Emansipasi di atas lapangan hijau

emansipasi/eman·si·pa·si/ /émansipasi/ n (1) pembebasan dari perbudakan; (2) persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). emansipasi wanita: proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju
— Kamus Besar Bahasa Indonesia

KUTIPAN di atas merupakan arti kata “emansipasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang saya copy-paste langsung dari KBBI Daring. Dua arti dari kata “emansipasi” tersebut memberikan nyawa terhadap perjuangan kesetaraan hak, tidak hanya di Indonesia saja, melainkan di seluruh dunia. “Emansipasi” semakin menarik ketika disandingkan dengan kata “perempuan” di sebelahnya. Sebab sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa relasi mesra antara budaya patriarki dengan sikap misoginis telah (dan masih) menjadi persoalan laten di dalam semua elemen kehidupan bagi kaum perempuan di seluruh dunia.

Perjuangan yang dilakukan oleh Raden Adjeng Kartini di akhir abad ke-19 merupakan satu hal yang selalu dijadikan contoh ketika membincangkan tentang “persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat” di Indonesia, perihal memperjuangkan kesetaraan hak bagi kaum perempuan dan lelaki di setiap sendi kehidupan sosial. Sudah menjadi stereotip umum pada zaman feodal-patriarkis di mana Kartini masih hidup bahwa, dalam struktur hierarki masyarakat patriarki, kaum perempuan “cuma” menjadi “konco wingking” atau pelengkap bagi kaum lelaki. Kaum perempuan pada masa itu “hanya” dibebani kewajiban domestik rumah tangga seperti memasak, hamil-melahirkan-merawat anak-anaknya, dan bersih-bersih rumah.

Kemudian Kartini muncul menggelorakan semangat emansipasi untuk melawan belenggu dan memperjuangkan penghapusan stereotip tersebut. Bahwa kaum perempuan berhak lepas dari isu domestik, lepas dari segala doktrin dan dogma agama yang merugikan, dan lepas dari kungkugan budaya feodal-patriarki. Bahwa kaum perempuan juga berhak mendapatkan kesetaraan hak dan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi individu bebas merdeka. Perjuangan emansipasi perempuan bukan melulu tentang kesetaraan, melainkan juga upaya untuk mendapatkan kebebasan. Kaum perempuan bisa dan berhak menentukan sikap dan menuliskan takdir mereka sendiri layaknya kaum lelaki.

Oleh sebab itu, kaum perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum lelaki untuk bermain sepakbola, gulat, balap mobil, dan lain sebagainya. Saya yakin bahwa tidak ada satu pun cabang olahraga yang terlalu maskulin dan “terlampau berat” untuk dimainkan oleh kaum perempuan. Dan di dalam sepakbola, khususnya, perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan masih bisa dibilang cukup sulit.

Emansipasi kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan di bidang sepakbola telah dilakukan sejak akhir abad 19. Pada tahun 1894, seorang perempuan bernama Nettie Honeyball (nama samaran dari Mary Hutson), yang dibantu temannya bernama Florence Dixie, menyebar iklan di media-media Inggris yang berhasil mengajak sekitar 30 perempuan kelas menengah untuk bergabung dalam tim sepakbola British Ladies Football Club (BLFC). Honeyball, yang pada waktu itu adalah seorang pengacara dan pejuang hak-hak perempuan, menjadikan BLFC sebagai sarana untuk menyuarakan kesetaraan hak antara perempuan dan lelaki.

Ketika membincangkan perihal emansipasi dan feminisme di atas lapangan hijau, batok kepala saya selalu mengingat satu nama — dengan segala kontroversinya — yang menjadi martir dalam dunia sepakbola perempuan: Lily Parr. Pada masa ketika kaum perempuan Inggris dilarang bermain sepakbola oleh Federasi Sepakbola Inggris (FA), Parr dan rekan-rekannya merespons dengan mendirikan Federasi Sepakbola Perempuan Inggris (ELFA: English Ladies’ Football Association). ELFA kemudian membikin dan menetapkan aturan-aturan sepakbola sendiri di luar ketetapan FA, dan pada musim semi 1922 menggelar ELFA Cup pertama yang diikuti oleh 24 tim sepakbola perempuan di Inggris. Pembentukan ELFA merupakan suatu tindakan yang tidak hanya melecehkan FA beserta aturannya, melainkan juga mempersetankan seluruh kaum konservatif moralis Inggris (dan dunia) yang membenci dan melarang kaum perempuan untuk bermain sepakbola.

Lantas kemudian apa salah satu isu penting yang kerap diangkat ketika membicarakan kesetaraan bagi kaum perempuan dan lelaki? Kesetaraan di bidang ekonomi — mulai dari gaji atau jumlah bayaran, tunjangan, sampai bonus yang diterima seorang perempuan dalam pekerjaannya. Dan karena tulisan ini berbicara dalam konteks sepakbola, maka hal yang saya maksud adalah kontrak dan gaji yang diterima oleh kaum perempuan sebagai pesepakbola profesional. Jika Zlatan Ibrahimović yang tidak pernah menjuarai Piala Dunia menerima bayaran sebesar £260.000 per pekannya, menurutmu berapa gaji yang layak untuk Alex Morgan dan Carli Lloyd yang meraih titel juara dunia pada tahun 2015 kemarin?

Pada bulan Maret 2016, lima pesepakbola timnas perempuan Amerika Serikat — Hope Solo, Becky Sauerbrunn, Megan Rapinoe, Morgan, dan Lloyd — mewakili rekan-rekannya di timnas mengajukan tuntutan kepada Federasi Sepakbola Amerika Serikat mengenai kesetaraan gaji yang mereka terima dengan bayaran yang diterima oleh timnas lelaki Amerika Serikat.

Alex Morgan, Hope Solo, Megan Rapinoe, Carli Lloyd, dan Becky Sauerbrunn dengan slogan “Equal Play Equal Pay” menuntut kesetaraan gaji untuk pesepakbola perempuan. (gambar: “The New York Times”)

Jika dibandingkan dengan timnas lelaki Amerika Serikat yang masih belum mampu meraih prestasi gemilang di gemerlapnya panggung sepakbola dunia, kesuksesan demi kesuksesan yang diraih oleh timnas perempuan Amerika Serikat dalam membentuk hegemoni di persepakbolaan dunia saya rasa patut dan layak mendapat ganjaran yang setimpal berupa besaran gaji dan bonus yang setara dengan apa-apa yang diterima oleh timnas lelakinya. Tuntutan yang diajukan oleh Solo, Sauerbunn, Rapinoe, Morgan, dan Lloyd pada tahun kemarin menjadi momen yang tepat mengingat mereka telah bersusah-payah menjuarai Piala Dunia 2015 dan Federasi Sepakbola Amerika Serikat enggan memberikan bonus dan bayaran yang setimpal dengan kerjakeras mereka dalam membawa pulang trofi piala dunia ke Amerika Serikat.

Persoalan macam ini masih menjadi isu pokok yang susah dijelaskan dan belum mampu ditemukan titik terangnya. FIFA, salah satu organisasi olahraga yang paling menguntungkan di dunia dengan pendapatan mencapai $6 miliar per tahunnya, masih menganggap bahwa kesetaraan gaji antara pesepakbola perempuan dan lelaki adalah lelucon yang tidak perlu ditanggapi dengan serius. “That’s not even a question I will answer because it is nonsense,” ujar mantan Sekjen FIFA, Jérôme Valcke, pada tahun 2014 yang saya kutip dari The Huffington Post. “We are still another 23 World Cups before potentially women should receive the same amount as men.” Jika yang dikatakan oleh Valcke itu dijadikan acuan, maka pesepakbola perempuan harus menunggu setidaknya sampai tahun 2107 untuk mendapatkan kesetaraan gaji dan bonus di bidang sepakbola. Dan ketika saat itu tiba, sepakbola mungkin saja telah dimainkan oleh makhluk hibrida perpaduan robot, manusia, dan lumut di sisi bulan yang paling gelap.

Selain itu semua, kaum perempuan saat ini masih sulit untuk melepaskan diri dari isu seksisme. Seringkali kaum perempuan cuma dinilai dari keseksian fisik dan kecantikan parasnya saja. Berbagai macam pemberitaan kerap menyoroti bagaimana keseksian dan kecantikan perempuan lebih dikedepankan tanpa peduli dengan sisi individu seorang perempuan. Media, baik itu televisi atau cetak, online atau offline, seringkali menyajikan tayangan dan kabar yang menjadikan keseksian tubuh dan paras rupawan seorang perempuan sebagai porsi utama, sementara prestasi atau bakat lain cuma dianggap sebagai sekadar pelengkap.

Sepakbola sangat rentan dengan hal-hal semacam itu karena salah satu yang dianggap menjadi daya tarik dalam sepakbola perempuan adalah paras rupawan dan fisik yang aduhai. Solo dan Morgan, misalnya, yang menjadi bintang utama timnas perempuan Amerika Serikat ketika menjuarai Piala Dunia 2015 di Kanada, lebih dikenal karena keseksian tubuh dan kecantikan wajahnya. Mengagumi keseksian tubuh dan paras rupawan Solo dan Morgan bukanlah hal yang salah, namun dari sekian banyaknya penonton sepakbola perempuan kerap lupa untuk mengapresiasi sesuatu yang seharusnya menjadi fokus utama dalam menikmati pertandingan sepakbola perempuan: kemampuan dan keindahan olah bola para pesepakbola perempuan ketika berlaga di atas lapangan hijau.

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, pernah berujar dalam sebuah wawancara: “Biarkan para pemain (sepakbola) perempuan bermain dengan kostum yang lebih seksi seperti yang mereka kenakan di olahraga voli. Misalnya saja, mereka bisa memakai celana yang lebih pendek lagi.” Apa yang disampaikan Blatter pada tahun 2004 itu bisa dibilang sebagai sebuah upaya justifikasi bahwa para pesepakbola perempuan sebaiknya memakai jersey yang lebih seksi agar pertandingan sepakbola perempuan menjadi tontonan yang lebih segar dan menarik. Hal ini juga menjadi bukti pembenaran bahwa pada masanya dulu sepakbola perempuan menjadi tontonan yang seru dan menarik berdasarkan seberapa seksi dan ketatnya jersey yang mereka pakai saat berlaga di atas lapangan hijau ketimbang seberapa keren, hebat, dan briliannya kemampuan olah bola para pesepakbola perempuan.

Sialnya, persoalan ini masih ada sampai saat ini dan sepertinya bakal terus ada sampai masa-masa mendatang. Sudahkah kita — para lelaki jahanam — mampu melihat dan mengapresiasi Alex Morgan bukan hanya karena terpikat paras rupawan dan bentuk tubuhnya yang aduhai, melainkan murni sebagai pesepakbola brilian setara dengan Lionel Messi? Adalah hal yang sangat menyebalkan dan menggelikan ketika saya masih mendapati fakta bahwa para lelaki yang mengaku sebagai fans sejati dan katanya mencintai sepakbola tanpa syarat kerap mencibir kaum perempuan yang dianggap cuma bisa mengapresiasi ketampanan dan tubuh atletis Cristiano Ronaldo atau betapa gagahnya seorang Gianluigi Buffon atau sungguh imut dan menggemaskannya Paulo Dybala, namun melakukan hal yang sama dalam menikmati tontonan sepakbola perempuan.

Tentang perdebatan kostum pesepakbola perempuan, saya jadi teringat dengan tim sepakbola perempuan BLFC yang dicibir karena memakai kostum tertutup saat memainkan pertandingan pertama mereka di Crouch End, London, pada 23 Maret 1895 silam. Para pemain dari BLFC pada saat itu memakai blus dengan celana kulot dan tulang betis mereka ditutupi dengan shinpads. Seratus tujuh belas tahun kemudian, pada putaran kedua kualifikasi Olimpiade 2012, FIFA melarang pesepakbola perempuan memakai hijab. FIFA bahkan sempat menjatuhkan sanksi kepada tim-tim sepakbola asal Timur Tengah karena para pemainnya menolak untuk melepas hijab.

Dalam tulisan berjudul I’m a Footballer Who Happens to Wear Hijab — I Didn’t Need FIFA to Tell Me That yang dipublikasi oleh The Huffington Post pada 6 Maret 2014, Shireen Ahmed menceritakan dengan sistematik dan apik apa yang dia alami dalam memperjuangkan kesetaraan dan keyakinannya. Tulisan Ahmed tersebut sangat substansial, menyentuh, dan memberikan kesan yang menarik. Ahmed adalah salah satu dari sekian banyak perempuan berhijab yang mendapatkan kesulitan untuk bermain sepakbola karena aturan resmi FIFA yang melarang semua pesepakbola memakai atribut pelindung kepala.

I was a footballer who wore hijab. Not a hijab-wearing woman who played football,” tulis Ahmed yang bermain sepakbola dan berhijab sejak tahun 1997. Perjuangannya agar bisa terus bermain sepakbola tanpa menanggalkan hijab terbayar 17 tahun kemudian. Pada tahun 2014, FIFA mengubah aturannya dan secara resmi membolehkan pesepakbola perempuan memakai penutup kepala sebagai salah satu atribut ketika bertanding di atas lapangan hijau. Ahmed dan para pesepakbola perempuan berhijab lainnya akhirnya bisa memainkan sepakbola dengan leluasa dan sukacita tanpa harus merasa berdosa karena terpaksa melepas hijab.

Apa-apa yang dialami Ahmed sudah seharusnya menjadi refleksi dan bahan kontemplasi bagi semua orang. Di berbagai aspek kehidupan, kaum perempuan sudah selayaknya berhak mengekspresikan diri mereka sebebas-bebasnya tanpa terkungkung doktrin, dogma, dan aturan yang ruwet. Tidak ada satu hal absolut di dunia ini yang boleh menghalangi akses kaum perempuan (atau siapa pun) dalam segala hal yang ingin mereka lakukan — entah itu bermain sepakbola, memasak, berkelahi, atau apa pun. Mengutip kalimat penutup dalam esai Ahmed: “Football is for all of us. It should always have been.

Untuk semua perempuan di Indonesia, khususnya Para Ibu Pejuang Kendeng: perlawanan dan perjuangan untuk kesetaraan hak hidup masih dan bakal terut berlanjut. Dan semua lelaki dengan segala potensi dan kesadaran sudah selayaknya untuk ikut ambil bagian secara terbuka dalam perjuangan ini. Demi sebuah dunia yang lebih ideal, lebih bebas, dan lebih membahagiakan ketimbang dunia tua hari ini, semua makhluk hidup harus mendapatkan kesetaraan di setiap aspek kehidupan.

Selamat Hari Kartini … dan Hari Bumi. []

Advertisements

2 Comments

  1. Hhh~ ketemu juga oasis. Saya abis baca tulisan soal emansipasi yg judgmental​ parah. Padahal si penulis juga gak well-informed. Baca dulu kek sebelom bacot, kesel saya… *malahcurhat* *terusmelipirpergi*

    Like

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s