Kronik 2016/17

LUIS Enrique berpamitan di pertengahan musim 2016/17, dan itu menjelaskan ada yang tidak beres di tubuh Barcelona. Sementara belanja pemain besar-besaran pada musim panas tahun lalu — yang cuma dimanfaatkan untuk menghias kursi bench cadangan — menjelaskan lebih banyak ketidak-beresan yang sedang terjadi di Barcelona. Meski berhasil meraih trofi Copa del Rey, Barcelona yang menjadi klub sepakbola kebanggaan publik Catalunya itu sedang melemah, malah terlalu lemah. Kegagalan bersaing dengan Real Madrid-nya Zinedine Zidane dalam laju perburuan trofi La Liga Spanyol, serta kekalahan 0-4 dari Paris Saint-Germain dan digasak Juventus 0-3 di Liga Champions Eropa mesti dijadikan bahan renungan oleh manajemen klub Barcelona untuk menengok kembali jalur terjal yang telah mereka lewati agar bisa memuluskannya kembali di musim depan, agar Barcelona tidak terperosok ke jurang mediokritas dan kubangan anonimitas yang pernah mereka alami pada rentang waktu pertengahan ‘90an dan awal 2000an.

Santer dikabarkan bahwa Lionel Messi menolak perpanjangan kontrak yang diajukan oleh pihak klub, namun Barcelona tampaknya tidak bakal kehilangan “sang alien yang jago bermain bola” itu dalam waktu dekat. Para Cules — sebutan untuk suporter setia Barcelona — bisa sedikit lebih tenang. Yang harus dikhawatirkan oleh Cules dan Barcelona adalah mencari pengganti Dani Alves, sebab mereka jelas kehilangan kreativitas, keceriaan, dan umpan-umpan wing back bertato burung kenari asal Brasil itu di sisi kanan.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa Dani Alves kini telah menjadi bagian penting dari tidak terbendungnya Juventus melangkah jauh di Liga Champions Eropa dan berlari kencang di kompetisi sepakbola Italia. Ditambah dengan Mario Mandžukić, Gonzalo Higuaín, Paulo Dybala, dan Gianluigi Buffon, Juve yang saya cintai dan kenali circa pertengahan ‘90an telah muncul kembali. Juve menghempaskan Barcelona dan berhasil mengatasi AS Monaco layaknya siluman ular sakti. Sayangnya, atau sialnya, Real Madrid berhasil menjelma menjadi naga untuk menghabisi Juve di final Liga Champions Eropa pada Sabtu kemarin. Andai saja Juve berhasil menjadi juara Eropa, hal itu tentu menjadi kebanggaan bagi sepakbola Italia. Saya, tentu saja, bakal kegirangan sampai puluhan purnama berikutnya.

Namun bisa jadi hal itu malah menjadi hal yang buruk. Juventus jelas berlari sendirian, dan Serie A Italia telah menjadi pacuan tunggal selama bertahun-tahun.

Juventus berhasil meraih gelar Scudetto ke-6 secara beruntun (dan ke-36 sepanjang sejarah penyelenggaraan Serie A Italia) di mana AS Roma dan Napoli harus puas selalu menjadi bayangan dalam beberapa tahun terakhir, sementara AC Milan dan Inter Milan sepertinya masih sulit untuk lepas dari belitan kesemenjanaan dan lingkaran mediokritas. Kapitalis asal Tiongkok yang menjadi pemilik duo Milan saat ini masih membiasakan diri untuk menonton dan mempelajari kultur sepakbola Italia.

Yang lebih buruk dan paling disesalkan adalah sepakbola Italia masih belum bisa mengusir rasisme dari pikiran dan mulut para fans kulit putihnya yang kelewat norak dan banal. Di penghujung musim kompetisi 2016/17, Sulley Muntari menjadi korban teranyar dari kenorakan supremasi kulit putih para penggemar sepakbola Italia. Ketika Muntari mengadu kepada wasit karena dihina oleh suporter Cagliari, dia malah mendapatkan kartu kuning. Dan ketika Muntari akhirnya nyelonong pergi meninggalkan pertandingan yang belum kelar, Federasi Sepakbola Italia (FIGC) malah memberinya sanksi larangan bertanding. Komite Disiplin FIGC malah lebih sembrono lagi dengan menyatakan “hanya 10 orang yang teriak-teriak ‘monyet’ kepada Muntari” dan menganggap itu bukan masalah besar sebab “jumlah itu kurang dari 1% dari total penonton di stadion pada saat itu”. Sontoloyo.

Kota Roma sedang diselimuti atmosfer melankolia setelah Francesco Totti, seorang fantasista terakhir di sepakbola modern dan ikon kebanggaan Romanisti, pergi meninggalkan ingar-bingar lapangan hijau. Setelah bertahun-tahun cuma menjadi rumor, kali ini Totti benar-benar menggantungkan sepatunya. Dalam pertandingan terakhir musim ini melawan Genoa — yang untung saja berhasil dimenangkan AS Roma — di Stadio Olimpico, Totti menyampaikan salam perpisahan penuh haru kepada seluruh pemujanya.

It is impossible to sum up 28 years in a few sentences,” ujar Totti dalam pidato perpisahannya yang begitu emosional, saya kutip dari situs resmi AS Roma. “I’d like to do so with a song or poem, but I can’t write any. Over the years, I’ve tried to express myself through my feet, which have made everything simpler for me ever since I was a child.” Entah mana yang lebih sulit bagi Totti: menulis puisi, menggubah lagu, atau memutuskan pensiun dari sepakbola. Yang jelas, pensiunnya Totti memiliki arti bahwa sepakbola kembali kehilangan figur yang selama ini memantulkan potret sepakbola sebagai permainan menyenangkan yang sanggup membikin saya girang tidak keruan ketika peluit sepak-mula pertandingan dibunyikan.

Sejarah tercipta di Inggris: Blackburn Rovers FC menjadi tim pertama dari enam klub yang pernah menjuarai liga era Premier League Inggris yang terperosok ke divisi tiga sepakbola Inggris. Ini merupakan keterbuangan kali kedua secara simultan yang dialami oleh Blackburn Rovers FC dalam lima tahun terakhir setelah pada tahun 2012 mereka terusir dari Premier League Inggris. Sejak memenangkan Premier League Inggris pada tahun 1995 silam, Blackburn Rovers FC terjebak dalam kubangan mediokritas. V H Group, korporasi penjual ayam asal India yang menguasai 99% saham klub, benar-benar membikin Blackburn Rovers FC menjadi ayam sayur.

Pada saat bakul ayam asal India gagal membahagiakan Kota Blackburn, burung dandang-haus di Kota Newcastle sedang terbang tinggi. Tanpa terlalu banyak membual, Rafael Benítez berhasil membikin penggemar Newcastle United bersuka-cita dan menyanjung namanya. Benítez cuma butuh satu musim untuk menerbangkan Newcastle United kembali ke Premier League Inggris musim depan, sekaligus membuktikan bahwa pilihannya untuk tetap mendampingi Si Burung Dandang-haus (The Magpies, julukan Newcastle United) di EFL Championship Inggris adalah keputusan yang tepat.

Sementara itu David Moyes semakin menegaskan kesalahan masa transisi Manchester United. Sir Alex Ferguson mengejutkan semua orang ketika memilih Moyes sebagai penerusnya pada tahun 2013, dan sebelum musim sepenuhnya usai, pemecatan Moyes tidak terlalu mengejutkan banyak orang. Moyes kemudian pergi ke Spanyol melatih Real Sociedad hanya untuk diusir pulang setahun kemudian. Musim panas tahun lalu Moyes setuju memegang kendali Sunderland dan sepanjang musim dia tidak berdaya untuk mencegah klubnya terdegradasi. Jadi, Si Kucing Hitam (The Black Cats, julukan Sunderland) menggantikan tempat yang ditinggalkan tetangganya, Si Burung Dandang-haus, di EFL Championship Inggris musim depan dan Moyes memutuskan pergi dari Sunderland dengan meninggalkan kesan bahwa memilih dirinya sebagai pelatih adalah sebuah kesalahan yang paling buruk.

Namun saya tidak bakal menyalahkan manajemen Sunderland karena telah memilih Moyes, lhawong Ferguson saja yang pernuh pertimbangan itu juga pernah melakukan kesalahan yang sama kok empat tahun lalu. Bedanya, kesalahan (terbesar) Ferguson bukan cuma memilih Moyes sebagai penerusnya, melainkan dia juga telah membangun dinasti selama 27 tahun di Manchester United dengan memberikan puluhan trofi kejayaan di sana. Warisan yang ditinggalkan Ferguson itu terlalu berat bagi siapa pun penerusnya. José Mourinho dan Louis van Gaal yang pernah jadi jawara Eropa saja kelimpungan, apalagi Moyes yang cuma bermodalkan juara liga divisi tiga dan sebelas tahun menakhodai Everton.

Manchester United-nya Mourinho dipastikan bakal tampil di Liga Champions Eropa musim depan setelah berhasil menjadi juara Liga Europa musim ini, namun itu bisa dibilang sebagai sekadar keberuntungan — bukan cara yang biasa dilakukan oleh tim sekaliber Manchester United. Dulu, Manchester United terbiasa bersaing untuk menjadi juara liga, sedangkan empat musim terakhir Manchester United menjelma klub semenjana yang selalu berakhir di luar empat besar. Sepeninggal Ferguson, Manchester United bukan lagi tim sepakbola yang istimewa dengan pemain-pemain berbakat lulusan akademi sepakbolanya sendiri. Kini Manchester United ingin membeli status sebagai tim jawara seperti yang pernah mereka tuduhkan ke si tetangga berisik, Manchester City, dan Chelsea (bukan Islan). Manchester United memang memiliki uang yang banyak, namun mereka sepertinya lupa caranya untuk menghabiskan tabungan dengan efisien dan efektif. Manchester United membeli kembali Paul Pogba (yang sempat dibiarkan pergi secara gratis ke Juventus dan kini tampaknya lebih ahli dalam urusan menata rambut ketimbang bermain bola) dengan harga supermahal tapi mereka malah ketergantungan kepada seorang striker gaek berusia 35 tahun yang pernah membanyol dengan mendaku diri sebagai dewa. Menonton cara bermainnya musim ini, Manchester United harus membongkar tim dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan demikian, kumpulan setan di Old Trafford harus lebih bersabar dengan Mourinho dan mulai berpikir untuk berdoa kepada tuhan.

Mourinho dan Manchester United bukan satu-satunya pasangan yang gagal di Liga Inggris musim ini. Liverpool dan Jürgen Klopp serta Manchester City dan Pep Guardiola juga tidak mampu menghadirkan keindahan yang diharapkan oleh para pecinta sepakbola. Liverpool dan Manchester City sudah melipir dari pacuan juara ketika Liga Inggris masih menempuh separuh jalan. Klopp dan Guardiola memaksakan tim mereka masing-masing untuk memainkan sepakbola yang belum bisa mereka mainkan dengan baik dan benar. Saya mengamini omongan Mourinho ketika pertama kali menapakkan kaki di Manchester bahwa Liga Inggris musim ini bukanlah tentang persaingan untuk menentukan siapa yang terbaik antara dirinya dan Guardiola. Premier League Inggris musim ini sepenuhnya bercerita tentang energi meluap-luap dan kecerdikan Antonio Conte yang berhasil menjadi kampiun liga (dengan memanfaatkan skuad yang dibangun oleh Mourinho).

Ketika membincangkan kegagalan, tidak bisa tidak, Arsène Wenger adalah nama yang selalu muncul pertama kali di batok kepala saya. Wenger tidak memberikan kebahagiaan apa pun selama bermusim-musim, dan pada musim ini, meski berhasil meraih trofi Piala FA, dia gagal menghadirkan Arsenal yang dulu pernah saya kenal: para penggemar setianya kian geregetan, Alexis Sánchez berjuang sendirian, Mesut Özil kebingungan, Petr Čech digerogoti usia, dan Olivier Giroud purna menjelma pesakitan. Hal ini diperburuk dengan fakta skuad Arsenal sudah tidak harmonis karena perbedaan pendapat mengenai Wenger. Para moralis-bau-amis bakal menasihati untuk kembali memberikan kesempatan kepada Wenger di musim depan, namun sepakbola modern saat ini lebih menghormati kesuksesan meraih gelar juara dan mendapatkan uang banyak dari hak siar televisi. Arsenal, untuk pertama kalinya, mengakhiri musim di peringkat lima dan itu berarti pendapatan mereka di musim depan bakal berkurang. So? []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s