Anarki sepakbola

SAMPAI detik ini masih banyak yang mengartikan anarki (atau anarkisme) sebagai kekerasan, kekacauan, keonaran, ketidak-aturan, dan berbagai macam stereotip negatif lainnya. Padahal, di zaman yang katanya sudah modern dan serbadigital ini di mana mengunduh video bokep hanya membutuhkan hitungan beberapa menit saja, sudah banyak informasi yang bisa diambil terkait “arti yang sebenarnya” dari anarki.

Oke! Anarki memang kekerasan: kekerasan terhadap segala otoritas yang mengekang (seperti negara), terhadap kapitalisme, terhadap penindasan, terhadap dominasi, terhadap pembodohan, terhadap hierarki; dan semua kekerasan tersebut dilakukan demi mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik ketimbang dunia yang kita tinggali saat ini — anarki merupakan ide yang paling ideal dan paling manusiawi! Namun saya di sini tidak bakal menuliskan pembelaan lain untuk anarki, melainkan ingin kasih tunjuk hubungan romantis nan mesra antara anarki dengan sepakbola.

Pada Piala Dunia 2006 lalu, Gabriel Kuhn — mantan pesepakbola semi-profesional asal Austria yang kemudian beralih menjadi seorang intelektual anarkis — bersama Kolektif Alpine Anarchist Productions menggagas dan menyebarkan sebuah pamflet berjudul Anarchist Football (Soccer) Manual. Pamflet ini berisi seruan untuk menolak sepakbola modern yang dianggap dikendalikan oleh para borjuis tengil (dan kelas menengah ngehek) berdasarkan logika kapitalisme dan komersialisasi untuk meraup profit pribadi sebanyak-banyaknya. Lebih lanjut, Kuhn dan para penggagas pamflet ini menilai sepakbola telah menjadi industri yang mengeksploitasi manusia untuk kemudian semakin mengikis rasa solidaritas antarsesama individu maupun secara kolektif.

Pamflet Anarchist Football (Soccer) Manual pada dasarnya bukan menyerukan untuk memboikot sepakbola secara keseluruhan, melainkan mengajukan sebuah ide unik yang sangat radikal yaitu menolak bermain sepakbola secara kompetitif dan mulailah bermain sepakbola secara tradisional. Maksudnya — bikinlah sebuah permainan sepakbola dengan cara “terbuka” di mana setiap orang boleh ikut bermain dan bersenang-senang hingga akhirnya semua orang lelah atau merasa bosan. Dan untuk mengurangi loyalitas berlebihan kepada salah satu tim, setiap pemain boleh berganti dari satu tim ke tim lainnya. Sebuah ide untuk mengembalikan sepakbola sebagai sebuah permainan yang menyenangkan, bukannya persaingan. Intinya adalah bersenang-senang!

Sepakbola dan hubungannya dengan anarki
Sebelum Kuhn dan Alpine Anarchist Productions menyebarkan blueprint perihal “anarki dan sepakbola”, sekelompok pemikir anarkis di Argentina telah lebih dulu meletakkan ide-ide anarki ke dalam sepakbola.

Di wilayah Villa Crespo, Buenos Aires, Argentina, sebuah klub sepakbola dengan nama Mártires de Chicago (Martyrs of Chicago — saat ini berganti nama menjadi Argentinos Juniors) dibentuk pada 14 Agustus 1904 sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kepada para pejuang Haymarket. Dua tahun kemudian, pada tanggal 1 Mei, sebuah klub bernama Chacarita Juniors didirikan oleh seorang anarkis di sebuah perpustakaan yang terletak di perbatasan antara wilayah Chacarita dan Villa Crespo, Buenos Aires. Chacarita Juniors mengenakan jersey berwarna merah-hitam sebagai simbol ideologi dan perlawanan mereka, serta memiliki semboyan “In soccer you learn how to act in solidarity”. Pada tanggal 1 April 1908, sebuah grup anarkis di Buenos Aires, membentuk klub sepakbola yang diberi nama Club Atlético Libertarios Unidos sebagai bentuk perlawanan terhadap negara: perjuangan untuk menciptakan kondisi hidup yang lebih baik bagi kelas pekerja di sana. Jersey pertama mereka berwarna merah dengan garis horizontal warna hitam untuk menggambarkan ideologi anarki mereka.

CA Progreso, klub yang dibentuk pada 30 April 1917 di Montevideo, Uruguay, dikenal memiliki hubungan romantis dengan gerakan anarki. Pada awal-awal pembentukannya, CA Progreso mengenakan jersey bercorak hitam-putih untuk mengapresiasi aksi-aksi kelompok anarkis, yang kemudian berganti warna menjadi merah-kuning — warna kebesaran publik Catalunya yang identik dengan Revolusi Spanyol 1936 — sebagai solidaritas terhadap para pejuang revolusi di Spanyol.

Sementara itu di Eropa, pada 16 April 1912, para pekerja di Kroasia mendirikan sebuah klub sepakbola yang diberi nama HRŠD Anarch — HRŠD merupakan singkatan dari Hrvatsko radnicko športsko društvo atau Serikat olahraga kelas pekerja Kroasia — dengan jersey awal berwarna hitam (warna yang disimbolkan sebagai warna anarki). Ketika pengaruh “pemuda merah” (serikat pekerja, sosial-demokrat, dan komunis) semakin menguat pada tahun 1933, HRŠD Anarch mengganti nama klub menjadi RNK Split — RNK: Radnicki nogometni klub atau Klub sepakbola kelas pekerja — dan warna jersey mereka diganti menjadi merah. RNK Split tidak hanya menjadi tempat untuk bermain sepakbola sesama pekerja, melainkan juga sebagai wadah penyebaran ide-ide anarki di kalangan kelas pekerja Kroasia pada saat itu. Selama Revolusi Spanyol 1936, RNK Split mengirimkan beberapa relawan untuk ikut berjuang bersama koalisi anti-fasis melawan tentara Jenderal Francisco Franco. Nama RNK Split semakin terkenal saat Perang Dunia II di mana beberapa pemain mereka tewas ketika membantu Yugoslav Partisans pimpinan Josip Broz Tito melawan tentara Nazi Jerman yang menyerbu Uni Soviet.

Di Jerman sendiri ada FC St. Pauli, sebuah klub sepakbola yang diklaim memiliki ideologi paling kiri di mana mereka mewakili waria, punk, pelacur, pekerja dermaga, anti-fasis, dan anarkis yang tinggal di Distrik St. Pauli, Kota Hamburg. FC St. Pauli merupakan klub Jerman pertama yang melarang aktivitas politik sayap-kanan muncul di stadion mereka, Millerntor-Stadion. FC St. Pauli selalu gigih menyerukan kampanye progresif anti-seksisme, anti-rasisme, anti-kapitalisme, anti-homofobia, dan anti-fasisme. Corny Littman, seorang gay yang aktif dalam dunia teater Jerman, pernah menjadi presiden klub FC St. Pauli, dan juga ultras mereka dikenal sering bentrok dengan polisi dan kelompok suporter ektrem sayap-kanan seperti fans Hamburger SV dan FC Hansa Rostock.

FC United of Manchester yang berasal dari Distrik Moston, Kota Manchester, Inggris, dibentuk berdasarkan ide anarki pada tahun 2005 oleh (mantan) fans Manchester United untuk merespons pengambil-alihan Manchester United secara kontroversial oleh pengusaha asal Amerika Serikat, Malcolm Glazer. Dengan jargon “I don’t have to sell my soul”, FC United of Manchester menamai aksi mereka dengan sebutan Spirit of Shankly (ada juga beberapa yang menyebut mereka dengan punk football), dan mereka begitu lantang menyerukan pesan-pesan Against Modern Football. Klub FC United of Manchester sepenuhnya dimiliki dan dijalankan secara demokratis oleh para suporternya karena mereka yakin bahwa klub sepakbola bukanlah sekrup kapitalisme dan pabrik pencetak uang bagi para kapitalis bangsat di luar sana — FC United of Manchester mendanai klub tanpa bantuan dari bank dan tanpa pemasukan dari pihak sponsor korporasi apa pun.

Di kota Inggris lainnya juga terdapat klub sepakbola yang dibentuk dan dijalankan dengan ide-ide anarki. Easton Cowboys and Cowgirls yang berasal dari daerah Easton, Bristol, pernah menyelenggarakan “Piala Dunia tandingan” pada tahun 1998 yang akhirnya membikin Subcomandante Marcos — juru bicara kolektif anarkis revolusioner Zapatista Army of National Liberation (EZLN) — mengundang mereka untuk mengikuti sebuah turnamen sepakbola di Chiapas, Meksiko. Slogan Easton Cowboys and Cowgirls, “Freedom through Football” atau “Kebebasan melalui Sepakbola”, terinspirasi oleh aksi revolusioner EZLN. Pengalaman Easton Cowboys and Cowgirls selama bermain di Palestina didokumentasikan dalam sebuah film medium length berjudul Over the Wall (2011) yang disutradari oleh Jesse Tate. Easton Cowboys and Cowgirls memiliki semacam klub kembaran di Kota Tulkarm, Palestina, yang juga dikelola berdasarkan ide-ide anarki. Sementara kolektif anarkis di Kota Bradford, The 1 in 12 Club, juga memiliki sebuah klub sepakbola anti-kapitalis — mereka secara rutin menggelar sebuah turnamen sepakbola setiap Mayday yang diikuti oleh 12 klub sepakbola anarkis Inggris lainnya.

* * * * *

Sepakbola dan anarki bukanlah dua hal yang saling berjauhan, melainkan sebuah simbiosis mutualisme dalam upaya mewujudkan mimpi paling utopis untuk menciptakan sebuah dunia baru yang lebih baik dan layak ditinggali ketimbang dunia tua saat ini. Hal ini juga menjadi bukti bahwa anarki bisa diterapkan dalam banyak sektor kehidupan saat ini juga. Seutopis apa pun tampaknya tujuan perjuangan dan perlawanan tersebut, toh itu semua tetap perlu dijalani agar dapat melahirkan sebuah kondisi yang tidak memiliki titik balik. Dan bagi saya, semua itu nyata: senyata aksi kekerasan untuk memperjuangkan hak hidup melawan dominasi negara dan kapitalisme.

Namun kamu mungkin masih keukeh bilang bahwa perjuangan anarki seringkali bersentuhan dengan kekerasan dalam hal apa pun, termasuk dalam ranah sepakbola, sampai kapan pun. Well, jika sudah begitu, saya cuma ingin mengingatkan satu hal bahwa cinta memang terkadang hanya bisa muncul melalui selongsong senapan, bukan dalam sebungkus cokelat atau paket makam malam di Hari Kasih Sayang.

Semoga anarki panjang umur … dan bapakmu yang menyebalkan itu segera dikubur.

Rokokputih, kopihitam, cheers.

Tabik. []

Advertisements

2 Comments

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s