itu adalah perkara enteng yang hanya membutuhkan usaha dan pengorbanan kecil. Jangan menyamakan para ibu pejuang itu dengan kumpulan remaja kinyis-kinyis yang bisanya cuma meratap dan memamerkan kegalauan di media-sosial hanya karena sang gebetan ditikung oleh sahabatnya sendiri. Hanya cinta yang begitu tulus, kuat, dan asli yang sanggup memberikan suplemen energi tidak terhingga agar ibu-ibu pejuang itu mampu untuk terus melakukan aksi protes menuntut keadilan di depan Istana Negara!

Sebab bagi sebuah cinta dan kerinduan yang begitu tulus, kuat, dan asli, kehilangan bakal selalu aktual dan tidak akan pernah bisa basi. Rasa nyeri akibat kehilangan yang terjadi puluhan tahun sebelumnya bisa datang menyerang kapan pun dan di mana pun, hingga entah. Bagi mereka yang kehilangan orang tercinta karena tindak kekerasan menjijikkan negara, keadilan (dan kebahagiaan) bukanlah pasal aturan dalam konstitusi undang-undang negara atau frasa indah yang memabukkan dalam sebait syair tentang perjuangan cinta. Keadilan (dan kebahagiaan), bagi mereka, adalah hal yang konkret dan nyata dalam banalitas kehidupan harian.

Akan selalu ada hitam di depan Istana Negara pada setiap Kamis sore untuk cinta yang begitu tulus dan setiap tetes kerinduan pada keadilan. Di setiap Kamis sore, mereka tidak akan menyerah sampai mereka mampu merasakan keadilan yang seadil-adilnya dan kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya.

Hitam itu bakal terus mengganggu kalian, para penguasa jahanam!

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s