Dario Hübner: pak tua yang pernah menjadi Capocannoniere Serie A Italia

I am not complaining: as a young man I was a blacksmith and worked with aluminum, who would have guessed I could get to do a career like that? I’m very happy with that.
— Dario Hübner

BUNDESLIGA Jerman: Marcio Amoruso (27 tahun, Borussia Dortmund) 18 gol. Premier League Inggris: Thierry Henry (24 tahun, Arsenal) 24 gol. La Liga Spanyol: Raúl González (24 tahun, Real Madrid) 24 gol. Tiga nama itu adalah pencetak gol terbanyak dari tiga liga top Eropa pada musim 2001/02. Mereka, pada waktu itu, berada dalam performa terbaik dan bermain untuk tim terbaik di liga masing-masing. Tidak ada yang meragukan kemampuan mereka dalam mencetak gol, dan bukan hal yang mengejutkan jika pada akhir musim mereka berada di puncak daftar pencetak gol terbanyak di liga.

Namun coba lihat daftar pencetak gol terbanyak di Serie A Italia (Capocannoniere) pada musim yang sama. Serie A Italia diyakini masih menjadi salah satu liga sepakbola terbaik di Eropa pada saat itu dan meski banyak yang mengatakan bahwa permainan sepakbola di Italia sangat membosankan, namun kenyataannya, apa yang terjadi di atas lapangan Italia sangat sulit untuk diprediksi. Dan di puncak daftar pencetak gol terbanyak Serie A Italia 2001/02 ada nama Dario Hübner yang berusia 35 tahun dan bermain untuk klub semenjana (Piacenza Calcio 1919) dengan 24 gol.

Yups. Hübner yang pada waktu itu berusia 35 tahun mampu mencetak 24 gol dalam satu musim untuk Piacenza Calcio 1919, sebuah tim yang menyelesaikan musim 2001/02 di peringkat 12 — berjarak tiga poin dari posisi 15 atau batas akhir dari zona degradasi yang dihuni oleh Hellas Verona. Hübner berbagi gelar Capocannoniere dengan striker Juventus, David Trezeguet, yang juga mencetak 24 gol. Akan tetapi, Trezeguet saat itu bermain dengan pesepakbola hebat di lini depan Juve macam Alessandro Del Piero dan Marcelo Salas serta didukung oleh sang jenius asal Republik Ceko, Pavel Nedvěd.

Tidak hanya pesepakbola yang sepuluh tahun lebih tua ketimbang Henry, Raúl, dan Trezeguet, namun para defender klub-klub Serie A Italia pada saat itu juga berhadapan dengan tipe predator yang berbeda. Hübner tidak memiliki kecepatan atau skill seperti rekan-rekannya yang lebih muda, namun dia adalah seorang pejuang dan masih memiliki teknik finishing yang bagus. Bisa dikatakan bahwa Hübner saat itu sukses membully defender-defender terbaik Serie A Italia.

Il Bisone atau The Bison adalah julukan yang diberikan untuk Hübner karena gaya mainnya yang pantang menyerah. Meski begitu, Hübner tidak memiliki bentuk fisik layaknya atlet olahraga; bahkan dia pernah terlihat merokok saat duduk di bench cadangan ketika masih bermain untuk Brescia Calcio. Hari ini, perilaku seperti itu bakal menjadi skandal besar, namun hei, saat ini saya sedang membicarakan Dario Hübner, seorang pria dengan karakter santai penuh kontroversi yang tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun ketika Hübner memasuki lapangan hijau, setiap defender bakal langsung menyadari bahwa mereka sedang berurusan dengan banteng dan ini akan menjadi pertandingan yang sulit.

Insting gol Hübner hampir tidak bisa diperdebatkan. Hübner membuktikan bahwa dirinya mampu mencetak gol di setiap level sepakbola Italia. Bersama dengan Igor Protti, Hübner adalah satu-satunya pesepakbola yang pernah menjadi top skor di tiga divisi sepakbola Italia (Serie A, B, dan C).

Hübner adalah bintang yang terlambat bersinar. Pada tahun 1997, saat menginjak usia 30 tahun, Hübner baru menjalani debut di Serie A Italia mengenakan jersey Brescia Calcio. Upaya Hübner tidak mampu menyelamatkan Brescia Calcio dari jurang degradasi pada musim itu, namun secara perlahan dan pasti, dia menjadi bagian integral dalam kebangkitan Brescia Calcio dengan mencetak 21 gol selama musim 1999/2000, dan membawa Brescia Calcio meraih promosi ke Serie A Italia. Berduet dengan Roberto Baggio di lini depan Brescia Calcio, dua veteran ini — yang sama-sama berusia 33 tahun — meneror lini pertahanan tim-tim Serie A Italia 2000/01. Duet Baggio-Hübner mencetak 27 gol dan membantu Brescia Calcio finis di peringkat delapan.

Musim berikutnya merupakan momen di mana Hübner menjalani perjalanan terbaik dalam karier sepakbolanya. Pada usia 34 tahun, Hübner dianggap sebagai surplus yang tidak berguna bagi Brescia Calcio yang baru saja mendatangkan striker asal Albania, Igli Tare. Hübner pun dipaksa untuk mengalah dan hengkang ke klub promosi, Piacenza Calcio 1919, dengan banderol £1,5 juta. Tidak hanya mencetak 24 gol, Hübner pada musim 2001/02 berhasil membikin nama-nama seperti Andriy Shevchenko (AC Milan), Christian Vieri (Inter Milan), Hernan Crespo (Lazio, yang didatangkan dengan harga £35,5 juta), dan Vincenzo Montella (AS Roma) terdengar seperti nama-nama pesakitan. Kemampuan dan kekuatannya berduel di udara menjadikan Hübner sebagai mimpi buruk bagi lini pertahanan lawan-lawannya, dan karakter permainannya lebih mirip dengan para penyerang dari Inggris kuno ketimbang ujung tombak asli Italia.


Pada tahun 2005, Hübner memutuskan untuk gantung sepatu ketika dia menjadi pemain klub Mantova FC. Meski diakui sebagai salah satu striker mematikan di Italia era Millenium, Hübner tidak pernah bermain membela timnas Italia dan juga tidak pernah tergabung di salah satu klub besar Italia. Hal ini tidak mengusiknya, Hübner merupakan pria rendah hati nan kontroversial yang sangat mencintai permainan sepakbola. Bagi orang-orang seperti Hübner, berlari mengejar bola dan mencetak gol merupakan kebahagiaan sejati di atas lapangan hijau — uang, klub besar, dan timnas tidak berarti apa-apa baginya. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s