No refs, no masters!: “sepakbola kiri” di tanah kelahiran kapitalisme

If I can’t dance (and play football), it’s not my revolution! A revolution without dancing (and playing football) is not a revolution worth having.

JIKA berbicara tentang sepakbola, nama Amerika Serikat nyaris tidak bakal pernah disinggung. Karena sejatinya tidak ada yang benar-benar istimewa dari kehidupan sepakbola Amerika Serikat. Namun, ternyata, di balik mediokritas dan banalitas sepakbola Amerika Serikat itu tersimpan satu fakta yang bisa dikatakan menarik dan seksi, atau, mungkin, ironis: di negerinya Alex Morgan dan Anna Kendrick itu sepakbola dijadikan alat perjuangan anti-kapitalisme.

Hal ini cukup seksi sekaligus ironis sebab “sepakbola kiri” yang dimainkan dengan cara tidak lazim — sekaligus sebagai media perlawanan — malah berkembang cukup pesat di sebuah tempat yang melahirkan sistem jahanam bernama kapitalisme, alih-alih di negara yang mendaku diri berjalan di atas prinsip-prinsip ideologi berhaluan kiri yang, katanya, menentang kapitalisme. Para aktivis kiri Amerika Serikat mulai menggunakan sepakbola sebagai salah satu alat untuk melawan kapitalisme pada tahun 1998 silam. Pada tahun itu para pemikir anarkis di Washington DC membentuk Anarchist Soccer League (ASL) dan rutin mengadakan pertandingan setiap hari Minggu jam dua siang di taman Fort Reno Park. Pada bulan April 2000, ASL mengirimkan surat tantangan bermain sepakbola kepada World Bank dan International Monetary Fund (IMF) dalam sebuah pertandingan yang bertajuk Free Love vs. Free Trade:

Dear Heads of The World Bank and IMF,

We in the Anarchist Soccer League cordially invite you to take part in a soccer match at 6:30 a.m. on the morning of April 16th. This match will have stakes, though, if we win, you have to cancel the entire Third World Debt and if you win we will not protest your existence until Prague in September. We think that these stakes are reasonable and see no reason why our offer will be refused. I hope that you understand that failure to show up for the game will result in forfeit, which means that we win and you must cancel the debt.

Thank you very much and see you on the pitch,
— The Anarchist Soccer League.

Namun babi dan anjing (World Bank dan IMF) yang memelihara sistem laknat kapitalisme itu tidak menanggapi tantangan dari ASL, dan para jahanam itu, tentu saja, tidak mengabulkan tuntutan ASL untuk membatalkan utang dunia. Sejak saat itu, sepakbola menjadi semacam “permainan wajib” di kalangan para anarkis dan aktivis kiri Amerika Serikat ketika melangsungkan protes anti-perang dan anti-kapitalisme. Ting-a-ling haram jadah!

Sifat alami dari permainan (sepakbola) ini memungkinkan orang-orang dengan tingkat keterampilan dan kemampuan yang berbeda untuk bermain pada waktu dan tempat yang sama,” ujar salah satu pemain dari klub sepakbola anarkis, Detroit Riot FC, bernama Paul Royal dilansir oleh The Guardian. “Hal ini penting sebab kami mencoba untuk menjadi inklusif dan penuh kasih sayang dalam keyakinan politik kami. Serta tidak ada cara yang lebih baik dan menyenangkan ketimbang mengadakan sebuah pertandingan sepakbola untuk memblokir jalanan selama aksi demonstrasi berlangsung.

Di daerah timur laut Amerika Serikat, tepatnya di Cape Cod, Massachusetts, para aktivis komunis membentuk sebuah liga sepakbola yang diberi nama Socialist Saturday Morning Sandy Pond Soccer League (S.S.M.S.P.S.L) yang dimainkan di dalam ruangan dan melibatkan klub-klub sepakbola dari para skinhead dan punkrocker seperti SPAR (Skins and Punks Against Racism) dan RASH (Red Action Skinheads). Kelompok yang menyebut diri mereka sendiri dengan “para hippies yang malas dan bau busuk” di Portland sering mengadakan sebuah turnamen sepakbola yang melibatkan pengangguran, gelandangan, dan kelas lain yang termarjinalkan dalam struktur hierarki sosial masyarakat hari ini. Setiap hari Minggu para anarko-komunis di New York rutin mengadakan pertandingan “sepakbola kiri” yang mengambil tempat di Tompkins Square Park. Sementara di Baltimore, ada sebuah tim sepakbola yang didirikan oleh para anarkis-feminis dengan nama Charm City Cunt Punchers (CCCP FC).

Sebagai bagian dalam acara Matches and Mayhem, sebuah ritual tahunan untuk mengenang peristiwa Haymarket affair, para anarkis di Chicago — yang telah memiliki tim “sepakbola kiri” bernama Arsenal sejak tahun 2001 — juga sering menggelar turnamen sepakbola yang diberi nama Haymarket Memorial Soccer Tournament. Turnamen sepakbola ini diikuti oleh tim sepakbola dari kolektif-kolektif anarkis yang tersebar di seluruh penjuru Amerika Serikat, namun mereka juga tidak melarang jika ada tim sepakbola dari kolektif anarkis di luar Amerika Serikat yang ingin ambil bagian dalam turnamen ini.

Di San Francisco ada dua tim yang sudah dibentuk sejak tahun 2002 (Left Wing Football Club yang menganut ideologi komunisme dan Kronstadt Football Club yang berlandaskan anarki) dan sempat beberapa kali bertanding dalam turnamen BADASS (Bay Area Direct Action Soccer Series) yang merupakan bagian dari acara tahunan konferensi anarkis BASTARD (Berkeley Anarchist Students of Theory and Research & Development). Ketika bertanding, keduanya mampu menunjukkan performa yang cukup apik dan pemahaman yang baik dari segi taktik sepakbola. Sementara tampilan mereka ketika berada di atas lapangan hijau juga terkesan menyenangkan dengan ciri khas masing-masing: tim anarkis, Kronstadt FC, mengenakan jersey serbahitam dengan lambang Circle A, bola, dan bintang hitam tercetak di tengah-tengah jersey mereka; sementara Left Wing FC, tim komunis, tampil dengan jersey berwarna merah mengilat serta terdapat logo kepalan tangan dan bintang merah — bahkan mereka juga menyertakan nomor punggung di jersey tersebut; kedua tim juga menikmati pertandingan sepakbola sebagai permainan yang menggembirakan dan membebaskan. Saat turun-minum babak pertama, kelompok grup musik bernama Brass Liberation Orchestra biasanya bakal tampil membawakan beberapa lagu sementara para pemain dan fans ber-pogo-ria, serta kelompok pemandu sorak dengan pakaian serbahitam melambaikan pompom yang terbuat dari karung sampah dan meneriakkan “Give me an A! A! A! A for Anarchy!” Intinya adalah bersenang-senang!

Pertandingan pertama antara Left Wing FC dan Kronstadt FC pada tahun 2004 dihentikan dan dibubarkan oleh polisi karena beberapa fans dianggap telah membikin keributan dengan berlarian sembari mengibarkan bendera hitam berukuran superbesar dan meneriakkan “Agitate! Agitate! Agitate! Score a goal and smash the state!”. Dua tahun kemudian, pertandingan yang mempertemukan kedua tim di turnamen yang sama juga kembali dibubarkan oleh polisi, kali ini dengan alasan bahwa pertandingan tersebut tidak memiliki izin penyelenggaraan acara dari otoritas lokal.

If you put all the players from both teams together,” Nisha Anand, salah satu anggota dari San Francisco Women Against Rape (SFWAR) yang juga menjadi pemain dalam tim Kronstadt FC, memberikan keterangan, saya kutip dari Catalyst Project, “you have representatives from a lot of great radical social justice organizations, non-profits, and collectives in the Bay Area (examples being… Active Solidarity Collective, AK Press, Challenging White Supremacy workshops, RACE, Freedom Uprising, SOUL, POWER, Just Cause Oakland, ASATA, Underground Railroad, Code Purple AG, Direct Action to Stop the War, Legal Support to Stop the War, SFWAR, Heads Up Collective, Global Intifada, La Pena, SF Day Laborers, Campaign for Renters Rights, the Childcare Collective etc…). That is incredibly powerful stuff! Since moving to the Bay Area 2 years ago, I’ve had the opportunity to organize with folks from both the anarchist and communist teams.  The right-wing attack is so huge right now and I am glad that, even though we are competing on the field, I know that folks from both teams got my back in the struggle.

Pada tahun 2003 di Duluth, Minnesota, para komunis dan anarkis di sana membentuk sebuah liga sepakbola amatir bernama Commie Soccer League (CSL) yang dijalankan dengan prinsip dan ide konsensus. Maksud saya — aturan pertandingan yang digunakan di setiap pertandingan CSL bakal didiskusikan terlebih dahulu oleh kedua tim yang akan bertanding dengan sefleksibel mungkin hingga tercipta win win solutions and rules. Jika kedua tim yang bakal bertanding menyepakati untuk meniadakan aturan throw-in, offside, atau handball, misalnya, maka pertandingan pun bakal dimainkan dengan aturan seperti itu. Namun jika aturan itu pada akhirnya dirasa terlalu memberatkan dan kurang asyik, maka pertandingan bisa dihentikan dalam tenggat waktu tertentu untuk kembali mendiskusikan segalanya. Dan bisa dipastikan bahwa setiap pertandingan di CSL bakal berlangsung dengan aturan yang terus berubah dan tidak kaku tiap pekannya. Menyenangkan, bukan?

Memang terkesan mengejutkan (dan juga ironis) setelah mengetahui bahwa “sepakbola kiri” yang anti-kapitalisme justru tumbuh dan berkembang cukup pesat di Amerika Serikat, sebuah negeri yang telah melahirkan, membesarkan, dan merawat sistem ngehek itu dengan penuh cinta kasih. Hal ini menjadi semacam bukti bahwa tanpa ironi, maka bisa dipastikan tidak bakal ada suatu hal yang betul-betul luar biasa. Dan juga, sepakbola memang tidak bisa dilepaskan dari politik — dia bakal terus menjadi alat politik, baik itu kiri maupun kanan.

Ting-a-ling, haram jadah! []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s