Indonesia dan Piala Dunia 1938

PADA tahun 1928, Jules Rimet selaku Presiden FIFA pada saat itu memiliki sebuah ide brilian. Terinspirasi dari kesuksesan cabang sepakbola di pentas Olimpiade, Rimet mencetuskan sebuah ide untuk menggelar turnamen akbar yang mempertemukan timtim sepakbola dari berbagai negara di dunia. Dua tahun berselang, ide tersebut terealisasi dan Uruguay mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pertama sebuah turnamen akbar yang saat ini dikenal dengan sebutan World Cup atau Piala Dunia.

Tidak semua negara mengirimkan perwakilannya pada turnamen Piala Dunia pertama tersebut. Kondisi politik dan sosial yang belum stabil menjadi penyebabnya. Selain itu, pergi ke Uruguay melintasi lautan luas bukanlah persoalan yang gampang pada saat itu. Hanya 13 negara yang akhirnya ikut berpartisipasi dalam Piala Dunia 1930 di Uruguay.

Seiring dengan perjalanan sang waktu dan perkembangan zaman, kompetisi Piala Dunia juga mengalami perkembangan. Berbagai perubahan terus diupayakan untuk membikin Piala Dunia menjadi sebuah kompetisi sepakbola yang harmonis sekaligus bergengsi. Dulu, sebuah negara bisa dengan entengnya menarik tim dari ajang Piala Dunia yang disebabkan oleh masalah non-teknis — seperti masalah politik dan sosial — namun kini hampir seluruh negara yang ada di Bumi ini ingin ambil bagian.

Pada tahun 1938, Benua Asia tidak mau ketinggalan dalam ingar-bingar sepakbola. Ada dua kekuatan besar yang sedang mencoba menjadi yang terbaik, mereka adalah Belanda — yang pada saat itu tengah menjajah Indonesia dan menyebutnya dengan nama Hindia Belanda — dan Jepang. Keduanya berusaha untuk mengikuti Piala Dunia edisi ketiga pada tahun 1938 yang diselenggarakan di Prancis. Namun pada babak kualifikasi, Jepang yang saat itu sedang terlibat konflik dengan Cina memutuskan untuk menarik timnas sepakbola mereka. Hal ini memberikan jalan bagi Hindia Belanda untuk mengikuti Piala Dunia. Sayangnya, hal ini tidak serta-merta memudahkan langkah Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 karena pada saat itu ada tiga organisasi sepakbola di Hindia Belanda: Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) milik orang-orang Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) milik orang-orang Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang-orang pribumi.

Ada semacam sistem kasta di Hindia Belanda saat itu: orang-orang Belanda berada di kasta tertinggi, diikuti oleh bangsa pendatang — orang-orang keturunan Tionghoa, Arab, dll. — dan warga asli atau pribumi berada di kasta terendah. Oleh karena itu, NIVU merasa menjadi pihak yang paling pantas untuk mengikuti kejuaraan Piala Dunia di Prancis. Pada saat itu, NIVU juga merupakan organisasi sepakbola yang diakui oleh FIFA dan Pemerintahan Hindia Belanda yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Namun PSSI melawan, karena pada tahun 1937 telah terjadi sebuah kesepakatan atau Gentlement Agreement yang berisi:
(1) Menegaskan bahwa di Hindia Belanda hanya ada dua perkumpulan organisasi sepakbola tertinggi yang diakui oleh negara yaitu NIVU dan PSSI, di luar itu adalah organisasi sepakbola ilegal.
(2) NIVU dan PSSI wajib untuk menghargai dan mengakui satu sama lain sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran pendiriannya masingmasing.
(3) Hubungan teknis antara dua organisasi yang terdiri dari enam subpoin, yakni:
— PSSI dan NIVU sepakat untuk mengizinkan anggotanya bertanding melawan satu sama lain;
— untuk mengatur pertandingan anggota PSSI vs. anggota NIVU, klub diberi kewenangan penuh untuk mengatur segala sesuatunya, baik itu soal lapangan, karcis, maupun akomodasi tim lawan, namun kedua tim yang bertanding wajib melapor terlebih dahulu ke dua pucuk pimpinan organisasi;
— kedua belah pihak bersepakat untuk melarang pemainpemain yang terkena skorsing bermain di kompetisi sepakbola;
— kedua belah pihak setuju untuk tidak saling berebutan dan memengaruhi klubklub agar masuk ke organisasinya;
— jika ada tim yang akan bertanding dengan tim dari luar negeri, maka pihak lain juga diperbolehkan ikut ambil bagian;
— penutup perjanjian: “Perdjanjian ini dibikin, dengan maksoed agar kemaoean sutji bekerdja bersama-sama kelak dapat ditetapkan.

Awalnya NIVU memberikan opsi yang sejalan dengan Gentlement Agreement yaitu membentuk timnas yang bakal mengikuti Piala Dunia 1938 melalui pemilihan pemain dalam turnamen segitiga yang mempertemukan dua tim bentukan NIVU dan satu tim bentukan PSSI. Namun NIVU perlahan mulai merasa bahwa PSSI merupakan ancaman bagi eksistensi dan reputasi mereka di mata dunia global. NIVU pun kembali menawarkan opsi lain, yakni NIVU berhak memilih sendiri pemain PSSI untuk timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938. Dan pada akhirnya, tidak ada satu pun pemain dari PSSI yang diikut-sertakan dalam timnas bentukan NIVU untuk berlaga di Piala Dunia 1938.

Piala Dunia 1938 yang diikuti oleh 16 tim dengan sistem gugur mempertemukan Hindia Belanda dan Hungaria di babak putaran pertama. Mengenakan jersey berwarna oranye, Hindia Belanda tidak kuasa menahan gempuran timnas Hungaria. Enam gol dari Géza Toldi (2 gol), György Sárosi (2 gol), dan Vilmos Kohut (2 gol) bersarang ke gawang Hindia Belanda yang saat itu dikawal oleh Mo Heng Tan. Hindia Belanda pun mengemasi kopernya dan angkat kaki dari Uruguay.

Sejak tanggal 5 Juni 1938 hingga kini, Indonesia tidak pernah berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Jangankan harapan untuk kembali mewakili Benua Asia di pentas Piala Dunia, menjuarai turnamen tingkat ASEAN saja Indonesia masih belum mampu. Namun sejatinya Indonesia memiliki peluang emas untuk benarbenar berlaga di Piala Dunia atas nama sendiri, bukannya Hindia Belanda, pada tahun 1950. Namun kondisi sosial-politik dalam negeri yang tengah terjadi pada saat itu membikin Indonesia memilih untuk mundur dari babak kualifikasi yang diadakan pada tahun 1949.

Banyak dari penggemar dan pengamat sepakbola Indonesia yang membanggakan diri dan menyebut bahwa Indonesia merupakan negara pertama dari Asia yang berlaga di pentas Piala Dunia, namun sejatinya status tersebut hanyalah sebuah “hadiah” dari FIFA yang menganggap Indonesia sebagai penerus tahta Hindia Belanda. Publik pecinta sepakbola Indonesia terlalu larut dalam romantisme usang. Indonesia memang tertulis dalam lembaran sejarah Piala Dunia, namun di baris paling bawah yang nyaris tidak terlihat, dan itu pun bukan dengan nama Indonesia melainkan Dutch East Indies atau Hindia Belanda. Indonesia hanyalah pasar yang paling potensial untuk menghasilkan uang bagi para penguasa dan kaum pemodal di luar sana.

Itu sudah. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s