IFK Göteborg

KLUB sepakbola terakhir milik kelas pekerja atau proletar bukan berasal dari negara-negara kiri dengan paham komunismenya, melainkan dari dataran Scandinavia — tepatnya di Swedia. Kisah klub ini bukan hanya sekadar berkibarnya bendera palu-arit di tribun stadion, tidak melulu soal spanduk dengan tampang Karl Marx yang menjadi semacam koreografi wajib bagi fans di stadion, namun kisah klub ini merupakan salah satu contoh bahwa simbiosis mutualisme di antara para pekerja bukan hanya sebuah dongeng utopis.

Nama klub ini adalah IFK Göteborg, dibentuk pada tanggal 4 Oktober 1904 oleh beberapa orang yang sedang menikmati malam sembari menyesap kopi di sebuah kedai bernama Café Olivedal di Kota Gothenburg, Swedia. Beberapa minggu kemudian, IFK Göteborg memainkan pertandingan sepakbola pertamanya melawan klub lokal lainnya, IK Viking, dan berhasil menyudahinya dengan kemenangan telak 4-1. Pada tahun 1907, IFK Göteborg menjadi klub pertama dalam kurun waktu empat tahun (1903-07) yang berhasil mengalahkan klub raksasa Swedia saat itu, Örgryte IS. Pada tahun 1908, IFK Göteborg berhasil meraih trofi pertama mereka di kancah persepakbolaan Swedia ketika berhasil menjuarai Svenska Mästerskapet. Tiga pemain IFK Göteborg saat itu terpilih untuk bermain membela timnas Swedia, dan juga, pada tahun yang sama, IFK Göteborg untuk pertama kalinya bertanding melawan klub sepakbola di luar Swedia (Østerbro BK dan Boldklubben af 1893, keduanya berasal dari Denmark).

Sejak saat itu, dengan perlahan namun pasti, IFK Göteborg berhasil merajut kisah kesuksesan dan dianggap sebagai salah satu klub kuat di Swedia dan Eropa. Kesuksesan IFK Göteborg semakin manis ketika pada tahun 1979 merekrut pelatih muda dari entah-berantah bernama Sven-Göran Eriksson. Bermodal pencapaian yang biasa-biasa saja bersama klub lamanya, Degerfors IF, dan gairah a la anak muda seusianya, Eriksson datang membawa cetak-biru taktikal 4-4-2 dengan pendekatan pragmatis serta lebih mengandalkan kekuatan fisik dan kedisiplinan untuk memainkan zonal marking dan heavy pressing. Singkat kata, Eriksson lebih mementingkan hasil pertandingan ketimbang keindahan permainan timnya. Pada saat itu, Eriksson melarang keras para pemain IFK Göteborg melakukan improvisasi di atas lapangan hijau.

Pada musim pertama kepelatihannya, Eriksson sukses mengantarkan IFK Göteborg menjadi jawara Svenska Cupen (mengalahkan Åtvidabergs FF 6-1 di pertandingan final) dan mengakhiri Allsvenskan Swedia di peringkat kedua di bawah Halmstads BK. Pada tahun 1982, IFK Göteborg berhasil meraih Piala UEFA pertamanya dengan mengalahkan Hamburg SV (1-0 leg pertama di Gamla Ullevi, Gothenburg, dan 3-0 leg kedua di Volksparkstadion, Hamburg) di pertandingan final.

Di Swedia saat itu tidak banyak orang yang menekuni sepakbola sebagai karier utama untuk bertahan hidup — nyaris setiap pemain menjadikan sepakbola sebagai pekerjaan sampingan. Sebagian besar dari mereka — para pesepakbola di Swedia pada saat itu — merupakan tukang potong daging sapi, pekerja kasar, montir, koki, atau guru sekolah. Eriksson pun menyadari hal ini, dan ketika memegang kendali kepelatihan IFK Göteborg, dia menerapkan taktik dan cara melatih yang lebih mengutamakan kekuatan fisik serta, seperti yang disebutkan oleh beberapa pandit sepakbola, memadukan antara sifat khas bangsa Scandinavia yang tenang, tekun, dan egaliter dengan kick ‘n rush a la sepakbola Inggris. Kecakapan Eriksson dalam memoles IFK Göteborg membikin klub-klub besar Eropa tertarik untuk memakai jasanya. Setelah mempersembahkan gelar Piala UEFA pada tahun 1982, Eriksson hijrah ke Portugal untuk melatih SL Benfica.

Kisah manis IFK Göteborg berlanjut pada musim 1985/86 ketika mereka untuk pertama kalinya tampil di babak semi-final European Cup (sekarang Liga Champions Eropa) melawan tim kebanggan publik Catalunya, Barcelona. Pada leg pertama, IFK Göteborg yang menjadi tuan rumah sukses menghajar Barcelona tiga gol tanpa balas. Entah kamu ingin menyebut fenomena ini sebagai keajaiban atau apa pun itu, namun yang jelas fenomena ini memang benar-benar nyata terjadi — senyata wajah mulus Chelsea Islan. Barcelona yang perkasa itu tidak berkutik di Gamla Ullevi. Dua gol legenda sepakbola Swedia, Torbjörn Nilsson, pada babak pertama ditambah sebiji gol dari Tommy Holmgren pada menit 60 babak kedua membenamkan Barcelona di tengah-tengah sukacita fans IFK Göteborg. Kemenangan di leg pertama ini membikin publik Gothenburg (dan Swedia) tidak hanya berani memimpikan tampil di pertandingan final, melainkan juga meraih trofi European Cup.

IFK Göteborg berkunjung ke Camp Nou melakoni laga leg kedua dengan semangat tinggi untuk merajut jalan mimpi mereka di leg pertama. Meski begitu, Gunder Bengtsson yang menjabat sebagai pelatih pada saat itu mewanti-wanti timnya agar bermain rapat cenderung defensif. Adalah seorang Pichi Alonso yang membuyarkan mimpi IFK Göteborg dengan hattrick pada menit 9, 63, dan 69. Pertandingan dilanjutkan ke drama adu penalti di mana dua eksekutor IFK Göteborg, Roland Nilsson dan Per Edmund Mordt, gagal menunaikan tugasnya. Mimpi IFK Göteborg berserakan di pelataran Camp Nou hingga akhirnya menguap bersama udara musim semi Catalunya. Publik Swedia mengenang pertandingan semi-final European Cup 1985/86 itu sebagai momen manis yang membanggakan sekaligus juga kenangan pilu yang menyesakkan dada pada saat yang bersamaan.

Kisah IFK Göteborg, yang notabene diisi oleh pemain amatir dan berasal dari kaum proletar, mampu mengalahkan klub sebesar Barcelona di leg pertama babak semi-final European Cup 1985/86 merupakan cerita manis yang lebih mampu membangkitkan rasa merinding takjub ketimbang kemolekan tubuh Dakota Johnson dalam film Fifty Shades of Grey (2015). Beberapa hari jelang pertandingan leg kedua, publik Catalunya memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada IFK Göteborg melalui salah satu stasiun televisi Catalunya dengan menayangkan sebuah acara khusus yang mengupas kehidupan beberapa pemain IFK Göteborg yang memiliki pekerjaan lain di luar sepakbola. Salah satu pemain yang diulas adalah Torbjörn Nilsson di mana pemain asli Swedia paling hebat sepanjang masa ini juga bekerja sebagai koki di sebuah pabrik pengolahan bir pada saat dia masih berstatus sebagai pemain bintang IFK Göteborg.

Martin Jönsson dan Carl Pontus Hjorthén membikin sebuah film dokumenter berjudul Fotbollens sista proletärer dan dirilis pada tahun 2011. Selain menceritakan tentang periode kesuksesan IFK Göteborg di era ‘80an, film ini juga menampilkan latar belakang para pemain IFK Göteborg dan juga menjelaskan tentang dampak dari kesuksesan IFK Göteborg terhadap perubahan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Swedia.

Swedia tidak melulu soal Zlatan Ibrahimović yang membikin sepakbolanya cukup disegani di dataran Eropa dan dunia internasional. Lagipula Ibrahimović bukanlah keturunan asli bangsa Scandinavia — dia merupakan anak yang kebetulan saja lahir di Malmö dari pasangan imigran Muslim Bosnia dengan Katolik Kroasia, dan lebih jauh lagi, dia bukanlah seorang proletar; Ibrahimović hanyalah representasi kerja keras dalam wujud daging dan kulit bertato yang mampu mencetak gol-gol akrobatik.

Swedia memiliki IFK Göteborg, sebuah klub sepakbola proletariat terakhir dengan semangat dan ketekunan khas Scandinavia, yang mampu mengukir kisah indah di dalam buku sejarah sepakbola dunia. Sementara orang terakhir yang meleburkan totalitarianisme dengan proletariat adalah Joseph Stalin, dan sialnya, diktator asal Rusia yang memiliki tampang menggelikan itu tidak mengerti perihal sepakbola sama sekali. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s