Matthew Le Tissier: tentang ketuhanan dalam sepakbola

MALAM ini saya bermain-main dengan ironi, bersama dua sahabat saya yang paling setia: kopihitam dan rokokputih. Kami bertiga mencoba memahami setiap logika yang tidak pernah puas untuk menjadi alasan bertambahnya kerutan di dahi. Ironi terlampau sering bersikap tidak adil. Ada begitu banyak keindahan yang perlahan memudar karena kehadiran ironi yang sering tidak terduga. Ironi tidak pernah datang dengan permohonan maaf, malah dia justru datang dengan segudang prasangka dan pandangan iri — bersikap seolah-olah saya tidak pernah pantas untuk menghidupi secuil kebahagiaan hidup yang terlanjur saya kumpulkan. (Ah, bukankah keindahan dan kebahagiaan harus cepat pergi supaya menjadi hal yang abadi? Entahlah.)

Akan tetapi, kedigdayaan dan arogansi ironi bukannya tidak terkalahkan. Setidaknya, menurut saya, ada seorang lelaki — atau tuhan — yang berhasil mempecundangi keganasan ironi. Lelaki itu bernama Matthew Le Tissier. Sebuah nama yang jarang terdengar namun perlahan mengerucut kepada deskripsi tentang ketuhanan dalam sepakbola. Ini bukan kisah tentang berhala atau seorang martir berjanggut dengan kostum bermotif garis putih-merah yang rela disalib untuk menebus dosa umat manusia. Tulisan ini hanyalah sebuah kisah tentang dunia yang haus dengan zat bernama tuhan yang memiliki hobi menciptakan keajaiban.

Layaknya iblis di dalam dongeng-dongeng kitab suci yang ingin bermain-main dengan kekuasaan tuhan menggunakan percobaan padang pasir, pada awalnya ironi yang bersembunyi di balik catatan statistik juga ingin memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan taringnya. Sebagian besar penikmat romantisme sepakbola klasik — khususnya pecandu Liga Inggris — pasti tidak bakal asing mendengar nama Le Tissier, sebuah nama sakral bagi mereka yang memuja Southampton. Asal kamu tahu, suporter setia klub berjuluk The Saints ini menyematkan julukan Le God yang berarti “tuhan” untuk Le Tissier. Ya, jika Argentina dan Napoli menyembah tuhan bernama Diego Armando Maradona, maka publik St Mary’s Stadium memiliki altar khusus dan sesembahan untuk tuhan bernama Matthew Le Tissier. Dan hal ini terjadi jauh sebelum Zlatan Ibrahimović melontarkan lawakan tidak lucu di hadapan media-massa dengan mendaku diri sebagai tuhan atau dewa.

Kesakralan Le Tissier tidak hadir begitu saja. Tidak bakal ada perjalanan yang semulus paha Chelsea Islan atau seindah suara Rachel Sutanto dalam realitas kehidupan; yakinlah bahwa tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Le Tissier memulai kariernya menendang bola sebagai pemain junior di klub Vale Recreation. Setelah selama sembilan tahun bermain untuk klub kebanggaan masyarakat Channel Island tersebut, Le Tissier memulai lembaran baru kisah sepakbolanya bersama Southampton. 30 Agustus 1986 sudah pasti menjadi tanggal keramat bagi Le Tissier, pasalnya tanggal tersebut menjadi awal pertemuannya dengan pengalaman sebagai pesepakbola profesional, meski pada akhirnya Le Tissier gagal memenangkan Southampton di kandang Norwich City. Well, semenyebalkan apa pun kekalahan itu, terkadang kekalahan juga berfungsi sebagai simfoni pembuka untuk merangkul sebuah kemenangan. Dan mungkin itu juga yang diyakini oleh Le Tissier pada saat itu.

Munculnya nama Le Tissier di ranah persepakbolaan Inggris saat itu tidak ditandai dengan debut yang memuaskan. Setelah hanya mampu mencetak enam gol dari 24 pertandingan yang dilakoni pada musim pertamanya, Le Tissier bermain layaknya seorang pesakitan pada musim keduanya (1987/88) bersama Southampton. Dari 19 pertandingan, Le Tissier tidak mencetak satu gol pun! (Jika pada saat itu saya sudah melarutkan diri dalam gemerlap suguhan dunia sepakbola, mungkin saya bakal dengan senang hati menyindir dan mengejek Le Tissier.) Musim 1987/88 merupakan kekalahan tersendiri bagi Le Tissier, saya yakin itu. Hampir seluruh pecinta sepakbola menilai martabat seorang striker dalam permainan sepakbola ditentukan oleh banyaknya gol yang dia cetak, karena gol adalah garis yang membedakan antara pemenang dan pecundang dalam sebuah pertandingan sepakbola — sesederhana itu. Awalnya saya juga beranggapan sederhana seperti itu, sebelum akhirnya fakta pada tahun-tahun berikutnya ternyata mampu menampar logika yang terlanjur berpegang teguh pada dasar hitungan matematis belaka. Pada musim 1989/90, bermodal 20 gol yang dia cetak dalam 35 pertandingan Liga Inggris, Le Tessier meraih penghargaan PFA Young Player of the Year, sebuah ajang penghargaan sebagai wonderkid terbaik yang bermain dalam kerasnya sepakbola a la Inggris.

Setelah pencapaiannya sebagai pemain muda terbaik 1989/90, performa Le Tissier terus mengundang decak-kagum. Mungkin ada jutaan penikmat Liga Inggris yang dimanjakan oleh aksi Le Tissier ketika memasuki musim 1993/94. Bulan Oktober 1993, tepatnya pada tanggal 24, menjadi salah satu hari yang sangat bersejarah bagi sepakbola di mana keajaiban tampak begitu nyata di atas rumput St Mary’s Stadium. Entah kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan aksi Le Tessier pada saat itu. Yang jelas, siapa saja yang menyaksikan pertandingan tersebut secara langsung saat itu — atau menonton cuplikan pertandingan melalui video rekaman beberapa hari sesudahnya — tidak bakal menyangka munculnya gol yang terlihat seperti meninggalkan kodrat kemanusiaan. Julukan Le God yang disematkan pada Le Tissier jelas tidak berlebihan jika menilik pada kemampuan olah bolanya ketika mencetak gol dalam pertandingan melawan Newcastle United tersebut — karena hanya tuhan yang, katanya, mampu membikin keajaiban seperti yang dilakukan oleh Le Tissier pada hari itu.

Detik-detik keajaiban itu dimulai dengan umpan jauh dari lini belakang Southampton dan disambut dengan umpan sundulan kepada Le Tessier yang berada di tengah lapangan. Le Tessier menerima umpan tersebut dengan tumit — iya, dengan tumit, kamu tidak salah baca! — dan hal yang terjadi selanjutnya adalah atraksi juggling a la Le Tessier yang membikin siapa saja yang menyaksikannya terpukau. Perpaduan bakat, insting, dan teknik ditampilkan Le Tessier untuk menjentikkan bola sebagai upaya melepaskan bola dari sergapan defender Newcastle United. Bola yang masih dalam pengaruh magis — layaknya terkena kutukan imperius dalam cerita Harry Potter — dari seorang lelaki yang dituhankan ini pun bergerak tanpa firasat bahwa dia bakal menjadi bukti dari keindahan sepakbola. Le Tessier tidak ingin menyia-nyiakan peluang emas, dan dia pun melakukan sepakan voli ke arah gawang untuk mengakhiri aksi juggling briliannya, meninggalkan Mike Hooper yang hanya bisa duduk terdiam menyadari bahwa gawangnya baru saja dibobol oleh (keajaiban) tuhan.


Le Tessier kembali menunjukkan bahwa keajaiban itu ada dan nyata kala Southampton menghadapi Wimbledon pada tahun 1994, membikin orang-orang semakin yakin bahwa dia memang tuhan yang kerap menciptakan keajaiban di atas lapangan hijau. Secara pribadi, hingga kini saya masih tidak percaya dengan adanya tuhan, dan gol yang tercipta melalui sepakan-bebas — sebagus apa pun gol itu — sulit mendapat tempat istimewa dalam ingatan saya. Namun apa yang ditunjukkan oleh Le Tisser pada hari itu adalah bukti bahwa dia mampu memanjakan mata para penikmat sepakbola melalui hal-hal yang dianggap remeh. Sepakan-bebas itu diawali dengan umpan pendek dari salah satu rekan tim Le Tissier yang namanya hingga hari ini belum saya ketahui. Jujur, saya berpikir bahwa Le Tissier tidak memiliki hasrat sedikit pun untuk mencetak gol ketika menerima umpan tersebut. Le Tissier menjentikkan bola yang dia terima, lalu tanpa diduga-duga sebuah sepakan voli yang luar biasa menjadi awal dari terciptanya sebuah gol ajaib. Dari jarak 23 meter, bola tanpa ampun meluncur ke gawang Wimbledon. Sebuah gol yang membikin saya merinding sembari berucap syukur pada apa yang Le Tissier hadiahkan bagi siapa saja yang mencintai sepakbola.


Masih di tahun 1994. Publik Ewood Park menjadi saksi keajaiban tuhan milik fans Southampton. Pertandingan kontra Blackburn Rovers menjadi sebuah kenangan tentang perpaduan antara keindahan dan kekuatan sepakbola yang dihadirkan oleh Le Tissier. Kali ini aksi magis Le Tissier diawali dengan one-man-run untuk melepaskan diri dari kepungan para pemain lawan. Beberapa midfielder dan defender Blackburn Rovers tampak seperti membentuk sebuah lingkaran yang bertujuan untuk menahan pergerakan sang tuhan. Selalu ada celah untuk melakukan keajaiban, mungkin hal itulah yang ada di benak Le Tissier. Dan sebuah sepakan keras dari jarak 37 meter tanpa ragu melesat begitu saja dari kaki kanan Le Tissier yang lantas membentur pojok atas gawang sebelum menemui jaring gawang. Mungkin kiper Blackburn Rovers pada saat itu, Tim Flowers, hanya bisa terkagum-kagum sembari mengakui kekuasaan seorang Le Tissier, pengakuan yang nantinya membuatnya berbangga hati karena gol yang bersarang di gawangnya saat itu lahir dari kaki seorang legenda, sekaligus tuhan.


Manchester United boleh berbangga hati menyombongkan rentetan gelar yang mereka raih. Namun Southampton juga boleh menyombongkan diri karena pesepakbola yang menjadi pahlawan dan tuhan bagi mereka pernah merobek jala gawang pasukan Red Devils asuhan — yang juga dianggap tuhan oleh publik Old Trafford — Sir Alex Ferguson dengan cara yang tidak manusiawi. Kemenangan 6-3 Southampton pada tahun 1996 tersebut semakin dipermanis dengan sebuah gol ajaib yang lahir dari kaki Le Tissier. Kepungan defender a la Manchester United 1996 berhasil dikelabui dengan kemampuan dribel yang pada waktu itu dikenal dengan sebutan V-cut, sebelum akhirnya Le Tissier mengirimkan sebuah bola chip yang membikin kiper legendaris MU, Peter Schmeichel, mati kutu. Ya, gol ini lahir jauh sebelum Francesco Totti melakukannya beberapa kali di Italia pada tahun 2000an.


Yang lebih hebat, atau yang lebih ironis, adalah bahwa segala hal yang saya ceritakan di atas itu dilakukan oleh Le Tissier dengan setelan kendor yang lebih mirip badut ketimbang pesepakbola profesional. Le Tissier adalah pesepakbola yang malas mengikuti aturan diet kesehatan dari dokter klubnya. Dalam buku When Football Came Home: England, the English and Euro 96, Michael Gibbons menulis bahwa Le Tissier pernah pingsan dalam satu sesi latihan karena sebelumnya dia menghabiskan puluhan sosis dan menggasak telur McMuffin sebagai menu sarapan paginya. Le Tissier adalah penggemar makanan cepat saji dan suka minum-minum di bar bersama fans Southampton. Ketika diwawancara oleh majalah FourFourTwo pada tahun 2010, Le Tissier mengaku sering menghabiskan fish and chips pada malam sebelum melakoni pertandingan sepakbola.

Sedikit mirip dengan kekasih saya yang kerap menjadi sosok misterius, Le Tissier merupakan salah satu pesepakbola yang paling tidak saya mengerti seutuhnya: gabungan antara keindahan, kekuatan, dan loyalitas bagi sepakbola a la Premier League Inggris, sekaligus menjadi sosok yang dipertanyakan mengenai kontribusinya untuk timnas Inggris. Data statistik mencatat bahwa Le Tissier hanya bermain sebanyak delapan kali mengenakan panji kebesaran Inggris. (Catatan caps itu kalah banyak dengan Carlton Palmer [18 caps], seorang pesepakbola medioker yang, mengutip Le Tissier, “menyepak bola lebih keras sewaktu menggiring ketimbang saat mengumpan atau berusaha mencetak gol”.) Le Tissier pernah membikin keputusan kontroversial dengan menolak panggilan pelatih timnas Inggris pada saat itu untuk menjadi bagian dalam skuad Piala Eropa 1996 dan Piala Dunia 1998. Ironi yang menyertai keputusan Le Tissier ini adalah fakta yang menunjukkan bahwa timnas Inggris tersingkir dari dua turnamen besar tersebut karena menyerah dalam drama adu penalti, sementara data statistik dengan gamblang membeberkan bahwa Le Tissier merupakan playmaker yang ahli mengeksekusi bola dari titik 12 pas: Le Tissier mencetak 47 gol dari 48 penalti yang pernah dia lakukan.

Karier sepakbola Le Tissier bersama timnas Inggris memang sesuatu yang bisa diperdebatkan — ada banyak keraguan yang muncul ketika berkiblat pada deretan catatan data statistik seperti ini. Dan ketika saya melihat kembali apa yang telah diwariskan oleh Le Tissier untuk sepakbola, saya merasa bahwa semua data statistik hanya menjadi sebuah catatan saja layaknya angin lalu. Bagi saya, Le Tissier adalah perpaduan antara kekuatan dan keindahan yang dibungkus rapi dalam kelangkaan loyalitas di sepakbola modern — semacam bukti bahwa tanpa ironi, tidak bakal ada suatu hal yang benar-benar luar biasa. Warisan ketuhanan dalam sepakbola bagi publik Southampton ini tidak akan pernah kalah oleh zaman.

Kepada Le Tissier, publik Southampton menyembah.

* * * * *

Saya menutup tulisan ini dengan tegukan secangkir kopihitam dan beberapa isapan rokokputih, serta pertanyaan tentang siapa yang kira-kira mengerti dengan apa yang saya ocehkan dalam tulisan di atas. Namun saya sebenarnya tidak terlalu peduli mengenai siapa yang bakal mengerti dan/atau tidak mengerti, sebab yang paling penting adalah bahwa ada belenggu yang terlepas dan kepuasan tersendiri ketika saya mulai bercerita tentang kerumitan sepakbola yang memang tidak bakal pernah berdiam diri dalam kodratnya.

Ah, sudahlah. Selamat malam kopi, rokok, dan matahari. Semoga Mélanie Laurent dengan segala keindahannya, anarki dengan segala keidealannya, dan kamu dengan segala kebahagiaanmu selalu panjang umur! (Dan bapakmu yang menyebalkan itu segera dikubur.)

Tabik. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s