Tidak ada Natal dan Tahun Baru, hanya sepakbola

INGGRIS memiliki tradisi menggelar pertandingan sepakbola saat momen Natal yang sudah berlangsung sejak satu abad yang lalu. Bedanya, zaman dulu, pertandingan sepakbola di Inggris dilangsungkan tepat pada Hari Natal (25 Desember), sementara sekarang pertandingan sepakbola digelar pada saat Boxing Day (satu hari setelah Natal, sama seperti ketika orang-orang yang merayakan Natal menerima hadiah Natal dalam kotak). José Mourinho pernah menanggapi tradisi tersebut dengan memberikan penghormatan kepada setiap pesepakbola yang berkarier di tanah Inggris. Menurut Mourinho, di saat semua orang tengah menikmati masa libur Natal dan Tahun Baru, para pesepakbola di Inggris masih harus beradu keterampilan olahbola di atas lapangan hijau dalam cuaca yang dingin dengan jadwal yang superpadat, dan untuk itu mereka “layak mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya”.

Bisa dikatakan bahwa tradisi sepakbola Inggris saat libur Natal dan Tahun Baru di masa lalu jauh lebih ekstrem ketimbang era Premier League pada zaman modern sekarang ini. Sebelum memasuki era industri dan menjadi komoditas, sepakbola dianggap sebagai sebuah hiburan bagi masyarakat. Natal dan Boxing Day merupakan dua hari libur utama di dataran Britania Raya, dan ketika banyak tempat hiburan yang tutup karena bos dan pegawainya ingin merayakan libur Natal, sepakbola menjadi semacam pelarian untuk menghibur diri.

Dalam artikel di FourFourTwo berjudul A Victorian tradition, lost: the history of football on Christmas Day, Paul Brown menulis: “There would be a full programme of fixtures on Christmas Day and, usually, another full programme on Boxing Day. And in the Victorian era, when many of the festive traditions we enjoy today were introduced, football was as much a part of Christmas as jingle bells and mince pies.

Lebih lanjut, menurut penuturan Brown, sepakbola saat Natal pada era Victoria memiliki tingkat ke-ekstrem-an yang luar biasa. Selain bertanding tepat pada tanggal 25 Desember, sejumlah klub sepakbola pada masa itu terkadang harus bermain sebanyak dua kali pada hari yang sama. Everton menjadi salah satu tim yang pernah memainkan tiga pertandingan dalam dua hari saat libur Natal pada tahun 1888. Dua pertandingan dimainkan Everton tepat pada Hari Natal dan satu pertandingan dimainkan saat Boxing Day. Jika satu klub sepakbola harus melakoni dua pertandingan tepat pada Hari Natal, biasanya klub sepakbola itu bakal memainkan pertandingan pertama pada pagihari dan laga kedua pada sorehari-nya.

Pada saat itu, klubklub Inggris tidak boleh memaksa para pemainnya untuk bermain di Hari Natal — hanya pemain yang mau secara sukarela untuk bermain sepakbola di hari libur yang boleh dimainkan. Hal ini, tulis Brown dalam artikelnya, mengacu pada peraturan FA (Federasi Sepakbola Inggris) pada saat itu yang menyatakan “no club shall be compelled to play any match on Good Friday or Christmas Day. (Pemain bintang macam Arthur Bridgett dari Sunderland dan Harold Fleming dari Swindon Town FC menolak dengan tegas untuk bermain pada Hari Natal.)

Klubklub yang kekurangan pemain untuk bermain di Hari Natal biasanya merekrut sukarelawan dari fans mereka atau penonton yang hadir di lapangan pertandingan saat itu. Hal ini pernah dilakukan oleh Brighton & Hove Albion FC pada tanggal 25 Desember 1940 — saat itu hanya lima pemain Brighton & Hove Albion FC yang mau bermain tepat di Hari Natal dan mereka akhirnya merekrut penonton yang hadir untuk melengkapi skuad mereka. Hasilnya, Brighton & Hove Albion FC diremuk-redamkan oleh Norwich City dengan skor 0-18.

Selain itu, ada beberapa tradisi menarik lainnya dari sepakbola Natal di Inggris pada era Victoria tersebut. Salah satunya adalah banyaknya laga derby yang dilangsungkan tepat di Hari Natal. Yang kedua: adanya jadwal pertandingan yang mempertemukan dua klub yang sama dalam dua pertandingan home-away — misalnya, pertandingan pertama di Hari Natal, “Klub B” yang menjamu “Klub A”; nah esok harinya, saat Boxing Day, giliran “Klub B” yang menyambangi kandang “Klub A”. Penjadwalan seperti ini terjadi ketika liga sepakbola di Inggris semakin berkembang dan klub yang ikut terlibat semakin banyak.

Namun, dari begitu banyaknya pertandingan sepakbola yang dilangsungkan tepat di Hari Natal, tidak ada yang menandingi tingkat popularitas pertandingan yang terjadi di front-line antara tentara Inggris dan Jerman di Kota Ypres, Belgia, pada tanggal 25 Desember 1914. Konon ceritanya, di tengahtengah suasana Perang Dunia I yang mencekam, para tentara dari kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan gencatan senjata sejenak di Hari Natal (kirakira situasinya hampir sama seperti dalam film Joyeux Noël [2005] garapan Christian Carion) untuk merayakannya dengan bermain sepakbola dan bersenang-senang. Momen ini pun lebih dikenal dengan sebutan The Christmas Truce.

A German looked over the trench — no shots — our men did the same,” tulis Clement Barker, seorang staf sersan tentara Inggris saat Perang Dunia I, dalam sebuah surat kepada saudaranya, Montague, saya kutip dari Mirror. “And then a few of our men went out and brought the dead in and buried them and the next thing a football kicked out of our Trenches and Germans and English played football.

Ernie Williams yang juga veteran tentara Inggris dalam Perang Dunia I memberikan kesaksiannya mengenai The Christmas Truce ini dalam sebuah wawancara di stasiun televisi pada tahun 1983. “The ball appeared from somewhere, I don’t know where, but it came from their side — it wasn’t from our side that the ball came,” ujar Williams, saya kutip dari CNN. “They made up some goals and one fellow went in goal and then it was just a general kickabout. I should think there were about a couple of hundred taking part. I had a go at the ball. I was pretty good then, at 19. Everybody seemed to be enjoying themselves. There was no sort of ill-will between us. There was no referee, and no score, no tally at all.

Kisah The Christmas Truce ini diceritakan berulang-ulang kali sebagai pembuktian bahwa sepakbola bisa menjadi media terciptanya perdamaian di medan perang, meski hanya sebentar. FA bahkan mengampanyekan #FootballRemembers untuk mengenang mereka yang berjuang dan mati di medan perang jahanam tersebut. FA pernah mengadakan sebuah pertandingan persabatan bertajuk Game of Truce untuk memperingati 100 tahun terjadinya The Christmas Truce. Pertandingan ini mempertemukan British Army dan German Bundeswehr yang dilangsungkan di kandang Aldershot Town FC. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan British Army.

Badan Liga Sepakbola Inggris juga telah menggelar Premier League Christmas Truce National Tournament di Ypres, Belgia, sejak tahun 2011 lalu. Ini merupakan turnamen tahunan bagi akademi sepakbola anak-anak U-12 dari berbagai klub di Eropa yang bertujuan, selain untuk memperingati The Christmas Truce, juga sebagai sarana edukasi bagi anak-anak tersebut perihal sejarah kelam Eropa pada awal abad 20.

Di balik kepopulerannya, ada beberapa opini yang menyangsikan keabsahan kisah The Christmas Truce. Sebagian sejarawan meragukan romantisme The Christmas Truce yang mengisahkan tentang gencatan senjata demi bersenang-senang dan bermain sepakbola di tengatengah medan perang tersebut.

Mark Connelly, seorang profesor Modern British History at the Center for War, Propaganda and Society di University of Kent, Inggris, meyakini bahwa kisah The Christmas Truce ini terlalu dilebih-lebihkan. “…there is no absolute hard, verifiable evidence of a match,” ujar Connelly, saya kutip dari CNN. Namun Connelly masih percaya bahwa memang ada beberapa tentara yang bermain sepakbola pada saat itu, tetapi mereka mungkin hanya sekadar melepaskan penat dan ketegangan dengan menendang-nendang bola — bukannya mengadakan sebuah pertandingan sepakbola.

Penulis buku Christmas Truce, Shirley Seaton, mempertanyakan glorifikasi The Christmas Truce yang terjadi di masa sekarang ini. “The ‘football match’ has been falsely blown up, especially this year,” ujar Seaton kepada CNN. “The event of the truce and fraternization over so much of the British sector of the line is what was so remarkable — not the very few ‘kick abouts’. Football was a popular sport at the time in Germany and Britain, and often played behind the lines when the men were at rest. The main activity during this ‘truce’ was the opportunity to bury the dead which had been lying between the lines as well as talking and exchanging gifts. It was also a chance to work above ground to dig trenches and build defenses, for both Germans and British.

Sementara itu, Thomas Weber — penulis buku Hitler’s First War — senada dengan apa yang disampaikan oleh Connelly mengenai kisah The Christmas Truce ini. Saya kutip dari CNN, Weber mengatakan: “I think it is fair to say that the football matches that took place during Christmas 1914 have both at times been downplayed and at other times been blown out of all proportion. A number of independent reports and sources exist that report on football being played between German and British soldiers during Christmas 1914. I find it not credible to argue that they were all fabricated. After the war, with millions of soldiers killed, maimed, or missing, it just was not opportune to speak about wartime fraternization. There is ample of evidence that subsequent generations tried to write, not just Anglo-German football matches but any kind of friendly encounter of enemy combatants out of the story after the event. At the same time, people sometimes have also exaggerated the importance of soccer games in 1914, by sentimentalizing them and by presenting the Christmas Truce as a juncture where the war could still have been stopped.

Et cetera
Pertandingan sepakbola di saat Natal mungkin tidak banyak digelar di negaranegara Eropa selain Inggris karena kompetisi liga di Eropa pada umumnya mengenal libur musim dingin. Namun pada kenyataannya, masih ada beberapa pertandingan sepakbola yang digelar saat libur Natal yang melibatkan klubklub di luar tim sepakbola asal Inggris. Dari penuturan Brown dalam artikelnya di FourFourTwo, ada dua pertandingan di kompetisi antarklub Eropa yang pernah digelar pada saat Natal, tepatnya 25 Desember 1955.

Yang pertama adalah pertandingan babak perempat-final European Cup (sekarang Liga Champions Eropa) antara Real Madrid vs. Partizan Belgrade yang dilangsungkan di Santiago Bernabeu. Saat itu Real Madrid menang 4-0 dan semua gol dicetak oleh Alfredo Di Stéfano. Pada saat yang hampir bersamaan, Camp Nou menjadi venue pertandingan pertama turnamen Inter-Cities Fairs Cup (sekarang Liga Europa) di mana Barcelona menjamu tamunya dari Denmark, Stævnet. Barcelona yang pada saat itu juga diperkuat satu pemain Espanyol menang dengan skor 6-2, dan László Kubala menjadi salah satu pencetak golnya.

Beberapa pertandingan internasional antarnegara juga pernah dilangsungkan tepat pada saat Natal. Pertandingan Copa America yang melibatkan Argentina, Brasil, Ekuador, dan Paraguay menjadi salah satu contohnya. Di Eropa, timnas Prancis pernah mengadakan pertandingan persahabatan melawan Belgia pada tanggal 25 Desember di tahun 1952, 1955, dan 1963 — di mana Prancis kalah dalam tiga pertandingan tersebut — dan melawan Bulgaria pada tahun 1957 yang berakhir imbang 2-2. Yang paling anyar, Uni Emirat Arab mengalahkan Yaman 2-0 pada tanggal 25 Desember 2012 di Doha, Qatar.

Sekarang ini, tradisi melangsungkan pertandingan sepakbola di Hari Natal mulai menghilang sejak hadirnya lampu stadion yang membikin pertandingan sepakbola bisa dilangsungkan pada malamhari. Hal ini berdampak pada jadwal pertandingan yang tidak perlu dipadatkan di saatsaat libur Natal, dan pertandingan di harihari besar keagamaan lainnya pun dihapuskan.

Di Liga Inggris, pertandingan terakhir yang dilangsungkan tepat pada saat Hari Natal adalah laga Blackburn Rovers melawan Blackpool pada tahun 1965 silam. Di hadapan sekitar 21.000 penonton, Blackpool memenangkan pertandingan dengan skor 4-2. Pada tahun 1983 sempat ada upaya untuk kembali menyelenggarakan pertandingan pada Hari Natal yang mempertemukan Brentford dan Wimbledon namun batal karena muncul protes dari fans kedua tim. Pertandingan pun diajukan sehari sebelumnya dan berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan Wimbledon.

Tradisi sepakbola Natal ini masih berlangsung di Irlandia Utara dalam turnamen yang sudah berlangsung selama hampir 120 tahun bertajuk Steel & Sons Cup. Pertandingan final turnamen ini selalu digelar pada tanggal 25 Desember tiap tahunnya, kecuali jika Natal jatuh pada hari Minggu. Tahun 2016 ini Linfield FC meraih trofi Steel & Sons Cup setelah berhasil mengalahkan Dundela FC dengan skor 3-1 dalam pertandingan final yang digelar pada 24 Desember kemarin di Seaview, kandang dari klub Newington Youth FC dan Crusaders FC yang terletak di Kota Belfast, Irlandia Utara.

Sementara di Inggris, meski sudah tidak lagi mengadakan pertandingan sepakbola tepat saat Natal, tradisi menyelenggarakan laga sepakbola pada Boxing Day masih terus dipertahankan hingga saat ini. Peduli setan dengan banyaknya kritikan yang menganggap bahwa tradisi pertandingan saat Boxing Day berdampak pada menurunnya performa dan fokus pemain karena kelelahan akibat bekerja terlalu keras saat musim dingin, toh tradisi ini tetap bertahan demi mendapatkan tambahan profit (dan hiburan) di hari libur. Banyaknya pelatih dan pemain asing yang berlaga di Inggris tidak cukup untuk mengubah pendirian keukeh agar tradisi ini tetap bertahan tidak digerus zaman — malah mereka, para pelatih dan pemain asing, yang dipaksa untuk beradaptasi dengan kultur unik sepakbola Inggris. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, sepakbola adalah eskapisme untuk mencari hiburan di tengahtengah kehidupan yang sudah terlanjur membosankan dan semakin banal ini. Dan tradisi Boxing Day adalah pelarian pada saat libur Natal dan Tahun Baru bagi siapa saja — terlebih bagi para JOKO (Jomblo Konsisten) di luar sana — yang sering bingung harus melakukan apa dan ke mana untuk mendapatkan hiburan.

* * * * *

Ah, sudahlah. Cukup segitu saja tentang sepakbola dan Natal. Sekarang sudah fajar di tanggal 25 Desember — dan Sinterklas belum juga mampir ke kantor saya — berarti sebelas hari lagi tanggal 5 Januari: tanggal yang tepat untuk bersenang-senang merayakan manis dan tragisnya kehidupan, merayakan semesta. Au revoir.

Untuk Mélanie Laurent dan Chelsea Islan: I wish you a merry Christmas.

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s