Juan Román Riquelme: sang penyihir yang malas

NAMANYA Juan Román Riquelme, dengan tinggi sekitar 180 cm dan wajah yang selalu kelihatan murung, namun ketika kakinya menyentuh bola, sudah bisa dipastikan sebuah sihir bakal terjadi setelahnya. Riquelme tidak pernah mengecap pendidikan sihir di sekolah yang sama dengan Harry Potter; kemampuannya melakukan sihir di atas lapangan hijau adalah takdir, entah berasal dari mana dan dari siapa. Yang jelas, itu sudah menjadi bagian integral dalam diri Riquelme sejak kecil.

Riquelme juga merupakan pemalas: dia tidak pernah mau membantu timnya bertahan dan pergerakannya lambat seperti siput. Namun kemalasannya tersebut selalu diganti dengan visi yang luar biasa, umpan yang nyaris selalu presisi, dan tendangan terukur yang mampu membikin siapa saja yang menyaksikannya terkagum dan bersyukur.

Ketika semua orang yang ada di dunia ini terobsesi dengan kecepatan, saya yakin Riquelme malah memilih untuk bersepeda menikmati pemandangan alam di sekitarnya sembari bersiul, seperti bocah 12 tahun bernama Renato Amoroso dalam film Malèna (2000) yang selalu bersepeda setiap pagi agar bisa menikmati kecantikan dan kemontokan tubuh Nyonya Malena Scordia. (Riquelme dan Renato adalah pribadi yang mengerti bagaimana merayakan dan mengapresiasi keindahan.) Riquelme memang seperti itu adanya: seenaknya sendiri, malas, lambat; namun dia juga memesona — tidak kalah memesona ketimbang Maya Septha ketika tersenyum malu saat digoda.

Dengan gaya permainan yang seperti itu, jasa Riquelme kemungkinan besar tidak dibutuhkan oleh sebagian besar pelatih modern yang lebih mementingkan filosofi permainan cepat. Pelatih seperti Zdeněk Zeman, Arrigho Sacchi, dan Pep Guardiola bakal memilih sistem permainan yang sesuai dengan filosofi yang mereka anut. Mereka bakal memilih karakter pesepakbola yang sesuai dengan sistem tersebut, dan kemudian menggabungkannya menjadi kolektivitas yang mampu mewujudkan filosofi permainan mereka. Ultra-offensive yang cepat, Total Football, Tiki-taka, dan Catenaccio tidak akan pernah sempurna dengan adanya Riquelme di dalamnya. Riquelme adalah filosofi tersendiri.

Riquelme always needs to be one of the main players,” ujar Jorge Valdano saya kutip dari The Telegraph. “It’s impossible to have him in the team without giving him all the responsibility. You cannot play with Riquelme without playing for Riquelme.

Hari Minggu, 25 Januari 2015, setelah 18 tahun menjalani karier profesional di dunia sepakbola, Riquelme memutuskan untuk pensiun. “I have decided to no longer play football,” ujar Riquelme saya kutip dari The Guardian. “Now I am just a fan. I will go and suffer in the stadium. I am very pleased with the career I had. I enjoyed football to the maximum. I hope the people have enjoyed it alongside me. I tried to have a good time. I tried to give everything I could to fans of Boca, Argentina, Villarreal, and Barcelona, in the youth teams and the full team. I am someone who makes decisions calmly, who thinks a lot. It’s clear now that I’ll be on holiday, I’ll have fun, enjoy time with my children. From now on my football life ends and a new life starts. Let’s see what it holds.” Sebuah keputusan yang membikin sepakbola kembali kehilangan salah satu pemain terbaiknya, salah satu penyihir di atas lapangan hijau.

Tidak banyak prestasi mentereng yang berhasil diraih Riquelme di dunia sepakbola. Kariernya di Eropa selesai bersamaan dengan kegagalan Villarreal CF melaju ke final Liga Champions Eropa 2005/06 (kalah 0-1 dari Arsenal di babak semi-final leg pertama di mana Riquelme gagal mencetak gol dari penalti di Highbury, dan imbang 0-0 di leg kedua). Setelah itu, Riquelme lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun di bench cadangan Villarreal CF — atau di tribun stadion — bukan karena cedera, melainkan karena dia sudah dianggap habis dan layak untuk disingkirkan.

Bersama timnas Argentina, Riquelme hanya merasakan satu kali gelaran Piala Dunia yaitu pada tahun 2006 di mana dia mampu mengantarkan Argentina hingga babak perempat-final sebelum kalah dari tuan rumah Jerman. Banyak pandit sepakbola yang mengatakan bahwa performa Argentina di Piala Dunia 2006 merupakan penampilan terbaik sepanjang keikut-sertaan mereka di pentas Piala Dunia, mengalahkan performa Argentina yang mampu meraih gelar juara pada tahun 1978 dan 1986. Riquelme diyakini menjadi faktor utama Argentina mampu tampil elegan, tidak membosankan, indah, dan romantis layaknya lantunan sebuah syair puisi.

Keindahan permainan Riquelme di atas lapangan hijau menutupi raihan prestasi serta kejadulannya dalam sudut pandang filosofi sepakbola modern. Riquelme merupakan salah satu alasan mengapa banyak orang sangat menyukai sepakbola. “Dear World, it is with great sadness that I declare football over,” tulis editor SB Nation, Ryan Rosenblatt, dalam artikelnya yang begitu romantis tentang pemain idolanya tersebut. “It is a wonderful sport and has brought us all so much joy, entertainment and amazement for more than a century, but it is dead. Juan Roman Riquelme has retired. The man defined the sport. He owned the sport. And now he is gone, so with him must go the game he mastered. Without Riquelme there is no football.”  Iya, Riquelme memang salah satu romantisme lapangan hijau.

Riquelme, dan “Le droit à la paresse
Frasa di atas — yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Hak untuk malas” — merupakan judul dari buku karangan Paul Lafargue, seorang anarkis revolusioner asal Prancis yang juga menantu dari Karl Marx. Lafargue menganjurkan ide “Hak untuk malas” sebagai serangan terhadap dogma kerja yang semakin mengalienasi manusia dari kehidupan.

Ide Lafargue tentang dunia kerja sebenarnya hampir sama dengan idenya Marx. Perbedaan yang cukup mendasar adalah Lafargue memiliki jawaban sendiri dengan mengambil posisi yang berbeda dari mertuanya tersebut. Jika Marx menyarankan kaum proletar untuk merebut alat produksi agar kapitalisme kolaps, di sisi lain, Lafargue lebih menekankan pentingnya kemalasan agar manusia tidak semakin teralienasi dengan hidup mereka sendiri. Menurut Lafargue, kerja itu sejatinya adalah “sekadar bumbu bagi senangnya kebersantaian, olahraga yang bermanfaat bagi organisme manusia, hasrat yang berguna bagi organisme sosial”.

Jika Lafargue menjadi pelatih sepakbola, maka sudah bisa dipastikan bahwa Riquelme bakal menjadi metronom favoritnya di lini tengah sekaligus kapten yang akan memimpin rekan-rekannya di atas lapangan hijau. Riquelme dan Lafargue memiliki koneksi semacam simbiosis mutualisme yang tidak sempat terjalin, dan jika keduanya bekerja-sama maka karya seni monumental yang indah nan elegan bakal tercipta.

Karena belum ada satu pun yang mampu menerjemahkan ide Lafargue di masyarakat (kalau idenya Marx kan sudah ada satu yang mencoba menerjemahkannya, meski salah kaprah: Vladimir Lenin) maka yang paling tepat untuk menerjemahkannya di sepakbola (dan, mungkin, masyarakat pada umumnya) adalah Riquelme dan Antonio Cassano. Eh tapi, Cassano lebih condong ke nihilis sih. Mariana Renata, Ladya Cheryl, Eva Celia, Chelsea Islan, dan Alessandro Del Piero? Mereka berlima jelas-jelas bukanlah role model untuk menafsirkan “hak untuk malas”-nya Lafargue yeuh.

Kurang-lebihnya seperti itu, menurut saya.

Tabik. []

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , , ,

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s