“Sepakbola”

SEJARAH sepakbola adalah sebuah catatan perjalanan menyedihkan perihal keindahan yang berubah (atau sengaja diubah) menjadi tugas yang memuakkan dan menjemukan. Ketika sepakbola menjadi sebuah industri, keindahan yang tumbuh dari kebahagiaan bermain(-main) dicabut begitu saja dari akarnya yang paling dalam: sebuah permainan yang menggembirakan. Pada zaman sekarang ini — sebuah era di mana kapitalisme telah berhasil menanamkan pengaruhnya dengan begitu kuat di alam bawah sadar manusia — setiap orang (pasti) beranggapan bahwa bermain(-main) adalah “hal yang tidak ada gunanya”, dan apa-apa “yang tidak berguna” berarti tidak bakal menghasilkan keuntungan.

Sebuah momen yang mengubah lelaki dewasa menjadi anak kecil yang asyik dengan sepedanya, seperti seekor kucing dengan kupu-kupu yang dikejarnya, seperti seorang balerina dengan gulungan pitanya; seseorang yang bermain(-main) bahkan tanpa sadar dia sedang bermain(-main): tanpa wasit yang meniup peluit, tanpa tujuan, tanpa lapangan bergaris tepi, tanpa batas waktu. Emosi hebat dan perasaan senang yang membuncah dari momen-momen seperti itu bakal ditinggalkan karena tidak menghasilkan keuntungan atau uang.

(Permainan) Sepakbola telah berubah menjadi sekadar spectacle atau tontonan, dengan sekelompok “pahlawan” dan jutaan “penonton” di dalamnya. Dan tontonan adalah salah satu bisnis yang paling menggiurkan dan menjanjikan di dunia kapitalisme, digerakkan untuk mengeruk profit sebanyak-banyaknya — bukan untuk menghadirkan sebuah permainan yang mengasyikkan, melainkan merusaknya.

Teknologi di dalam sepakbola kontemporer dikelola dan dikendalikan untuk menyajikan brutalitas kekuatan dan kilatan kecepatan. Dan bisnis tontonan menghadirkan jenis sepakbola yang menghancurkan keberanian, membunuh imajinasi dan fantasi, serta membenci sukacita.

Ah, saya jadi ingat dengan cerpen Esse est Percipi karangan Jorge Luis Borges: sebuah kritik elegan terhadap industri sepakbola. Dengan gayanya yang khas dalam mencampurkan fiksi dan fakta, Borges menawarkan imajinasinya kepada para pembaca untuk percaya bahwa sepakbola yang disaksikan melalui layar televisi bukanlah sepakbola sebagai permainan (yang membahagiakan), melainkan sepakbola sebagai simulasi yang terlalu dilebih-lebihkan dengan bantuan teknologi.

Apa yang dibayangkan Borges dalam cerpennya itu, di mana pertandingan sepakbola disimulasikan di studio dan kemudian disiarkan melalui televisi atau radio, mungkin masih belum pernah terjadi. Namun jika melihat kondisi sekarang ini di mana “tontonan sepakbola” di televisi secara perlahan mulai menggantikan “sepakbola asli” yang dimainkan di atas lapangan hijau, atau bagaimana pertandingan sepakbola saat ini sangat rentan terhadap pengaturan skor, atau bahkan game sepakbola macam Football Manager yang dari tahun ke tahun semakin mendekati realitas sepakbola, maka tidak lama lagi nubuat yang ditulis oleh Borges itu bakal menjadi kenyataan. Hal ini nyaris sama dengan pornografi yang malah dianggap lebih sensual dan menggairahkan berahi ketimbang aktivitas seks itu sendiri. Simulacra! Hiperealitas!

Siapa (atau apa) yang bisa menjamin bahwa rentetan pencapaian gemilang Juventus dalam setengah dekade terakhir, misalnya, bukanlah produk simulasi dari para mafia bola di Italia sana? Toh segala yang ada di dunia tua saat ini kemungkinan besar bakal tunduk dan dikendalikan oleh Serikat Musuh Keindahan (SMK) yang hanya memikirkan perputaran kapital agar bisa menghasilkan profit pribadi sebanyak-banyaknya.

Ah, semoga saja saya dan kamu masih memiliki kesempatan untuk dapat melihat, meskipun hanya sekali saja dan dalam tempo yang cukup singkat, seorang “bajingan” kurang ajar yang berlari di luar skenario sembari menggiring bola melewati lawan-lawannya, mempersetankan wasit dan aturan yang ada, serta semakin jauh meninggalkan kerumunan domba di belakangnya. Semoga saja saya dan kamu masih bisa menyaksikan, atau bahkan merasakan, hal itu: sebuah kenikmatan tertinggi dari perjalanan terlarang menuju kebebasan.

Semoga saja… []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s