Three-sided football: titik awal revolusi permainan sepakbola?

It’s a synthesis of football, basketball, chess and poker. There is an obvious increase in complexity but essentially it’s two-sided football with an element of bluff. It’s utterly unique and people who play it, love it.
Mark Dyson

DALAM kehidupan, manusia membutuhkan drama agar hidup harian tidak berjalan mekanistik, menyebalkan, dan membosankan — begitu pula dengan sepakbola. Inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa ada begitu banyak manusia Bumi yang sangat menyukai dan menikmati pertandingan sepakbola. Dalam setiap pertandingan, sepakbola mampu menghadirkan drama melalui aksi-aksi teatrikal di atas lapangan hijau. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah apakah sepakbola hanya memerlukan drama agar permainan ini tidak berubah menjadi aksi yang membosankan? Ada beberapa manusia yang menganggap bahwa bentuk permainan dari sepakbola itu sendiri adalah faktor utama yang bakal membikin sepakbola menjadi hal yang sangat membosankan. Dan manusia-manusia yang memiliki pemikiran semacam itu tidak lagi membutuhkan drama (atau bahkan teknologi canggih) sebagai suplemen rangsangan agar mereka betah menonton atau memainkan sepakbola. Dan salah satu manusia yang memiliki pemikiran seperti itu adalah seniman asal Denmark, Asger Jorn.

Jorn, lahir di Denmark pada 3 Maret 1914, merupakan anggota dari COBRA, grup avant-garde Eropa yang terdiri dari beberapa seniman revolusioner. Pada tahun 1957, Jorn bersama Guy Debord dan beberapa seniman eksentrik lainnya mendirikan sebuah organisasi aktivis sosial revolusioner, yang mengombinasikan ekspresi politik radikal dengan tradisi berkesenian eksperimental, bernama Situationist International. Dengan latar belakang seni eksperimental dan pemahaman politik yang kuat, Jorn lantas menggagas sebuah ide radikal untuk mengubah konsep permainan sepakbola pada tahun 1962. Ide radikal Jorn mengenai sepakbola ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan three-sided football.

Three-sided football tidak melibatkan dua tim, melainkan tiga tim dalam sebuah pertandingan sepakbola dan dimainkan di atas lapangan berbentuk segi enam. Tidak ada wasit dan/atau asisten wasit dalam permainan ini sebab ketiga tim dipersilakan berunding terlebih dahulu untuk menentukan aturan pertandingan. Yang ada hanyalah konsensus atau kesepakatan bersama, termasuk dalam urusan teknis, dan yang lebih mengasyikkan adalah hal itu berarti bahwa aturan dalam three-sided football sungguh dinamis, tidak kaku. Intinya adalah kerjasama didahulukan dan kompetisi dikurangi.

Jorn menganggap bahwa sepakbola memiliki prinsip “us vs. them” di mana “us” diartikan sebagai proletar dan “them” adalah kaum borjuis yang bau amis. Atas dasar itu, Jorn menawarkan ide three-sided football yang disebutnya sebagai representasi perjuangan alternatif untuk menciptakan kesadaran kolektif dan bekerja-sama dalam kehidupan sosial masyarakat. Melalui ide ini pula Jorn ingin menjelaskan pengertiannya tentang trioletics dan penyempurnaan konsep dialektika marxisme, serta untuk “mengacaukan” ide konvensional sepakbola. Three-sided football, secara filosofis, memungkinkan adanya sebuah pertandingan di mana tidak ada tim yang bakal mendominasi/didominasi oleh tim lainnya dan permainan ini merupakan bentuk subversif terhadap hegemoni korporasi dan dominasi kapital yang merusak romantisme dan keindahan sepakbola.

Permainan three-side football mulai populer di Eropa pada dekade ‘90an setelah pseudonim Luther Blissett mempromosikan ide Jorn tersebut di Skotlandia, Serbia, Polandia, Italia, Inggris, dan Austria. Ketika Inggris mengadakan pemilu pada tahun 2010 lalu, Whitechapel Gallery bekerja-sama dengan Philosophy Football FC mengadakan sebuah pertandingan three-sided football di Haggerston Park dan tiga tim yang bertanding saat itu menggunakan nama tiga partai yang sedang berebut kekuasaan dalam pemilu Inggris 2010: Partai Konservatif, Partai Demokrat Liberal, dan Partai Buruh. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim Partai Buruh yang direpresentasikan oleh Philosophy Football FC.

Setelahnya, Philosophy Football FC secara perlahan mulai rutin mengadakan pertandingan three-sided football. Pada 7 Mei 2011, Philosophy Football FC menginisiasi pertandingan three-sided football pertama di Spanyol, tepatnya di Kota Bilbao, antara tim yang merepresentasikan Athletic Bilbao dengan para imigran di sana. Sid Lowe, pandit sepakbola terkenal saat ini, ikut ambil bagian dalam pertandingan tersebut di mana timnya mampu keluar sebagai pemenang. Athletic de Bilbao Foundation menyelenggarakan kejuaraan three-sided football dalam sebuah acara yang bertajuk Thinking Football yang berlangsung dari bulan Oktober 2011 hingga April 2012 yang diikuti oleh 37 tim. Acara Thinking Football itu sendiri bertujuan untuk merefleksikan peran sepakbola di dalam masyarakat modern. Philosophy Football FC, pada bulan Mei 2013 di London, mengorganisir turnamen three-sided football dalam skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak tim dari seluruh penjuru dunia.

Pada 14 September 2013, bertepatan dengan 13th Istanbul Bennial di Kota Istanbul, Turki, diselenggarakan sebuah pertandingan three-sided football yang mempertemukan Philosophy Football FC (Inggris), Dynamo Windrad (Jerman), dan Ayazma FC (Turki). Pelatih Philosophy Football FC, Geoff Andrews, mengumumkan berdirinya International Three Sided Football Federation sebelum pertandingan ini.

Sebuah upaya untuk mendekonstruksi sepakbola
Sebagian orang, mungkin kamu adalah salah satunya, bisa saja (dan memang boleh) menganggap bahwa three-sided football bukanlah permainan sepakbola karena idealnya — atau umumnya — sepakbola merupakan permainan yang dilakukan oleh dua tim dalam satu kesempatan dan gol menjadi simbol hitungan yang memengaruhi hasil pertandingan. Namun dalam derajat tertentu, pernyataan Mark Dyson yang saya kutip di awal tulisan ini mengisyaratkan bahwa three-sided football adalah upaya yang bertujuan untuk mendekonstruksi dan meredefinisi sepakbola dengan meninjau ulang sepakbola dari sisi teknis, filosofi, dan bahasa.

Pemikiran dekonstruksi tumbuh subur seiring dengan munculnya filsuf-filsuf pascastrukturalisme seperti Jean-François Lyotard, Félix Guattari, René Girard, Michel Foucault, Umberto Eco, Jacques Derrida, Gilles Deleuze, hingga Jean Baudrillard yang sedikit-banyak dipengaruhi oleh teori-teori Friedrich Nietzsche. Sejak awal kemunculannya sampai saat ini, filsafat dekonstruksi dianggap sebagai metode baru dalam pembacaan sebuah teks. Namun bagi kaum positivis, yang kebanyakan ilmuwan, dekonstruksi dianggap sebagai suatu perspektif keilmuan baru yang cenderung anti-teori dan anti-metode. Dekonstruksi dalam pandangan kaum positivis cenderung relatif — bahkan dianggap nihilistik — terhadap suatu diskursus dan diartikan sebagai “tipu muslihat intelektual” yang tidak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh sebab itu, dekonstruksi dianggap sebagai penantang arus filsafat sains dan analitik.

Dekonstruksi dapat dipahami sebagai sebuah metode pembacaan ulang untuk memahami sebuah teks secara lebih mandiri tanpa adanya dominasi pemikiran konvensional yang sudah tertanam di dalam benak masyarakat pada umumnya. Atau, dengan kata lain, dekonstruksi merupakan sebuah upaya untuk menguraikan teks mulai dari struktur hingga pemaknaan agar mampu mengungkapkan berbagai macam oposisi hierarkis dalam sebuah teks. Dekonstruksi tidaklah menghancurkan makna dari sebuah teks, namun menghancurkan pemahaman bahwa satu bentuk pemaknaan terhadap suatu teks lebih betul dan lebih benar ketimbang pemaknaan lain terhadap teks yang sama. Setiap satuan teks atau bahasa, menurut Derrida, selalu menandakan — atau memiliki — permainan dua kutub di antara berbagai macam hal yang sebetulnya saling bertentangan dan terlalu rumit untuk disederhanakan ke dalam satu bentuk saja. Dekonstruksi selalu mengarah di antara “apa yang dituntut” dan “apa yang tidak dituntut” dari teks atau bahasa yang digunakan, dan maka dari itu, dekonstruksi menghasilkan makna yang majemuk, yang bisa dikatakan sebagai proses pemaknaan dan bukannya sebuah hasil. Hal ini akan menciptakan peluang untuk membuka berbagai macam pemaknaan yang baru dan lebih segar.

Dalam bahasa saat ini, sepakbola merupakan teks yang cenderung memiliki makna tunggal dan terpusat. Sepakbola adalah sebuah permaian — atau olahraga — yang teknis, pengertian, dan aturan permainannya telah tertanam begitu dalam di masing-masing otak dan jantung manusia. Karena hal itulah, meredefinisi makna sepakbola terkesan mustahil, apalagi untuk mengutak-atik teknis dan aturan permainannya. Three-sided football, dalam pandangan filsafat dekonstruksi, bisa dibilang sebagai salah satu bentuk upaya untuk memaknai ulang sepakbola tidak hanya dari segi teknis, melainkan juga sebagai sebuah teks atau bahasa. Selain itu, three-sided football juga bisa dianggap sebagai salah bentuk subversif yang melahirkan perlawanan dan pemberontakan terhadap hegemoni dan dominasi kode bahasa kapitalisme. Karena sekarang ini kebangsatan prinsip kapitalisme tidak hanya bergerak dalam kerangka materialisme belaka, namun juga merasuk ke dalam alam bawah sadar manusia dengan kecepatan yang begitu mengerikan.

Lapangan segi enam three-sided football. (gambar: “The Telegraph”)

Et cetera
Berikut ini adalah tata cara permainan three-sided football yang saya baca dari situs Philosophy Football FC, barangkali kamu dan kawan-kawanmu memiliki hasrat untuk memainkan permainan ini. (Asal kamu tahu, saya sebenarnya sedang mencari kawan untuk mencoba memainkan three-sided football. :D) Tata cara atau aturan di bawah ini sifatnya tidak wajib dan tidak mengekang karena, seperti yang sudah saya tulis di atas, poin utama dari three-sided football adalah mendahulukan kerjasama dan prinsip-prinsip solidaritas dalam memainkannya. Tata cara di bawah ini hanyalah panduan standar yang bisa dinegosiasikan dan diatur ulang secara konsensus dan berdasarkan kesepakatan internal dari tiga tim yang akan bertanding.

1) Throw-ins, goal-kicks, dan corners
Dalam lapangan segi enam yang digunakan untuk bermain three-sided football, setiap tim memiliki dua sisi lapangan: backside yang merupakan sisi di mana letak gawang berada dan frontside yang merupakan sisi berlawanan dengan gawang. Jika bola yang ditendang oleh tim lawan keluar di antara sisi lapangan milik timmu, maka kamu berhak melakukan lemparan ke dalam (throw-in) atau sepakan-gawang (goal-kick). Sementara jika yang menendang bola ke luar lapangan adalah timmu, maka tim lawan yang mendapatkan lemparan ke dalam atau sepak-pojok (corner kick) adalah tim yang letak gawangnya paling dekat dengan sisi di mana bola itu keluar.

2) Scoring atau hitungan gol
Gol yang dicetak oleh sebuah tim dalam pertandingan three-sided football tidak dihitung, melainkan hanya sekadar “diakui”. Pemenang dalam permainan bukanlah tim yang paling banyak mencetak gol, melainkan tim yang paling sedikit kebobolan (“mengakui”) gol.

3) Referees atau wasit
Pertandingan three-sided football memiliki prinsip tanpa wasit atau pengadil pertandingan dengan alasan, seperti yang dilansir dalam situs Philosophy Football FC, bahwa “permainan ini diciptakan dan dimainkan untuk mendekonstruksi mitos struktur sepakbola konvensional”. Namun jika memang tiga tim yang bertanding memutuskan untuk menggunakan jasa wasit, maka bakal dipilih dua wasit secara konsensus agar mampu membikin keputusan-keputusan yang tepat, cerdas, dan adil secara filosofis sepanjang pertandingan.

4) Duration of match atau durasi pertandingan
Tidak ada batasan waktu yang pasti. Semua tim bebas bermain hingga mereka merasa lelah atau bosan. Namun jika menyimak pertandingan yang sudah dimainkan, three-sided football sudah cukup ideal dimainkan dalam waktu 30 menit.

5) Aturan lainnya
Ada pergantian pemain secara bergilir dan tidak ada offside.

Permainan three-sided football semakin menarik karena tim yang kalah bisa bersekutu dan bergabung dengan tim lain demi mengejar ketertinggalan dari tim yang berada dalam posisi sementara unggul/menang. Singkat kata, dua tim dalam three-sided football dapat beraliansi untuk melawan satu tim, dan setelah itu mereka dapat kembali ke tim masing-masing. Pada satu sisi, aturan ini bisa jadi membingungkan, namun di sisi lain, ada anggapan bahwa aturan inilah yang justru mampu mendewasakan dan membikin permainan ini menjadi lebih menyenangkan.

* * * * *

Seiring berjalannya waktu, three-sided football ini memiliki kemungkinan untuk dilupakan dan pada akhirnya tergerus sepakbola konvensional yang didominasi oleh jahanamnya arogansi kapital. Permainan ini mungkin akan kembali diingat ketika sepakbola sudah dimainkan oleh kumpulan robot atau makhluk hibrida hasil kawin silang antara zombie, tempat sampah, mutan, dan manusia di sisi paling gelap dari bulan yang disaksikan dan dinikmati oleh deretan ultras atau fans garis keras pemakan bangkai dan robot android berkepala badut.

Ah, terlepas dari itu semua, sepakbola adalah sebuah kenikmatan tertinggi dari perjalanan terlarang menuju kebebasan.

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s