Jean-Pierre Adams: pesepakbola yang terjebak dalam kondisi vegetatif selama lebih dari 30 tahun

PADA tanggal 17 Maret 1982 silam, mantan pemain timnas Prancis, Jean-Pierre Adams (pada saat itu berusia 34 tahun), dirawat di rumah sakit Lyon untuk menjalani operasi lutut. Adams diberi obat bius yang seharusnya membikinnya tertidur selama beberapa jam, namun hingga sekarang — lebih dari 30 tahun — dia masih belum terbangun. Adams merupakan sosok yang sangat dihormati oleh publik Prancis dan menjadi pelopor bagi para pesepakbola Prancis-Afrika. Adams mengoleksi 22 caps bersama timnas Prancis, jumlah yang mampu melampaui pencapaian pesepakbola macam David Ginola, Just Fontaine, dan Ludovic Giuly. Adams juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan murah senyum.

Adams dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1948 di Kota Dakar, Senegal. Sepakbola bukanlah hal yang asing dalam keluarga Adams. Pamannya, Alexandre Diadhiou, adalah seorang pemain sepakbola profesional yang saat itu bermain untuk klub terkenal di Senegal, ASC Jeanne d’Arc. Meski begitu, pendidikan merupakan prioritas utama bagi keluarga Adams; dia tidak diizinkan untuk bermain sepakbola kecuali mendapatkan nilai bagus di sekolahnya. Dengan pemikiran seperti itu, Adams kemudian dikirim untuk melanjutkan sekolahnya di Prancis, di mana dia akhirnya diadopsi oleh keluarga Jourdain di Loiret, sebuah distrik di selatan Kota Paris.

Sepakbola terbukti menjadi suatu hal yang vital dalam kehidupan Adams. Hal ini membawa Adams memasuki sebuah lingkungan — yang pada saat itu masih didominasi oleh masyarakat kulit putih — di mana dia memperoleh penghormatan karena kecakapan fisik dan kepribadiannya yang menarik. Adams menjadi populer di sekolahnya, Saint-Louis de Montargis, dan mendapat nama julukan White Wolf. Di luar lapangan, Adams menyelesaikan pendidikan awal (setara SMA) namun memilih untuk tidak melanjutkan kursus belajar karena tidak menarik baginya. Adams kemudian bekerja di salah satu pabrik produsen karet lokal di Montargis sembari memulai karier sepakbolanya di sana. Namun Adams sempat mengalami cedera lutut yang serius dan mengancam mimpinya untuk menjadi pemain sepakbola profesional.

Nasib malang masih terus mengikuti Adams setelah memutuskan untuk pindah ke RC Fontainebleau. Adams mengalami kecelakaan mobil dan menderita luka yang cukup serius, sementara temannya, Guy Beaudot, tewas seketika di tempat kejadian. Karena kecelakaan ini, hasrat dan mimpi Adams untuk menjadi pemain sepakbola profesional mulai luntur. Namun, wajib militer menjadi titik balik bagi Adams. Militer mengembalikan kondisi fisik Adams dan membikin bakatnya dalam mengolah bola mulai diakui di lingkup yang lebih luas. Adams terpilih dalam skuad sepakbola militer yang kemudian membuka jalan baginya untuk bergabung dengan klub Nîmes Olympique.

Keinginan Adams untuk menjadi pesepakbola profesional sempat terganggu oleh rencana perkawinannya dengan Bernadette karena calon ibu mertua menolak memberikan restu jika anaknya harus kawin dengan lelaki muda keturunan Afrika, meski pada akhirnya hati sang calon ibu mertua luluh dan perkawinan pun terjadi.

Adams menapaki karier sepakbolanya secara bertahap yakni dimulai dari level amatir hingga menjadi salah satu pemain idola publik Prancis. RC Fontainebleau, yang saat itu menjadi klub tersukses di liga amatir Prancis, menjadi pijakan pertama Adams. Bersama Adams, RC Fontainebleau mengalami masa-masa sukses di mana mereka mampu meraih dua gelar Championnat de France Amateurs (1968 dan 1969) dan pada tahun 1970 berhasil promosi ke Divisi 2 Liga Prancis. Berkat penampilan impresif bersama RC Fontainebleau, serta rekomendasi dari pihak militer, Kader Firoud (pelatih Nîmes Olympique) menawari Adams untuk melakukan ujicoba di klubnya. Adams, ditemani istrinya, melakukan perjalanan ke Prancis Utara dengan tekad untuk membuktikan bahwa kemampuannya layak diganjar dengan kontrak profesional.

Firoud menjadi salah satu pengaruh paling penting dalam karier Adams. Firoud adalah seorang motivator hebat yang memiliki metode pelatihan ortodoks, namun metode tersebut sangat efektif. Pada tahun 1971, Firoud mendapat penghargaan France Football’s Coach of the Year. Firoud menempatkan Adams dalam “peran no. 4”, dan setelah melakoni debut melawan Stade de Reims pada bulan September 1970, Adams menjadi pemain di skuad reguler Nîmes Olympique.

Adams menjadi pemain penting di lini belakang Nîmes Olympique yang pada saat itu merupakan salah satu klub elite di sepakbola Prancis. Adams membantu Nîmes Olympique lolos ke Piala UEFA untuk pertama kalinya dan mencetak gol ketika mengalahkan klub asal Portugal, Vitória FC, di leg kedua First Round dengan skor 2-1 (agg. 2-2). Meski begitu, Nîmes Olympique gagal lolos ke babak berikutnya karena aturan away-goal.

Pada musim keduanya, Adams mampu membawa Nîmes Olympique finis di peringkat kedua Ligue 1 Prancis di bawah Olympique de Marseille. Dan pada musim ketiga yang sekaligus menjadi musim terakhirnya, Adams hanya mampu membawa Nîmes Olympique finis di urutan ketujuh. Meski begitu, penampilan Adams mendapat banyak pujian, salah satunya dari striker sekaligus kapten timnas Argentina yang pada saat itu membela FC Nantes, Ángel Marcos. “Dalam pertahanan kasar Nîmes, ada pilar, semacam kekuatan alam, seorang raksasa dengan kekuatan atletik yang luar biasa: Jean-Pierre Adams,” ujar Marcos, seperti yang dilansir oleh Goal. “Saya selalu takut ketika menghadapinya.

Pada musim 1973/74, Adams yang sedang berada di puncak kariernya hengkang ke OGC Nice yang menjadi runner-up Ligue 1 Prancis 1972/73. Perjalanan karier Adams di Côte d’Azur dimulai ketika dia membantu OGC Nice mengalahkan Barcelona dengan skor 3-2 di ajang Piala UEFA. Namun petualangan OGC Nice di Piala UEFA harus terhenti di Third Round setelah kalah dari 1. FC Köln dengan agregat 1-4, di mana Adams harus absen karena kartu merah yang didapatnya saat menghadapi Fenerbahçe SK pada Second Round. Di kompetisi lokal, OGC Nice mengakhiri musim di peringkat kelima. Kegagalan ini membikin Jean Snella dipecat dari kursi kepelatihan OGC Nice.

Pengganti Snella, Vlatko Markovic, adalah sosok yang tidak begitu populer di kalangan fans OGC Nice karena Markovic menerapkan gaya permainan yang tidak menghibur dan sangat membosankan. Meski begitu, Adams tetap mampu menampilkan permainan impresif dan konsisten yang membikin namanya masuk dalam Starting XI France Football’s team of the season.

Adams melakoni debutnya di timnas Prancis pada tahun 1972 ketika dirinya terpilih dalam skuad yang mengikuti Taça Independência, sebuah kompetisi yang diselenggarakan untuk merayakan 150 tahun kemerdekaan Brasil dari penjajahan Portugal. Adams masuk sebagai pemain pengganti dalam pertandingan melawan Africa Selection menggantikan Marius Trésor — pada tahun-tahun berikutnya, duet Adams-Trésor menjadi pasangan yang tidak tergantikan di lini belakang timnas Prancis dan mendapat julukan La Garde Noire atau The Black Guard. Lima hari usai pertandingan melawan Africa Selection, Adams melakoni debutnya sebagai starting line-up timnas Prancis melawan Kolombia. Sekali lagi, cedera memiliki dampak buruk bagi Adams. Pada tahun 1975, Adams harus menepi dan membikinnya pensiun dari timnas Prancis.

Pada tahun 1977, Adams kembali ke utara, tepatnya ke Kota Paris. Daniel Hechter, yang pada saat itu menjabat sebagai presiden klub, berhasil meyakinkan Adams untuk hengkang ke Paris Saint-Germain FC. Hechter adalah seorang pengusaha yang sangat cerdik dan memiliki peran penting di awal-awal pertumbuhan klub yang mampu mengangkat PSG dari level amatir hingga menyalip Paris FC yang notabene adalah kekuatan utama dalam sepakbola Kota Paris pada waktu itu. Namun Adams tidak mampu menampilkan permainan impresif selama membela PSG dan hanya bertahan selama dua tahun. Adams kemudian bergabung dengan FC Mulhouse selama satu tahun (1979-1980) sebelum akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu dan melanjutkan kariernya sebagai pelatih.

Adams mengambil tahap pertama gelar kepelatihannya di Kota Dijon yang berarti mengharuskannya untuk mengikuti kursus selama sepekan penuh di Bourguignon pada musim semi 1982. Pada hari ketiga kursus, Adams mengalami masalah lutut dan keesokan harinya dia melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Kota Lyon. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan yang cukup serius pada tendon di belakang lutut Adams. Para dokter pun menyarankan untuk melakukan operasi lutut. Adams menyetujui untuk mengoperasi lututnya pada tanggal 17 Maret 1982.

Semuanya baik-baik saja, saya dalam kondisi yang sangat baik,” merupakan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Adams kepada Bernadette saat akan menjalani operasi lutut pada hari itu. Telah terjadi kesalahan dalam dosis obat bius yang diterima oleh Adams, yang diperburuk dengan fakta bahwa obat bius yang digunakan pada saat itu termasuk jenis yang bermasalah. Adams pun mengalami koma usai operasi lutut tersebut. Bernadette mendampingi Adams di samping tempat tidurnya selama lima hari lima malam mengharapkan adanya perubahan dan keajaiban sementara kedua anaknya, Laurent dan Frédéric, berada di rumah orangtua Bernadette.

Pada bulan November 1982, Adams dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Kota Chalon. Bernadette terus mendampingi Adams dengan harapan suaminya bakal tersadar suatu hari nanti. Ketika rumah sakit memutuskan untuk tidak bisa lagi merawat Adams, Bernadette membawa suaminya pulang ke rumah.

Bernadette memiliki rumah yang khusus dibangun untuk Adams yang diberi nama Mas du bel athléte dormant atau The House of the Beautiful Sleeping Athlete. Perjuangan Bernadette mendapatkan pinjaman untuk membangun rumah tersebut tidaklah mudah dikarenakan dia dihadapkan dengan buruknya kondisi keuangan yang dia miliki. Bantuan finansial datang dari berbagai pihak. Nîmes Olympique dan PSG memberikan bantuan sebesar 15.000F, sementara FFF (Federasi Sepakbola Prancis) memberikan kontribusi awal sebesar 25.000F pada bulan Desember 1982 dan 6.000F setiap minggunya. Selain itu, The Variétés Club de France, sebuah organisasi amal yang didukung oleh bintang-bintang sepakbola Prancis seperti Jean-Pierre Papin, Michel Platini, dan Zinedine Zidane, bersama dengan beberapa pesepakbola Prancis lainnya mengadakan pertandingan amal untuk menghormati Adams.

Berbagai media di Prancis juga terus menghidupkan memori Adams melalui publikasi-publikasi yang mereka sebarkan. Salah satunya datang dari seorang jurnalis kenamaan Prancis, Victor Sinet. “Dia (Adams) adalah prototipe dari midfielder modern,” tulis Sinet. “Dia memiliki mobilitas yang luar biasa seakan dia bisa berada di mana saja ketika bermain, dan kemampuannya dalam membantu penyerangan sama baiknya dengan kemampuannya dalam bertahan.

Sementara itu, pengadilan di Prancis dinilai sangat lamban dalam menangani kasus operasi lutut Adams tersebut. Pierre Huth, mantan dokter Adams di PSG, memimpin kasus ini selama tujuh tahun sebelum akhirnya Seventh Chamber of Correctional Tribunal di Lyon menyatakan bahwa dokter yang mengoperasi lutut Adams bersalah.

Kehidupan masih terus berlanjut bagi Bernadette dan Adams. Bernadette yang merawat Adams setiap hari dengan penuh kesabaran dan harapan mengatakan bahwa beberapa bagian tubuh suaminya masih memiliki fungsi kognitif. “Jean-Pierre dapat merasakan sentuhan, mendengar, kaget ketika ada anjing menyalak,” ujar Bernadette ketika diwawancara oleh The Guardian pada tahun 2007 silam. “Namun dia tidak bisa melihat.

Dalam sebuah wawancara dengan Midi Libre pada tahun 2012, Bernadette mengatakan bahwa dia bakal terus mencintai Adams dan akan selalu ada di samping suaminya. “Saya merasa bahwa waktu telah berhenti pada 17 Maret 1982,” ujar Bernadette. “Tidak ada perubahan sama sekali, entah itu baik atau buruk. Meski dia (Adams) tidak lagi membutuhkan alat bantu pernapasan, dia tetap dalam keadaan vegetatif. Tahun lalu, kami bertemu seorang ahli saraf yang memiliki spesialisasi cedera otak dari Carémeau (rumah sakit di Kota Nîmes) melalui kerabat kami. Dia melakukan beberapa macam tes dan pemeriksaan di rumah sakit, dan mengonfirmasikan adanya kerusakan yang sangat signifikan.

Bernadette juga menolak untuk melakukan prosedur eutanasia dan menyatakan dengan tegas bahwa hal itu bukanlah sebuah pilihan yang ada di dalam benaknya. “Hal itu (eutanasia) tidak pernah terpikirkan!” Bernadette menegaskan, dilansir oleh The Guardian. “Dia tidak bisa berbicara. Dan bukan saya yang akan memutuskan hal itu untuknya.

Dunia mengalami perubahan. Namun Adams akan selalu diingat sebagai seorang pioner dalam sepakbola Prancis, di mana perjuangannya bakal terus menjadi inspirasi bagi banyak orang sampai kapan pun.

Vivre sans temps mort, Jean-Pierre Adams! []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s