Enam legenda sepakbola yang tidak pernah bermain di Piala Dunia

WORLD Cup atau Piala Dunia. Pemain sepakbola mana yang tidak ingin berlaga di ajang bergengsi tersebut. Bahkan hal tersebut — bermain di Piala Dunia — pernah menjadi salah satu impian masa kecil saya, sebelum tragedi naas terjadi pada tahun 1998 silam. Piala Dunia merupakan kompetisi tertinggi dan paling prestisius dalam level sepakbola profesional antarnegara di Planet Bumi ini. Namun tidak semua negara bisa unjuk-kemampuan dalam event empat tahunan ini. Negaranegara yang mampu melewati babak kualifikasi di benuanya masing-masinglah yang akhirnya berkesempatan saling bunuh untuk mendapatkan trofi emas Piala Dunia.

Karena hal tersebut pula terdapat beberapa pesepakbola hebat yang belum pernah merasakan atmosfer arogansi dan kebanggaan Piala Dunia sepanjang karier sepakbola mereka. Legenda sepakbola macam Alfredo Di Stéfano gagal memenuhi ambisi — atau bahkan impian masa kecilnya — untuk membela panji negaranya di ajang Piala Dunia.

Ada setidaknya setengah lusin legenda yang gagal dalam upayanya agar bisa tampil di Piala Dunia. Siapa saja mereka?

Alfredo Di Stéfano. (gambar: "Pinterest")
Alfredo Di Stéfano. (gambar: “Pinterest”)

Alfredo Di Stéfano (Argentina, Kolombia, dan Spanyol)
Dalam daftar peringkat pesepakbola terbaik sepanjang masa yang dirilis oleh siapa pun, nama Pelé, Diego Maradona, dan Johan Cruyff lebih sering bertengger di urutan tiga besar. Di Stéfano selalu menjadi bayangbayang ketiga nama besar tersebut di peringkat empat ke bawah. Namun anggapan ini tidak sejalan dengan penilaian legenda Inggris, Sir Bobby Charlton, yang mengatakan: “Alfredo Di Stéfano adalah pesepakbola terbaik yang pernah saya lihat, orang paling cerdas yang pernah saya lihat di lapangan sepakbola.” Dan terkutuklah orang-orang yang tidak memercayai omongan pemain terhebat yang pernah dimiliki oleh Inggris tersebut.

Di Stéfano adalah predator pada zamannya; dia merupakan striker yang mampu meruntuhkan langitlangit stadion dengan gol-golnya. Namun di balik kehebatannya tersebut, terselip “noda” yang bakal membikinnya selalu berada di bawah Cruyff, Maradona, dan Pelé. Apa itu? Yups, Di Stéfano tidak pernah bermain di Piala Dunia.

Penyebab kegagalan Di Stéfano tampil di Piala Dunia bisa dikatakan karena adanya konspirasi yang membikinnya harus rela untuk terus-terusan menjadi penonton kejuaraan antarnegara paling bergengsi tersebut. Pada tahun 1949, Di Stéfano yang sudah menjadi pemain internasional untuk Argentina memilih hengkang dari Club Atlético River Plate menuju Kolombia untuk bergabung bersama Millonarios FC dikarenakan kurangnya gaji yang dia terima di Argentina. Seketika itu pula, Di Stéfano lebih memilih untuk membela timnas Kolombia ketimbang Argentina. “The State of affairs” ini membikin Di Stéfano tidak bisa tampil di Piala Dunia 1950 dan 1954 karena regulasi yang diterapkan oleh FIFA. Argentina dan Kolombia dicoret dari daftar keikut-sertaan mereka di Piala Dunia dan mendapat hukuman tidak boleh ambil bagian selama dua kali penyelenggaraan Piala Dunia. FIFA juga menghukum dan melarang Di Stéfano membela timnas Argentina seumur hidup karena kasus ini. What a merry puddle.

Keadaan mulai membaik ketika Di Stéfano hijrah ke Real Madrid pada tahun 1953 dan dirinya pun diperbolehkan oleh FIFA untuk bermain di timnas Spanyol. (Tidak usah bingung mengenai keputusan “aneh” FIFA pada tahun tersebut untuk Spanyol; jawabannya cuma satu: pengaruh diktator fasis Spanyol, Jenderal Francisco Franco!) Spanyol yang memiliki lini depan paling menakutkan pada saat itu — László Kubala, Luis Suárez Miramontes, Francisco Gento, dan tentu saja, Di Stéfano — diprediksi akan mudah lolos ke Piala Dunia 1958 di Swedia. Hal ini semakin ditunjang dengan dua lawan enteng Spanyol di babak penyisihan Grup 9 kualifikasi Piala Dunia zona Eropa saat itu: Skotlandia dan Swiss.

Namun kenyataan selalu memiliki cara yang unik untuk mengejutkan seluruh makhluk hidup di alam semesta. Pada pertandingan pembuka kualifikasi, Spanyol hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Swiss di Madrid dan kalah 2-4 dari tuan rumah Skotlandia di Glasgow. Meski dalam dua pertandingan akhir mampu menyapu bersih kemenangan (masingmasing dengan skor 4-1 — vs. Skotlandia di Madrid dan vs. Swiss di Lausanne), Spanyol harus puas berada di peringkat kedua dan menyaksikan Skotlandia lolos ke Piala Dunia 1958 di Swedia. Time is running out bagi Di Stéfano dikarenakan usianya yang sudah 32 tahun pada saat itu.

Empat tahun kemudian (1962), Spanyol sukses lolos ke Piala Dunia yang diselenggarakan di Chili dan Di Stéfano termasuk dalam skuad Spanyol saat itu. Namun naasnya, Di Stéfano mengalami cedera dan tidak mampu tampil walau hanya satu menit pun untuk Spanyol. Selesai. Di Stéfano telah melewatkan kariernya tanpa pernah tampil di Piala Dunia. Meski begitu, Di Stéfano tetap tercatat dalam lembaran legenda sepakbola. 485 gol dan lima gelar European Cup (saat ini Liga Champions Eropa) di sepanjang karier menjadi buktinya.

Bernd Schuster. (gambar: "Pinterest")
Bernd Schuster. (gambar: “Pinterest”)

Bernd Schuster (Jerman)
Bernd Schuster adalah salah satu attacking-midfielder terbaik yang pernah dimiliki oleh Jerman Barat. Pada usia 20 tahun, Schuster sukses mempersembahkan gelar Piala Eropa kedua bagi Jerman Barat pada tahun 1980 (satu assist di pertandingan final melawan Belgia; Jerman Barat menang dengan skor 2-1). Usai Piala Eropa 1980, Schuster pun diramalkan bakal menjadi pemain besar di kemudian hari oleh banyak pihak.

Namun ternyata penampilan cemerlang Schuster di Piala Eropa tidak membikin Karl-Heinz Heddergott — pelatih 1. FC Köln, klub yang dibelanya pada saat itu — terkesan. Dengan nada sinis, Heddergott menyebut bahwa dirinya “tidak akan bisa bekerja-sama dengan pemain amatiran seperti Schuster”. Mendengar komentar tersebut Schuster pun memutuskan untuk hengkang dari 1. FC Köln. Schuster sempat memiliki ide untuk bergabung dengan New York Cosmos di liga sepakbola Amerika Utara sebelum dia diperingatkan oleh Franz Beckenbauer bahwa talentanya terlalu berharga untuk bermain di Amerika. Schuster pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Barcelona.

Keputusan untuk pindah ke Barcelona pada tahun 1980 merupakan langkah yang tepat: Schuster menjelma menjadi roh permainan Barcelona. Setahun berikutnya, Schuster terlibat perselisihan dengan pelatih timnas Jerman Barat saat itu, Jupp Derwall. Hal ini dikarenakan Schuster menolak untuk menghadiri pesta pascapertandingan persahabatan melawan Brasil. Alasan Schuster untuk tidak menghadiri pesta tersebut sangat personal yaitu dia tidak menyukai penggagas pesta tersebut yang tidak lain adalah rekan satu timnya di timnas Jerman Barat, Hansi Müller. Derwall pun kecewa dan marah atas sikap Schuster dan berucap sumpah bahwa dia tidak akan pernah menyertakan nama Schuster dalam skuad timnas Jerman Barat pilihannya. Meski perselisihan dengan Derwall sempat mereda jelang Piala Dunia 1982 di Spanyol, Schuster tetap saja tidak bisa ikut-serta dalam skuad Jerman Barat karena cedera ligamen lutut dan tidak memungkinkan untuk pulih tepat waktu. Schuster pun ditinggalkan.

Empat tahun kemudian, Beckenbauer menjadi pelatih baru Jerman Barat dan mencoba membujuk Schuster untuk ambil bagian dalam skuad Piala Dunia 1986 di Meksiko. Namun Schuster menolak ajakan tersebut dikarenakan dia tidak ingin mengubah keputusannya gantung sepatu dari timnas Jerman Barat dengan alasan apa pun.

George Best. (gambar: "The Daily Mail")
George Best. (gambar: “The Daily Mail”)

George Best (Irlandia Utara)
George Best digambarkan oleh The Guardian sebagai “recreational football” dalam sepakbola internasional yang mengacu pada fakta bahwa sehebat apa pun dirinya di Manchester United, Best tidak mampu membawa Irlandia Utara merasakan atmosfer Piala Dunia. Salah satu momen terdekat Best dengan Piala Dunia terjadi pada tahun 1966. It’s a partial re-writing of history.

Tergabung bersama Albania, Belanda, dan Swiss di Grup 5 babak kualifikasi, Irlandia Utara membutuhkan kemenangan melawan Albania pada pertandingan terakhir untuk memaksakan laga play-off dengan Swiss. Albania merupakan tim terlemah di grup ini: selalu kalah, kebobolan 12 gol, dan hanya mampu mencetak satu gol. Di atas kertas, Irlandia Utara diprediksi mampu meraih hasil yang kurang-lebih sama — kemenangan telak 4-1 — seperti saat menjamu Albania di Belfast pada pertemuan pertama. Kemampuan olahbola menawan Best, ketangguhan Derek Dougan, dan tusukan brilian Jimmy McIlroy diyakini mampu dengan mudah membongkar pertahanan Albania.

Namun semesta lagilagi memiliki cara uniknya sendiri untuk menggagalkan ekspektasi manusia, kali ini publik Irlandia Utara. Mendominasi pertandingan, Irlandia hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Albania, sementara Swiss mampu mengalahkan Belanda pada saat yang hampir bersamaan. Swiss pun melaju ke putaran final Piala Dunia 1966 di Inggris, meninggalkan duka mendalam bagi Best dan publik Irlandia Utara.

Rasa optimisme kembali menaungi Irlandia Utara empat tahun kemudian dalam babak kualifikasi Grup 4 Piala Dunia 1970 setelah mampu menang back-to-back melawan Turki (4-1 di Belfast, dan 3-0 di Istanbul). Billy Bingham, pelatih Irlandia Utara pada saat itu, mulai mempersiapkan timnya dengan kepercayaan diri tinggi untuk menjadi tuan rumah bagi lawan lainnya di grup tersebut: Rusia. Namun penampilan Irlandia Utara di Windsor Park jauh dari apa yang diharapkan. Mereka kesulitan. Hal ini ditambah dengan gagalnya Best mengonversikan, mengutip The Guardian, “a-chance-which-normally-he-would-never-miss” menjadi sebuah gol. Best tampil seperti bukan dirinya sendiri, dan pertandingan pun berakhir imbang tanpa gol. Kondisi Irlandia Utara jelang pertemuan kedua melawan Rusia semakin diperburuk dengan cedera yang dialami oleh Best. Irlandia Utara kalah 0-2 di Moscow, dan IFA (Federasi Sepakbola Irlandia Utara) menyalahkan Manchester United karena memainkan Best jelang pertandingan penting melawan Rusia tersebut yang mengakibatkan Best cedera.

Meski tidak pernah tampil di Piala Dunia, Best tetaplah tercatat sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola.

George Weah. (gambar: "Pinterest")
George Weah. (gambar: “Pinterest”)

George Weah (Liberia)
Salah satu pemain terbaik Afrika sepanjang masa, George Weah — mirip dengan Best — tidak beruntung karena menjadi salah satu bagian dari negara yang, bukan hanya tidak memiliki tradisi sepakbola yang kuat, namun juga miskin dalam bidang apa pun bernama Liberia. Desain bendera Liberia merupakan versi eksentrik dari corak “Bintang dan Garis” bendera Amerika Serikat, perbedaannya adalah bahwa Liberia hanya menampilkan satu bintang — julukan Lone Star untuk timnas Liberia (yang akhirnya juga disematkan kepada Weah) pun merujuk pada corak bendera mereka tersebut. Hal ini bukanlah kebetulan semata: Liberia merupakan sebuah negara yang dimerdekakan oleh sekelompok budak asal Amerika.

Kesempatan terbaik Liberia untuk tampil dalam ajang kompetisi sepakbola tertinggi antarnegara terjadi pada gelaran Piala Dunia tahun 1990. Weah yang tergabung dalam skuad timnas Liberia sukses menyingkirkan Ghana pada putaran pertama kualifikasi zona Afrika. Liberia mampu menahan imbang tuan rumah Ghana 0-0 pada leg pertama yang dilangsungkan di Kota Accra. Dua minggu berikutnya, Liberia yang menjadi tuan rumah leg kedua sukses mengalahkan Ghana dengan skor 2-0 di mana Weah menjadi pencetak gol pembuka pada menit ke-27 sebelum digenapi oleh James Debbah pada menit 88. Pada putaran kedua dengan sistem grup, Liberia tergabung bersama Kenya, Malawi, dan Mesir di Grup B. Perjuangan Liberia (dan Weah) pun terhenti di fase ini setelah mereka hanya mampu finis di urutan kedua di bawah Mesir di mana negeri asal Cleopatra itu sukses mengalahkan Aljazair di babak play-off dan lolos ke putaran final Piala Dunia 1990 di Italia.

Pada Piala Dunia 2002 yang akan digelar di Korea Selatan dan Jepang, Liberia juga hampir lolos ke putaran final sebelum terhenti pada putaran kedua kualifikasi zona Afrika Grup B karena finis (lagilagi) di peringkat kedua di bawah Nigeria dengan selisih hanya satu poin. Nasib Weah di timnas Liberia berbanding terbalik dengan raihannya di klub dan secara individu. Weah meraih kesuksesan di tiga liga top Eropa (Ligue 1 Prancis, Premier League Inggris, dan Serie A Italia) yang membikinnya pernah terpilih sebagai peraih Ballon d’Or dan FIFA World Player of the Year pada tahun 1995.

Gunnar Nordahl. (gambar: "blogglistor.wordpress.com")
Gunnar Nordahl. (gambar: “blogglistor.wordpress.com”)

Gunnar Nordahl (Swedia)
He scored tap-ins and spectacular goals,” ujar Gunnar Gren ketika ditanya pendapatnya tentang Gunnar Nordahl, saya kutip dari situs FIFA. “He would sneak into positions that others would not know existed. He was one of the best players there has ever been, and in my opinion one of the best goalscorers.

Nordahl merupakan salah satu pemain bertalenta yang pernah dimiliki era keemasan timnas Swedia. Nordahl merupakan bagian dari timnas Swedia yang mampu meraih medali emas cabang sepakbola Olimpiade musim panas 1948 di London. Dua tahun kemudian, Swedia juga mampu lolos ke putaran final Piala Dunia di Brasil. Namun kesempatan Nordahl membela Swedia di Piala Dunia harus pupus dikarenakan perjanjian kontraknya dengan AC Milan pada tahun 1949 yang mengharuskan dia pensiun dini dari timnas Swedia. Hal tersebut juga berlaku bagi dua tandem Nordahl di timnas Swedia — Gren dan Nils Liedholm — yang juga bergabung dengan AC Milan. Trio Swedia yang terkenal dengan sebutan Gre-No-Li ini harus puas menjadi penonton saat Swedia tampil di Piala Dunia 1950 di Brasil.

Delapan tahun kemudian, Swedia terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia. Federasi Sepakbola Swedia ingin sebuah tim dengan bakatbakat terbaik yang berlaga dalam ajang tersebut. Gren (37 tahun) dan Liedholm (35 tahun) masuk dalam skuad timnas Swedia saat itu, namun tidak untuk Nordahl (36 tahun) yang telah memutuskan gantung sepatu pada tahun tersebut.

Nordahl bermain sebanyak 33 pertandingan dan mencetak 43 gol untuk timnas Swedia. Di level klub, Nordahl sukses bersama AC Milan dengan catatan dua kali gelar Scudetto Serie A Italia (1950/51 dan 1954/55), 210 gol/257 pertandingan, dan lima kali gelar Capocannoniere (1949/50, 1950/51, 1952/53, 1953/54, dan 1954/55).

László Kubala. (gambar: "Pinterest")
László Kubala. (gambar: “Pinterest”)

László Kubala (Republik Ceko, Hungaria, dan Spanyol)
Pesepakbola hebat berikutnya yang tidak pernah tampil di Piala Dunia adalah Kubala. Lahir di Budapest, Hungaria, Kubala pindah ke Republik Ceko untuk menghindari wajib militer di Hungaria dan bermain sebanyak enam kali untuk timnas Republik Ceko. Kubala kemudian kembali ke Hungaria — bergabung dengan klub Vasas SC — juga dengan alasan untuk menghindari wajib militer di Republik Ceko dan memiliki tiga caps untuk negara kelahirannya tersebut. Tidak sampai di situ, Kubala kembali pindah negara — kali ini ke Spanyol — untuk menghindari belenggu penindasan komunisme di Hungaria.

Kepindahan Kubala ke Spanyol ini sebenarnya lebih dikarenakan Federasi Sepakbola Hungaria menuduhnya mencuri uang dalam jumlah yang sangat besar dari klub yang dia bela saat itu di Budapest, Vasas SC. Pihak otoritas sepakbola Hungaria menyebut Kubala dengan “individu bejat dan tidak bermoral, yang memiliki kehidupan rusak”. FIFA, dengan “kebiasaan lama”-nya, membikin keputusan absurd dengan mengizinkan Kubala pindah ke Spanyol dan bernegosiasi dengan Real Madrid. Namun karena terlalu mabuk, Kubala salah menaiki kereta api yang ternyata melaju ke Barcelona; dia pun akhirnya memperkuat Barcelona dan berhasil mencetak 131 gol dari 186 pertandingan.

Kubala menjadi bagian skuad timnas Spanyol dalam babak penyisihan grup kualifikasi Piala Dunia 1954. Tergabung di Grup 6 yang hanya berisikan Turki, Spanyol — dan Kubala — harus mengakhiri impian tampil di Piala Dunia dengan cara yang paling tragis sekaligus lucu. Menang 4-1 pada pertemuan pertama di Madrid, Spanyol menelan kekalahan di Istanbul pada pertemuan kedua dengan skor tipis 0-1. Karena memiliki poin yang sama (dua poin — pada saat itu kemenangan masih bernilai dua poin) dan masih belum adanya peraturan agregat gol, Spanyol dan Turki harus menjalani pertandingan ulang di tempat netral: Roma, Italia. Kejadian aneh dan mengherankan terjadi pada sepuluh menit sebelum sepak-mula di Stadio Olimpico: delegasi FIFA mendatangi ruang ganti Spanyol dan melarang Kubala tampil pada pertandingan tersebut karena dia pernah memperkuat Republik Ceko dan Hungaria dalam pertandingan internasional. Setelah melewati adu argumen yang sangat panjang, Kubala akhirnya menerima keputusan FIFA tersebut. Pertandingan berakhir dengan skor imbang 2-2 hingga babak extra-time 2×15 menit, dan akhirnya diselesaikan dengan pengundian. Nama Turki muncul dalam kertas yang diambil dengan mata tertutup oleh Luigi Franco Gemma, bocah berusia 14 tahun yang ayahnya adalah salah seorang staf Stadio Olimpico.

Empat tahun kemudian (tahun 1958), seperti yang sudah saya tulis di atas, Spanyol kembali gagal lolos kualifikasi Piala Dunia. Ketika Spanyol akhirnya berhasil tampil pada Piala Dunia 1962 di Chili, Kubala telah pensiun dari dunia sepakbola. Hanya satu kata untuk menggambarkan kegagalan Kubala berlaga di Piala Dunia dalam sepanjang kariernya sebagai pemain sepakbola: aneh.

Pada tahun 1978 Kubala akhirnya mampu tampil dalam ajang Piala Dunia, namun kali ini bukan sebagai pemain melainkan pelatih timnas Spanyol meski timnya langsung terhenti pada putaran pertama. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s