Ultras: keliaran yang menghadirkan seni paling indah dalam sepakbola

DI belahan dunia mana pun, kekerasan bakal dianggap sebagai suatu fenomena yang tidak biasa. Namun kekerasan juga merupakan “pemanis” dalam lembaran sejarah kehidupan. Hal ini berlaku juga di dalam dunia sepakbola. Kekerasan yang kadang terselip dalam halaman sejarah perjalanan olahraga yang paling banyak digemari di seluruh penjuru dunia ini mampu memberikan warna tersendiri. Kekerasan atau kekacauan atau chaos yang hadir di tribun stadion maupun di luar stadion dalam sebuah pertandingan sepakbola adalah sesuatu yang mengerikan jika dipandang dari asas logika kapital dan juga nilai-nilai semu moralis, tetapi di sisi lain, hal ini adalah daya tarik tersendiri yang mampu memompa adrenalin untuk melampaui kotak salah-betul.

Berbicara perihal kekerasan di dalam sepakbola tentu tidak dapat menghilangkan peran para ultras (suporter fanatik), dan Italia merupakan salah satu negara yang dikenal memiliki basis ultras terbanyak, terbesar, dan terliar di Eropa. Beberapa di antaranya adalah Yellow-blue Brigade (Hellas Verona), Viola Club Viesseux (Fiorentina), Roma Boys (AS Roma), Naples Ultras (Napoli), Irriducibili (Lazio), Granata Ultras (Torino), Fighters dan Drughi dan Tradizione Bianconera (Juventus), The Boys (Inter Milan), Brigate Rossonere (AC Milan), Black and Blue Brigade (Atalanta), dan lainnya. Keseluruhan ultras tersebut memiliki satu kesamaan karakter yang unik dan menarik, yaitu fanatisme berlebih terhadap klub sepakbola kesayangan mereka. Kehadiran dan semangat mereka bakal selalu memberikan warna tersendiri di dalam stadion dengan berbagai macam koreografi kreatif.

Para ultras ini selalu menunjukkan sikap fanatisme yang tidak kenal lelah dan keberanian ketika menyaksikan tim pujaannya bertanding. Para ultras bakal terus bernyanyi sampai akhir pertandingan, atau mereka akan terus berdiri di sepanjang pertandingan. Para ultras juga sebisa mungkin bakal terus menonton langsung klub kesayangannya di stadion mana pun, termasuk di luar negeri. Para ultras juga tidak akan berhenti untuk terus-terusan melancarkan intimidasi kepada klub maupun fans lawan. Bahkan para ultras tidak segan untuk melakukan kekerasan — bahkan ada yang sampai membunuh — dalam upayanya untuk mengintimidasi lawan. Vincenzo Paparelli, misalnya, yang merupakan seorang Irriducibili mati akibat lemparan bom oleh Roma Boys dalam Derby della Capitale pada bulan Oktober 1979.

Hal yang cukup unik lainnya dari kelompok ultras di Italia ini adalah mereka memiliki slogan atau semboyan yang menjadi “pemersatu” di antara mereka yakni A.C.A.B. atau All Cops Are Bastard (“Semua Polisi Adalah Bajingan!”). Para ultras bakal lebih kejam dan sadis ketika melawan polisi ketimbang berhadapan dengan ultras lainnya. Salah satu contoh kasus yang menjadi implementasi A.C.A.B. terjadi pada awal 2007 lalu ketika pertandingan Catania vs. Palermo di mana seorang polisi bernama Filippo Raciti dibunuh oleh ultras dari kedua klub. Fanatisme ultras ini pernah didramatisir oleh Stefano Sollima dalam sebuah karya sinematik berjudul ACAB – All Cops Are Bastards pada tahun 2012.

Sisi menarik lainnya dari ultras ini adalah isu yang mereka bawa tidak melulu mengenai sepakbola saja. Para ultras juga mengemukakan isu politik yang hampir dari kesemuanya menyangkut tentang kepentingan kaum marjinal atau kaum yang terpinggirkan atau kelas pekerja.

Italia adalah sebuah negara dengan akar sejarah fasisme yang kuat, namun para ultras ini lebih memilih ideologi politik kiri untuk menjadi tema sentral yang selalu mereka angkat. Salah satu contohnya adalah Brigate Autonome Livornesi (Livorno) dengan ideologi komunismenya yang secara tegas melakukan perlawanan terhadap barisan ultras berideologikan ekstrem sayap-kanan di Italia. Christiano Lucarelli, seorang pesepakbola yang menjadi ikon pujaan fans Livorno, pernah secara monumental melayangkan “tinju ke udara” yang kemudian menjadi antidot dari fascist salute Paolo Di Canio.

Tetapi tidak semua ultras berhaluan politik kiri. Dua ultras ibukota Italia, Irriducibili dan Roma Boys, cenderung memilih jalur politik kanan — kedua ultras ini adalah penganut neofasis yang taat. Kedua ultras dari Kota Roma ini tidak akan ragu untuk bekerja-sama dan saling membantu jika berbicara mengenai ideologi politik. Hal ini pernah mereka tunjukkan dalam beberapa pamflet yang mereka terbitkan. Salah satu contohnya adalah ketika Irriducibili dan Roma Boys pernah sama-sama menyerukan penentangan terhadap invasi Amerika Serikat ke Irak dalam salah satu terbitan pamflet mereka. Tidak hanya itu, Irriducibili dan Roma Boys juga merupakan barisan ultras yang paling sering membawa isu politik ekstrem kanan ke dalam stadion. Mereka, misalnya, pernah membentangkan spanduk raksasa dalam sebuah pertandingan sepakbola yang berisikan dukungan terhadap Željko Ražnatović (atau yang lebih dikenal dengan nama Arkan), seorang penjahat perang yang menyebabkan terjadinya Yugoslav Wars. Atau mereka pernah secara terang-terangan untuk menyerukan sentimen anti-semit serta mendukung aksi rasialisme terhadap pemain kulit hitam di Italia. Roma Boys dan Irriducibili juga pernah melakukan protes terhadap Pemerintahan Italia yang mengurangi pasokan listrik di beberapa wilayah di Kota Roma. Kedua ultras paling “kanan” di Italia ini juga pernah melakukan suatu aksi kolektif dengan membantu memberikan rumah (lengkap dengan perabotannya) kepada keluarga-keluarga kurang mampu di Kota Roma.

Sebuah penyegaran tersendiri bagi saya ketika melihat para ultras tersebut di tengah-tengah hegemoni komoditas kapitalisme dan komersialisasi sepakbola modern. Bentuk resistensi yang dihadirkan oleh para ultras tersebut mampu mewakili suara-suara terpinggirkan tentang kemuakan terhadap segelintir milyarder yang — melalui kekuasaan politik dan kekuatan finansialnya — merusak sepakbola seenak udelnya. Suara-suara tersebut kini kembali menggema dalam spanduk-spanduk bertuliskan Against Modern Football yang tergantung di stadion-stadion seantero Eropa.

Mungkin beberapa moralis, pakar humanisme, dan agamis bakal menyebut para ultras tersebut sebagai barisan kelompok fanatik yang brutal dan tidak beradab. Namun tidak bagi saya. Kehadiran ultras adalah “pemanis”: mereka adalah keliaran yang mampu menghadirkan seni yang paling indah dalam sepakbola. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s