“Big Vase” yang (semoga) membasuh luka dan duka Manchester

JOSÉ Mourinho terlihat kebingungan mencari-cari seseorang ketika peluit akhir dibunyikan di Friends Arena. Final Liga Europa 2016/17 merupakan pertandingan penting dan punya arti yang luar biasa besar bagi Manchester United sampai-sampai empat pemain yang tidak bisa tampil — Luke Shaw, Marcos Rojo, Zlatan Ibrahimović, dan Eric Bertrand Bailly — langsung berlari ke tengah lapangan meluapkan sukacita saat pertandingan usai dengan tongkat kruk. Kemudian kamera TV kembali menyorot Mourinho yang kali ini bersama anak lelakinya, José Mário, Jr., merayakan kemenangan di tengah lapangan. Ini adalah adegan euforia yang bakal terus dikenang oleh siapa saja yang mencintai Manchester United setelah mereka melewati musim yang cukup panjang dan melelahkan, ditambah dengan tragedi bom yang mengguncang Kota Manchester beberapa hari sebelumnya. Mourinho bahkan terlihat mencium trofi Liga Europa dengan tulus saat momen pengalungan medali. Sementara Kang Wahyu Soketz — seorang Aremania yang juga mendukung Manchester United — terlihat puas, lega, dan bangga setelah dalam 90 menit waktu pertandingan terus-terusan mengumpat dan menyesalkan pilihan strategi tim kesayangannya saat kami menonton final ini di kantor.

Kemenangan ini melengkapi koleksi museum Manchester United dengan trofi yang belum pernah mereka menangi sebelumnya dan mengubah corak tentang bagaimana musim 2016/17 bakal dikenang. Mourinho telah memenangkan 12 dari 14 pertandingan final sebagai pelatih sepakbola dan memenangkan dua final dalam satu musim merupakan rekor yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang. Mourinho bahkan mengatakan kepada pemainnya agar tidak melupakan FA Community Shield dan menginstruksikan mereka untuk mengacungkan tiga jari sembari melompat dan berteriak kegirangan ketika menunggu penyerahan trofi “Big Vase”.

Kemenangan ini juga berarti bahwa Manchester United bakal kembali bertanding di Liga Champions Eropa musim depan namun, lebih dari segalanya, hal ini juga punya arti sebagai sebuah kesempatan untuk mempersembahkan hadiah untuk kota mereka yang baru-baru ini diserang horor mengerikan. Trauma dan luka Kota Manchester tidak bakal bisa disembuhkan oleh teriakan dan nyanyian yang keras dan menantang dari dalam stadion, bahkan satu-dua menit momen diam sebelum sepak-mula pertandingan seharusnya dilewati dengan keheningan yang khidmat untuk mengenang dan menghormati korban bom beberapa hari sebelumnya, bukan malah menjadi sebuah kesempatan lain untuk bertepuk-tangan dan bernyanyi. Meski begitu, dengan caranya sendiri, masih ada suatu hal yang sangat menyentuh, sekaligus menggugah, tentang chant yang diteriakkan oleh puluhan ribu penggemar sepakbola yang ada di Friends Arena saat momen diam tersebut untuk menghormati Kota Manchester. Mereka, secara serempak, bernyanyi: “Manchester, Manchester, Manchester…

Saya tidak menyiapkan ritual khusus apa pun menyambut final Liga Europa musim ini. Bahkan saya tidak menonton satu pertandingan pun dari “Liga Malam Jumat” itu: saya hanya mencari tahu hasil-hasil pertandingannya di laman online pada esok harinya. Saya tidak merasa punya kewajiban tertentu untuk melakukan persiapan spesial menyambut pertandingan final antara AFC Ajax melawan Manchester United. Satu hari sebelumnya saya mengajak Kang Wahyu untuk menonton bareng di kantor karena saya harus lembur pada malam dilangsungkannya final tersebut.

Hari Rabu siang menjelang sore, saya berangkat membudak ke kantor dengan perasaan biasa-biasa saja. Sisa hari itu hanya saya nikmati dengan fokus untuk menyelesaikan tugas kerja sembari mendengarkan daftarputar pilihan dan browsing mencari unduhan film yang pengin saya tonton dengan kondisi tubuh yang sedikit kedinginan. Saya juga tidak mencari tahu tentang data dan fakta final Liga Europa kali ini, saya sengaja menjauh dari ingar-bingar media-sosial yang sudah terlalu ramai dan terlampau banal. Yang saya tahu cuma fakta bahwa dua hari sebelum pertandingan final ini digelar, Kota Manchester diguncang teror bom yang menewaskan 20an orang di konser musik Ariana Grande.

Atmosfer final baru terasa pada tengah malam setelah Kang Wahyu — yang baru saja selesai mengumpulkan magnet link torrent dari film-film animasi yang diunduhnya — mulai menyulap ruangan di depan layar TV 29” sedemikian rupa menjadi tempat nobar yang nyaman. Sembari menunggu peluit sepak-mula dibunyikan, Kang Wahyu sibuk mencari gambar untuk dijadikan foto profil sebagai bentuk dukungan terhadap Manchester United. Sementara saya terus memerhatikan preview pertandingan, menonton dengan saksama wajah-wajah muda para pemain AFC Ajax yang terlihat tenang saat melakukan pemanasan sebelum pertandingan. Oke, final Liga Europa 2016/17 bakal dimulai dalam beberapa menit dan saya berharap pertandingan kali ini tidak berjalan dan tidak berakhir anti-klimaks seperti final-final yang pernah saya tonton sebelumnya. Badan saya mulai hangat … karena secangkir kopihitam dan beberapa batang kretek.

Final Liga Europa kali ini dilatar-belakangi oleh momen mengerikan, namun — seperti yang dikatakan oleh Mourinho — Manchester United memiliki tugas penting yang harus dilakukan dan mereka menyelesaikannya dengan kualitas yang biasanya selalu dikaitkan dengan “tim-nya Mourinho”. Hal ini bukan berarti bahwa Manchester United menampilkan sepakbola yang menggembirakan dan menghibur. Pelatih AFC Ajax, Peter Bosz, melontarkan sejumlah komentar sinis usai pertandingan tentang taktik long-ball dan perbedaan ukuran fisik para pemain. Hal itu tampaknya bakal menjadi perdebatan untuk hari yang lain mengingat segala sesuatu yang terjadi di Kota Manchester pada hari Senin sebelumnya. “I’m very happy but I want to dedicate the trophy to the victims,” ujar Ander Herrera melalui situs resmi Manchester United. “The manager told us the only thing we could do was to win it for them, and that’s what we’ve done. It’s just a football game, just a trophy, but if we can support them (the people who were affected) with this just one per cent, it’s enough for us.

Puncak final kali ini ditandai dengan masuknya Wayne Rooney menggantikan Juan Mata di menit ke-90 dan Rooney pun akhirnya bisa mengangkat trofi Liga Europa sebagai kapten tim berkat gol yang dibikin oleh Paul Pogba di babak pertama dan Henrikh Mkhitaryan di awal babak kedua. Jika final Liga Europa 2016/17 adalah pertandingan terakhir Rooney dengan jersey Manchester United, maka hal itu merupakan sebuah perpisahan yang cukup manis dan tidak ada satu pun — baik itu pemain maupun penggemar sepakbola — yang bakal peduli bahwa Bosz (dan mungkin beberapa orang di luar sana) menyebut pertandingan ini sebagai “permainan yang membosankan”. Mourinho, tentu saja, memiliki pandangan sendiri: “If you want to press the ball all the time, you don’t play short. If you are dominant in the air you go long. There are lots of poets in football but poets don’t win many titles.

Tiga hal yang patut disayangkan dalam final Liga Europa kali ini adalah perilaku fans AFC Ajax yang merusak kursi stadion saat peluit akhir dibunyikan, aksi teatrikal konyol Herrera yang berpura-pura kesakitan setelah disundul oleh salah satu pemain AFC Ajax, dan taktik monoton Bosz dalam merespons permainan rapat Manchester United di babak kedua. Terlepas dari itu semua, Manchester United memang layak memenangkan pertandingan dan mengenang malam yang sangat memuaskan di Swedia, dan Mourinho tidak bisa disalahkan karena memanfaatkan fakta bahwa dia memiliki pemain-pemain yang lebih besar ukurannya secara fisik.

Gol kedua Manchester United menjadi bukti yang tidak terbantahkan dari keunggulan fisik mereka. Marouane Fellaini, yang menjadi lawan duel sulit, tidak bisa menjangkau sepak-pojok Mata namun kehadirannya di kotak penalti membikin para pemain AFC Ajax kesulitan dan was-was. Chris Smalling, yang juga memiliki ukuran fisik lebih besar ketimbang para pemain AFC Ajax, berada di belakang Fellaini untuk menyundul bola ke tengah kotak penalti dan Mkhitaryan berhasil memanfaatkan bola liar tersebut dengan improvisasi dan teknik penyelesaian yang cerdik untuk mendahului Joël Veltman yang mengawalnya di depan gawang. Kang Wahyu merespons gol ini dengan teriakan dan rasa puas yang mengisyaratkan bahwa dia yakin Manchester United bakal keluar dari Friends Arena sebagai pemenang, dan saya bertepuk-tangan sembari merasa kasihan menonton para pemain muda AFC Ajax kesulitan mengantisipasi duel udara.

Starting line-up AFC Ajax di final kali ini memiliki rerata usia 22 tahun dan 282 hari, termasuk enam pemain berumur 21 tahun atau lebih muda, dengan pemain berusia 17 tahun di lini belakang. AFC Ajax tidak memiliki pengalaman dan mental bermain di sebuah pertandingan besar dan penyerang tengah mereka yang masih remaja, Kasper Dolberg, yang sebelum pertandingan final diidentifikasi sebagai salah satu striker yang paling berbahaya di Liga Europa dan Eredivsie Belanda hanya bermain selama 62 menit sebelum digantikan oleh David Neres. Seperti yang diakui oleh Bosz kepada FourFourTwo usai pertandingan bahwa “anak-anak muda ini belum terbiasa bermain di pertandingan final”.

Kecuali Marcus Rashford, saya tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang Manchester United: di final kali ini, keberuntungan memang berpihak kepada mereka.

Sepakan Pogba pada menit 18 seharusnya bisa ditangkap dengan mudah oleh André Onana andai saja bola tidak membentur kaki Davinson Sánchez. Onana sudah terlanjur bergerak ke arah kiri untuk mengantisipasi sepakan Pogba namun defleksi membikin bola memutar bergerak ke arah tengah gawang. Onana cuma bisa pasrah menyaksikan bola meluncur ke dalam gawang dan Pogba berhasil membikin gol terpenting sejak bergabung kembali dengan Manchester United pada musim panas 2016 kemarin dari Juventus.

Menariknya adalah Mourinho tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap gol Pogba: dia hanya menampilkan ekspresi wajah yang datar dan tetap duduk anteng di kursinya untuk merespons kenyataan bahwa timnya sedang unggul satu gol di pertandingan final kejuaraan antarklub Eropa. Para staf dan pemain cadangan Manchester United berhamburan merayakan gol yang dibikin Pogba, Kang Wahyu berteriak meski ada sedikit kesan terkejut, dan saya berulang kali mengatakan “dasar pemalas dari Setúbal” ketika menonton layar TV yang berulang kali menampilkan respons datar Mourinho. Pertandingan memang masih berjalan dalam tahap awal dan sepanjang babak pertama, AFC Ajax-lah yang berhasil menunjukkan permainan yang lebih kreatif dan lebih mengasyikkan untuk ditonton. Gol Mkhitaryan, tiga menit setelah babak kedua dimulai, mengubah segalanya: Mourinho menjadi lebih reaktif dan permainan AFC Ajax menjadi monoton di sisa pertandingan.

Sesaat setelah Damir Skomina membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, televisi sebagai media penyedia spektakel selalu terkesan pintar memainkan emosi. Secara bergantian, kamera televisi menyorot para pemain dan penggemar Manchester United berselebrasi merayakan kemenangan mereka, sementara fans-fans dan pemain-pemain AFC Ajax cuma bisa tertunduk sedih meratapi kenyataan bahwa tim mereka gagal melakukan improvisasi dan kreativitas yang diperlukan untuk membongkar lini belakang lawannya. Dari semua selebrasi Manchester United — Mourinho yang kegirangan merangkul anaknya, tarian Pogba yang menghibur, sampai swafoto dengan trofi “Big Vase” — Ibrahimović-lah yang terlihat cukup puas dan senang ketika berpose di depan spanduk bertuliskan “ZLATAN, STAY AND YOU CAN SHAG MY WIFE”. Penggemar Manchester United tampaknya bakal melakukan segala cara agar Ibrahimović tetap bertahan di Old Trafford musim depan.

Setelahnya, atmosfer kembali normal dan saya menunggu pagi dengan duduk anteng di depan layar komputer kantor: tanpa melakukan apa pun, kecuali menyesap sisa kopihitam semalam dan mengisap kretek untuk menghangatkan tubuh yang kembali kedinginan. []

Advertisements

2 Comments

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s