Ivan Ergić: si “merah” di antara hijaunya lapangan sepakbola

Football players earn too much money.
— Ivan Ergić

SEKILAS perawakannya lebih mirip intelektual revolusioner ketimbang seorang pesepakbola: dia adalah marxis yang gemar membaca tulisan para pemikir The Frankfurt School dan juga menjadi kolumnis di salah satu surat kabar komunis Serbia, Politika. Namanya adalah Ivan Ergić yang lahir pada 21 Januari 1984 di Kota Šibenik, Yugoslavia (saat ini menjadi bagian Kroasia). Karena situasi politik yang terjadi pada saat itu di Yugoslavia, keluarga Ergić memutuskan untuk pindah ke Australia. Di Australia inilah bakat sepakbola Ergić muda semakin terasah — dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintahan Australia untuk berlatih di sebuah lembaga yang berada di bawah Federasi Sepakbola Australia yang dikenal dengan nama FFA Centre of Excellence.

Pada tahun 1999, ketika berusia 18 tahun, Ergić sudah menjadi bagian dalam skuad inti Perth Glory FC dan mampu menyumbangkan 10 gol dari 23 pertandingan yang dilakoninya. Setahun kemudian, Ergić resmi bergabung dengan raksasa Italia, Juventus. Namun karena usianya yang masih muda dan kalah bersaing dengan midfielder kelas dunia milik Juve macam Zinedine Zidane, Alessio Tacchinardi, Edgar Davids, dan Antonio Conte, Ergić pun akhirnya dipinjamkan ke FC Basel di Swiss. Musim berikutnya, Juve resmi menjual Ergić ke FC Basel dengan nilai transfer sekitar CHF1,6 juta.

Ergić memperkuat FC Basel selama delapan tahun (2001-2009) dan pada tahun 2006 dia menjadi kapten tim setelah kapten sebelumnya memutuskan pindah ke klub lain, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerahkan jabatan kapten kepada Franco Costanzo pada tahun 2008. Selama mengenakan jersey FC Basel, Ergić sukses mencetak 31 gol dari 202 pertandingan. Kenangan yang paling istimewa mungkin terjadi pada pertandingan ke-150nya di mana Ergić berhasil mengantarkan FC Basel menjadi jawara Super League Swiss setelah mengalahkan BSC Young Boys dengan skor 2-0 pada 10 Mei 2008.

Pada 16 Juni 2009, Thorsten Fink yang baru menjabat sebagai pelatih FC Basel memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Ergić. Ergić akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Bursaspor di Turki dan pada musim pertamanya sukses membawa klubnya tersebut meraih gelar juara Süper Lig Turki. Di Turki pula akhirnya Ergić mengalami kematangan ideologi. Ketika diwawancarai oleh surat kabar Radikal di Istanbul, Ergić menjelaskan tentang ketertarikannya kepada teori Karl Marx dan komunisme, serta menganggap bahwa kapitalisme telah merusak sepakbola. Selain itu, Ergić juga terinspirasi para pemikir di The Frankfurt School seperti Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno serta mendalami eksistensialisme Jean-Paul Sartre.

Salah satu inspirasi saya adalah Karl Marx,” ucap Ergić dalam wawancara dengan Radikal, saya kutip dari situs Pandit Football. “Saya tumbuh di Yugoslavia ketika ayah saya masih menjadi anggota partai komunis ortodoks. Beliau mengajari saya cara menjadi manusia seutuhnya. (Sementara) Marx telah menguraikan kontradiksi dalam kapitalisme 150 tahun lalu sebelumnya. Uang merusak sepakbola. Saya tidak ingin menjadi pesepakbola konvensional. Saya butuh inspirasi yang melampaui sepakbola.

Ergić menjadi kolumnis tetap harian politik sayap-kiri, Politika, di Serbia mulai bulan Desember 2008. Dalam tulisan-tulisannya, Ergić kerap membahas sejumlah topik perihal konstruksi media terhadap gaya hidup para atlet profesional, kompetisi yang tidak sehat dalam sepakbola, keterlibatan korporasi dalam institusi olahraga, budaya patriarkis dalam masyarakat modern, dll. Dalam sebuah artikel berjudul Football as a Male Thing pada 1 Desember 2008 yang dipublikasikan oleh situs Politika, Ergić mengkritik dominasi lelaki dalam sepakbola yang menurutnya sangat menjengkelkan.

Ketika mengetahui kabar Juventus terseret skandal Calciopoli pada tahun 2006, Ergić sempat mengalami depresi dan harus dirawat di klinik psikiatri di Kota Basel, Swiss, selama empat bulan — dia berpendapat bahwa hukuman yang diterima Juve merupakan konsekuensi yang paling buruk dari sistem kapitalisme sepakbola. Setelah sembuh dari depresi, Ergić diundang menjadi bintang tamu di Ključ — sebuah acara talkshow yang disiarkan oleh Radio Television of Serbia (RTS) — untuk menceritakan proses perjuangannya melawan depresi dan metode pengobatan yang dia jalani hingga akhirnya sembuh.

Ergić, si “merah” di antara kemonotonan hijaunya lapangan sepakbola itu, memutuskan pensiun dari sepakbola pada tahun 2011 dan saat ini aktif sebagai penyair, filsuf, serta kolumnis di beberapa surat kabar berhaluan politik sayap-kiri. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s