Lebih dari sekadar tontonan yang sedap dipandang mata

BERAPA banyak lelaki yang menonton pertandingan final Piala Dunia Perempuan 2015 antara timnas perempuan Amerika Serikat vs. Jepang yang berharap ada salah satu pesepakbola perempuan yang merayakan emosi setelah mencetak gol dengan selebrasi membuka baju a la Mario Balotelli ketika menghadapi Jerman di semi-final Piala Eropa 2012? Banyak sekali, dan mereka pun akhirnya harus kecewa lantaran harapan untuk memuaskan pseudoberahi itu tidak pernah mewujud nyata. Dalam final yang dimenangkan oleh Amerika Serikat itu tidak ada satu pun pesepakbola perempuan yang mengikuti jejak Balotelli atau Brandi Chastain yang hanyut dalam euforia setelah memastikan kemenangan Amerika Serikat melalui drama adu penalti melawan Cina di final Piala Dunia Perempuan 1999. Chastain yang sukses mengeksekusi sepakan-penalti terakhir langsung melepas jersey-nya sembari berlutut, memamerkan tubuhnya berbalut sport bra dalam salah satu potret paling ikonik dalam sejarah sepakbola perempuan.

Dalam dunia sepakbola yang masih begitu seksis sekarang ini, sudah cukup wajar bahwa hal-hal yang berkaitan dengan daya tarik seksual masih menjadi faktor utama yang membikin para penonton/penikmat sepakbola mulai memberikan perhatian kepada sepakbola perempuan. Selebrasi gol yang dilakukan oleh Chastain di final Piala Dunia Perempuan 1999 itu menjadi cover majalah Time dan hal itu menjadi momen pertama kali di mana banyak orang mulai menyadari keberadaan sepakbola perempuan. Meski begitu, keadaan sekarang ini masih belum jauh berbeda. Kebanyakan lelaki yang mulai menggandrungi dan gemar menonton timnas perempuan Amerika Serikat bertanding atau mengikuti musim National Women’s Soccer League (NWSL) Amerika Serikat karena terangsang dengan lekuk tubuh Hope Solo dan ayunya paras Alex Morgan. Mengagumi kecantikan Solo dan Morgan bukanlah hal yang salah, namun dari sekian banyaknya penonton sepakbola perempuan kerap lupa untuk mengapresiasi sesuatu yang seharusnya menjadi fokus utama dalam menikmati pertandingan sepakbola perempuan: kemampuan dan keindahan olah bola para pesepakbola perempuan ketika berlaga di atas lapangan hijau.

Dalam pertandingan final Piala Dunia Perempuan 2015 melawan Jepang yang digelar di BC Place di Kota Vancouver, British Columbia, Kanada pada 5 Juli 2015 yang lalu, Solo berulang kali menampilkan skill menawan untuk menjaga gawangnya dari serbuan para pesepakbola perempuan Jepang, sementara Morgan berhasil membikin lini pertahanan Jepang berantakan dengan akselerasi dan pergerakannya di sepanjang pertandingan. Namun, tetap saja, hal paling penting bagi kebanyakan lelaki yang menggemari sepakbola perempuan adalah bagaimana mereka bisa mengakses dan mendapatkan berbagai macam video dan foto aduhai yang mempertontonkan kemolekan tubuh Solo dan kecantikan paras Morgan. Adalah hal yang sangat menyebalkan dan menggelikan ketika melihat para lelaki yang mengaku fans sejati dan katanya mencintai sepakbola tanpa syarat kerap mencibir kaum perempuan yang dianggap cuma bisa mengapresiasi ketampanan dan tubuh atletis Cristiano Ronaldo atau betapa gagahnya seorang Gianluigi Buffon namun melakukan hal yang sama dalam menikmati tontonan sepakbola perempuan.

Ketiadaan apresiasi yang tepat kepada sebuah tontonan seringkali membikin para penonton lupa dengan nilai estetika yang sebenarnya dari tontonan tersebut. Pertandingan final Piala Dunia Perempuan 2015, misalnya, merupakan salah satu pertandingan sepakbola paling seru dan indah yang pernah saya tonton dalam sejarah saya sebagai penikmat sepakbola: adu taktikal antara kemampuan olah bola individu dan kehebatan/ketepatan umpan timnas perempuan Jepang melawan kekuatan fisik dan determinasi tinggi timnas perempuan Amerika Serikat. Jujur saja, terhitung baru tujuh tahun ini saya gemar menonton sepakbola perempuan dan hal itu tidak serta-merta membikin saya ahli dalam mengomentari sepakbola perempuan. Namun dalam pertandingan Amerika Serikat vs. Jepang di final Piala Dunia Perempuan 2015 yang saya tonton itu terdapat semangat bermain sepakbola yang indah sehingga mampu membekas di jantung persegi dan batok kepala saya. Kedua finalis tampil ofensif tidak kenal lelah untuk meneror pertahanan lawan, tidak ada upaya-upaya receh untuk mengelabui wasit atau aksi tipu-tipu teatrikal dengan tiba-tiba berguling-guling di tengah lapangan. Murni tontonan sepakbola yang seru, indah, dan mengasyikkan.

Seperti yang telah diyakini oleh banyak orang: sepakbola adalah sebuah bahasa universal — bukan bahasa alien seperti yang ditampilkan oleh film sains-fiksi berjudul Arrival (2016) garapan Denis Villeneuve. Kumpulkan beberapa orang dari seluruh penjuru dunia dengan kultur sosial-politik-budaya dan bahasa ibu yang berbeda, berikan bola kepada mereka, dan mereka bakal tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Orang-orang yang sebelumnya menganggap bahwa sepakbola perempuan hanya sekadar formalitas dalam rangka memeriahkan kampanye kesetaraan gender menjadi terkejut dengan betapa indah dan hebatnya daya tarik sepakbola perempuan.

Sepakbola merupakan alat komunikasi lintas-bahasa, dan oleh karenanya kita sudah seharusnya tidak terlalu terkejut jika sepakbola menjadi sesuatu yang lintas-gender. Hal itu adalah salah satu keajaiban sepakbola: siapa pun yang memainkannya — entah itu lelaki, perempuan, atau waria — toh kita bakal tetap mendapatkan kenikmatan dan keindahan yang sama ketika menontonnya. Sebab sepakbola adalah sepakbola, dan semoga saja tetap menjadi sepakbola: suatu hal yang memiliki daya candu luar biasa yang mampu membikin begitu banyak manusia melupakan ketakutan dan kengerian, meskipun hanya sesaat.

Setelah ini, jika kamu masih menganggap pesepakbola perempuan tidak ada ubahnya dengan bintang film porno yang berfungsi untuk memuaskan pseudoberahi milikmu, maka sebaiknya kamu cepat-cepat pergi ke rumah sakit terdekat dan segera mengajukan permohonan operasi lobotomi. Atau mending kamu pelihara Pokemon saja.

Dan selamat merayakan Hari Perempuan Internasional. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s