Francesco Totti: fantasista konyol yang menjaga kesenangan dan keceriaan sepakbola

Misi yang harus dilakukan oleh siapa saja yang mencintai kemanusiaan adalah untuk membikin manusia menertawakan kebenaran, membikin kebenaran tertawa, sebab itulah satu-satunya cara untuk membebaskan kita dari nafsu yang tergila-gila pada kebenaran.
— Umberto Eco

ENTAH kenapa pada sorehari ini, setelah menyantap habis seporsi Nasi Pecel Pincuk yang saya beli di Pasar Takjil dalam perjalanan balik ke kamar kos selepas membudak, saya berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang menggantung sekenanya di tembok kamar. Saya menikamkan mata pada bayangan wajah sendiri yang terpantul dari cermin, saya mencoba memerhatikan dengan cermat apa-apa yang sudah berubah, lalu kemudian mengingat-ingat kembali apa-apa yang pernah ada di wajah dan model potongan rambut yang pernah menghiasi kepala saya. Apa-apa yang sekarang ini ada dan tidak lagi ada yang ditunjukkan oleh bayangan di cermin mengingatkan saya kepada segala macam hal di masa lalu yang tidak mungkin terulang kembali: tentang nilai ulangan harian yang membikin takut dimarahi oleh mama, tentang daya pikat serial kartun Samurai X yang mengalahkan kewajiban mengaji saban sorehari di TPQ dekat rumah, tentang bermain layang-layang di loteng bersama kawan, tentang pesona sepakbola masa kecil. Dan khusus sepakbola masa kecil, ada Francesco Totti di antara nama-nama hebat lain yang membikin saya keranjingan terhadap sepakbola, seperti Javier Zanetti, Ronaldo Luís Nazário de Lima, Andrea Pirlo, Pavel Nedvěd, Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Roberto Baggio, dll.

Untuk kali ini, saya bakal bernostalgia dengan Totti: pesepakbola hebat yang diam-diam saya kagumi.

Totti menjadi legenda di ranah sepakbola, bukan hanya di Italia melainkan juga di panggung dunia. Eksistensi Totti menjadi bukti bahwa usia hanyalah konsep deretan angka bikinan manusia yang tidak cukup ampuh untuk mematikan pesona seseorang. Terkutuklah mereka yang merendahkan kualitas seorang Francesco Totti: dia adalah pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah Serie A Italia dengan 250 gol di bawah Silvio Piola. Sentuhan pertama, pemahaman ruang, penguasaan bola, akurasi umpan, dan karisma di luar maupun di dalam lapangan menahbiskan Totti sebagai salah satu pesepakbola terhebat sepanjang masa yang pernah dimiliki Italia (dan dunia). Totti diakui sebagai pengemban arketipe fantasista di sepakbola Italia dalam dua dekade terakhir. Fantasista melampaui trequartista dan regista sebab dianggap memiliki imajinasi, fantasi, dan sentuhan magis. Totti adalah fantasista Italia sepeninggal Baggio — bahkan bisa jadi yang terakhir karena arketipe fantasista telah tergerus oleh filosofi sepakbola modern.  Oke, Del Piero memang memiliki kualitas yang sama dengan Totti namun Del Piero lebih sering dipasang sebagai seorang striker dan secara taktikal tidak pernah bermain dalam skema 4-6-0. Sementara Antonio Cassano bisa dibilang punya kualitas yang mendekati Totti dan Del Piero, namun inkonsistensi dan kurangnya karisma membikin Cassano tidak bisa sampai ke level yang ditempati Totti dan Del Piero.

Francesco Totti dan Gianluigi Buffon. (gambar: “Instagram”)

Totti, tentu saja, tidak lagi berusia muda untuk ukuran pesepakbola profesional yang masih bermain di level tertinggi. Pada 27 September tahun ini, Totti bakal menginjak usia 41 tahun dan kebanyakan pesepakbola profesional pensiun — atau setidaknya berhenti bermain di level tertinggi dan hijrah ke liga kelas dua — pada usia 35 tahun. (Hanya ada dua nama yang melekat di batok kepala saya untuk menjadi pengecualian ketika berbicara menyoal konteks ini: [1] Zanetti yang pensiun di usia 41 tahun pada 2014; dan [2] Buffon, sekarang berusia 39 tahun, yang masih menjadi kiper utama Juventus dan timnas Italia.) Menjelang pensiun, para pesepakbola tua biasanya sudah tidak menjadi andalan kesebelasan masing-masing sebab regenerasi memang mengharuskan mereka yang sudah tua untuk memberikan tempat kepada talenta-talenta muda. Dan pada 28 Mei kemarin, Totti memainkan sepakbola terakhirnya bersama AS Roma setelah masuk menggantikan Mohamed Salah pada menit 54 melawan Genoa di Stadio Olimpico.

Kekonyolan Totti bukan perihal usia dan kapasitas teknik olah bolanya: dia adalah pangeran, pesohor, dan legenda sepakbola. Di Kota Roma, terlebih bagi penggemar fanatik AS Roma, Totti ibarat nabi atau juru selamat akhir zaman yang memikin orang-orang rela datang dengan membawa barang-barang persembahan yang indah dan mahal. Kekonyolan Totti adalah kekonyolan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Mirip dengan masa kanak-kanak yang tulus, jujur, dan ceria. Eksistensi Totti di dunia sepakbola bukan cuma sekadar predator ganas di depan gawang lawan, atau pahlawan yang dipuja-puja, atau kapten yang penuh karisma. Totti juga merupakan pelawak yang suka meracau lelucon-lelucon konyol.

Salah satu lelucon yang paling sering muncul ketika membicarakan Totti adalah tentang carpe diem. Pernah suatu ketika ada seorang wartawan mengucapkan kata “carpe diem” kepada Totti yang langsung dijawab dengan singkat: “Maaf, saya tidak berbicara dalam bahasa Inggris.” “Carpe diem” adalah frasa dalam bahasa Latin yang dikutip dari puisi karangan Horace yang berarti “seize the day” atau “raihlah hari ini”. Jawaban Totti dalam lelucon itu menjelaskan beberapa hal, salah satu yang paling mudah adalah betapa terbatasnya pengetahuan Totti. Menyoal terbatasnya pengetahuan (atau, sebut saja, kenaifan) Totti, suka atau tidak, ikhlas atau tidak, memang telah lama menjadi salah satu stereotip yang dilekatkan kepadanya. Gambaran lain dari lelucon itu adalah bahwa Totti juga seorang fantasista di luar lapangan dengan pikiran dan mulutnya. Kebanyakan jawaban yang diocehkan Totti selalu mengejutkan dan di luar imajinasi banyak orang, bukan karena cerdas dan canggih a la Sócrates dari Brasil, melainkan karena mampu membikin orang-orang melongo (dan tertawa) tidak menyangka Totti bisa memberikan jawaban senaif dan sekonyol/sebodoh itu.

Pada tahun 2003 silam terbit sebuah buku berjudul Tutte le barzellette su Totti (raccolte da me) atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti Semua lelucon tentang Totti (dikumpulkan oleh saya) yang, sesuai dengan judulnya, berisikan kumpulan lelucon dan humor yang pernah diocehkan oleh Totti — bukan buku tentang pemikiran njelimet yang beberapa tahun belakangan ini kerap muncul di ranah sepakbola. Sebagian besar lelucon yang ada di buku ini bisa ditemukan di internet dengan gampang. Bila membaca isi bukunya — atau hanya membaca judulnya saja — buku ini jelas bukan termasuk “buku cerdas”. Namun dari sisi tujuan penerbitan, buku ini punya makna yang sangat penting dan mulia. Hasil penjualan buku ini disumbangkan untuk sejumlah program kemanusiaan di berbagai negara di seluruh penjuru dunia.

Berikut ini saya pilihkan delapan lelucon dari buku Tutte le barzellette su Totti (raccolte da me) yang saya anggap paling naif, paling lucu, dan paling konyol:

— Totti menghubungi jasa layanan konsumen karena ingin tahu sesuatu. Operator jasa layanan konsumen itu kemudian memberi tahu bahwa Totti harus menekan angka 10 di keypad ponselnya. Totti kemudian balik bertanya: “Tapi keypad di ponsel saya cuma sampai angka 9, bagaimana caranya?

— Suatu hari Totti ditanyai wartawan tentang bukunya yang terjual laris-manis sampai 400.000 eksemplar. Alih-alih menjawab dengan serius, Totti malah membantah: “Tidak mungkin. Jangan bercanda. Saya hanya menulis buku itu sekali.

— Suatu hari Totti pernah diwawancarai dengan urutan pertanyaan:
tanya: “Nama depan?”
Totti: “Francesco.
tanya: “Nama belakang?”
Totti: “Totti.
tanya: “pekerjaan?”
Totti: “Pesepakbola.
tanya: “Seks?” (atau jenis kelamin)
Totti: “Tidak terlalu sering.

— Suatu hari Totti kasih tahu kawannya bahwa ada sebuah buku yang sangat menarik berjudul Bagaimana Mengatasi 50% Masalah Anda. Si kawan bertanya apakah Totti membeli buku tersebut, dan Totti menjawab: “Ya, saya langsung membeli dua eksemplar.

— Tersiar kabar bahwa perpustakaan pribadi Totti terbakar. Isi perpustakaan pribadi itu cuma dua buku. Ketika wartawan mengonfirmasi, Totti menjawab: “Oh, tidak. Saya belum selesai mewarnai buku yang kedua.

— Seorang jurnalis pernah bertanya tentang tiga tahun tersulit yang pernah dialami Totti sepanjang hidupnya. Totti menjawab: “Kelas satu SD.

— Ilary Blasi (istri Totti) bertanya apakah Totti pernah membaca buku William Shakespeare, dan Totti menjawab: “Ya, tentu saja, cuma saya lupa siapa yang menulis buku itu.

— Blasi merencanakan malam yang romantis dan hangat dengan berhubungan seks. “Malam ini, saya yang di atas dan kamu yang di bawah,” ucap Blasi. Totti membalas: “Lho, kamu tidak punya kasur ya sayang?

Stereotip sebagai orang yang naif, konyol, dan bodoh di luar lapangan ternyata tidak membikin Totti mencak-mencak marah. Totti tidak pernah menganggap semua lelucon itu sebagai sesuatu yang serius. Alih-alih melakukan pencitraan diri bahwa lelucon-lelucon itu adalah hoax, Totti malah mengafirmasi semuanya sebagai bagian dari hidupnya, dan dengan begitu Totti justru melampaui stereotip naif, konyol, dan bodoh yang ditempelkan secara serampangan oleh orang lain kepadanya. Totti seperti menegaskan bahwa dia memiliki selera humor yang luar biasa keren sebab tidak semua orang (terutama publik figur) bisa menerima dengan tulus dan ikhlas ketika ditertawakan atau dijadikan lelucon oleh orang lain.

Dalam buku berjudul This Is Not the End of the Book karya Umberto Eco dan Jean-Claude Carrière ada sebuah pembahasan yang bagus dan dipenuhi rasa humor tentang kepalsuan, kenaifan, dan kebodohan yang ditutup pernyataan menarik dari Eco tentang Totti: “Reaksi Totti terhadap lelucon (yang beberapa di antaranya lahir dari kebencian terhadap Totti) merupakan contoh yang luar biasa bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan lelucon. Dan dengan itulah orang-orang bakal cepat mengubah pikirannya tentang Totti.” Totti dengan cara yang sederhana berhasil kasih lihat contoh betapa pentingnya lelucon dan humor bagi kehidupan manusia.  Bahwa sebaik-baiknya humor adalah lelucon yang menertawakan diri sendiri, sementara sebrengsek-brengseknya humor adalah lelucon yang menertawakan kelemahan dan kecacatan orang lain. Sebab tawa bisa membebaskan kita dari banalitas hidup harian yang semakin ruwet.

Ada beberapa orang yang mungkin saja menganggap bahwa sepakbola memang tidak perlu dipaksa menjadi suatu hal yang konyol dan jenaka. Namun, saya ingat pesona awal yang membikin saya menonton dan menyukai sepakbola: permainan untuk bersenang-senang dan bergembira. Yang mula-mula saya cari dari setiap pertandingan sepakbola bukanlah kerumitan politik yang ada di dalam sepakbola, bukan pula kejeniusan taktik dan strategi pelatih, juga bukan fanatisme yang terlampau tolol, atau kecerdasan manajer klub dalam berkata-kata di depan media. Meskipun saya dan kamu sama-sama tahu dan paham bahwa mengharapkan sepakbola terlepas dari itu semua adalah satu hal yang mustahil terjadi. Sebab tanpa itu semua maka sepakbola bakal berubah menjadi hal yang basi, sebasi jalan cerita Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016).

Meski begitu, seingat saya, satu-satunya hal yang selalu saya cari dan ingin saya dapatkan dari sepakbola adalah kesenangannya, kegembiraannya. Sepakbola yang saya cintai sampai sekarang adalah permainan mengasyikkan di atas lapangan hijau yang sanggup membikin saya sejenak terlepas dan melupakan keruwetan rutinitas harian. Sepakbola yang saya suka adalah permainan indah yang dapat membikin saya girang tenggelam dalam sukacita — meski cuma sesaat — dan melupakan tumpukan tanggung jawab sebagai seorang lelaki menjelang usia 30an. Dulu, ketika saya menonton sepakbola tengah malam, saya bisa lupa dengan PR serta kewajiban pergi ke sekolah setiap pagi untuk bertemu dengan sekumpulan guru berwajah sok sangar dan bertingkah menyebalkan. Yang saya cari dari sepakbola bukanlah pemahaman taktikal dan filosofi permainan yang bisa membikin kening berkerut, namun kegembiraan yang bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang membosankan.

Totti merupakan salah satu kesenangan yang saya dapati dari sepakbola. Totti dan kekonyolannya yang khas, bagi saya, adalah keceriaan yang bisa mengembalikan sukacita dan kesederhanaan sepakbola yang dewasa ini sudah direbut paksa oleh industri dan kecerdasan sepakbola. Kenaifan Totti merupakan angin segar yang bisa mengenyahkan rasa gerah akibat kerumitan sepakbola. Ada hal-hal usang namun menyenangkan, semacam romantisme menggairahkan, yang nyaris hilang dalam sepakbola yang kemudian muncul kembali ketika saya menonton Totti beraksi di atas lapangan hijau. Totti, mencomot omongan Milan Kundera, serupa “kawan masa kecil yang berfungsi sebagai cermin yang memantulkan nostalgia masa-masa silam kita”.

Sebagai manusia, mungkin kita tidak pernah diwajibkan untuk memiliki kawan masa kecil. Namun kini, sebagai manusia dewasa, saya pikir kita memang memerlukan adanya kawan masa kecil untuk menjaga kewarasan dan keutuhan diri sebagai makhluk hidup. Segala macam hal yang kita hadapi di dunia orang dewasa kerap menggerus dan meremukkan kewarasan dan keutuhan kita sebagai makhluk hidup. Ada beberapa hal yang terkikis, sementara sebagian lainnya remuk — ada begitu banyak hal yang kita buang jauh-jauh karena dianggap sudah tidak pantas melekat dalam diri kita sebagai manusia dewasa. Kawan masa kecil adalah kawan yang menyaksikan (dan tidak jarang pula ikut merasakan) apa-apa yang kita alami ketika kita masih kecil, kanak, hijau, bau kencur, atau apa pun itu sebutannya. Apa yang kawan masa kecil ketahui tentang kita adalah jati diri kita di masa silam yang belum babak belur menyerah kalah setelah dihajar pendewasaan dan kenyataan dengan cara yang paling kejam dan paling buruk.

Saya dan kamu tidak bakal bisa kembali menjadi anak-anak, begitu juga dengan kawan masa kecil kita yang tidak mungkin menjadi muda: mereka sama seperti kita yang semakin hari kian menua digerogoti usia dan kebutuhan bertahan hidup. Namun dari mereka — kawan-kawan masa kecil — tersirat kita yang dulu, bayangan masa silam yang mungkin sudah kita lupakan. Totti pun mengalami penuaan yang sama seperti kita. Namun setiap menonton Totti beraksi dengan bola di kakinya atau sekadar membaca tingkah konyolnya di media, saya seperti dihadapkan dengan sebuah cermin usang yang memantulkan potret sepakbola sebagai permainan menyenangkan yang dulu saya kenal. Bisa dibilang bahwa Totti ibarat kawan masa kecil yang mendadak datang mengetuk kamar kos untuk mengingatkan saya perihal masa lalu yang tidak bakal pernah bisa hadir kembali. (Membincangkan Totti sebagai kawan masa kecil memang terkesan konyol. Namun tampaknya Totti memang serupa kekonyolan yang keukeh menjaga kesenangan dan keceriaan sepakbola.) Yang lebih menyebalkan dari menuanya Totti bukanlah karier profesionalnya telah mandek pada hari Minggu kemarin, atau kenyataan yang datang bersamaan dengan itu bahwa saya memang sudah tidak lagi muda, namun saya bakal kehilangan salah satu kawan masa kecil yang sanggup membikin saya girang tidak keruan ketika peluit sepak-mula pertandingan sepakbola dibunyikan. Apa lagi yang lebih menyebalkan dari hal itu? Tolong kasih tahu saya… []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s