Buon compleanno, “Superman”!

Kiper terbaik yang pernah saya hadapi adalah Buffon. Ketika saya masih bermain di Juventus, sudah sangat sulit untuk membebaskan diri dari kawalan Thuram dan Cannavaro selama latihan tim. Jika saya berhasil melewati mereka berdua, saya bakal berhadapan dengan Buffon, dan adalah sesuatu yang nyaris mustahil untuk bisa mengalahkannya!
— Zlatan Ibrahimović

TEPAT hari ini, 28 Januari, 39 tahun yang lalu, Gianluigi Buffon lahir di Kota Carrara, Provinsi Tuscany, Italia. Buffon tumbuh menjadi bocah bertubuh kurus tinggi, dan pada usia 13 tahun, Buffon masuk dalam akademi sepakbola milik klub Parma Calcio 1913. Pada saat itu, Buffon memilih bermain sebagai playmaker, namun kemampuannya tidak berkembang. “Saya menikmatinya (bermain sebagai playmaker). Saya mencetak banyak gol, dan itu adalah hal yang paling menyenangkan di dunia bagi anak kecil,” ujar Buffon kepada The Telegraph. “Lalu kemudian saya beranjak dewasa, menjadi bodoh, dan memilih bermain sebagai kiper di bawah mistar.

Ketika dua bocah yang seharusnya menjadi kiper mengalami cedera, sang pelatih akademi — entah menerima wangsit dari siapa — menunjuk Buffon untuk menjadi kiper mengawal gawang mereka. Mungkin sang pelatih beranggapan bahwa postur tubuh Buffon sangat cocok untuk menjadi kiper, setidaknya dalam keadaan mendesak. Mungkin saja seperti itu. Mungkin saja…

Di luar ekspektasi, Buffon mampu menampilkan performa bagus dan konsisten ketika diplot sebagai kiper, dan ketika dia semakin menikmati perannya menjaga gawang, sang pelatih mempromosikannya ke skuad senior Parma Calcio 1913. Kegemilangan Buffon di bawah mistar gawang terus berlanjut. Saat berusia 17 tahun, tepatnya pada tanggal 19 November 1995, Buffon melakoni debutnya di Serie A Italia dan tim yang dihadapinya pada saat itu adalah AC Milan. Marco Simone, Paolo Di Canio, Zvonimir Boban, serta dua pemain peraih Ballon d’Or — George Weah dan Roberto Baggio — tidak mampu menaklukkan bocah ingusan bernama Gianluigi Buffon yang suka sekali mengenakan kaus-dalam berlogo Superman; pertandingan pun berakhir imbang dengan skor 0-0. Ketangkasan Buffon mengawal gawang memaksa kiper utama Parma Calcio 1913 saat itu, Luca Bucci, angkat koper dan pindah ke klub lain karena kalah bersaing.

Musim berganti, waktu terus berjalan. Pada tahun 2001, Buffon terbang ke Turin untuk bergabung bersama Juventus dengan banderol transfer £32,6 juta, menjadikannya sebagai kiper termahal pada saat itu. Kehadiran Buffon lagi-lagi memaksa seorang kiper lainnya untuk berkemas dan harus mencari klub baru demi karier sepakbola profesionalnya. Dia adalah Edwin van der Sar yang selama dua musim menjadi kiper nomor satu Juventus, dan harus rela pergi ke London, Inggris, agar bisa bermain reguler di bawah mistar gawang.

Lima tahun kemudian, Buffon mengalami sukacita dan duka yang menyesakkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Buffon mengawal gawang timnas Italia di Piala Dunia 2006 Jerman dan hanya kebobolan dua gol — dua-duanya bukan dari situasi open-play. Puncak kegemilangan Buffon dalam turnamen empat tahunan itu terjadi pada tanggal 9 Juli 2006. Dalam pertandingan final melawan Prancis yang digelar di Olympiastadion, Buffon mengantarkan Italia meraih trofi emas Piala Dunia.

Namun kehidupan, seperti yang kamu ketahui, tidak melulu berisikan momen manis seperti wajah Chelsea Islan. Pulang ke Italia sebagai juara dunia, Buffon dihadapkan pada situasi buruk: Juventus harus terdegradasi ke Serie B Italia karena terlibat skandal Calciopoli. Ada yang harus diputuskan, ada pilihan yang harus segera diambil, karena kehidupan tidak bakal pernah mau menunggu — hidup harus terus berjalan bersama dengan jutaan konsekuensi dan kejutan di dalamnya. Bukan hal yang mudah untuk menentukan pilihan untuk tetap bermain bersama Juventus di Serie B Italia ketika sedang berada di puncak karier, ditambah lagi godaan dari pihak luar — Real Madrid dan Barcelona, untuk menyebut beberapa — yang terus-menerus mengusik hati dan pikiran Buffon. Namun toh Buffon akhirnya — bersama dengan David Trezeguet, Pavel Nedvěd, Alessandro Del Piero, dan Mauro Camoranesi — memantapkan hati untuk terus setia bersama Si Nyonya Tua dalam situasi dan kondisi yang paling buruk sekali pun! Sebuah kisah romansa tentang loyalitas dan cinta sejati yang layak mendapatkan tempat di hati saya yang berbentuk persegi.

… bermain di Serie B bukanlah pilihan yang logis,” ujar Buffon ketika diwawancarai oleh FourFourTwo. “Itu adalah salah satu keputusan yang dibuat oleh hati. Pemain lain dalam skuad saat itu membikin pilihan yang berbeda. Itu terserah mereka. Setiap keputusan yang diambil dalam hidup adalah sesuatu yang sulit: hal itu tidak bakal membikin hidup menjadi lebih gampang untuk dijalani, namun — yang pasti — hal itu adalah suatu proses kemenjadian yang membentuk pribadi masing-masing. (Bermain di) Serie B adalah salah satu pengalaman hidup, namun perasaan saya masih campur-aduk tentang hal itu. Berkata bahwa saya menikmati momen itu (bermain di Serie B) bukanlah hal yang tepat, namun ya, musim itu adalah sebuah pengalaman tersendiri.

Angka 39 bisa dibilang adalah usia yang sudah terlalu tua bagi pesepakbola profesional, bahkan untuk takaran seorang kiper sekali pun. Tahun 2017 merupakan tahun ke-21 bagi Buffon menjalani karier di Serie A Italia. Ini artinya: sudah 16 tahun Buffon melewati suka-duka dalam menjaga gawang Juventus dari ancaman para predator buas di luar sana. Buffon masih memiliki rencana dan harapan untuk terus bermain bersama Juventus, setidaknya sampai tahun 2018. “Saya akan terus berusaha agar bisa tampil di Piala Dunia 2018,” jawab Buffon ketika diwawancarai oleh Football Italia akhir tahun kemarin. “Setelah itu, saya mungkin bakal menutup semua pintu kesempatan dan berhenti bermain sepakbola.

Uang yang dikeluarkan Juventus pada tahun 2001 silam jelas tidak sia-sia jika melihat ketangkasan Buffon di bawah mistar gawang dan kesetiaannya kepada klub sampai saat ini. Buffon adalah kiper terhebat sepanjang masa yang pernah saya saksikan. Tumbuh dengan menonton Buffon beraksi di atas lapangan hijau setiap akhir pekan adalah salah satu kegembiraan dalam hidup saya yang sekarang ini semakin banal. Dan jika Buffon memang benar-benar pensiun pada tahun 2018 besok, romansa sepakbola — bagi saya — bisa dipastikan telah sepenuhnya berakhir. Setelah itu, saya mungkin bakal menikmati sepakbola dengan hasrat dan cara yang biasa-biasa saja.

Untuk jutaan detik yang telah berlalu dan jutaan detik lainnya setelah ini, saya ingin mengucapkan terimakasih. Dan buon compleanno, Gianluigi “Superman” Buffon! []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s