Horor masa lalu Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos

4 JULI 2015, Chili berhasil mengakhiri penantian panjang untuk mengangkat trofi Copa América, kesabaran dan kerja keras yang dipupuk sekian lama telah membuahkan hasil yang bisa dibanggakan dan dikenang sejak turnamen sepakbola antarnegara tertua itu digelar pada tahun 1916 silam. Timnas Chili melakukannya dengan begitu romantis di dalam stadion nasional mereka di Kota Santiago yang terletak di Pegunugan Andes. Kemenangan di pertandingan final 2015 Copa América itu — dalam beberapa cara — mampu mengikis konotasi dari sebuah stadion sepakbola yang telah menjadi tempat berlangsungnya horor masa lalu. Bersamaan dengan aliran darah di nadinya ketika melangkah menuju titik 12 pas untuk mengeksekusi penalti keempat, Alexis Sánchez tidak hanya mengakhiri penantian panjang Chili selama 99 tahun untuk meraih trofi Copa América, melainkan juga menuliskan bab baru yang lebih damai, lebih cerah, dan lebih bahagia untuk Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos.

Apa yang terjadi pada dekade ‘70an di Chili jauh lebih mengerikan ketimbang tatapan sangar Gary Medel atau gaya rambut Arturo Vidal, dan lebih mengkhawatirkan daripada beredarnya buku-buku kiri yang menyebabkan maraknya pembakaran buku beberapa waktu lalu di Indonesia. Pada saat itu, atmosfer Perang Dingin menyelimuti seluruh kawasan Bumi karena wajah merah komunis Uni Soviet berseteru dengan perawakan dingin kapitalisme Amerika Serikat di wilayah perbatasan Chili. Salvador Allende adalah tokoh sosialis-marxis dan populer yang terpilih secara terbuka dalam Pilpres Chili pada tahun 1970, namun kedekatannya dengan pihak komunisme dianggap sebagai ancaman bagi kapitalisme. Didasari oleh paranoid berlebihan, Amerika Serikat berupaya untuk menggagalkan proses demokrasi di Chili. Hasilnya adalah sebuah kudeta yang dilakukan dengan kekerasan — dan didukung penuh oleh CIA — berhasil mencongkel Allende dari kursi kepresidenan. Setelahnya, Amerika Serikat mendukung rezim baru yang dipimpin oleh seorang diktator — yang seingat saya terinspirasi oleh kudeta Soeharto di Indonesia — bernama Jenderal Augusto Pinochet.

Rezim kediktatoran Pinochet mengumumkan rencana untuk “rekonstruksi nasional” dan mulai melarang partai politik sosialis, marxis, dan sayap-kiri lainnya, yang sebelumnya telah bahu-membahu membangun pemerintahan demokrasi Allende. Pelanggaran hak asasi manusia dijadikan sarana oleh Pinochet untuk menghilangkan oposisi politiknya agar dapat mempertahankan kekuasaan dan melawan ancaman komunisme. Allende, setelah menyadari kekalahannya dan menyerahkan kekuasaan ke tangan diktator, melakukan bunuh diri. Dalam bulan-bulan berikutnya, Chili melewati masa-masa kelam yang paling buruk dari rezim diktator junta militer yang berlangsung sampai tahun 1990. Ribuan orang yang dicurigai menentang rezim Pinochet menjadi desaparecidos: dipaksa menghilang dari negara tersebut. Berbagai macam teks, literatur, atau buku yang tidak sehaluan dengan politik Pinochet juga dihilangkan dengan cara dibakar.

Sepakbola juga berada di garis depan aturan brutal Pinochet. Pada saat itu, timnas Chili sedang bersiap melakoni pertandingan playoff melawan Uni Soviet agar bisa lolos ke putaran final Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Itu bukan sekadar pertandingan untuk memperebutkan satu jatah tiket ke Jerman Barat, melainkan ajang hidup-mati demi sebuah harga diri yang bercampur dengan urusan politik. Hubungan diplomasi antara Uni Soviet dan Chili sudah memburuk sejak Leonid Brezhnev mengurangi dukungan ekonomi untuk rezim Allende secara dramatis sebelum terjadinya kudeta berdarah pada tanggal 11 September 1973. Setelahnya, rezim Pinochet memutuskan semua hubungan diplomasi dengan Uni Soviet. Di tengah-tengah ketegangan itu, dan dengan kenaifan bahwa sepakbola adalah sesuatu yang netral dan apolitis, timnas Chili terbang ke Uni Soviet. Sementara kedua negara itu memainkan pertandingan leg pertama yang berakhir tanpa gol di Moskwa, kejadian di Chili jauh lebih sulit untuk disaksikan ketimbang pertandingan yang membosankan itu.

Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos, stadion sepakbola di mana para elite modern Chili menyaksikan Medel mengangkat trofi Copa América pada tahun 2015, diubah sedemikian rupa oleh Pinochet menjadi kamp konsentrasi untuk tahanan politik yang menentang rezimnya. Banyak yang diinterogasi, disiksa, untuk kemudian dibunuh di dalam tembok yang sama di mana legenda sepakbola Chili macam Elías Figueroa dan Carlos Caszely berhasil membikin penggemar sepakbola takjub dengan kemampuan bertahan yang kokoh dan teknik penyelesaian akhir yang sadis. Di balik gawang, di mana para penggemar sepakbola biasanya berbagi momen sukacita, berdiri ribuan orang tidak berdosa dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetaran akibat horor yang bakal mereka dapatkan. Di teras stadion ada ibu, ayah, saudara lelaki dan perempuan, tua dan muda, berdiri menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja akibat kediktatoran Pinochet.

Dengan ribuan orang yang kelaparan dan kurang tidur memenuhi teras-teras stadion Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos, proses interogasi yang terjadi di ruang ganti pemain, serta serangkaian horor lainnya yang berlangsung di luar dan di dalam stadion, Uni Soviet menolak untuk memainkan pertandingan leg kedua di Chili. Uni Soviet meminta FIFA untuk meninjau-ulang stadion — terlepas dari apakah ini merupakan sebuah upaya mulia untuk memprotes kekejaman rezim Pinochet, atau upaya propaganda komunis, atau ada maksud yang lain di baliknya. Secara (tidak) mengejutkan, FIFA meninjau-ulang Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos dengan mata tertutup terhadap horor yang sedang berlangsung, dan ini terjadi jauh sebelum FIFA dipimpin oleh badut konyol bernama Sepp Blatter. Rezim Pinochet menyembunyikan semua tahanan politik dan membungkam mulut mereka dengan todongan senjata. FIFA pun memutuskan bahwa pertandingan playoff leg kedua tetap digelar di Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos.

Pada 21 November 1973 hanya timnas Chili yang datang ke stadion karena Uni Soviet melakukan boikot. FIFA pun akhirnya mendiskualifikasi Uni Soviet, dan timnas Chili memainkan pertandingan sepakbola paling menyedihkan dan paling konyol dalam sejarah peradaban manusia: bertanding tanpa lawan, disaksikan oleh ribuan penonton (tahanan politik) yang kebingungan, dan mencetak beberapa gol ke gawang yang tidak dijaga.

Beberapa tahun kemudian, Caszely berbicara tentang pertandingan yang — sampai musim panas 2015 — menjadi salah satu pertandingan paling terkenal dalam sejarah sepakbola Chili itu ketika diwawancarai oleh Goalden Times: “That team did the most ridiculous thing in history. It was a worldwide embarrassment.” Caszely, yang membikin 29 gol dari 48 caps untuk timnas Chili, merupakan salah satu pendukung politik sayap-kiri Allende dan dengan lantang menentang kediktatoran rezim junta militer. Dalam wawancara yang sama, Caszely juga mengenang momen ketika bertemu langsung dengan Pinochet sebelum berangkat ke putaran final Piala Dunia 1974: “When we were all standing there the doors open and there comes a guy with a cape, dark glasses, and a hat. A cold shiver went down my back from seeing this Hitler-like looking thing, with five guys behind him. When he started coming closer I put my hand behind me and didn’t give it to him.” Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh Caszely pada saat itu merupakan keberanian yang coba ditunjukkan oleh seorang idealis. Namun bagi Pinochet, itu adalah sikap kurang ajar yang harus diganjar dengan hukuman. Olga Garrido, ibunda Caszely, kemudian ditangkap dan disiksa oleh rezim Pinochet akibat dari sikap protes Caszely tersebut.

Tidak ada sukacita bagi Caszely maupun negaranya dalam Piala Dunia 1974 sebab timnas Chili tersingkir tanpa memenangkan satu pertandingan pun. Situasi di Chili pun tidak membaik: puluhan ribu tahanan politik yang ada di Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos tetap dipaksa tunduk dan menghadapi horor dari interogasi, siksaan, dan eksekusi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Empat puluh dua tahun berlalu, pengalihan fungsi stadion menjadi kamp konsentrasi tahanan politik terus melekat di ingatan setiap warga Chili dan, saya yakin, menjadi kenangan yang menakutkan bagi orang-orang tua ketika memilih untuk datang ke Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos untuk mendukung timnas Chili bertanding melawan Argentina di final Copa América pada 4 Juli 2015. Namun kemenangan Vidal dkk. melalui drama adu penalti di pertandingan final tersebut sepertinya menjadi titik terang bagi rakyat Chili untuk sedikit demi sedikit membasuh horor kelam masa lalu yang pernah terjadi di stadion nasional bersejarah mereka.

Sepakbola punya candu luar biasa yang mampu membikin manusia melupakan ketakutan dan kengerian, meskipun cuma sesaat. Semoga saja tetap seperti itu… []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s