Final yang menyesakkan dada…

UNTUK semua subplot yang menakjubkan, final Liga Champions Eropa 2016/17 tadi malam seharusnya bercerita hanya tentang satu orang. Er, baiklah, perihal dua orang. Atau, bolehlah jika terpaksa, tentang tiga atau empat, lima atau enam orang … tidak termasuk dua orang yang bertugas memilih sebelas lelaki untuk timnya di mana tujuh, delapan, sembilan — dan, okelah, mari membikinnya menjadi genap sepuluh — orang yang bakal tampil. Namun, bagi saya, final kali ini benar-benar tentang satu orang: Gianluigi Buffon. Lelaki tua yang akrab disapa Gigi dan dijuluki Superman. Atau yang lebih sederhana: the man.

Pada Sabtu malam di Kota Cardiff, Wales, dengan jari-jemari besarnya terbungkus sarung tangan di ujung lengan kekar mengilap, Buffon — yang telah menginjak usia 39 tahun — dalam wujud “manusia biasa” berusaha memenangkan trofi Si Kuping Besar pertamanya di kesempatan ketiga melakoni final Liga Champions Eropa, sementara pasir di bagian atas tabung jamnya sudah nyaris habis jatuh ke bawah, bahwa final kali ini mungkin menjadi kesempatan terakhirnya untuk melengkapi prestasinya di dunia sepakbola profesional. Si Kuping Besar merupakan satu-satunya trofi level klub yang selalu luput dari cengkeraman Buffon, seorang pahlawan yang pernah menolak untuk meninggalkan Juventus ketika mereka terbuang ke Serie B Italia gara-gara kasus Calciopoli pada tahun 2006.

Ketika ditanya mengapa dia tidak ikut-ikutan meninggalkan bahtera Juventus seperti yang dilakukan oleh sebagian besar mantan rekan satu timnya, Buffon memberikan jawaban yang sangat indah dalam kesederhanaannya: “Sebab saya belum pernah memenangkan Serie B Italia.” Akhir musim ini Buffon memfokuskan perhatiannya pada Si Kuping Besar di mana dia dan palang pintu pertahanan kokoh Juve — Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, dan Andrea Barzagli — harus mati-matian mencegah serangan Real Madrid. Setelah hanya kebobolan tiga gol dalam 12 pertandingan untuk mencapai final Liga Champions Eropa musim ini, nyaris semua orang yang mencintai sepakbola berharap Buffon dan Juve berhasil memenangkan Si Kuping Besar. “I don’t look at the Champions League as the trophy that evades me — but, yes, it is a big dream for me to win it,” ujar Buffon, saya kutip dari BBC.

Zidane has created a fantastic Real Madrid team and they will be looking to create their own history by winning consecutive Champions League titles,” ucap Buffon yang tayang di Mirror. “We all know about the quality of their players — all we can do now is to be as ­well-prepared as possible.” Menyaksikan Buffon mencium dan mengangkat trofi Si Kuping Besar juga merupakan impian dan harapan terbesar saya tahun ini. Saya membayangkannya seperti ini: pemenang pertandingan final Liga Champions Eropa kali ini harus ditentukan melalui drama adu penalti, dan Buffon berhasil menggagalkan sepakan penalti Cristiano Ronaldo yang menjadi algojo terakhir, lalu kemudian Buffon berlutut dengan kedua tangannya yang mengepal terangkat ke atas ketika rekan-rekan satu timnya bergegas untuk memeluknya dan larut dalam sukacita.

* * * * *

Sabtu pagi…

Saya hanya tidur selama empat jam dan terbangun pada jam tujuh pagi dengan gigil yang mulai merambat pelan dari ujung kaki ke seluruh bagian tubuh. Perasaan saya sedikit tidak tenang, jantung memompa darah dengan ritme acak, dan perut tiba-tiba mulas: sindrom keresahan yang selalu datang ketika kesebelasan kesayangan saya akan bertanding di pertandingan-pertandingan penting atau final turnamen besar yang bergengsi. Saya mencoba menenangkan diri dengan sebatang-dua rokokputih, sisa kopihitam semalam, dan mencoba melakukan apa pun — mulai dari menyetel keras-keras daftarputar yang berisikan lagu-lagu favorit, membaca buku, menulis, sampai menggoda sang kekasih — sebelum akhirnya memacu motor matic pinjaman untuk membeli sarapan di warung langganan. Menjelang jam 12 siang, saya pergi membudak dengan perasaan yang masih gelisah. Saya menatap layar komputer kantor sembari terus mengkhawatirkan bagaimana penampilan Juventus di pertandingan final, berharap taktik Massimiliano Allegri berjalan mulus dan Buffon berhasil menjaga api semangat rekan-rekannya tetap membara di atas lapangan hijau. Perasaan saya sedikit tenang setelah melihat foto-foto persiapan Juve serta membaca berbagai macam dukungan dan jawaban meyakinkan dari para pemain Juve di media.

Selepas membudak, ketika mengantre pesanan Nasi Goreng Jancok yang tidak kunjung datang, gigil yang sungguh laknat itu kembali datang meniupkan kecemasan di tengkuk leher. Saya gelisah karena Real Madrid memiliki barisan penyerang produktif dan lini tengahnya selalu bisa bermain disiplin untuk saling menambal celah, meski pertahanannya sedikit keropos dan variasi taktik Zinedine Zidane cuma itu-itu saja. Jonathan Wilson dan Sid Lowe — dua pandit sepakbola paling masyhur saat ini — memiliki banyak frasa bagus untuk mendeskripsikan pergerakan lini penyerangan Real Madrid dan keganasan Ronaldo. Real Madrid berhasil menjadi salah satu tim yang mampu memenangkan hati jutaan fans sepakbola saat ini bukan karena secara statistik lini pertahanannya cukup solid, melainkan Zidane berhasil menciptakan mesin pencetak kemenangan. Kamu hanya perlu singgah di situs-situs copy-paste (Goal Indonesia dan Detik Sport, misalnya) untuk mengetahui hal semacam itu. Bahkan, kamu sebenarnya tidak perlu membaca satu pun artikel di dunia maya — yang kebanyakan ulasannya bertele-tele dan cuma dipenuhi kata penghubung antarkalimat — untuk mengetahui bahwa Real Madrid-nya Zidane adalah tim yang mewah, lengkap, dinamis, dan adaptif.

Paulo Dybala. (gambar: “Instagram”)

Yang membikin saya semakin gelisah dan cemas: Juventus kali ini merasa terlalu terbebani untuk membikin kenangan manis yang bakal melekat di lembaran sejarah dan menjadi sumber nostalgia yang bisa diceritakan berulang kali ke anak-cucu, tidak seperti momen final dua tahun lalu di mana Juve datang ke Berlin sebagai tim yang rendah hati dan percaya diri. Dari potongan-potongan video pemanasan prapertandingan para pemain Juve di Millennium Stadium, tampak jelas di mata saya kegugupan Paulo Dybala. Kamera menyorot mata nanar Dybala menatap langit-langit stadion dan dia sering menelan ludah sehabis melakuan lari jarak pendek. Di sudut yang lain, Buffon — meski tampak tenang dan berwibawa — tetap saja tidak mampu menyembunyikan keresahan. Bahasa tubuh Buffon seolah menunjukkan bahwa kegagalan final Liga Champions Eropa di Olympiastadion dua tahun sebelumnya masih meninggalkan trauma dan menjadikannya sebagai manusia biasa. (Mungkin cuma Dani Alves yang bisa menyembunyikan tekanan di balik ekspresi ceria a la samba Brasil.) Menonton itu semua membikin saya berpikir bahwa para pandit dan pecinta sepakbola terlalu berlebihan dengan menganggap Dybala merupakan berlian yang memancarkan kilau sinar menakjubkan dan Buffon adalah Superman yang berasal dari planet lain.

Namun ini bukan berarti Juventus kesayangan saya itu adalah kesebelasan yang tidak terampil. Saya siap bertengkar dengan siapa pun yang menyebut Juve sebagai tim naif yang miskin kreativitas. Dari musim ke musim, Juve menjelma menjadi kesebelasan yang cerdas secara taktikal permainan dan memiliki mental juara yang tidak usah diragukan lagi. Allegri berhasil membikin Antonio Conte tampak seperti juru taktik semenjana dan membuat Juventini melupakan romantisme dengan Conte. Di bawah kendali Allegri, Juve semakin dewasa dan jauh lebih matang. Dalam tiga tahun masa kepelatihannya, Allegri berhasil menanamkan sikap rendah hati dan percaya diri serta detail permainan yang efektif. Kamu tidak butuh ulasan njelimet Paolo Bandini — kolumnis sepakbola Italia di The Guardian dan ESPN FC — untuk menyadari transformasi Juve di bawah pemikiran Allegri.

Jelang tengah malam…

Saya mengirim pesan BBM ke seorang kawan — Mas Osi, remaja penanggung-jawab kos-kosan yang sama-sama menyukai Juventus seperti saya — untuk memastikan jadi atau tidaknya pergi nonton bareng (nobar) kali ini. Mas Osi mengiyakan. Jam satu lewat beberapa menit, kami meluncur ke venue nobar yang berjarak lumayan dekat dari kos-kosan dengan berjalan kaki. Dinginnya Malang yang jahanam tadi malam kian mengakumulasi gigil dan membesarkan rasa gelisah di tubuh saya. Sial, pikir saya. Mall Dinoyo City yang menjadi tempat nobar sudah penuh sesak dengan para pendukung dari Real Madrid dan Juventus ditambah fans-fans netral yang juga ingin merasakan euforia final Liga Champions Eropa musim ini. Setelah menunggu beberapa menit, kami akhirnya mendapatkan jatah tiket masuk gratis dari kenalan Mas Osi dan mulai melangkah masuk ke keramaian pecinta sepakbola di depan layar superbesar acara nobar. Saya dan Mas Osi memilih berdiri di baris tengah yang langsung menghadap ke layar. Di sebelah kiri, kumpulan Juventini lengkap dengan berbagai macam atribut tampak begitu bersemangat menyambut dan mendukung Juve. Sementara fans Real Madrid bergerombol di sebelah kanan saya dengan semangat yang tidak kalah besar untuk mendukung tim favoritnya. Saya merinding menyaksikan itu semua dan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi apa pun dari pertandingan final kali ini.

Penyelenggara nobar mulai memandu acara dan membukanya dengan mengajak semua penonton yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Pada titik ini saya gagal paham apa korelasinya menyanyikan Indonesia Raya dengan final Liga Champions Eropa, bahkan sampai harus dinyanyikan secara serempak bersama-sama. Ah, sudahlah. Saya memilih membuka pesan dari sang kekasih yang mewanti-wanti agar cepat pulang setelah acara nobar selesai dan membalasnya singkat. Riuh-rendah tepuk tangan mengiringi para pemain Real Madrid dan Juventus memasuki Millennium Stadium yang dilanjutkan dengan teriakan-teriakan dukungan ketika Felix Brych meniupkan peluit sepak-mula. Pertandingan final dimulai, dan gigil masih belum sempurna enyah dari tubuh saya.

Meski kecolongan gol Ronaldo pada menit 20, Juventus mampu menampilkan permainan yang nyaris sempurna di babak pertama. Juve lebih pintar menggulirkan bola — baik sebagai tim maupun individu — dan mendikte jalannya pertandingan dengan pressing dan pergerakan ciamik. Kombinasi umpan dan keterampilan memindah arah serangan dari para pemain Juve berhasil memaksa lini pertahanan Real Madrid bekerja keras untuk menahan gempuran, terutama di sisi sebelah kanan di mana Dani Carvajal sering kecolongan sehingga membikin Mario Mandžukić dan Alex Sandro leluasa mengeksploitasinya. Miralem Pjanić dan Gonzalo Higuaín sempat memberikan ancaman yang dimentahkan oleh Keylor Navas, sebelum akhirnya Mandžukić berhasil menyamakan angka di menit ke-27. Saya, Mas Osi, dan Juventini di sebelah kiri mulai bergemuruh, bertepuk-tangan, dan bernyanyi.

Kedudukan imbang 1-1 tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya. Itu hanya menunjukkan bahwa Juventus semakin nyaman dalam mengatur tempo permainan. Kombinasi satu-dua sentuhan dan aksi individual Dybala-Dani Alves, kehalusan dan kecerdasan Pjanić mengatur pembagian bola, tusukan Alex Sandro dan kekuatan fisik Mandžukić, kecerdikan Sami Khedira mencari ruang kosong, dan pergerakan tanpa bola Higuaín membikin para pemain Real Madrid di babak pertama kelihatan linglung seperti menjala angin yang melesat. Kegugupan Dybala dan kecemasan Buffon saat pemanasan sama sekali tidak tampak.

Sulit mengartikan frasa “Italian job” ke bahasa Indonesia. Ini bukan pertama kalinya Juventus mampu menerjemahkan “Italian job” di atas lapangan hijau. Juve tampil dewasa. Ketika berada dalam keadaan tertinggal satu gol dan dalam posisi yang tidak menguntungkan, Juve masih bisa bermain dengan kepercayaan diri yang tinggi, tidak panik dan tidak gegabah, dengan sabar membangun serangan dari lini belakang, dan sebisa mungkin meminimalisir kesalahan. Higuaín dan Dybala tidak segan turun lebih ke dalam membantu pertahanan, sementara Mandžukić selalu berhasil memenangkan duel dan memberi bola pantulan. Pjanić, Khedira, Chiellini, dan Bonucci tampil layaknya serdadu perang yang berlari kesana-kemari penuh tenaga. Dani Alves dan Alex Sandro semakin rajin menusuk dari sayap. Plot permainan dirancang melalui skenario yang matang layaknya naskah film tulisan Luis Buñuel atau karya musik gubahan Radiohead: lembut dan indah dalam mengolah dan mengalirkan ancaman.

Seiring dengan semangat dan adrenalin yang terpompa oleh permainan menawan Juventus, serta riuh-rendah Juventini di sebelah kiri saya, kamera televisi sebagai penghadir spektakel selalu pintar memainkan emosi. Beberapa kali kamera menyorot sekumpulan lelaki brewok bertato dengan kaus hitam bertuliskan “#LE6END” di dada dan perempuan-perempuan manis mengenakan jersey hitam-putih bertuliskan “Del Piero” di punggung sembari melambaikan bendera Italia bersorak menyemangati Juve. Tayangan ulang gol Mandžukić, selebrasi Buffon, dan kekecewaan Ronaldo yang ditampilkan beberapa kali sepanjang babak pertama merangsang luapan sukacita seolah-olah pertandingan telah usai dan Juve berhasil membawa pulang Si Kuping Besar ke Turin.

Saya takjub dan bersemangat menonton kedewasaan Juventus itu di babak pertama. Tidak ada yang lebih menyenangkan dan mengasyikkan selain menonton kesebelasan kesayangan bermain di pertandingan final dengan nyaman. Ketika babak pertama usai, kehangatan mulai menyelimuti tubuh saya, namun ini bukan karena suasana nobar yang semakin ramai atau satu-dua batang kretek yang saya isap. Tubuh saya mendadak hangat karena taktik permainan rancangan Allegri bekerja dengan baik seperti yang saya reka-reka sendiri sebelum pertandingan final ini dimulai.

Turun-minum pertandingan saya manfaatkan untuk melemaskan otot kaki, mengisap kretek, dan — karena tidak ada yang menjual kopi — beberapa teguk air bening, sembari membuka media-sosial dan membalas pesan dari kekasih yang masih sama seperti pesan sebelumnya: mewanti-wanti untuk segera pulang setelah selesai nobar.

Ada semacam keyakinan yang membuncah — saat jeda pertandingan mulai diisi dengan acara membagi-bagi hadiah oleh penyelenggara nobar — bahwa Juventus bakal semakin leluasa mengontrol laju permainan hingga menit-menit akhir dan menuntaskan pertandingan a la kesebelasan asal Italia. Saya mengalami sensasi menggairahkan jelang sepak-mula babak kedua dimulai, bahwa saya sedang menonton final Liga Champions Eropa: sebuah momen peristiwa tahunan yang memintal sejarah, rivalitas, kerja keras, impian, dan drama dalam keindahan permainan sepakbola. Segala adjektiva yang bisa ditautkan ke dalam sepakbola level klub dapat saya temukan di final kali ini … paling tidak selama 45 menit babak pertama. Setelahnya, yang tersisa cuma gigil dan gelisah menyesakkan yang kembali merangkul tubuh saya.

Allegri dan para pemain Juventus sepertinya menganggap bahwa misi mereka telah berakhir ketika peluit panjang berakhirnya babak pertama dibunyikan. Memasuki babak kedua, tubuh dan kaki para pemain Juve tampak gemetar dan gugup, sementara konsentrasi mereka menguap entah ke mana. Aliran bola tersendat-sendat, kreativitas mandek, Juve terlihat tidak nyaman meladeni tekanan Real Madrid dan sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan kehilangan kontrol permainan. Pjanić, Dybala, Dani Alves, dan Alex Sandro bingung harus melakukan apa, Mandžukić dan Higuaín hilang di bawah ketiak Raphaël Varane dan Sergio Ramos, sementara Buffon tampak seperti pesakitan tua yang digerogoti usia di bawah gawang. Isco lebih leluasa membawa bola di area pertahanan Juve, Marcelo Vieira semakin merepotkan Barzagli di sisi kanan, kombinasi kecerdasan Luka Modrić dan Toni Kroos mendikte serangan layaknya konduktor orkestra musik klasik, dan Ronaldo, ah, semua pasti tahu apa yang bisa dilakukan oleh Ronaldo untuk menghukum kelengahan lini belakang lawannya.

Momen menyebalkan dan menyesakkan itu datang pada menit 60 pertandingan babak kedua. Karim Benzema yang melakukan pergerakan di sisi kiri mengirim operan ke bibir kotak penalti yang diteruskan oleh Kroos dengan sontekan kecil ke tengah kotak penalti. Alex Sandro berhasil menghadang, namun bola liar di depan kotak penalti itu tiba-tiba disambar Casemiro dengan sepakan yang sempat membentur Khedira sebelum menghujam sisi kanan gawang Buffon. Para pendukung Real Madrid di sebelah kanan saya mulai berisik, perut saya mendadak mulas, tubuh saya menggigil, dan dada saya kian sesak menyaksikan taktikal permainan Juventus kacau di babak kedua. Mimpi buruk itu semakin nyata: Ronaldo mencetak gol keduanya, Juan Cuadrado diusir karena akting Ramos, dan Marco Asensio menambah luka memedihkan di menit-menit akhir. Mas Osi yang ada di sebelah saya mencoba menenangkan kepanikan dan kekecewaannya dengan meneguk air bening setiap lima menit sekali.

Kamera televisi kembali mengambil peran untuk mengayunkan perasaan: Zidane kegirangan di pinggir lapangan, Álvaro Morata dan Gareth Bale melakukan pemanasan dengan wajah sumringah, akting Ramos layak diganjar Piala Oscar, Madridista di tribun penonton bersorak, seorang perempuan manis dengan wajah sedih dan meneteskan air mata tetap mengangkat syal Juventus ditengah-tengah para Juventini yang menunduk kecewa dan membenamkan kepala ke kedua tangan tanda tidak percaya dengan apa-apa yang mereka saksikan di Millennium Stadium, Allegri panik dan lebih sering terlihat berteriak marah ke pemain-pemainnya, Dybala menggigit ujung jersey-nya dengan tragis, dan Buffon menatap kosong ke depan menyaksikan impiannya hancur berantakan. Saya berdiri dengan gigil yang semakin jahanam dan menatap nanar ke arah layar ibarat pecundang yang babak belur dihabisi oleh kenyataan.

Ingatan saya seketika melayang ke malam yang menyesakkan dua tahun lalu ketika Carlos Tevez cuma bisa bersandar sedih di mistar gawang setelah Juventus dikalahkan Barcelona di Berlin. Ingatan itu bertaut dengan momen-momen tadi malam saat Higuaín berlari menuju ruang hampa dan Chiellini tampak seperti remaja labil di garis pertahanan. Saya semakin memahami trauma sejarah sepakbola yang digambarkan oleh tatapan kosong Buffon. Sejarah Juve di Liga Champions Eropa adalah sebuah perulangan (yang semoga tidak abadi) atas, mencomot kalimat Lowe, “romantisme destruktif dan melankolia kegagalan”. Hal buruk yang dialami Juve di final Liga Champions Eropa kembali terulang dengan cara yang jauh lebih buruk dan lebih menyakitkan. Gol tunggal Predrag Mijatović ke gawang Angelo Peruzzi saat final di Amsterdam Arena pada tahun 1998, kalah adu penalti di Old Trafford melawan AC Milan pada tahun 2003, dan dihempaskan Barcelona pada satu malam tahun 2015 di Olympiastadion. Tiga luka itu masih segar dan basah di pojokan jantung persegi dan memori di batok kepala saya. Juve adalah kesebelasan yang bagus, namun dengan mengingat sejarah, DNA mereka tidak terbiasa dengan atmosfer final Liga Champions Eropa. Saya paham betul bagaimana rasanya dihantui oleh sejarah.

Bagi penonton netral, pengeruk profit melalui iklan, dan bandar judi taruhan bola, horor yang terjadi di Cardiff semalam adalah final ideal yang cukup menghibur. Mereka tidak menikmati momen-momen penderitaan ketika tim kesayangan berada sejengkal dari risiko kehilangan impian. Mereka tidak perlu sibuk menata serpihan jantung yang berantakan sesaat setelah pertandingan buyar. Mereka tidak harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kekecewaan selama puluhan purnama ke depan. Mereka tidak mesti sesenggukan meneteskan air mata sendirian meratapi kegagalan dan berharap itu semua bakal membikin keadaan menjadi baik-baik saja.

Empat puluh lima menit babak pertama final Liga Champions Eropa 2016/17 merupakan waktu yang cukup bagi Juventus untuk menunjukkan bahwa mereka datang ke Cardiff dengan keyakinan yang kuat dan mental yang telah dipersiapkan sebaik-baiknya sebagai salah satu kesebelasan yang mampu melakukan sesuatu yang luar biasa pada musim ini. Empat puluh lima menit babak pertama itu adalah momen indah yang patut dikenang, bahwa masih ada menit-menit manis yang pantas untuk dirayakan. Saya menikmati momen 45 menit itu: sebuah dimensi waktu layaknya lubang-hitam dalam film Interstellar (2014) yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Itu merupakan 45 menit momen final yang sesungguhnya: suatu periode yang menghadirkan ambang batas menggairahkan antara kemenangan yang menggembirakan dan kekalahan yang menyesakkan dada.

* * * * *

Terlalu banyak waktu yang berlalu untuk memimpikan sebuah hal yang sulit — jika bukan mustahil — untuk tercapai. Saya sepenuhnya tahu dan paham bahwa hanya karena saya sangat menginginkan sesuatu, bukan berarti saya bakal mendapatkannya dengan mudah. Terkadang larut dalam keramaian suasana nobar untuk menonton kesebelasan kesayangan bermain di sebuah pertandingan final, tidak bisa tidak, membawa saya ke sebuah harapan untuk mendapatkan sebuah paket kejutan berupa sukacita kemenangan ketika wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Gianluigi Buffon dan tatapan kosongnya. (gambar: “juventus.com”)

Final Liga Champions Eropa di Cardiff semalam memang berbicara tentang satu orang: Buffon. Namun bukan berbicara tentang klimaks yang ditutup akhir bahagia di mana Buffon mencium Si Kuping Besar, melainkan plot cerita yang cukup menyesakkan dada baginya. Sama seperti tahun 2003 dan 2015, Buffon mesti melewati momen di mana dia harus merelakan trofi yang begitu didambakannya lenyap begitu saja, ketika apa-apa yang sudah berjalan indah mendadak berubah menjadi kelam dan gelap ketika dia memungut bola yang bersarang di gawangnya. Secuil ingatan masa yang telah silam kembali muncul di benak Buffon, ingatan ketika dia menatap kosong ke arah Lionel Messi atau Paolo Maldini mencium Si Kuping Besar dengan mesra di akhir pertandingan.

Dalam novelnya yang berjudul Jalan Menikung, Umar Kayam pernah menulis: “…karena kita melihat gunung itu dari sini. Srigunung, asrinya gunung. Keindahan yang nampak dari kejauhan.” Saya mengingat frasa tersebut ketika sedang merebahkan diri di kasur selepas nobar final Liga Champions Eropa semalam, mencoba menoleransi mimpi buruk yang baru saja saya tonton dengan dada yang menyesakkan. Saya berada di kamar kos yang pengap, yang berjarak puluhan ribu kilometer dari Kota Cardiff, mencoba membayangkan perasaan Buffon ketika menatap bentangan jarak yang memisahkannya dengan Si Kuping Besar. Jarak yang memisahkan Buffon dan Si Kuping Besar itu menjadi semacam ruang ketidak-mungkinan yang, anehnya, mampu melahirkan berbagai macam kemungkinan dan harapan untuk menikmati momen sukacita dari kejauhan.

Namun realitas hidup, dengan cara yang paling kejam, menetapkan batas untuk memisahkan kemungkinan dan harapan: dia tidak ingin Buffon menemui harapan, dia cuma pengin Buffon bermain-main dengan kemungkinan. Pada titik itulah saya merasa Buffon benar-benar kalah dan habis sudah. Saya paham bahwa kemungkinan tidak bisa dipaksakan menjadi harapan yang mewujud nyata. Saya menyadari bahwa Buffon tidak perlu repot untuk meruntuhkan batas dan memangkas jarak itu, yang bisa dilakukan hanyalah membiarkan jarak dan batas itu tetap ada membentang di sana. Jarak dan batas yang membikin Si Kuping Besar menjadi “srigunung”: tidak cuma indah dari kejauhan, namun juga menjaga kemungkinan dan harapan itu selalu ada hingga, pada akhirnya, realitas mengajak Buffon pulang ke rumah dan rebah di atas luka yang masih basah.

Setiap kekalahan, kata orang-orang bijak, berfungsi sebagai simfoni pembuka untuk merangkul kemenangan di masa mendatang. Sebuah kegembiraan pembangkangan dari pertempuran yang menghadirkan kesedihan dan luka perih yang menyesakkan dada. Sebab sepakbola adalah kegembiraan romantis yang sanggup memberikan luka serupa musik sukacita yang dimainkan untuk merayakan tarian keheningan di dalam stadion yang sudah kosong di mana hanya ada seseorang yang tetap duduk memeluk kesendirian dengan mesra. Di sana, keindahan tidak bisa ditetapkan sebagai “yang itu” dan “yang ini”: dia bisa saja hadir dalam kesenyapan dan kegetiran yang meremukkan dada.

Namun kekalahan tetaplah kekalahan. Pecundang adalah pecundang. Tanpa pembenaran, tidak perlu ada alibi apa pun. Akhirnya, Juventus dan Buffon (serta saya) pun habis juga … usah sudah.

* * * * *

Seiring dengan langkah gontai yang menyeret saya keluar dari tempat nobar tadi malam dan kekecewaan yang begitu nyata di setiap nada bicara Mas Osi ketika mengulas final kali ini, otak saya bekerja merencanakan hal-hal menyenangkan yang bisa dilakukan untuk melewati hari Minggu, seperti menyantap sarapan dengan selahap-lahapnya, tidur pulas hingga sorehari, mengadu rindu dengan sang kekasih, menikmati senja ditemani rokokputih dan kopihitam, mendengarkan lagu-lagu Radiohead dan Daughter sembari membaca buku, menulis curhatan sebagai bentuk pertahanan diri menghadapi sindiran dan ejekan dari siapa pun atas kekalahan Juventus semalam, dan lain-lain. Namun yang jelas adalah saya bukanlah tipe lelaki yang mencari penghiburan dengan berada di depan layar televisi sendirian menonton orang-orang melakukan ketololan yang banal.

Dua kawan saya lainnya — Kang Wahyu Soketz penyorak tim dari Manchester dan Yanu Situmorang penggemar Inter Milan — mengirim beberapa pesan singkat untuk menghibur saya. Namun pesan singkat dari kedua kawan saya itu tetap tidak bisa membahagiakan saya. Untuk saat ini, basa-basi tidak bisa menghibur saya. (Hanya senyuman senja yang melodius darimu, puan betina kesayangan, yang bisa menenangkan batin saya.) Saya mengetik tulisan ini dengan luka yang masih perih di dada dan memori suram yang mengendap di pikiran.

Yang tragis dan yang manis. Amorfati Juventus, namun tetap saja: sialan! []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s